Alexavier Archie

Alexavier Archie
Hancur


__ADS_3

Suara decitan ban yang panjang terdengar nyaring setelahnya benturan kencang menghantam mobil jeep berwarna hitam itu. Mobil yang ditumpangi Adam lepas kendali hingga menabrak pembatas jalan dan berhenti setelah terguling beberapa kali.


Dua mobil yang melakukan rem mendadakpun ikut remuk meski tidak separah Adam. Sementara mobil yang menabrak Adam pun mengalami rusak yang cukup parah.


1.30 dini hari suara ambulance berlomba-lomba membawa korban kecelakaan itu menuju rumah sakit, memekakan telinga orang-orang yang mendengarnya.


Garis polisi mulai dipasang di lokasi kejadian, 4 mobil yang terlibat kecelakaan itu bahkan masih ditempatnya menunggu mobil derek datang untuk mengangkutnya.


...


drrrt drrrtt drrrttt


Mata beratnya memandang ponsel nya yg bergetar, anehnya itu ponsel pribadinya, matanya melirik jam dinding yang menggantung disebrang ranjangnya, 02.12 dini hari, siapa yang menelpon.


Matanya yang masih berat serta nyawa yang belum terkumpul ia meraih ponsel yang terus bergetar itu, detak jantungnya sedikit terpacu saat orang disebrang sana mengatakan dari Rumah Sakit X, detik berikutnya kesadarannya kembali penuh dengan rasa nyeri di dada saat nama adiknya disebut.


...


Rumah Sakit X sekarang cukup ramai dengan datangnya beberapa polisi yang mengurus kejadian ini. Ibra melangkah cepat menuju ruang oprasi setelah bertanya pada petugas jaga didepan. Oma dengan langkah lemahnya dibantu Belen mengikuti jejak Ibra.


Rasanya begitu hancur saat Ibra memberitahu kabar dari rumah sakit itu padanya. Derai air mata tidak lagi bisa ditahan, Belen dengan setia masih memapah Omanya menuju ruangan dimana adik iparnya berada.


Disinilah mereka didepan pintu berwarna putih dengan suhu ruangan yang amat dingin, ruang tunggu oprasi.


Sejam sudah mereka menunggu hingga keluarlah beberapa dokter dari dalam ruangan itu, baju jaga berwarna merah itu tak mampu menyembuyikan noda-nida darah yang mengenainya.


Ibra, Belen juga Oma sudah berdiri menghampiri 2 dokter itu, seorang anggota polisi pun ikut mendekat untuk mengetahui keadaan selanjutnya.

__ADS_1


"3 dari 4 korban kecelakaan itu tidak terselamatkan"


Kalimat pertama yang dokter itu lontarkan sudah membuat kaki Oma lemas hingga kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya. Oma pun dibawa ketempat duduk oleh Ibra juga dibantu Belen.


"bagaimana dengan adik saya dok!" seru Ibra tak sabar.


"korban atas nama Adam Ankawijya mengalami luka cukup parah dikepala, patah 3 tulang rusuk, juga patah di lengan kanan, korban sedang menjalankan oprasi setelah kami lakukan rontgen beberapa saat lalu, kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk memulihkan keadaan korban" jelas Dokter kiranya berusia 40tahunan itu pada Ibra.


Setelahnya dokter itu bersama seorang polisi tadi menuju ruangan diamana 3 korban tewas lainnya berada.


Mendengar kondisi cucunya Oma menangis meraung meski ada rasa lega dihatinya, cucunya masih ada harapan selamat. Belen tanpa sadar ikut menitihkan air mata dan memeluk Omanya erat.


Ibra melangkah keluar ruangan, disana sudah berdiri Raka juga Louis menunggu penjelasan dari Ibra. Hanya mengatakan bahwa Adam akan baik-baik saja sudah cukup membuat kedua orang itu menarik nafas lega.


"Louis lakukan penyelidikan sedetail mungkin cari semua celah mencurigakan mulai dari Adam meninggalkan markas hingga lokasi kejadian" tanpa perlu bertanya Louis segera memerintahkan anak buahnya untuk meretas semua cctv yang dilewati Adam malam itu.


Usai memberi intruksi dan meminta mereka untuk tetap disana Ibra kemudian membawa langkah kakinya menuju ke gedung parkir untuk menemui dua orang kepercayaannya selain Raka juga Louis.


"bagaimana kondisi Kenrich?" Ivan melangkah maju menghampiri ketuanya.


