
"jadi setelah meeting usai makan siang ini jadwal bapak free, anda bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda kemarin pak" jelas Amanda kepada atasannya.
"baiklah Amanda kau bisa kembali keruanganmu sekarang" Amanda mengangguk dan melangkah menuju pintu.
"ah tunggu, kau mau makan siang keluar?" tanya Adam kembali sebelum asistennya itu benar-benar meninggalkan ruang.
"em, iya pak saya mau makan siang dengan kakak saya" jawabnya dengan masih memegang gagang pintu.
"kakakmu sudah kembali dari bekerja?" lanjut Adam.
"iya sudah satu jam lalu dia sudah mendarat, bapak mau saya pesankan sesuatu?"
"ah tidak perlu Amanda, terimakasih" setelah mendengar jawaban atasannya Amanda pun meninggalkan ruangan itu dan bergegas menuju ruanganya sendiri untuk meletakan berkas juga mengambil tasnya.
...
"abang lo pergi kemana sing Dam?" tanya Louis.
"ngga tau, kemarin dia berantem sama Belen, pagi tadi juga masih berantem tapi tau-tau sampai kantor udah lengket aja tuh kaya lem" sahut Adam yang tengah mengaduk es teh nya.
"kaya nya sih Ibra lagi menebus rasa bersalahnya sih, tadi dia minta gue telponin manajer hotel buat siapin makan siang di kamar pribadinya" imbuh Raka.
Mereka begitu akrab bila tidak sedang urusan kantor atau markas, jika sedang bertiga begini mereka lebih nyaman pakai kata lo-gue. Ngomong-ngomong mereka bertiga sedang makan siang di caffe dekat kantor karena tak mendapat jatah makan siang dari Oma.
...
Berbeda tempat dua perempuan sama cantiknya sedang saling menyapa, ber-cipika cipiki dan saling memeluk.
"maaf ya kak terlambat, tadi ngurus jadwalnya Adam dulu. Kaka udah lama?" tanya Amanda.
"ck! Adam mulu, kamu menghayati banget ya peran kamu, buruan eksekusi keburu baper ntar!" sewot Cassandra.
"ya-ya kan kaka yang minta aku buat dia jatuh hati, ya jadi aku harus berperan dengan baik dong" balas Amanda sambil membenarkan tatanan rambutnya.
"terus udah sampe mana tahap PDKT kamu?" Cassandra jelas menekan kata tanya itu.
"sabar dong kita juga belom deket banget kok. Yuk kak makan, laper jam setengah 2 harus balik kekantor ada meeting.
Lima belas menit berlalu, hanya denting sendok dan garpu yang terdengar karena mereka tak terbiasa berbicara dengan mulut penuh.
__ADS_1
Cassandra mengaduk smoothies dihadapannya dan disaat bersamaan handphone nya berbunyi.
Ia melirik tajam melihat nomor yang muncul, ya meski tak tersimpan tapi ia hafal betul pemilik nomor tersebut.
"ada perlu apa?" sahutnya begitu menerima panggilan itu.
Amanda yang juga paham siapa si penelepon menghentikan aktifitas mengunyahnya dan mencoba ikut menyimak.
"hah tenanglah dasar tidak sabaran! semua butuh proses untuk rencana yang sempurna, dia sedang mengurusnya. Lebih baik kau nikmati masa bersembunyimu" lanjut Cassandra dan setelahnya menutup panggilan itu.
"lihat baru juga aku bertanya padamu "dia" sudah menanyakannya lagi" sambung Cassandra kepada Amanda.
"kita tidak boleh gegabah kak, kaka tidak mau bukan rencana kita berantakan? semua butuh proses dan waktu" sahut Amanda seraya meraih gelas yang berisi leci tea kesukaannya.
Cassandra hanya mengeluarkan smriknya dan ikut meraih minum yang belum jadi ia nikmati tadi.
Selanjutnya mereka membicarakan hal wajar yang dibicarakan oleh seorang kakak beradik.
...
Jam menunjukan pukul 15.07. Pintu ruangan meeting terbuka menampilkan Adam juga Amanda keluar dari ruangan itu. Seperti biasa Amanda berjalan satu langkah dibelakang Adam.
