
Minggu pagi Ibra mengajak Belen untuk kemarkas sejak jam 5 pagi tadi, mereka berencana untuk melatih skill mereka juga fisik mereka. Adam juga ikut serta, malahan dia tidur dimarkas tadi malam karena semalaman dia dibar dengan Raka, Louis dan yang lainnya.
"udah capek?" Tangan Ibra menyerahkan sebotol air mineral pada Belen yang baru saja menyelesaikan larinya di treadmil.
"huh lumayan bang, dua minggu engga olahraga jadi kaku semua" botol minum yang sudah dibuka tutupnya itu pun segera diraihnya dan diminum hingga separuh botol.
"istirahat dulu setelah ini kita ke ruang tembak" Belen hanya mengangguk sembari meluruskan kakinya.
Diruang tembak sudah ada Adam juga Dominic mereka sedang mengincar sasaran berjalan.
dor
dor
dor
Tiga tembakan kena tepat di sasaran yang bergerak. Adam mundur untuk minum karena sudah lebih satu jam dia bermain dengan senjata api. Terlihat abang dan kakak iparnya memasuki ruangan itu.
Bersamaan dengan itu ponsel Adam berbunyi, senyum mengembang mengetahui siapa yang menelponnya. Dia memilih keluar untuk mengangkat telpon yang dianggapnya penting itu.
"mau kemana?" seru Ibra mengetahui Adam membereskan peralatannya setelah selesai menerima telpon.
"Kencan mendadak!" seru Adam sebelum hilang dibalik pintu.
Belen dan Ibra juga Dominic saling pandang mendengar penuturan seorang dengan identitas sebagai Kenrich Archie itu.
30 menit Belen meletakan pistolnya ia merasa cukup lelah karena semalam mereka pulang larut dan pagi buta mereka sudah kembali berkegiatan.
Ibra pun menghampiri istrinya dan ikut duduk disamping Belen sambil melihat beberapa anggota Dominic sedang melatih kemampuan menembak mereka. Meski Dominic dan anak buahnya adalah penembak jitu tapi tetap saja mereka perlu mengasah kemampuan mereka.
"Adam mau pergi dengan Amanda bang?" tanya Belen sambil mengusap keringat di lehernya.
"mungkin, memang dengan siapa lagi dia dekat?" Ibra tahu dulu adiknya memang suka berdekatan dengan beberapa wanita namun sepertinya akhir-akhir ini adiknya hanya fokus pada Amanda.
__ADS_1
"Adam sepertinya serius menyukainya, kenapa abang belum juga memberinya ijin untuk lebih dekat?"
Adam pun tahu keputusan kakaknya pasti juga akan jadi baik untuk dirinya. Dia paham tujuan kakaknya untuk menyuruhnya menjaga jarak bukan hanya soal mengetahui benar-benar siapa Amanda tapi juga karena Ibra ingin adiknya tidak mempermainkan hati perempuan. Walau sebenarnya Ibra akan tetap mendukung adik satu-satunya itu dengan wanita pilihannya.
"biarkan dulu, semua belum terlihat jelas"
"sepertinya dulu abang tidak melakukan penilaian padaku, nyatanya oma berkata bahwa kita harus menikah abang langsung mengiyakan" Kini Belen sudah menghadap kearah Ibra.
"apa kau tidak tahu? sedari pertama Oma menginjakan kaki di toko kue Matahari saat itu Oma mulai melakukan penilaian padamu, termasuk diriku, karena aku tidak mungkin membiarkan Oma terlebih Divya dekat dengan orang asing yang tidak aku kenal" sejujurnya Belen baru mengetahui hal ini, se detail itu Ibra berusaha melindungi keluarganya.
"dan sejak saat itu Oma selalu menceritakan hal tentangmu padaku" Belen terkejut mendengar penuturan suaminya, pasalnya Oma menjadi langganan tokonya sudah lebih dari satu tahun.
"jadi abang tau banyak tentangku bahkan sebelum aku mengenalmu?" cicit bibir mungil wanita dengan slimfit berwarna hitam itu.
"ya bisa dibilang begitu, tentunya aku tidak akan mau dijodohkan dengan seorang yang aku tidak ketahui asal-usulnya" jawab Ibra sembari mengulurkan tangan pada Belen dan berdiri mengajak istrinya untuk menyudahi kegiatan pagi mereka.
...
Adam kini berada didepan pintu apartemen Amanda, ya Adam pergi dengan Amanda setelah sebelumnya semalam ia mengajak Amanda pergi namun baru dijawab paginya. Perasaan Adam? jangan ditanya pasti senang bukan kepalang!
