
"apa yang kau lakukan Max?" Navara tahu betul siapa Max selain dirinya mengenal Max karena sering menyewa bar yang dikelola Max, Navara juga tahu bahwa Max adalah salah satu pimpinan kumpulan Galaxy.
"aku sudah mengatakan bahwa dia adalah clientku" ucap Max seraya mengarahkan dagunya pada Rudy dan menyalakan rokoknya.
"kau minta ganti rugi kan? minta pada mereka, mereka menerima bayaran 100juta untuk merusak barang-barangmu, kurangannya kau urus saja dengan mereka langsung" jawabnya enteng sembari menghembuskan asap rokoknya dihadapan Navara.
"atau bahkan mereka itu suruhanmu?" imbuhnya.
"apa maksudmu Max? suruhanku? apa kau kira aku melakukan hal gila semacam itu?" raut wajah bingung serta amarah yang mulai memuncak.
Max hanya memberi kode anak buahnya untuk memberi rekaman cctv saat kejadian berlangsung, dan memperlihatkan bukti transfer atas nama Navara Moldy disebuah penginapan dekat dermaga.
Navara masih menggelengkan kepalanya apa hubungan rekaman cctv itu dengan bukti transfer itu.
Seorang anak buah Max yang tadi memperlihatkan bukti itu memberi tahu dari maksud dua bukti yang diperlihatkan.
Lelaki berusia 32tahun itu terlihat mengusap kasar wajahnya tak percaya dengan yang ia dengar.
"jadi berdasar ketidak sengajaan itu kau menuduhku bahwa aku menyabotase barang-barangku sendiri? dasar gila!" wajahnya terlihat memerah tapi ia tak berani berbuat lebih pada seorang Max.
"bukan hanya itu" kembali anak buah Max memperlihatkan mobil yang dikendarai oleh anggota Titan masuk ke penginapan itu membawa serta beberapa kardus yang diduga kembang api.
Kini raut wajah Navara terlihat serius.
"aku tidak mengenal salah satu dari Titan, aku hanya pernah mendengar saja, dan asal kau tau Max aku membayar sewa penginapan itu untuk hadiah salah satu divisi, tapi mereka bilang bahwa penginapan itu sedang renovasi dan diganti untuk minggu depan" Kini gantian Max yang terkejut dengan penuturan juga bukti foto penginapan yang sedang direnovasi itu.
Max percaya itu karena Navara sosok yang loyal dengan anak buahnya dia juga sering mengadakan pesta di bar dan membayar dengan uang pribadinya.
Mereka kembali mengintrogasi empat pelaku itu dan sayang sekali cek yang diberi pada mereka adalah cek kosong. Mereka mengaku seorang itu datang dengan dua mobil dan menemui mereka di jalanan biasa mereka berkumpul.
flasback off
"kami sedang menyelidiki hubungan Titan juga The Dev ketua, kami akan mengumpulkan bukti pasti terlebih dahulu, kami juga sedang mencoba mencari jejak orang yang menyuruh empat preman teraebut, saranku lebih baik kita ikuti dulu permainan mereka" jelas Louis setelah Max selesai menjabarkan kronologi kejadian itu.
__ADS_1
"tapi ada yang mengganjal pikiranku"
"apa Max?" Alexavier menanggapi cuitan anak buahnya.
"sebelumnya client hanya menerima teror yang menyangkut dirinya pribadi saja, tapi sekarang malah seperti menyeret Galaxy atau bahkan AnkaGroup" sambungnya.
"AnkaGroup juga sedang menyelidiki masalah tanah yang dulu dijual oleh Anthony, ketua dari Gerhana, apa ini ada hubungannya? untuk saat ini kumpulkan semua bukti secara diam-diam tidak usah terlalu mencolok, kita tunggu lagi permainan mereka berikutnya" semua mengangguk mendengarkan Alexavier.
"Louis segera cari sumber masalah soal tanah itu aku jadi semakin penasaran" sahut Kenrich.
"apa tidak ada yang bisa kubantu disini?" kini suara lembut Belen ah maksudku Lady yang terdengar.
Dengan cepat lelaki yang duduk disebelahnya menatapnya tajam.
"apa kau lupa dengan tugasmu saat kau masuk Galaxy Lady?" masih dengan tatapan tajamnya Alexavier mencoba mengingatkan wanitanya.
...
Sebelum tengah malam pasangan suami istri yang habis hangout itu tiba dirumah. Perjalanan pulang mereka tak ada pembicaraan selain Belen yang memuji martabak yang ada dipangkuannya. Sementara Ibra dengan pasrah menerima setiap suapan yang diberikan istrinya.
