Alexavier Archie

Alexavier Archie
Maafkan Aku


__ADS_3

"apa yang dia lakukan hah! dasar wanita tidak berguna!" seru Alfario pada Cassandra.


"br*****k! aku sudah katakan padanya aku sudah mengancamnya untuk menjalankan rencana! Dasar Archie bersaudra memang licik dia pasti sudah di uci otaknya!" kali ini Cassandra tak mengira adiknya akan senekat itu membangkang dari perintahnya.


Alfario sangat murka balas dendamnya yang audah ia susun lama harua berantakan padahal sedikit lagi akan berhasil. Dia tidak tau apa yang akan Mr. Who lakukan padanya karen mambuat anak buahnya mati sia-sia. Gerhana memang mendapat bantuan dari seorang mafia besar yang beraembunyi dibalik kegelapan. Bahkan Alfario sendiri tidak pernah bertemu langsung dengan seorang bernama Mr. Who itu, identitas aslinya apalagi tidak ada yang tau. Dia seperti bayangan di kegelapan, ada namun tak terlihat.


Anthony ayahnya menerima kerjasama dengan Mr. Who yang diawali dengan membuat berita palsu kematiannya dan runtuhnya Strom. Saat itu Strom mulai berganti nama dengan Gerhana dan memulai semua dari nol dan dengan bantuan dari Mr. Who. Dia adalah mafia yang mendani banyak kumpulan mafia yamg akhirmya tunduk padanya. Layaknya mengangkat seorang anak Mr. Who selalu memberi suntikan dana dan memberi jalan para kumpulan mafia untuk mendapat wilayah dan kekuasaan, yang sebenarnya juga akan kembali lagi padanya.


sreg!


Cassandra tersentak kaget dan memberontak sekuat tenaga saat kakaknya Alfario melayangkan tangannya dan mencekiknya dengan tatapan tajam dan penuh amarah.


"pergi cari wanita sialan itu! Bawa dia kemari hidup atau mati!" dengan sekali ayunan Alfario melepaskan cekikan itu dan membuat Cassandra terhuyung kedinding.


"dasar b****at!" Cassandra masih terengah-engah paru-parunya nampak kehabisan oksigen.


...


Amanda masih terisak dengan sesak didadanya, lelaki yang selalu hangat padanya kini sedingin kutub utara. Mata yang selalu teduh itu memandangnya rendah dan jijik.


"aku tahu aku keterlaluan Adam! aku memang tidak pantas menerima cintamu, menerima perhatian, kebaikan dan kasih sayangmu" dengan bibir bergetar Amanda mencoba untuk terus meminta maaf pada Adam.


"sebelum aku pergi tolong maafkan aku" Amanda mengusap air matanya dan membalikan badannya tanpa berani menatap manik kecewa dan penuh amarah milik Adam.


grep!

__ADS_1


Amanda mematung, detak jantungnya seoalh berhenti sepersekian detik, darahnya berdesir amat kencang saat tubuhnya mendapat dekapan dari Adam. Tangisnya pecah, ia semakin merasa bersalah saat ini, Adam masih mau memaafkannya setelah perbuatan keji yang ia lakukan.


"tinggalah denganku, mereka akan membunuhmu jika kau kembali Amanda, jangan buat hatiku bertambah sakit dengam kepergianmu" Adam membalik tubuh Amanda agar mengajadap kearahnya.


Amanda tidak menjawab ia tak kuasa, apa yang Adam katakan benar kakak kakaknya tidak akan membiarkan dirinya hidup setelah apa yang ia perbuat. Disisi lain Amanda juga sakit jika harus meninggalkan kakak yang telah merawatnya.


"istirahatlah, kamu akan aman disini" Adam membawa Amanda kelantai 2, ruangan ujung tempat kamarnya berada.


Dengan lembut Adam mendudukan Amanda diranjang yang tak begitu luas itu, namun tetap cukup luas bila harus ditempati berdua. Ruangan yang hanya ada ranjang, nakas kecil, lemari pakaian dan sofa diujung tempat tinggalnya jika berasa dimarkas.


"tunggu disini, tenangkan dirimu, aku akan turun kebawah mencari penyelesaian dari ini semua" tangan kekar Adam mengusap lembut pipi Amanda yang masih terlihat merah dan masih basah itu.


"kumohon, jangan sakiti mereka" air mata itu kembali luruh mengingat nasib buruk akan mendatangi kakak kakaknya.


...


