Alexavier Archie

Alexavier Archie
Pergi Berdua


__ADS_3

Belen merasa bersalah pada Divya, dia tidak menepati janjinya untuk menemaninya mengerjakan tugasnya. Dengan langkah berat Belen meninggalkan kamar Divya dan menuju kamarnya.


ceklek


"sudah pulang?" sapa Ibra yang tengah memangku laptopnya dan bersandar diranjang.


"iya abang" Belen meletakan tasnya diatas nakas, menaruh jaketnya didekat sofa.


"abang, apa Divya akan marah? dia ingin aku temani mengerjakan tugasnya, tapi aku pulang terlambat" sambung Belen duduk ditepi ranjang.


Ibra mengalihkan perhatiannya pada raut murung istrinya.


"Divya anak yang pintar, dia cukup tahu mamynya sedang sibuk di toko, mandilah dulu aku mau mengajakmu keluar" jawab Ibra sambil mematikan laptopnya.


"ini sudah hampir setengah 9 malam abang, kita mau kemana?" ucap Belen dengan mengerutkan dahinya.


"sudahlah, kita belum pernah jalan berdua bukan?" Dengan bujukan Ibra Belen pun menurut saja, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, karena parfumnya sudah berganti bau panggangan kue.


Tiga bulan sudah pernikahan mereka berlangsung, Ibra bukanlah sosok dingin lagi dihadapan Belen. Ia terlihat begitu memeperdulikan dan memperhatikan istrinya.


Melihat Belen keluar dari kamar mandi dan hendak menuju walkinclosed Ibra memintanya untuk mengenakan pakaian yang tertutup serta jaket, karena ia ingin menikmati malam cerah ini dengan berboncengan dengan motor besarnya. Mengiyakan perintah suaminya Belen dengan cepat berganti pakaian, menguncir kuda rambut hitamnya dan mengenakan sepatu convers favoritnya.


Dibawah sinar bulan dan gemerlap bintang dua pasang yang sedang merasa dilanda cinta itu tak bisa menutupi kebahagiaan diwajah mereka. Belen melingkarkan tangannya diperut sixpax suaminya, sesekali Ibra pun menggenggam tangan mungil Belen.


"abang, apa sekarang Dominic atau anak buahnya juga sedang mengikuti kita?" tanya Belen iseng saat seporsi sate ayam sudah berada dihadapannya.


"tidak, untuk apa? aku ada untuk menjagamu" jawab Ibra yang meraih satu tusuk sate.


"aku akan merasa sungkan bila saat ini ada yang mengawasi" ujar Belen yang kemudian disusul senyum lebar yang menampilkan deretan gigi putihnya.


Dengan obrolan ringan mereka pun menyantap habis sate ayam dan jeruk panas dihadapan mereka. Seperti pasangan kekasih mereka berdua memilih jalan kaki disekitaran taman kota yang cukup ramai dijam malam.

__ADS_1


Cukup lama berjalan, mereka pun memutuskan duduk disebuah bangku besi dibawah pohon yang tak terlalu rindang. Ibra memutuskan untuk membeli minuman kemasan didekat mereka duduk.


"terimakasih abang" Belen menerima sebotol mineral yang dibeli Ibra.


"Belen" Ibra memanggil Belen dengan suara amat lembut, hingga Belen hampir tersedak mendengarnya.


"iya" jawabnya dengan ekspresi lucu diwajahnya.


"kenapa dengan wajahmu" Ibra malah terkekeh dengan raut yang terlukis dihadapannya.


"apa kau tidak berfikiran untuk cepat memberi Divya adik?" lanjut Ibra kemudian, dan kali ini Belen benar-benar tersedak mendengarnya.


"abang, aku akan sangat senang bila diberi kepercayaan itu, tapi untuk saat ini kasih sayang untuk Divya saja aku belum sepenuhnya bisa memberi, aku masih ingin mengembangkan toko kue ku, itu cita-cita ku sejak kecil" Belen menatap Ibra berharap suaminya dapat mengerti.


"tak masalah, Divya memang bukan anakku, tapi aku selalu mencoba menjadi pengganti ayahnya, aku selalu mencoba memenuhi semua keinginannya. Tapi jangan salah paham soal ini, bukan berarti semata untuk memenuhi keinginan Divya, tapi itu murni keinginan dari hatiku" jelas Ibra dengan tangan terulur keujung kepala istrinya.


