Aku Menjadi Tawanan Sang Tiran

Aku Menjadi Tawanan Sang Tiran
Bab 41 Selamat atas pernikahan nya


__ADS_3

" apa kau bilang? siapa yang kau panggil pangeran bajingan?" tanya Darren kesal


Leticia melepaskan tangannya dari genggaman Alexander.


" Apa dia yang membuatmu menangis?" tanya Alexander tegas


" Kenapa dia menanyakan hal yang bisa membuat orang salah paham? kenapa kau seperti ini? bukankah kau sudah membuang ku ? " batin Leticia sebal


" Bukan dia, tapi seorang pria bajingan " jawab Leticia tanpa sadar


" Tisha.. " Darren terkejut saat Leticia mengatakan kata-kata kasar.


" Siapa bajingan itu?" tanya Alexander


" Dia adalah kau, kau yang membuatku menangis ! , masa aku mau bilang begitu? haa.. konyol " batin Leticia merasa konyol


" Tidak penting, itu bukan urusan anda " kata Leticia ketus


" Itu benar, dia menangis atau tidak itu bukanlah urusan anda " kata Darren sinis


" Benar, itu bukan urusanku " kata Alexander sedih


" Yang mulia, ayo kita pergi. " kata Leticia pada Darren ramah


" Baiklah, ayo "


" Tunggu dulu ! " ujar Alexander


" Bagus yang mulia, anda harus mengatakan perasaan anda. Jangan biarkan dia pergi dengan rival anda " batin Daniel menanti sesuatu yang romantis


" Aku ingin bicara berdua dengan mu " kata Alexander tegas


" Bagus yang mulia, lanjutkan " batin Daniel mendukung Raja nya itu


" Aku menolak "


" Kalau begitu aku akan hancurkan Ilios " kata Alexander santai sambil berbisik pada Leticia


" Hey kau.. " Leticia kesal


" Dia selalu saja menggunakan ini sebagai ancaman, ya baiklah dia berhasil " batin Leticia kesal


Sementara itu Darren bertanya-tanya apa yang Alexander bisikan kepada Leticia. Gadis itu akhirnya mau berbicara dengan Alexander, dan meminta agar Darren memberinya waktu sebentar. Dengan lembut, Darren mengizinkannya dan ia selalu mengingatkan Leticia untuk berhati-hati pada Alexander. Entah darimana datangnya keyakinan itu, Leticia yakin kalau Alexander tidak akan menyakitinya.


****


Mereka berdua berbicara tak jauh dari tempat Darren dan Daniel berdiri, Darren menatap tajam ke arah mereka berdua.


" Baiklah, mau bicara apa?" tanya Leticia cuek


" Aku cuma ingin bilang kau tidak boleh mengingkari janjimu lagi, ini terakhir kalinya " kata Alexander tegas


" Aku mengingkari janji apa?" tanya Leticia tak mengerti


" Kau janji untuk tidak berdekatan dengan pangeran lemah itu selama kau jauh dariku "kata Alexander datar


" Aku tidak bilang begitu, itu mungkin hanya pendapat mu saja " kata Leticia


" Ada hak apa kau mencampuri hubungan pribadiku?" tanya Leticia kesal


" Aku .. tentu saja ada, karena aku tidak suka kau dekat dekat dengan pria lain. " kata Alexander


" Apa kau marah sekarang, yang mulia?" tanya Leticia


" Ku mohon, bilang lah kalau kau cemburu " batin Leticia berharap


" Ya aku marah, aku tidak suka, aku benci kau dekat dengan pria lain " kata Alexander tegas


" jadi, apa bisa ku anggap kalau kau saat ini sedang cemburu?" tanya Leticia langsung pada intinya


" Cemburu? aku tidak pernah cemburu, cemburu adalah hal yang tidak logis dan paling tidak rasional. Dan ini bukan cemburu " kata Alexander penuh keyakinan


" Sayang sekali.." gumam Leticia dengan nada kecewa


" Benar, aku berharap apa sih pada pria yang tidak mengerti cinta ini? jika dia tidak cemburu, lalu kenapa dia marah aku berdekatan dengan pria lain? memang aku tidak bisa mengerti dirimu.. " batin Leticia sedih


" Apa maksudmu sayang sekali?" tanya Alexander


" Tidak, bukan apa apa. Kalau kau tidak cemburu, ya sudah. " kata Leticia berusaha bersikap biasa saja


" Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Alexander

__ADS_1


" Tidak, kau tidak salah. Oh ya, aku harus kembali ke istana. " kata Leticia melangkah pergi


" Kenapa aku merasa diabaikan?" batin Alexander


Pria itu memegang tangan Leticia, wanita itu kini menepisnya dengan kasar dan mendorong pria itu. Hal ini membuat Alexander sedikit berfikir dan merasakan hatinya.


