Alexavier Archie

Alexavier Archie
Pengakuan Amanda


__ADS_3

Dengan cepat mobil yang Ibra dan Belen tumpangi menuju sekolah milik Divya. Beberapa detik setelah mobil sedan hitam milik Ibra datang, mobil putih milik Belenpun tiba. Tanpa menunggu lama Ibra langsung berlari kecil menuju mobil yang terparkir dibelakang mobilnya.


Beberapa bekas tembakan terlihat jelas dibody mobil milik Belen. Untungnya Ibra selalu mengganti semua kaca menjadi anti peluru untuk mengantisipasi kondisi seperti ini. Paling tidak hal itu memberi sedikit rasa aman bila serangan mendadak terjadi.


sreg!


Ibra membuka cepat pintu belakang tempat Belen berada, ia langsung masuk dan mendekap tubuh istrinya. Dilihat satu persatu tubuh istrinya memastikan tidak ada luka sedikitpun. Dilihat kondisinya juga stabil ia sangat khawatir pada kondisi Belen yang sedang mengandung.


"abang!" Belen menenggelamkan kepalanya pada dada bidang milik suaminya, tempat aman dan nyaman baginya.


"katakan padaku bila kamu merasakan sesuatu sayang" tangan Ibra terus mengusap lembut rambut panjang istrinya.


Meski tanpa jawaban Ibra dapat merasakan gelengan kecil yang Belen lakukan didalam dekapannya.


"abang tidak perlu khawatir padaku, Dom melakukan tugasnya dengan baik" senyum tipis dimunculkannya untuk memberi rasa lega pada suaminya.


Setelah menenangkan pikiran Ibra kembali turun dan menghampiri putrinya. 5 menit lalu kelas sudah bubar dan pasti sekarang Divya sudah menunggu dengan gurunya. Ia memastikan kondisi sekitar aman dan menunggu laporan orang-orangnya baru ia mengeluarkan Divya dari sekolahnya.


Gadis kecil itu digendong dan dibawanya menuju mobil Belen. Seperti tak ada apa-apa Belen menyambut kedatangan Divya dengan senyum manis dan pelukan hangat.


"sayang kamu bawa Divya pulang, mereka akan mengawalmu sampai rumah. Aku sudah meminta beberapa penjaga tambahan disana. Aku akan kemarkas, Raka bilang Adam juga baru saja menerima serangan serupa" jika menuruti hatinya Ibra ingin sekali mengantar anak dan istrinya menuju rumahnya, tapi ada hal mendesak yang harus segera ia urus.


"Adam juga?" Ibra hanya mengangguk menanggapi raut syok istrinya.

__ADS_1


"baik aku mengerti abang, berjanjilah abang akan baik-baik saja dan segera pulang" lanjutnya menggenggam tangan kekar Ibra.


"Dom, jaga mereka dengan seluruh nyawamu"


"baik ketua, saya akan menjaga Lady juga nona kecil dengan seluruh nyawa saya" setelahnya Ibra keluar dari mobil Belen dan memberi kode pada beberapa orang-orangnya untuk memberi pengawalan hingga rumah.


Iring-iringan mobil Belen sudah menghilang dipertigaan depan. Ibra langsung bergegas menuju mobilnya dimana ada Raka disana, mereka segera menuju markas.


Raka menoleh sekilas pada ketuanya, ia tidak bisa membayangkan murka seperti apa yang akan seorang Alexavier Archie tunjukan pada orang-orang yang berani mengusik keluarganya, terutama istrinya yang sedang mengandung. Raka tau bahwa yang disampingnya kini adalah seorang Alexavier Archie bukan sosok Ibrahim Ankawijaya. Bukan hanya seorang Alexavier namun ia yakin seluruh anggota Galaxy juga pasti sedang panas dimarkas.


Mereka hanya berhasil menangkap 1 pelaku penembakan, yaitu pelaku penembakan Belen. Sementara pelaku penembakan Adam sedang dalam kejaran timnya yamg dibantu oleh tim Louise. Mobil yang ia kendarai pun mendapat oengawalan oleh beberapa mobil dengan 4 anggota dimasing-masing mobilnya.