"dia tidak apa-apa meski kondisinya cukup parah, tapi menurutku ada yang janggal" jawab Alexavier kepada anak buahnya.


"apakah ini disengaja ketua?" suara Dominic terdengar yakin.


Ibra sempat mengobrol dengan anggota polisi yang menangani kejadian yang menimpa adiknya, dari rekaman cctv di area itu memang terlihat Adam memacu kencang mobilnya dan memang tiba-tiba dua mobil didepannya mengerem mendadak, Adam yang mencoba menghindar malah tertabrak mobil belakangnya yang tidak bisa mengendalikan laju mobilnya. Juga 3 korban tewas itu dalam kondisi mabuk, tapi yang membuat janggal Ibra adalah semua tidak memiliki identitas, bahkan mobil yang dipakai pun tidak jelas asal-usulnya.


Mungkin hal seperti ini sering terjadi bisa jadi memang mobil curian yang sudah dirombak atau hasil penggelapan namun ini semua mobil yang terlibat dengan kecelakaan Adam tidak ada yang jelas.

__ADS_1


"terus pantau gerak gerik Titan" melihat anggukan dari dua orang kepercayaannya Ibra kembali meunju ruangan dimana Oma serta istrinya berada.


...


7.45


Adam sudah dipindahkan ke ruang perawatan meski kesadarannya belum kembali. Kepalanya diperban, lengan kanannya juga dibalut perban melingkar begitu juga bagian rusuk kanannya. Ibra sudah meminta Oma untuk pulang menemani Divya, dan Belen menolak permintaan suaminya karena dia ingin menemani suaminya, tak mungkin ia menjaga Adam seorang diri.


"abang aku belikan sarapan dulu ya" suara lembut Belen mengalihkan pikiran Ibra yang kalut melihat kondisi adiknya. Ia pun mengangguk tanda setuju.


Mendapatkan ijin Belen melangkahkan kakinya menuju pintu untuk keluar dari ruangan rawat inap Adam, namun bersamaan sosok perempuan dengan setelan skirt, kemeja serta blazer berwarna hitam masuk dengan derai air mata yang sudah membasahi pipinya, mata merah serta penampilan berantakan. Amanda terpaku melihat kondisi pria yang belum ada 24 jam lalu mengantarnya pulang.


Melihat kedatangan Amanda Ibra bangkit dari bangku yang ia gunakan untuk menunggui Adam.


"Belen, biar aku saja yang membeli sarapan, kamu temani Amanda saja" ucap Ibra seraya melangkah menuju pintu.


Belen mempersilhkan Amanda masuk, sekian detik setelah Ibra menutup pintu dari luar tangis Amanda semakin pecah saat ia mendekatkan diri pada sosok lelaki yang hari kemarin memberinya rasa bahagia luar biasa, lelaki yang sudah membuatnya gundah gulana.


Belen meraih tubuh Amanda dan memeluknya memberinya kekuatan juga ucapan menenangkan lainnya. Dirasa Amanda sudah tenang Belen membawanya duduk dibangku yang sempat ditempati Ibra beberapa waktu lalu.


Tangan mungil Amanda bergetar menyentuh tangan kekar yang terasa dingin padahal beberapa waktu lalu tangan itu menggenggam tangannya memberi kehangatan.


Dadanya semakin nyeri melihat banyak luka menggores tubuh lelaki itu, juga balutan perban yang melingkar didada, lengan serta kepala Adam.


"Amanda, Adam adalah lelaki kuat, dia pasti bisa bertahan dengan kondisi saat ini, aku yakin dibawah alam sadarnya dia sedang berjuang kembali untuk melihat senyummu" perkataan Belen mampu membuat Amanda menggores senyum tipis diwajahnya yang basah karena air mata.


"Belen apakah dia akan cepat kembali membuka matanya?" suara Amanda terdengar serak juga masih ada sisa sesenggukan disana.

__ADS_1


"iya aku yakin, kita hanya perlu menyambutnya dengan senyum saat hal itu terjadi" Amanda memeluk Belen dan kembali dengan tangisnya, perasaannya benar-benar hancur saat mendengar berita mengerikan ini dari Raka.


Amanda yang hendak menuju ruangan bosnya bertemu dengan Raka yang hendak masuk keruangannya, berita yang dibawa Raka sontak membuat Amanda menjatuhkan berkas yang ia dekap dan buru-buru mengambil tasnya dan berlari keluar mencari taxi atau seadanya untuk menuju rumah sakit.


__ADS_2