Alexavier Archie

Alexavier Archie
Maaf


__ADS_3

Pagi ini terasa dingin, bukan hanya karena cuaca yang mendung dan rintik hujan yang mulai turun namun karena penghuni meja makan tak ada yang bersuara. Mereka, Oma juga Adam lebih tepatnya, sedikit canggung dengan aura antara Ibra juga Belen.


Oma tahu semalam mereka bertengkar, bahkan Ibra pun memilih tidur bersama Divya. Bukannya ia tak mau menasehati namun ia tak mau terlalu mencampuri urusan rumah tangga cucunya.


Adam sesekali hanya mencuri pandang dengan Omanya, dilihat abangnya makan tanpa menghiraukan Belen yang ada disampingnya.


"Ibra nanti kau mau dibawakan makan siang apa nak?" tanya Oma.


"terserah" jawabnya singkat.


"Oma aku mau minta rendang daging ya, jangan lupa kantangnya, oiya nasinya nasi liwet ya oma" Adam menyahut demi menghilangkan keheningan dimeja makan.


"Om Adam Yaya mau pergi outing class hlo" celetuk gadis kecil itu.


"oya? wah seru sekali, kapan Yaya akan pergi?" ya paling tidak pembicaraannya dengan Divya akan memghidupkan suasana dimeja makan.


"mamy kapan Yaya perginya?" Divya ganti bertanya pada mamy nya yg terlihat hanya memainkan makananya.


"ah iya? ehm lusa sayang, hari sabtu besok" jawab Belen dengan senyum.


"tuh Om besok sabtu kata mamy, om Adam ngga boleh ikut, karna Yaya mau ditemani Dady sama Mamy" sambung bocah TK itu.


"ah Divya ngga asik. Oke deh lain kali kita pergi jalan-jalan bareng ya?" sahut Adam dengan tangan menjulur ke pipi gembil keponakannya itu. Gemas.


"Ibra kamu bisa kan besok sabtu?" kini giliran Oma membuka suara lagi.


"bisa" sepertinya Ibra terlihat marah dengan semua orang.


Kegiatan sarapanpun usai, Belen sudah menggandeng Divya menuju mobil putihnya namun tiba-tiba Ibra langsung mengambil alih Divya, dia menggendong gadis kecil itu dan memasukannya kemobilnya.


"loh dady! Yaya kan mau diantar mamy!" protes Divya yang sudah duduk dengan seatbelt yang terpasang.


"dady rindu mengantar gadis kecil dady ini kesekolah, kita ke sekolah bersama ya tuan putri? kita berangkat?" ujar Ibra lembut tak lupa dengan senyum manis diwajahnya.


"baiklah dady, kita berangkat!" riang bocah kecil itu dengan mengayunkan tangan kanannya ke atas.


...


Belen hanya memandang kepergian mobil Ibra yang membawa Divya didalamnya. Sebuah tepukan dipundak membawanya kembali dari lamunannya.

__ADS_1


puk


"sudah biarlah, abang memang begitu nanti juga baik sendiri" suara Adam berusaha menenangkan Belen.


Belen pun hanya mengangguk, Adam pun menuju mobilnya dan berangkat menuju kantornya.


"jangan terlalu dipikirkan, sekarang pergilah ke toko, jangan buat langgananmu menunggu lama" kini oma yang memberi semangat pada Belen, ia mengusap lembut punggung cucu mantunya itu.


Belen meraih tangan Oma, dikecupnya punggung tangan yang mulai kriput itu dan pamit untuk pergi ke toko.


"terimakasih Oma" ucapnya sebelum benar-benar melangkah.


...


Sebuah mobil Audi seri S8 terlihat terparkir rapi dihalam sekolah berpagar warna-warni dengan papan nama "Kemala International School". Seorang pria dengan setelah jas perpaduan navy-putih itu turun dari mobil dengan menggendong seorang gadis kecil bersamanya. Ya Ibra sudah sampai disekolah Divya.


Tak lupa Ibra selalu mengantar gadis kecilnya hingga depan ruang kelas. Sebelum deretan ruang kelas ada sebuah lorong dengan kantin kecil disisi kirinya. Biasanya ibu-ibu yang mengantar anak mereka akan duduk-duduk dulu disana sekedar membahas tas baru mereka atau mengocok arisan dengan nominal puluhan juta.