"aku tidak lupa maka dari itu lekaslah tidur" dengan senang hati ia memeluk istrinya dari belakang untuk mengantar mereka ke alam mimpi.
"bang sepertinya aku tidak asing dengan nama Dev Armano" Belen masih belum terlelap.
"ya dia sering muncul di tv" suara seorang yang sedang memeluknya itu terdengar sudah lemas.
"bukan, tapi sepertinya aku cukup familiar, tapi bukan karena aku menontonnya di tv" menunggu jawaban, tapi ternyata yang diajak ngobrol sudah hilang ke alam mimpi.
...
Dua bus besar sudah terparkir rapi dihalaman sekolah Divya, semua anak-anak sudah bersiap naik, sementara orangtua mereka mengikuti dari belakang, ada juga yang hanya menitipkan anaknya pada guru atau menyuruh baby sister untuk mengikuti kegiatan anaknya.
Setelah drama pagi yang luar biasa akhirnya Ibra juga Belen bisa bernafas lega karena bus yang Divya tumpangi sudah mulai berjalan menuju wisata perkebunan untuk kegiatan mereka. Dengan mobil BMW X7 milik Belen, Ibra mengikuti iring-iringan rombongan yang cukup panjang itu.
__ADS_1
"aku sangat senang melihat Divya se exited itu bang, aku bahkan tidak habis pikir dari jam 5 dia sudah bangun dan ribut ini itu, padahal semuanya sudah dibereskan sore harinya" Belen kembali mengingat kehebohan yang Divya buat tadi pagi.
"iya sebelum-sebelumnya dia tidak berlebihan seperti ini, ini pasti karena kali ini ada mamynya yang ikut" jalanan mulai berliku Ibra hanya menoleh sekilas pada sisi kirinya.
...
Anak-anak dibariskan menjadi empat barisan begitu bus sampai ditempat tujuan. Tempat yang cukup sejuk, banyak pepohonan besar dan tentu saja banyak tanaman maupun pepohonan buah karena mereka ada di perkebunan buah.
Kegiatan pertama mereka adalah berkeliling kebun menggunakan kereta, sementara orang tua mereka menunggu diarea taman. Memanfaatkan kondisi Ibra sengaja terus menempel pada Belen apalagi saat para ibu-ibu yang pernah menggunjing Belen melihat kearah mereka, Ibra terus melingkarkan tangannya dipundak sang istri.
Sekarang para orang tua ikut menuju green house untuk menemani anak mereka bercocok tanam. Belen amat senang dan dengan cepat ia menuju tempat Divya berada, sementara Ibra membuntutinya dari belakang.
Acara menanampun dimulai, tanpa rasa jijik Belen membantu Divya memgambil tanah yang sudah tercampur kompos hewan itu. Ibra yang melihat kekompakan Belen dan Divya amat gemas, namun Belen yang terganggu dengan rambut panjangnya membuat Ibra mendekat dan mengikat rambut panjang istrinya setelah mendapat jepit baday alias jeday milik Belen yang disematkan di ujung cardigan yang dikenakan Belen. Hal ini tentu membuat orang disekitar mereka terutama para kaum hawa merasa iri juga terkejut mendapati sikap hangat seorang Ibrahim Ankawijaya.
"sampai rumah aku mau menanam beberapa tanaman ya bang!" pinta Belen setelah selesai membantu Divya semetara Divya kini sedang diajak cuci tangan oleh guru juga pemandu.
"lakukan semua yang membuatmu senang sayang" balas Ibra dengan senyum yang bila orang lihat pasti tidak akan rela berkedip.
"terimakasih abang" Belen menatap suaminya dengan binar bahagia.
"aku ketoilet sebentar ya bang, mau cuci tangan" imbuh Belen juga memperlihatkan tangannya yang masih ada sisa tanah menanam tadi.
Setelah cuci tangan dan merapikan penampilannya Belen pun melangkah menuju suaminya yang masih menunggu di dekat green house. Sial tali sepatunya lepas dan membuatnya tersandung.
duk!
"aduh! sial aku lupa mengikat tali sepatu padahal sudah aku ingat-ingat tadi" gerutu Belen sambil mencoba berdiri hingga ada sebuah tangan terulur padanya.
Merasa lututnya sedikit nyeri ia menerima uluran tangan itu, dan hei! siapa dia?
"maaf merepotkan, terimakasih" melepas uluran tangan itu Belen kemudian membersikan celananya yang sedikit kotor.
"Belen?" seru seorang yang mengulurkan tangan pada Belen tadi.
__ADS_1
Mendengar namanya disebut Belen mendongakan kepalanya mengamati wajah seorang dihadannya itu.
"Nano?!" serunya dengan menjentikan jarinya.