" Kau.. Kau !" Alexander mengepal tangannya, ia terlihat kesal.


" Yang mulia tidak ada yang ingin anda katakan lagi kan?" tanya Leticia dingin


" Benar, harusnya seperti ini. Bukankah aku sendiri yang sudah membuat keadaan jadi seperti ini? kenapa juga aku marah? dan mana mungkin aku cemburu.." batin Alexander melakukan penyangkalan pada hatinya


" Kau harus menepati janjimu untuk pergi ke Fostiarus " kata Alexander


" Baik, nanti aku akan datang minggu depan. Oh ya, selamat atas pernikahan nya ya. Semoga kalian hidup bahagia " kata Leticia memaksakan senyumannya


" Hentikan, jangan tersenyum seperti itu ! kau tidak boleh begitu !' Alexander marah


" Kenapa? ini adalah sesuatu yang harus diberi selamat, karena ini adalah berita bahagia. Aku menantikan undangan nya, jangan lupa undang aku ya " kata Leticia berusaha ceria


" Leticia !"


" kenapa ini? kenapa aku tidak terima dia memberiku ucapan selamat? " batin Alexander kesal


" cukup, sampai disini. " batin Leticia kesal


Gadis itu melepaskan kalung bunga matahari yang dipakai nya, dan memberikan nya ke tangan Alexander.


" Kenapa ?!"


" kalung berharga ini lebih baik anda berikan kepada orang yang akan menjadi istri anda, tidak baik aku sebagai wanita lain menyimpan barang pemberian anda, nanti istri yang mulia akan sakit hati " terang Leticia sinis


" Aku sudah bilang ini kan untukmu ! aku membuatnya khusus untukmu, kenapa kau tidak mengerti?!" pria itu menjadi emosi


" Tolong jangan seperti ini lagi yang mulia, tolong jangan injak harga diri ku lebih dalam lagi. Jadi, terima saja barang mu kembali " kata Leticia sedih


" Kapan aku menginjak harga dirimu?" tanya Alexander


Leticia mengabaikan Raja itu dan melangkah pergi, Alexander melihat Leticia dengan tatapan tidak rela. Ia memeluk Leticia dari belakang.


" Ahh ! lepaskan !"


Gadis itu mendorong Alexander dengan kasar dan menampar pipinya dengan keras.


" Kau ! beraninya.." Pipi pria itu langsung memerah karena tamparan keras dari Leticia.


" Kelak aku tidak akan membiarkan kau menyentuh ku lagi ! tidak bisa !" teriak Leticia marah


" Kelakuan pria ini lain di mulut lain di hati " batin Leticia kesal


Melihat keributan itu dari kejauhan, Darren dan Daniel akhirnya menghampiri Alexander dan Leticia. Kedua orang itu terlihat seperti pasangan sedang bertengkar, dan terlihat ada kemarahan pada diri mereka.


" Yang mulia, apa anda baik-baik saja? " tanya Daniel cemas melihat pipi Alexander yang memerah dan lebam


" Melihat yang mulia saat ini, dia pasti tidak akan memaafkan siapapun yang sudah memukulnya, sekalipun itu adalah tuan putri " batin Daniel cemas


" Jadi ini rasanya..." batin Alexander


" Tisha, kau tidak apa apa?" tanya Darren


" Iya, yang mulia ayo kita pergi !" kata Leticia terburu-buru.


Drap


Drap


Darren dan Leticia melangkah terburu-buru menjauh dari Alexander dan Daniel. Pria itu tersenyum sinis.


" Tunggu ! karena kau sudah memukulku, setidaknya kau harus menjawab pertanyaan ku?! " seru Alexander


" Maksud yang mulia siapa bajingan yang sudah membuat saya menangis?" tanya Leticia sinis


" Iya, siapa dia? aku akan merobek robek tubuhnya " kata Alexander tegas


" Kalau begitu, anda robek robek tubuh anda sendiri " jawab Leticia sambil berlalu dan pergi.


Alexander terpana mendengar nya, tapi ia tak mengerti apa maksud perkataan Leticia.


" Astaga ! berani sekali tuan putri, jadi bajingan itu.. " gumam Daniel kaget.