Ibra tak biasanya memperhatian bahkan mendengarkan obrolan ibu-ibu disana, namun ada satu nama yang mereka sebut sehingga Ibra mencoba untuk mendekat dan mendengarkan lebih jelas setelah mengantar Divya ke kelasnya.


"iya kemarin aku pergi ke toko kue matahari benar gadis itu yang melayani pembeli, aku sih pura-pura tidak kenal saja, malu juga aku pergi dengan teman arisanku yang lain. Bahkan dia mengenakan celemek kotor terkena adonan kue" salah seorang ibu yang membelakanginya sedang bergosip.


"saya sudah bilang kan jeng kalo dia itu diperistri cuman suruh momong anak itu, saya pernah cerita kan kalo pak Ibrahim itu dekat dengan sepupu saya, bahkan sepupu saya, Sarah, bilang kalau mereka masih berhubungan baik dan sering ketemu kok" seorang lagi menyahut.


"ah yang benar jeng? ya gitu ya wanita kelas rendah, taunya dinikah orang kaya bakal menikmati hartanya tapi cuma suruh jadi baby sister plus plus hahaha" sekumpulan ibu-ibu itu terlalu asik bergosip tanpa tahu seseorang sedang perhatikan dan mendengarkan mereka.


Ibra tak habis pikir mereka tega berkata demikian tentang Belen.


brak!


Suara gebrakan meja cukup nyaring tapi tak terlalu keras, Ibra juga sadar ini di area sekolah.


"sudah puas kalian menggunjingkan istri saya? apa kalian pikir kalian yang hanya suka bergosip begini lebih baik dari istri saya! ya! Dia memang pemilik toko kue kecil yang kalian bicarakan! tapi saya sangat bangga karena dia berusaha diatas kakinya sendiri tanpa bergantung maupun menjilat orang lain seperti kalian!" Ibra benar-benar terlihat marah, otot lehernya terlihat jelas, jika yang didepannya ini laki-laki pasti sudah dia habisi ditempat.


"dan satu lagi! saya menikah dengannya karena dia pilihan saya! juga katakan kepada sepupu anda untuk berhenti berkhayal!" Ibra merasa cukup membuat ibu-ibu itu ketakutkan bahkan ada yang memegang lengan yang ada disebelahnya.


...


Ibra amat merasa bersalah kali ini, tak seharusnya ia berkata sekasar itu semalam, bahkan telah merendahkan istrinya. Jadi ini yang membuat Belen tidak fokus menjaga Divya kemarin? Dia mendengar orang-orang membicarakannya bahkan semua yang dikatakan mereka semua tidak ada yang benar, kecuali Belen bekerja ditoko kue, tapi itupun milik Belen bukan.

__ADS_1


tut


tut


tut


"iya nak ada apa?" sahut seorang disebrang panggilan telepon itu.


"oma dimana Belen?" sahut Ibra cepat.


"dia sudah berangkat ketoko kue setelah kau pergi tadi"


"baik Oma" Ibra menutup sambungan telponnya.


Kini ia mengemudikan mobilnya menuju ke toko kue, ia harus segera meminta maaf pada Belen. Ia mengumpat, merapalkan sumpah serapah pada jalanan yang macet dipagi yang gerimis ini.


Memilih jalanan kecil, ia pun sampai diarea pertokoan tempat toko kue Matahari berada. Dengan cepat ia turun dan berlari menuju toko.


Sial! pintunya terkunci. Dia mengalihkan pandangan ke area parkir pun tak ada mobil Belen disana!


Argh! kemana sih!


Ia sudah berusaha menelpon Belen sedari tadi tapi gagal terus .


Ya dia tau harus menelpon siapa.


"dimana dia" begitu telponnya diangkat seseorang.


"Lady sedang berjalan menuju Popolar caffe ketua, apa yang-" sebelum selesai berbiacara Ibra sudah memutus sambungan telponnya dan kembali memacu mobilnya menuju Popular Caffe.


drrt drrrt


Ibra yang tengah fokus menyetir merasa ponselnya bergetar.


"apa!?" serunya.


...HAI KAWAN KAWAN...


...YUK TINGGALKAN JEJAK JANGAN LUPA TERIMAKASIH BANYAKBANYAK...

__ADS_1


__ADS_2