"aku juga akan selalu berusaha mewujudkan segala keinginan abang" balas Belen yang sudah menjatuhkan tubuhnya didada bidang suaminya.


Melihat sudah lewat jam 11 malam merekapun memutuskan untuk pulang. Dengan tangan saling bertaut mereka menuju parkiran motor. Beberapa pedagangpun terlihat mengemasi dagangan mereka.


"bersiaplah sayang, ada gerombolan tikus mendekat" ujar Ibra pelan pada Belen.


Belen yang menyadari kedatangan dua orang lelaki itu pun sudah bersiap untuk merogoh pistol dibalik jaket jeansnya.


"Alexavier Archie" sapa salah seorang dari mereka.


"siapa yang menyuruhmu" balas Ibra dengan senyum smriknya.


"dunia mafia cukup terkejut dengan sosok asli Alexavier Acrhie atau bisa kita panggil Ibrahim Ankawijaya" imbuh lelaki tadi dengan tangan dibalik kantong jaketnya.


"langsung saja tak usah bertele-tele" ujar Ibra ketus.

__ADS_1


"aku hanya memberi mu salam perkenalan, dan juga salam selamat tinggal" dengan cepat dua lelaki itu mengeluarkan pistol dan bersiap menembak kearah Ibra juga Belen.


dorr


Belen yang sudah melihat arah tangan mereka pun lebih cepat menembakan peluru ke salah satu lelaki itu dan mengenai lengannya. Ibra pun memanfaatkan keadaan menendang senjata ditangan lelaki yang dihadapnnya. Belen memang selalu mengasah kemampuannya jika Ibra libur dari kantor jadi kecepatan tangannya sudah tidak diragukan lagi.


"kau salah mencari musuh kawan!" Ibra menghajar kedua penyerang itu. Belen yang tak ragu dengan kemampuan suaminya hanya melihat sekitar memaskitan tak ada penyerang lagi.


Dua penyerang itu telah tak sadarkan diri, Ibra membenarkan jaketnya yang lusuh dan mendekat kearah Belen yang masih memegang senjatanya.


"gadis Alexavier memang pemberani" ucapnya sambil mencium kening istrinya. Belen pun memasukan senjatanya dibalik jaket jeansnya lagi.


"abang tak apa?" Belen tentu lah panik melihat suaminya beradu jotos dengan dua orang sekaligus.


"mereka hanya tikus sayang, ayo" Ibra memberi helm pada Belen dan menyalakan motornya.


Tak butuh waktu lama, 15 menit mereka sudah masuk kedalam garasi rumah mewah keluarga Ankawijaya. Dilihat mobil Adam sudah kembali terparkir tandanya pemiliknya pun sudah berada didalam kamarnya.


"kau masuklah dulu, aku mau bertemu Adam" ujar Ibra saat menaiki tangga menuju lantai 2.


ceklek


Ibra membuka pintu kamar Adam yang ada dilantai 3 setelah mendapat persetujuan dari balik pintu.


"ada apa bang? ini sudah lebih tengah malam" ucap Adam yang sibuk bermain ponselnya.


"aku dan Belen mendapat serangan tadi ditaman" Ibra pun menceritakan kejadian tadi pada adiknya.


"siapa lagi yang berani menyerang kita, apakah kakek punya musuh lain selain Gerhana?" sahut Adam yang sudah fokus pada abangnya.


"didunia hitam ini tak ada yang namanya teman Adam, semua adalah lawan hanya menunggu waktu saja, aku tak bisa biarkan bila mereka berniat mencelakai Belen, Oma apalagi Divya. Atur pengawalan ketat terutama saat Divya sekolah" tutur Ibra.

__ADS_1


"memang benar kata kakek, kita tidak bisa keluar dari lingkaran ini jika masih bernyawa, kita juga tidak bisa berbaik-baik pada kumpulan lain atau kita akan ditikam secara perlahan. Pilihannya hanya menjadi yang terkuat" tambah Adam.


Setelah menyampaikan keresahannya, Ibra pun keluar dan menuju kamarnya. Ibra tak takut sama sekali bila dirinya yang menjadi sasaran, itu sudah wajar, namun disisinya ada seorang istri yang meski berkemampuan cukup hebat, anak angkatnya yang tak tahu apa-apa juga Oma yang amat ia sayangi, tiga wanita itu benar-benar harus ia prioritaskan keamanannya.


__ADS_2