"jadi apa makan siangmu menyenangkan?" basa-basi Adam dengan sedikit menoleh kebelakang.
"ah apa pak?" Amanda tidak fokus karena memikirkan sesuatu.
Tring
Setelahnya pintu lift terbuka, dua orang ini masuk kedalam menuju lantai dimana ruangan mereka berada.
Adam kembali mengamati raut Amanda yang terlihat lelah namun tetap menarik dimatanya.
"Amanda?"
"eh iya pak, apa bapak membutuhkan sesuatu?" tanya Amanda cepat.
"tidak, tidak. Aku hanya ingin meyakinkan apa kau baik saja? kau terlihat lelah"
"tidak pak, saya baik-baik saja, sepertinya saya butuh meminum vitamin" tepat selesai menjawab pintu lift pun terbuka.
__ADS_1
"saya akan kembali keruangan saya" imbuh Amanda kemudian mengambil langkah ke kiri menuju lorong ruangannya. Sebenarnya dilantai ini bukan hanya ruangan Ibra dan Adam namun dilorong kiri lift ada ruangan untuk asisten pribadi mereka, Amanda juga Raka.
...
Adam menyelesaikan beberapa pekerjaannya juga titipan beberapa dokumen dari abangnya namun ia kurang berkonsentrasi, ia kepikiran tentang Amanda, hingga ia mendapat sebuah ide.
Ia melangkah keluar dan menuju meja sekertarisnya, Nana.
"ada yang bisa saya bantu pak?" ucap gadis berhijab itu cepat ketika bosnya melangkah mendekat.
Meja Nana kira-kira berjarak 10m dari meja Jody karena ruangan bos mereka berseblahan, tapi berseblahan disini dalam arti juga memiliki jarak yang lumayan. Meja para sekertaris berada persis didepan pintu masuk ruangan bosnya.
"bukan masalah besar Nana, aku hanya ingin meminta sedikit bantuan. Bisakah kau pergi ke apotik dan membelikan beberapa vitamin juga beberapa kotak susu?" ungkap Adam halus.
"tentu pak saya akan pergi sekarang"
"ehm tunggu, setelah kau membelinya berikan pada Amanda ya" imbuh Adam sebelum Nana meninggalkan mejanya. Setelah mengangguk Nana melangkah keluar dan menuju tempat yang diperintahkan bosnya.
Setengah jam berselang Nana sudah membawa sekantung besar berlabel supermarket yang berisi empat kotak susu satu liter juga sekresek kecil berisi vitamin. Ia menuju ruangan Amanda dan menyerahkannya.
Amanda terlihat bingung dengan apa yang dibawa Nana.
"pak bos yang menyuruhku membelikan ini dan memberikannya padamu, apa kamu sakit?" jelas Nana mihat raut bingung Amanda.
DEG
Kenapa dia begitu baik dan perhatian padaku, apakah dia memang sebaik itu pada semua orang? Dia memang terlihat lebih ramah dari kakaknya tapi jika aku aku perhatikan dia tak terlalu ramah juga dengan karyawan lain, apa dia.... ah aku ini sedang berpikir apa sih! Tentu dia perhatian karena aku bawahannya, kalau aku sakit juga dia yang repot sendiri kan.
"Amanda? hei! kamu ngga papa?" suara Nana memecah lamunanya.
"ah iya iya, aku baik saja Nana, terimakasih ya" jawab Amanda cepat.
"baiklah, cepat minum vitaminmu, kamu memang terlihat sedikit kusut" canda Nana kemudian meninggalkan ruangan Amanda.
Amanda memandangi barang yang baru diletakan Nana dimejanya. Dia merasa ada yang aneh dengan hatinya, disisi lain pikirannya menentang hal tersebut.
Ketimbang memikirkan itu dia memilih untuk mengambil satu vitamin dalam kresek berwarna putih itu dan meminumnya satu butir. Amanda jadi benar-benar berfikir dirinya sedang sakit.
...
__ADS_1
Diruangannya Adam sudah merasa lega mendengar laporan Nana bahwa Amanda sudah menerima pemberiannya. Ia berharap Amanda baik-baik saja, karena bila Amanda sakit bukan hanya pekerjaannya yang berantakan namun sepertinya hatinya pun akan ikut berantakan.