Alexavier Archie

Alexavier Archie
Tiga Lawan Satu


__ADS_3

Akhir bulan benar-benar menguras waktu, tenaga, juga pikiran. Dari pagi hinggal pukul 5 Ibra juga Adam benar-benar disibukan dengan laporan yang menumpuk dimeja mereka.


Konsentrasi terbagi dengan kejadian penyerangan akhir-akhir ini menyebabkan pekerjaan mereka sedikit terhambat. Tak ingin banyak menunda waktu dua bersaudara ini pun memutuskan segera menyelesaikan masalah dunia hitam mereka. Mengetahui musuh dengan cepat.


Seperti biasa, sebelum pukul 6 sore dua bersaudara ini sudah sampai di rumah oma nya, membersihkan diri dan bergabung makan malam.


Ibra yang baru keluar dari kamar sedari tadi memasuki rumah belum mendengar suara Divya dirumah itu akhirnya memutuskan untuk memasuki kamar gadis kecil itu.


ceklek


Didalam kamar yang didominasi warna pink dan banyak gambar little pony itu dilihat Divya sedang bermain dengan susternya.


"tuan, nona kecil sedang mewarnai, sedari sore nona kecil terus marah-marah" sapa suster Divya kemudian keluar dari kamar itu meninggalkan Ibra dan Divya.


"gadis kecil kenapa cemberut begitu? kata suster anak cantik ini marah sepanjang sore ya? ada apa?" ucap Ibra lembut sambil ikut duduk didepan meja kecil tempat Divya mewarnai gambar.


"Yaya mau seperti teman-teman Yaya!" gadis kecil dengan pakaian tidur bergambar teddybear itu terlihat memanyunkan bibirnya.


"memangnya teman-teman Divya punya apa? Dady akan berikan" bujuk Ibra yang sudah memangku Divya.


"Yaya mau ulangtahun" kini kedua tangan mungil itu tersilang didepan dadanya.


"nona kecil kan selalu merayakan ulangtahun dengan meriah, lalu apa lagi?" tanya Ibra memainkan rambut Divya yang dikuncir kuda.


"teman-teman ulangtahun sama Dady Mamy nya. Yaya mau Mamy" pinta gadis kecil yang jelas membuat Ibra geleng kepala.


"memangnya Divya tau cari mamy itu dimana? nanti kalo mamy nya galak gimana?" goda Ibra asal.


"mamy yang kaya tante Belen, jadi Yaya bisa makan kue sama puding banyak-banyak" ucap polos gadis kecil itu.


"setiap hari kan juga sudah makan kue sama puding" ucap Ibra singkat.


"pokoknya besok ulangtahun Yaya, Yaya mau tante Belen jadi kaya Mamy Yaya, Yaya mau bilang sama Oma!" Gadis kecil itu turun dari pangkuan Ibra dan lari menuju ruang makan tempat omanya berada.

__ADS_1


Ibra hanya menggeleng melihat permintaan anak kecil yang begitu polos itu, jelas saja Divya sangat membutuhkan sosok ibu disisi nya, perannya yang menggantikan sosok Abraham Ankawijaya kakak kembar juga ayah kandung Divya sangatlah kurang.


Ibra yang berjalan menuju ruang makan mendengar celoteh Divya pada Oma juga Om nya mengenai permintaannya itu. Ibra yang menarik kursi hendak duduk mendapat lirikan dari gadis kecil yang sedang memegang sumpit ditangannya.


"hei gadis kecil kenapa begitu melihat Dady?" protes Ibra melihat perlakuan Divya.


"Yaya ngga mau ngomong sama Dady kalo Dady ngga kabulin mau Yaya!" seru gadis kecil itu dengan kesal.


"bener tuh Yaya, Om temennya Yaya oke?" Adam malah menambah suasana meja makan semakin ramai.


"Divya sayang, Dady pasti mau menuruti permintaan mu" bukan merayu, Oma malah ikut membela Divya.


"Oma! kenapa semua jadi ikut-ikut seperti anak kecil sih?" geram Ibra.


"Jika tak begini kapan kamu akan membawa seorang gadis untuk menemani Oma dan Divya disini, usiamu sudah terlalu matang Ibra" tambah Oma yang sedang mengambilkan miegoreng untuk Divya.


"Abang, jangan kelamaan, sebenarnya aku penasaran dengan tante Belen yang Divya bicarakan" goda Adam yang sedang melahap makan malamnya.


