
Pagi ini hari minggu kediaman nyonya Riyanti penuh orang mendekor halaman belakang rumah untuk pesta ulang tahun nona kecil disana. Beberapa balon sudah terlihat tersusun, beberapa dekorasi berbentuk kuda pony juga sedang disiapkan.
Diruang tengah terlihat Divya sedang ikut melihat beberapa persiapan disana ditemani Oma juga susternya. Acara masih nanti pukul 16.00 tapi gadis kecil ini sangat antusias dengan acaranya nanti, padahal ini baru pukul 10 pagi.
"oma aku mau menemui Dady" ujar gadis cilik yang sudah berlari menuju tangga.
tok tok tok
ceklek
"Dady!" seru Divya memenuhi kamar Dadynya.
"nona kecil sudah tidak marah dengan Dady?" ucap Ibra yang sedang sibuk dengan pekerjaannya meski hari minggu.
"masih! Yaya cuman mau ingetin Dady, diacara nanti Yaya ngga mau ditemani Dady dan Oma, Yaya mau ditemani tante Belen!" setelah menyampaikan keinginannya gadis kecil dengan dres pink bergambar kucing itu pergi meninggalkan kamar Ibra.
"astaga! dia masih mengingatnya?" gumam Ibra tak habis pikir dengan tingkah Divya.
Ibra memutuskan untuk keluar kamarnya menuruni tangga menuju ruang tengah dimana Oma, Adam dan Divya berada. Dia melihat Adam membawa kunci mobil ditangannya dan mengenakan jaket jeans.
"mau kemana?" tanya Ibra duduk disebelah Oma nya.
"ambil kue kue sama puding" jawabnya singkat.
"sama jemput Belen mungkin, makan siang dulu juga barangkali" goda Adam berdiri dari tempat duduknya.
"kenapa repot-repot? suruh sopir atau dia juga bisa gunakan taxi online" protes Ibra.
"Oma sudah merepotkannya, jadi biarlah dia dijemput Adam, jika menyuruhmu juga paling tidak mau" ucap Oma.
"hubungilah Sarah atau Jody untuk mendampingimu nanti" kekeh Adam melangkahkan kakinya.
sial!
__ADS_1
"Biar aku saja!" dengus Ibra menghampiri Adam dan merebut kunci mobilnya.
Adam dan Oma hanya saling pandang, saling lempar tawa setelah Ibra keluar dari rumah.
"lihat kan Oma bahkan abang tak mau mengalah pada adiknya" kekeh Adam kembali duduk dengan Omanya.
"dasar, kamu memang selalu bisa mendesak abangmu" sambung Oma.
Ibra menuju garasi Adam, menuju mobil yang kuncinya telah dia pegang. Menyalakan mesin dan melajuknnya menuju toko kue Matahari.
Kalo bukan karna Divya tak akan aku mengajak wanita kemari. Jika bukan Sarah dan Jody pilihan lainnya tak mungkin aku memilih gadis keras kepala itu. Lagian bisakan kirimkan sopir atau gadis itu menggunakan taxi online tak perlu menjemputnya. Merepotkan.
...
Mobil yang digunakan Ibra sudah terparkir persis didepan toko kue Matahari. Ibra turun dan melangkah cepat menuju toko kue yang sedang ada beberapa pelanggan didalamnya.
tring
Bell khas toko kue itu berbunyi nyaring membuat sebagian pelanggan yang sedang memilih kue menoleh. Dilihatnya seorang pria tinggi diatas rata-rata, rambut potong rapi namun sedikit acak-acakan dengan kaos polos dan celana pendek atas lutut berdiri diambang pintu. Pelanggan yang kebanyakan wanita muda itu seolah terpesona akan apa yang mereka lihat, tanpa disadari mulut mereka sedikit ternganga menatap mahkluk yang mendekati sempurna itu.
"bukankah Oma Riri bilang Adam yang akan menjemput, kenapa kau?" sapaan kurang enak dari Belen terdengar setelah membantu beberapa pelanggan menyelesaikan transaksinya.
"dasar gadis tidak tahu diuntung, tugasku hanya mengambil pesanan jadi cepatlah siapkan pesananku" jawab Ibra menatap dingin Belen yang berdiri dihadapannya.
