
Sejak penyerangan terakhir ditaman malam itu tak pernah ada serangan baik dimarkas maupun wilayah Gerhana yang kini diambil alih oleh Galaxy, juga serangan-serangan langsung pada keluarga Ankawijaya. Semua cukup normal dan aman tapi meski begitu pengawalan tersembunyi tetap dilakukan untuk Oma, Divya maupun Belen. Kali ini Ibra maupun Adam tak mau kecolongan lagi seperti kejadian lalu karena identitas mereka telah terbongkar.
Pagi seperti biasa keluarga Ankawijaya sedang sarapan bersama tak lupa dengan celotehan Divya yang sangat memenuhi ruang makan. Juga keusilan Adam terhadap keponakannya itu menambah ramai suasana sarapan.
"Dady! lihat Om Adam dia terus menaruh brokoli ke piring Yaya! Yaya ngga suka!" protes gadis dengan seragam berwarna biru itu.
"nanti Om Adam biar Dady hukum ya sayang" jawab Ibra menenangkan gadis kecil itu.
"Iya tapi Dady sama Mamy jangan lupa nanti siang datang ke sekolah Yaya ya!" usai meneguk susu coklatnya Divya pun menuju susternya untuk memakai tas sekolahnya.
Adam telah berangkat duluan karena ada janji untuk menjemput Amanda. Sementara Ibra dan Belen sedang berjalan menuju mobil masing-masing.
"kau tunggu aku ditoko ya, nanti siang aku jemput" ucap Ibra lembut pada istrinya.
"Nona kecil menurut dengan Mamy ya jangan nakal disekolah" imbuhnya kemudian berjalan menuju mobilnya.
"hati-hati abang" pesan Belen sebelum masuk kedalam mobilnya.
Kini dua mobil itu sudah beriringan keluar komplek perumahan mereka dan berpisah dijalan utama karena tujuan mereka berbeda. Seperti biasa Belen akan mengantar Divya ke sekolah dan kembali ketoko matahari untuk mengambil kue untuk dibawa ke Popular caffe, caffe milik Ibra yg menjalin bisnis dengan toko kuenya.
Kedatangannya di Popular Caffe selalu disambut hangat oleh para pegawai, mereka yang menyadari kedatangan mobil dari istri pemilik yang juga men-suplai stock kue dan puding langsung membantu mengeluarkan kotak-kotak kue tersebut.
"terimakasih bantuannya Nayla" ucap Belen penuh senyum kepada pegawai yang membantunya kali ini.
"kalau begitu aku kembali dulu ya" pamit Belen yang langsung berjalan menuju parkiran mobil.
__ADS_1
Dug
"ah maaf saya kurang hati-hati" ucap Belen saat menyenggol bahu seseorang.
"ah tidak apa. Hm tunggu anda mamy nya Divya kan?" balas wanita dengan dres coklat muda itu sambil memperhatikan wajah Belen.
"ah iya benar, apakah anda juga wali murid disana?" sahut Belen ramah.
"iya anak kita sekelas, sepagi ini anda juga ngopi? atau ada urusan ketemu klien bisnis?" ia sangat ingin tahu meski tadi dia melihat Belen mengeluarkan beberapa kotak kue dari mobilnya.
"tidak, saya kesini tidak untuk minum kopi, saya hanya ada urusan, maaf saya masih ada perlu lain kali kita bisa mengobrol lagi" usaha Belen untuk menyudahi percakapan itu.
*Aku selalu tidak bisa menjawab bagaimana kalau ada yang tanya macam*-macam terlebih urusan Divya dan hubunganku dengan Ibra juga statusku sebenarnya. Ah aku sudah seperti pembohong besar.
Jam berlalu cepat hari ini ada pertemuan wali murid disekolah Divya, biasa akhir semester pasti akan mengadakan wisata sekolah. Siang ini Ibra sudah berjanji akan datang kesekolah Divya bersama. Belen sudah merapikan pakaian juga membenarkan penampilannya, meski didalam tokonya ber AC tetap saja akan berkeringat bila pembeli ramai datang.
Bunyi bel yang khas saat pintu terbuka selalu mengalihkan perhatian.
"abang sudah datang? kita pergi sekarang?" ucap Belen mengetahui siapa yang datang.