Setelah perdebatan panajng dengan Alexavier bahkan Raka yang juga merasa kesal tertipu akhirnya Kenrich mendapatkan kemenangannya. Ia boleh membiarkan Amanda berada didekatnya namun tidak diperbolehkan dibawa kerumah sebelum kebenaran tentang Amanda terbukti.


"aku akan kembali melihat kondisi Belen dan kondisi rumah" sebelum bangkit Alexavier melirik sekilas ke arah adiknya Kenrich Archie.


"abang pergilah, aku akan menemani Amanda disini" tak mau kembali berdebat Alexavier memilih pergi, membicarakan ini dengan Oma sepertinya hal yang tepat, ia tidak bisa memikirkan banyak masalah sendiri.


...


Memasuki area perumahan tempatnya tinggal ia melihat beberapa anak buahnya yang berjaga dengan menyamar. Didalam rumah lebih banyak lagi yang berjaga, dengan Dominic yang siap siaga tepat didepan pintu masuk.

__ADS_1


Kepalanya menunduk memberi hormat kepada ketuanya.


"semuanya baik ketua, bagaimana perkembangan selanjutnya?" tanyanya pada sosok


" tetap direncana awal" selanjutnya Alexavier meneriskan langkahnya menuju dalam rumah.


Oma yang sedang membaca buku diruang tengah langsung menoleh dan cepat-cepat meletakan buku yang ia pegang, melepas dan meletakan kacamata bacanya. Ibra yang menyadari langkah Omanya langsung mendekat, ia dapat membaca jelas raut khawatir yang tergurat jelas diwajah tuanya.


"sebenarnya apa yang terjadi Ibra? mengapa Belen dan Adam mendapat serangan seperti itu? kali ini siapa musuh kalian hah?" Ibra menarik nafasnya pelang, meraih pundak Omanya dan membawanya ke sofa didekat mereka.


"semua sudan diselidiki Oma, tapi kali ini aku tidak akan gegabah dan menganggap enteng musuh. Aku hanya nerpesan tolong jaga diri Oma demgan baik, Divya juga aku titip Belen" setelahnya Ibra menceritakan semua runtut kejadian yang menimpa mereka akhir-akhir ini.


Oma tentu terkejut demgan cerita cucunya. Musuh yang mereka anggap kalah ternyata masih ada dan bergerak dalam bayangan. Ia bahkan tidak pernah mendengar sebelumnya temtamg seseorang yang dipanggil Mr. Who, jadi besar kemungkinan Mr. Who bukan dari generasi suaminya Ilyas Archie, bisa juga dia berasal dari luar negeri.


"dan satu lagi Oma" Ibra pun menceritakan soal Amanda dan mengenai kondisinya sekarang.


Oma memang belum pernah bertemu dengan Amanda secara personal selai kejadian ditaman bermain waktu lalu. Adam memang samgat sering bercerita mengenai sosok Amanda. Cucu keduanya itu juga bahkan memohon untuk diberi restu dengan Amanda. Tapi kali ini Oma juga syok mengetahui motif Amanda mendekati Adam.


"jika kau juga Adam menilai Amanda tidak bersalah maka carilah fakta-fakta pendukung lainnya. Jika adikmu benar-benar percaya akan cintanya kau tidak boleh membiarkannya buta dan tuli akan cintanya. Sebagai seorang kakak kau harus beraesia menjadi mata dan telinganya Adam." Oma selalu berpesan dengan bijak, ia tidak mau menilai orang hanya dari satu kejadian dan itu membuat Ibra senang membagi masalahnya pada Omanya itu.


"baiklah Oma, aku akan selalu menuruti perkataan Oma. Aku keatas dulu ya Oma, aku ingin melihat kondisi Belen" Ibra berdiri, membawa langkah kakinya menaiki tangga dan menuju kamar pribadinya.


Dengan perlahan ia membuka pintu kamarnya karena dari penuturan Oma Belen sedang istirahat dikamar, walau kondisinya baik tetap saja Ibra samgat khawatir terlebih demgan kondisi kandungannya.


Pintu kamar terbuka menampilkan istrinya tengah tertidur pulas dengan memeluk Divya. Tanpa sadar Ibra mengulas senyumnya. Beban pikiran dan masalahnya seolah terangkat melihat pemandangan manis ini. Meski bukan anak kandungnya tetap saja Ibra amat menyayangi Divya. Ia benar-benar tidak sabar melihat anaknya lahir kedunia.

__ADS_1


__ADS_2