Lelaki dengan jeans hitam, hoodie silver dan sneakers putih itu masih menunggu pintu berwarna putih itu terbuka. Tak lupa tangannya membawa sebuah paperbag.
ceklek
Sosok bidadari muncul didepan Adam, wanita yang akhir-akhir ini memenuhi pikiran juga hatinya.
"hai! sory lama ya?" Wanita yang mengenakan dress hitam selutut itu mempersilahkan pria didepannya untuk masuk. Mereka memamg mulai terbiasa untuk bersikap santai saat diluar urusan pekerjaan, profesional begitu mereka menyebutnya.
"tunggu sebentar ya, aku mau ambil tas sama hp dulu" sebelum melangkah masuk kamarnya dia kembali menoleh saat Adam memanggilnya.
"ini, kayanya kamu perlu ini karena tempat yang mau kita tuju itu agak dingin" ucap Adam seraya memberikan paperbag yang ia bawa.
Amanda terlihat berfikir dan kemudian menerima paperbag berwarna pink itu setelahnya membawanya kedalam kamar.
__ADS_1
Tak lama Amanda kembali ke ruang tamu dengan mengenakan cardigan crop berwarna silver muda pemberian dari Adam. Sangat cocok dengan pribadi Amanda yang feminim.
...
Perjalanan kali ini memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Dalam perjalanan tak ada perbincangan serius malah mereka lebih sering membicarakan soal kantor atau teman kantor saja tanpa saling menyinggung urusan pribadi.
Mobil BMW X3M grey itu melaju melewati jalan menanjak dan berliku. Sejak beberapa saat lalu dua penumpang mobil itu sudah mulai mengagumi keindahan yang ada disekitar mereka.
"Kamu tahu? aku baru kali ini melihat pemandangan seindah ini" Amanda membuka kaca jendelanya agar lebih leluasa menikmati pemandangan indah serta udara sejuk yang mulai mengisi rongga paru-parunya.
Adam pun dibuat takjub, kali ini bukan dengan hamparan ladang sayuran yang sedang mereka lewati namun pada gadis disampingnya, senyumnya merekah serta rambutnya yang terbawa angin menambah kesan cantik alami darinya.
"apa masih jauh?" suara lembut yang bersemangat itu membuyarkan pikiran Adam yang sedang kemana-mana tentu dia masih menyetir dengan hati-hati.
"tidak, itu tempat tujuan kita sudah terlihat" jawab Adam yang tengah memutar kemudi menuju sebuah resort dengan pemandangan kebun teh yang luar biasa. Langit biru sangat kontras dengan warna daun teh yang hijau.
Udara dingin langsung menyapa permukaan kulit begitu dua insan ini turun dari mobil.
"dingin?" ucap Adam yang sudah berdiri disamping Amanda.
Amanda mengangguk dan menyilangkan tangannya didepan dada serta mengusap lengannya untuk memberikan kehangatan.
"untung kamu bawain ini" gadis itu kemudian mengulurkan tangannya untuk memperlihatkan cargidan yang ia kenakan.
Tanpa pikir panjang Adam meraih tangan yang menjulur didepannya,digenggamnya tangan kecil itu untuk mengikutinya masuk ke dalam resort. Awalnya Amanda terkejut dengan tindakan Adam namun rasa hangat dari tangan lelaki itu membuatnya melangkah mengikutinya dengan lengkungan senyum dibibirnya.
Amanda meminta untuk pergi berjalan ke kebun teh tapi Adam menolaknya karena ini sudah hampir jam makan siang, jadilah mereka duduk di meja dekat dengan hamparan kebun teh luas itu setelahnya baru akan berkeliling kebun teh.
"tidak kedinginan kalau kita makan diluar? siruangan indoor masih ada tempat sepertinya" tanya Adam yang masih melihat Amanda mengusap dua lengannya. Tentunya tempat ini cukup ramai karena ini hari minggu.
"aku mau menikmati udara sejuk ini, kasihan paru-paruku terlalu sering menghirup udara kotor" seloroh Amanda yang mengundang senyum diwajah Adam.
"ya aku juga sama, aku ingin menikmati pemandangan indah didepanku ini, kasihan mataku terus menerus melihat tumpukan berkas dimeja" balas Adam yang berhasil membuat tawa Amanda pecah. Mata tajam lelaki ini berubah teduh seraya memandang wajah yang ia dambakan.
__ADS_1