Bukan hanya pengawalan selama dijalan, Alexavier juga sudah meminta anggotanya untuk menetralisir jalan yang akan Belen lewati. Tentunya itu adalah untuk keselamatan keluarganya, kondisi Belen yang sedang hamil benar-benar membuatnya semakin over protektif.


greekkk


greekkk


brak!


Pintu bercat coklat tua itu dibuka kasar. Tepat lurus dengan pintu Kenrich duduk, Alexavier sudah hendak membuka mulut namun matanya melebar melihat Amanda duduk disamping adiknya. Alexavier benar-benar tidak percaya Kenrich membawanya kemarkas utama.


"kenapa dia disini?!" masih dengan posisi berdiri Alexavier bertanya dengan nada emosi.

__ADS_1


Louis, Ivan, Grey, Martin dan Max pun memiliki pertanyaan yang sama namun mereka tak berani bertanya. Sementara Amanda pun sesikit berkerut melihat sosok dengan masker dan topi seperti yang Adam kenakan sekarang meski detik kemudian ia sadar bahwa sosok yang berdiri didepannya adapah seorang Ibrahim Ankawijaya atau Alexavier Archie.


"duduklah, aku pun punya banyak pertanyaan saat ini" Kenrich tidak menjawab pertanyaan kakaknya namun setelah mengucap kalimat itu ia melirik tajam kearah Amanda.


Alexavier yang merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui itu pun menurut dan duduk di ujung meja, Raka pun mengikutinya dan duduk disisi kiri Alexavier. Ia memilih diam karena sekaramg Kenrich yang lebih berhak membuka pertanyaan. Kenrich pun paham dengan pandangan kakaknya yang menuju padanya, nafas panjang iya hembuskan sebelum mengalihkan mata tajamnya pada gadis disebelahnya.


"sekarang katakan Amanda apa yang kau ketahui dan tidak aku ataupun mereka ketahui" suara Kenrich amat tersengar dingin di telinga Amanda, baru ini ia mendengar seorang Adam berkata demikian padanya, atau karena sekrang Adam sednag menjadi sosok Kenrich?


Amanda tidak menangis, ia hanya menunduk pikirannya tak karuan ia belum memilih jalan mana yang akan ia pilih, cinta atau orang-orang yang ia sebut keluarga.


"katakan Amanda!" Kenrich berseru dengan menggabrak meja membuat Amanda bahkan orang-orang terkejut.


Amanda dengan hatinya yamg bergetar memberanikan diri menatap mata tajam seorang Kenrich Archie yang penuh amarah berbeda dengan mata tajam dan teduh seorang Adam Ankawijaya.


"Bagaimana kau bisa tau kalau aku akan diserang ditempat itu?! bagaimana kau tahu kalo penyerangan itu dilakukan seorang sniper?! dan bagaimana kau tau semua itu seolah kau ikut merencanakannya?! juga sejak kapan kau tahu aku adalah Kenrich Archie hah?!" suara Kenrich sungguh menggelegar. Bukan hanya rasa marah namun juga kecewa dan takut yang datang bersamaan.


Alexavier dan orang-orang yang ada disana sedikit kaget mendengar pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut Kenrich yang juga sebuah penuturan kronologi bagi mereka. Tak perlu rinci hanya dengan seperti itu mereka sudah bisa merangkai sendiri ceritanya.


"ya! bagaimana aku bisa tahu? bagaimana aku bisa tau tempat, waktu dan strategi penyerangan? kau mau tau itu kan?!" Amanda membalas rangkaian pertamyaan Kenrich demgan dada berguruh matanya merah dengan pelupuk mata yang audah dipenuhi airmata.


"semua itu karena aku terlibat dalam penyerangan! aku terlibat!" bersamaan dengan itu luruh sudah semua airmata yang ia tahan sedari tadi.


Pernyataan Amanda jelas membuat mereka tersentak. Amanda? Terlibat? Bagaimana mungkin, siapa kumpulan yang ada dibelakangnya. Dan bagaimana bisa ia menutupi identitasnya dan tidak terembus oleh tim Louis.

__ADS_1


Gelengan kepala Kenrich menujukan rasa kecewa juga sakit hati, apa yang ia fikirkan saat kejadian berlangsung itu benar adanya. Lalu kenapa Amanda menyelelamatkannya bila Amanda adalah bagian dari kumpulan yang menyerangnya.


__ADS_2