Alexavier Archie

Alexavier Archie
Terlanjur Basah


__ADS_3

Pagi-pagi buta Belen sudah melangkah menuju dapur, dia tak bisa tidur semalam memikirkan perkataan Ibra yang entah gurauan atau apalah itu. Dia mulai membantu koki memasak hidangan untuk sarapan.


tak tak tak


Suara dari arah tangga membuat para koki juga Belen menoleh.


"pagi tuan" sapa para koki.


Ibra sengaja bangun lebih awal karena tau Belen pun akan bangun pagi buta. Belen hanya menoleh saja tak menyapa sedikitpun, lebih tepatnya dia malah canggung sendiri.


"ada yang bisa dibantu tuan?" tanya seorang pelayan disana.


"aku mau teh tawar hangat" ucap Ibra yang masih dengan pakaian tidurnya, ya ini baru jam 5 pagi.


Hanya mengangguk pelayan itu menuju dapur bersih untuk membuat teh pesanan tuannya. Belen terlihat menghentikan kegiatannya dan menuju dapur bersih.


"biar saya saja bi" ujar Belen meraih cangkir keramik berwarna maron itu.


"ini tehmu" ucap Belen meletakan cangkir teh dihadapan Ibra.


Ibra hanya menoleh sekilas dan mencerucup teh tawar hangatnya.


"kau berhutang cerita padaku" terus terang Belen yang memang risau memikirkan kejadian semalam.


"apa kau tak bisa menungguku selesai menikmati teh ini?" ketus Ibra.


Belen yang jengkel meninggalkannya begitu saja memilih untuk meneruskan memasak. Hingga makanan mulai matang satu persatu Ibra masih juga duduk di meja makan menikmati tehnya dan juga sesekali mencuri pandang pada Belen yang sedang sibuk dengan alat dapur.


Belen melepas celemeknya, hendak menuju kamar Divya namun tangannya dicekal oleh Ibra.


"aku mau bertemu Divya" ujar Belen pelan.


Tanpa jawaban pula Ibra menarik tangan Belen menuju lantai dua, bukan, bukan kamar Divya tapi kamar Omanya.


tok tok tok


ceklek


Belen memasang raut bingungnya, apa yang lelaki itu akan lakukan.


"Oma" panggil Ibra sopan.


Dilihatnya Oma sedang berada disofanya, membaca buku dipagi hari adalah kegemarannya.


Oma langsung meletakan bukunya, melepas kacamata bacanya kemudian berdiri. Membulatkan mata melihat sosok yang dibawa oleh cucunya.

__ADS_1


"Belen? ada apa pagi-pagi begini, Ibra jelaskan" Oma meraih tubuh Belen untuk diajaknya duduk disofa.


Ibra melihat kekhawatiran diraut tua Omanya, sementara Belen antara bingung juga penasaran.


"Semalam dia dibawa oleh Alfario ke markas Gerhana" hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Ibra.


"tu tunggu, bukankah aku semalam sadar sudah berada dirumah ini" srobot Belen yang cukup penasaran.


"dasar tidak sabaran. Aku dan Adam menyelamatkanmu, membawamu pulang kemari" imbuh Ibra dengan intonasi datar.


"kamu baik saja Belen?" tanya Oma membelai tambut sepinggang Belen.


"tak apa Oma, Belen baik" jawab gadis bermata lentik itu dengan senyum dibibir tipisnya.


Oma jelas tau banyak potongan cerita yang cucunya sembunyikan.


"lebih baik kau disini hingga keadaan membaik" lanjut Ibra yang sudah berdiri dan keluar kamar Omanya.


Belen hanya bisa diam memikirkan kejadian itu, mungkinkah Rio setega itu hingga menculiknya. Dan bagaimana Ibra juga Adam bisa mengetahui hal itu juga menolongnya.


"tinggalah disini Belen, Ibra benar keadaan bisa jadi berbahaya jika kamu kembali, dia bisa melukaimu lagi" pinta Oma pada Belen.


Setelah menyetujui perkataan Oma Belen pun diajak kesebuah kamar dilantai dua, kamar yang nantinya akan ditempatinya sementara juga sudah tersedia beberapa pakaian untuknya. Setelah ditinggalkan Oma, Belen menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya juga menyegarkan pikirannya.


"Abang jangan lama-lama kita harus cek lokasi, jaraknya jauh" keluh Adam.


"apa kau tak bisa lakukan sendiri Adam?" Oma menoleh kearah Adam dengan lirikan.


"astaga kenapa aku yang jadi korbannya" dengus Adam terus memasukan makanan ke mulutnya.