"semua pesanan sudah kusiapkan disana" ucap Belen menunjuk meja dekat kasir yang sudah bersusun beberapa box berisi kue, puding hingga box besar transparant berisi kue ulang tahun Divya.
"bagus, masukan semua kedalam mobil" Ibra bangkit dari duduknya dan menuju pintu keluar.
"hei! kau kira aku bisa mengangkat semua sendiri? ambil tumpukan box itu, Sella sedang banyak pelanggan tak bisa membantu" seru Belen mengambil box kue tart dengan tinggi 50cm itu.
Dengan raut kesal Ibra mengambil 3box dan menaruhnya dalam mobil, juga kue tart diletakan Belen dengan hati-hati.
"tunggu disini masih ada lagi didalam" ujar Belen membalikan badannya. 5menit kemudian Belen kembali dengan 2box ukuran sedang ditangannya.
__ADS_1
"mau kemana kau?" seru Ibra melihat Belen kembali membalikan badan dan melangkah menuju toko.
"kembali bekerja kau kira apa lagi? semua pesanan sudah masuk kedalam mobil, Oma Riri sudah menyelesaikan transaksi kemarin" jawabnya dengan meletakan kedua tangannya dipinggang.
"masuk kedalam!" perintah Ibra pada Belen.
Belen hanya diam dan melotot dengan perkataan Ibra yang tak ada lembut-lembutnya seperti Adam.
"kau juga termasuk pesanan Oma, jadi segera ambil ponsel dan barangmu didalam lalu ikut aku" imbuh Ibra dingin dan masuk kemobilnya.
Belen benar-benar diuji kesabarannya, ia berjalan cepat menuju sisi kanan mobil, mengetuk jendelanya agar Ibra membukanya.
"bisakah berhenti melakukan hal tanpa persetujuan orang lain? Oma memang memintaku datang, tapi aku akan datang nanti sore, ini hari minggu toko rame dan Sella hanya sendiri. Kau pergilah aku akan kesana nanti" ucap Belen menahan emosinya meski urat disekitar kepalanya terlihat jelas sedang tegang.
"Oma tidak suka dibantah, aku beri 10menit untuk mengambil barangmu, atau Oma akan marah dan Divya akan merajuk" kini Ibra menutup kembali jendelanya sebelum Belen kembali mengeluarkan kata-katanya.
Belen yang sudah menganggap Oma seperti neneknya sendiri pun akhirnya mengalah, ia kembali masuk ke toko dengan perasaan kesal, mengambil barang dan memberi tahu Sella dia bisa tutup lebih awal jika lelah. Setelah mengambil tas juga handphonenya dia kembali menuju mobil Ibra.
Deb
Belen menutup pintu mobil sedikit kencang hingga mengagetkan Ibra.
Tanpa berkata lagi Ibra menyalakan mesinnya dan melajukannya meninggalkan area pertokoan.
"alamatmu" suara Ibra memecah keheningan didalam mobil.
"ha? apa? untuk apa?" jawab Belen mengerutkan keningnya dan tak bisa menahan raut kesal dimukanya.
"kau tidak mungkin pergi ke suatu acara dengan pakaian seperti ini" ucap Ibra tanpa menoleh ke Belen.
"ada yang salah memang? ini hanya pesta anak-anak. Tak masalah aku mengenakan celana jeans juga oversize tshirt bergambar kartun disney. Bukankah ini cocok!" ketus Belen.
"dasar gadis keras kepala" gumam Ibra memutar stirnya menuju sebuah bangunan berlantai 2.
__ADS_1
Belen tak terlalu memperhatikan apa yang dilakukan Ibra, juga tak bertanya mengapa mereka berhenti disana. Dalam hatinya biarlah apa yang dia lakukan bertanya juga akan sama saja. Namun diamnya terpecah ketika mendengar ajakan Ibra untuk turun. Belen hendak bertanya tapi lebih tepat disebut protes tapi Ibra sudah terlanjur membuka pintunya dan kembali menyuruhnya turun.
Belen tetap tak mengeluarkan suara ia hanya mengikuti langkah lebar Ibra menuju sebuah butik yang cukup besar, terus melangkah menuju lantai dua. Bukan hanya pelanggan ditoko kue Matahari para pelanggan juga pegawai butik pun terpukau dengan pesona yang Ibra miliki.