"Belen maaf ada hal yang kacau, aku dan Adam harus pergi keluar kota sekarang, kami sudah lama tidak pergi ke kantor cabang kami, dan ini sangat mendesak maafkan aku" Ibra mencoba menjelaskan kejadian yang ada dikantor cabangnya.
"kalau itu memang penting dan mendesak segeralah abang urus, aku bisa pergi kesekolah Divya sendiri, ini bukan masalah besar bukan?" Belen menerima pelukan dan kecupan dari Ibra, Ibra pun mengantar Belen menuju mobilnya dan pergi setelah mobil Belen melaju.
Ibra dan Adam segera pergi dan menuju kantor cabang mereka, tak lupa Ibra sudah memeberi pesan pada Dominic untuk mengawasi Belen dari kejauhan. Sebab musuh bisa menyerang kapan saja apalagi dengan kondisi Archie bersaudara yang sedang keluar kota.
__ADS_1
Belen telah sampai dan memarkirkan mobilnya, membenarkan penampilannya dan tak lupa mengirim pesan text pada suaminya. Dia langsung menuju ruang pertemuan yang sudah mulai ramai, sebelum itu dia sudah menjemput Divya dikelasnya.
Aula pertemuan sangat ramai, sebenarnya Oma menawarkan untuk ikut menemani Belen saat tau Ibra ada urusan keluar kota, tapi Belen menolaknya. Belen dan Divya duduk dibangku agak depan mendengarkan penjelasan dari guru Divya.
"iya aku sungguh tak salah lihat aku ingat sekali wajah dari penjual kue diarea ruko Plasa Anjaya, meski pakaiannya kini bermerk dan mahal juga menaiki mobil mewah aku tetap bisa mengenalinya" sayup terdengar obrolan beberapa wnaita yang baru saja duduk dibelakangnya.
"kau yakin dia mengantar kue ke Popular caffe? jika dia memang istri pengusaha besar kenapa dia melakukan itu, apa uang pemberian suaminya kurang" lagi, terdengar pembicaraan yang sepertinya sedang membicarakan Belen.
" iya, aku juga tidak percaya dia istri dari tuan Ibrahim, lalu kemana dia setahun ini selama anaknya sekolah tak pernah muncul, malah Sarah sepupuku juga pernah dekat dengan tuan Ibrahim, aku tak terlalu perduli dia anaknya siapa, tapi yang aku ketahui wanita itu merebut tuan Ibrahim dari sepupuku, padahal mereka juga akan menikah" sambung seorang lagi yang sudah pasti adalah wanita yang tadi pagi ditemuinya di Popular Caffe.
Belen cukup terdiam mendengar dengan jelas pembicaarn itu, bahkan dia dikira merebut Ibra dari Sarah, ya mungkin ada sedikit benarnya tapi bukankah Ibra tidak menyukai Sarah. Kini dia hanya mencoba fokus pada pembahasan didepan juga Divya yang mulai mengantuk. Beberpa menit setelahnya dia memilih pulang karena Divya tertidur dipangkuannya.
Namun sesaat setelah dia melewati baris dibelakangnya,
"lihat dia malah lebih cocok sebagai babysister" ucap seorang wanita dengan nada sedikit kencang.
Belen hanya melirik sekilas dan berjalan keluar dengan menggendong Divya.
Memangnya ada yang salah dengan pernikahanku? dan kenapa juga oma dulu menyembunyikan statusku sebenarnya, apa memang bahkan orang baik seperti oma juga takut dan menjaga gengsi sehingga berkata bahwa aku pergi mengurus bisnis lain? Juga memang seberapa salah seorang ibu menggendong anaknya yang tertidur? Mengantar dan menjemput sendiri anaknya tanpa supir juga babysister yang ikut serta.
Kini pikiran Belen malah berkecamuk, sejak awal dia merasa bahwa Oma tidak seharusnya menyembunyikan siapa Belen. Tapi disisi lain jika orang-orang tau siapa dia malah akan berdampak buruk pada Divya, orang-orang semacam mereka akan berganti mempertanyakan ibu kandung Divya. Dia rasa hal ini amat membuat dirinya bingung, dia harus terus berusaha berbohong jika orang bertanya mengenai dirinya dimasalalu.
Hai sobat! semoga suka yaa dengan kelanjutan cerita ini, jangan lupa like dan comment! Aku sangat menanti dukungan kalian!
.
__ADS_1
.