"Adam benar Ibra, Oma sudah mengenalnya lama dia gadis yang baik, polos dan pekerja keras dan yang penting dia menyayangi Divya, gadis seperti itu akan banyak yang mengincarnya." kini Oma terlihat serius berbicara.


"tunggu dulu, apa oma ingin menjodohkan gadis itu denganku? aku tak tertarik dengannya, lihat Adam sepertinya malah tertarik jodohkan saja dia dengannya" ucap Ibra yang semakin kesal, karna memang selama ini dia sangat tidak suka bila disinggung mengenai pernikahan apalagi perjodohan.


"Adam masih 23tahun dan Belen lebih dewasa darinya, dia akan lebih cocok denganmu" jelas Oma yang memandang serius Ibra.


"tiga lawan satu Abang" Adam memainkan alisnya naik turun menggoda Ibra yang sedang kesal.


Tak dipungkiri memang gadis itu menarik perhatian seorang Ibrahim Ankawijaya. Gadis yang berbeda dari gadis-gadis yang berlomba mendekatinya. Gadis yang sepertinya memang gigih dalam bisnisnya, dan yang lebih menarik adalah dia berani menggunakan senjata api.


"selesaikan makanmu, ingat ada hal yang perlu kita bicarakan" ujar Ibra pada Adam dengan nada dingin.


"mau kemana lagi kalian?" tanya Oma mengernyitkan dahinya menatap dua cucunya.


"mencari tau siapa dalang penyerangan akhir-akhir ini oma" jawab Adam yang selesai meneguk segelas air putih.

__ADS_1


"Divya manis Om pergi dulu yaa" Adam pamit dengan ponakan kesayangannya dan mencium pipi bulatnya.


"Divya cepat tidur ya Dady keluar dulu" kini giliran Ibra yang berpamitan namun Divya menolak ciuman Ibra.


"hei ini tidak adil nona kecil" ucap Ibra menatap gadis kecil yang memalingkan muka darinya.


Ibra juga Adam kini kembali ke kamar mereka untuk berganti pakaian khas mereka jika sedang bersama anggota Galaxy.


Ibra yang lebih dulu keluar sudah menuju mobil digarasinya.


"abang! kita satu mobil ya?" pinta Adam berteriak dari belakang.


"terserahlah" Ibra hanya menurut permintaan adiknya dan mengijinkannya satu mobil dengannya.


jam 8.30 malam jalanan belum terlalu sepi sehingga mobil mereka tidak bisa terpacu dengan kenjang. Sesekali mobil mewah Ibra terjebak macet diperempatan lampu merah.


"memutar saja bang, biar lebih cepat sampai" saran Adam yang melihat perempatan masih padat dijam segini.


Tanpa menjawab Ibra memutar kemudinya kearah kiri memasuki sebuah jalanan agak kecil, melewati area belakang beberapa gedung perkantoran. Jalan ini membuatnya masuk melalui portal no 3 yang merupakan area toko kue Matahari.


"bukankah itu gadis yang Oma dan Divya bicarakan?" Adam melihat gadis dengan hoodie putih dan rok jeans selutut sedang berusaha menutup rollingdoor nya.


Ibra hanya menoleh sekilas, ya benar bahkan gadis itu sepertinya masih mengenakan pakaian yang tadi siang ia gunakan saat makan siang dengannya.


"dari belakang sepertinya dia cukup lumayan" sambung Adam yang menoleh kearah kakaknya yang terlihat cuek.


"apa kemarin abang bilang? dia bisa menggunakan senjata api? wah benar-benar menarik bukan, cocok menjadi anggota mafia" ujar Adam terus menerus tanpa mendapat jawaban dari Ibra.


"jika abang tak mau bolehkah untukku?" sambungnya lagi.


"bisa kah kau diam? jika kau penasaran cobalah dekati dia, kita lihat siapa yang akan menarik perhatiannya!" Ibrahim tentu asal karena geramnya sedari tadi makan malam hanya itu yang dibahas.


"wo wo wo apakah ini sebuah tantangan? Ibrahim Ankawijaya menantang Adam Ankawijaya sipenakluk wanita?" Adam terkekeh kencang hingga tak sadar Ibrahim sudah meninggalkannya dan masuk kedalam sebuah bar diujung pertokoan itu, toko dengan tingkat 3.

__ADS_1


__ADS_2