" Siapa bajingan yang dia maksud? kenapa aku harus merobek tubuhku sendiri?" tanya Alexander heran

__ADS_1


" Yang mulia anda tidak mengerti? bajingan yang dimaksud itu adalah anda " jawab Daniel pelan


" APA?? aku?" Alexander kaget


" Aku yang membuatnya menangis? tapi kenapa dia menangis karena diriku? Apa karena dia mendengar berita pernikahan ku?" batin Alexander bertanya-tanya


" Tapi yang mulia, apa pipi anda baik-baik saja? seperti nya harus di obati " kata Daniel prihatin


" Ini bukan apa apa, daripada pipi ku yang tertampar, seperti nya hatiku yang lebih tertampar " gumam Alexander


" Kerasukan apa anda yang mulia? kata kata indah itu bisa keluar dari mulut anda yang selalu pedas itu " kata Daniel. " maafkan saya yang mulia, saya sudah bersikap lancang.. " kata Daniel memohon maaf


" Kali ini aku akan mengampuni mu. Karena kau berkata benar Daniel, tapi tidak ada lain kali " kata Alexander sambil tersenyum tipis


" Baik yang mulia, terimakasih atas kemurahan hati yang mulia " kata Daniel bersyukur


" Daniel, aku rasa aku tidak melepaskan nya begitu saja. Menurut mu aku harus bagaimana?" tanya Alexander


" Tentu saja yang mulia harus mengambil hati tuan putri dan membawanya kembali ke istana" jawab Daniel yakin


" Iya itu benar, kalau begitu aku akan memaksanya menjadi milikku, menjadikan nya tawanan lagi itu bukan ide yang buruk, mengikatnya dan mengurungnya.. " kata Alexander


" Baguslah yang mulia sudah sadar. Ah apa dia bilang? mengikat? mengurung?? " batin Daniel kaget


" Tidak yang mulia,jangan memaksanya. Nanti tuan putri akan semakin tidak suka pada anda " kata Daniel


" Kalau begitu aku harus bagaimana?" tanya Alexander


" Kalau anda bisa membatalkan pernikahan anda itu akan lebih bagus, karena seperti nya tuan putri tidak suka mendengar berita pernikahan anda " kata Daniel


" Pernikahan ku dibatalkan?" gumam Alexander yang masih berada dalam keraguan


***


Sementara itu di kediaman Randell.


Vivian dan ayahnya nampak sibuk menyiapkan pernikahan dan penobatan Vivian sebagai ratu. Ayah dan anak itu pergi membeli banyak perlengkapan. Gadis itu memesan gaun dari desainer gaun ternama di Fostiarus untuk hari besarnya itu. Setelah itu ia dihormati dan dikagumi orang banyak, saat pengumuman nya menjadi Ratu di ketahui orang banyak.


Mereka berdua menjadi sombong dan semena-mena memperlakukan orang yang ada di bawah mereka.


" Ayah, sebentar lagi putrimu ini akan menjadi Ratu di negeri ini. Ratu di negeri yang besar " kata Vivian senang


" Ayah senang, tapi kau belum boleh berpuas hati dulu putriku. Masih ada rintangan yang lain, kau harus benar-benar mendapatkan hati yang mulia Raja. Pada malam pernikahan itu, kau harus bisa memiliki Raja seutuhnya, agar dia tidak bisa membuang mu " kata Marquez Randell


" Tentu saja aku tau ayah, tenang saja.. aku akan membuat Raja bertekuk lutut padaku. " kata Vivian yakin dan percaya diri


" setelah perempuan itu pergi, aku jadi punya banyak kesempatan untuk dekat dengan Raja. Aku akan memanfaatkan hal ini " batin Vivian


***


Leticia dan Darren kembali ke istana, Darren berusaha menghibur Leticia yang sedih, meskipun dirinya sendiri juga dalam keadaan yang tidak begitu baik.


" Tisha, bagaimana kalau kita jalan jalan lagi?" tanya Darren mencoba menghibur gadis itu


" tidak perlu, pangeran maafkan aku sudah membuatmu tidak nyaman dengan situasi tadi. Jalan jalan kita jadi berantakan karena diriku " kata Leticia menyadari kesalahannya


" Tidak apa, asalkan kau baik-baik saja. Maka aku pun akan begitu " kata Darren sambil tersenyum


" Kau sangat baik, sebagai permintaan maaf aku akan mengabulkan satu keinginan mu. " kata Leticia


" Benarkah?"


" Iya, yang mulia bisa minta apa saja. "


" Karena aku sangat merasa bersalah padamu, kau pasti terluka karena sikap ku. Meninggalkanmu dan berbicara dengannya, padahal aku tau kau menyukaiku, aku jahat " batin Leticia


" Apa saja boleh?" tanya Darren sambil tersenyum seperti memikirkan sesuatu


" Aku hanya bisa bertaruh saat ini, apakah aku bisa atau tidak. Setidaknya aku harus mencoba sebelum menyerah, ini juga masih terlalu awal untuk menyerah" batin Darren


" Iya tentu saja "


" Boleh aku mengatakan nya sekarang?" tanya Darren


" Silahkan "


" Berkencan lah denganku " jawab Darren


" Ya?" Leticia tersentak mendengar nya


Darren tersenyum dengan percaya diri, ia menatap gadis di depannya itu, dengan harapan.

__ADS_1


...---****---...


__ADS_2