Tentu Ibra lebih memilih mengantar Divya kesekolah karena proyek yang akan dikerjakan mereka nanti Sarah yang mengurus jadi tentu Ibra tak mau bertemu dengannya.


...


"kau harus menjelaskan semua sejelasnya padaku, bukan sepotong seperti itu" suara Belen memecah keheningan diantara keduanya, tentu tidak dengan Divya dia terus berceloteh ini itu didalam mobil.


"apa yang kurang jelas" sahut Ibra masih fokus dengan jalannya.


"rinci kejadiannya apalagi! bagaimana kau tau Rio yang membawaku dan bagaimana kalian membawaku pergi, aku sudah menerka semua kejadian tapi tak masuk akal" Belen mengeluhkan pikirannya sendiri.


"ya memang ini semua tak masuk akal" jawaban Ibra tentu membuat Belen kesal, dia lebih memilih meladeni celotehan Divya yang ada disebelahnya. Ya Ibra duduk didepan sendiri.


"ye! sudah sampai, teman-teman pasti tidak percaya Yaya diantar mamy!" seru Divya yang tak sabar turun dari mobil.


Belen mengantar Divya hingga kedalam kelas, menerima beberapa sapaan dari orangtua murid lainnya, kemudian menuju mobil Ibra lagi.

__ADS_1


"kau bekerja saja aku akan pulang dengan taxi online" ucap Belen yang membuka pintu mobil kiri Ibra.


"masuk. Jangan jadi gadis keras kepala" ketus Ibra dengan menarik tangan Belen hingga membuatnya terperosok kedalam mobil dan jatuh dipelukan Ibra.


Tatapan mata mereka bertemu, entah sejak kapan denyut jantung mereka menjadi kencang.


"jangan lakukan itu lagi atau kau akan tahu akibatnya!" seru Belen membenarkan posisi duduknya dan memakai seatbeltnya.


Tanpa sadar Belen tidak diajak menuju toko kue melainkan sebuah area pergudangan dan tunggu! ini lokasi proyek baru yang Adam tadi bicarakan.


"kenapa membawaku kemari!" seru Belen yang menyadari kemana Ibra membawanya.


"aku sudah menolongmu, dua kali malah, jadi kini giliranmu menolongku" sahut Ibra fokus dengan kemudinya.


"aku tak suka hutang budi, aku akan menolongmu tapi apa yang akan ku lakukan? kenapa membawaku kemari" Belen terlihat cemas pikirannya kemana-mana.


"aku tak suka digoda oleh perempuan murahan, dia akan terus berusaha meski melihat aku denganmu dipesta kemarin. Teruskan aktingmu jadi kekasihku, kau harus posesif dan membuatnya tersingkir" jelas Ibra dengan menoleh sekilas pada Belen.


"a apa?" belum Belen kembali protes mobil Ibra sudah berhenti disamping mobil Adam, dilihat Adam tengah berada ditengah proyek yang baru berdiri pondasi saja.


"tak ada waktu, sudah terlanjur basah jadi lanjutkan saja" ucap Ibra yang sudah membukakan pintu untuk Belen, menjulurkan tangannya untuk membantu Belen keluar.


Dan benar Sarah yang melihat mobil Ibra langsung menghampirinya dengan senyum menggodanya.


"sayang kau baru-" kalimat Sarah terhenti saat tangan Ibra menggenggam tangan wanita kemarin untuk membantu keluar dari mobil.


Bukan Sarah jika dia tidak terus melancarkan aksinya. Dia mendekat dan mencoba bergelayut pada pengan Ibra.


"Nona tidakah kau lihat lelaki ini sudah memiliki kekasih?" ucap Belen dilanjut dengan menarik tubuh Ibra dan melingkarkan tangan dilengannya.


"sayang sebenarnya siapa dia? bukankah kalian pasti hanya pura-pura kemarin!" protes Sarah yang masih belum terima lelaki incarannya diambil wanita lain.


"apa hal itu belum membuktikan pada anda Nona? tolong jangan ganggu lelakiku" sahut Belen lagi. Ini sesuai permintaan Ibra bukan.


"kau dengar Sarah calon mamy Divya ini sangat posesif, mulai sekarang dia akan ikuti kemana aku pergi jadi jangan ganggu aku lagi" kini Ibra melingkarkan tangannya pada pinggang Belen.


"kita lihat saja seberapa lama hubungan kalian!" Sarah yang kesal meninggalkan Ibra juga Belen.


Belen dengan cepat melepaskan rengkuhan Ibra dan mencoba menjauhkan tubuhnya. Namun Ibra malah melingkarkan tangannya yang satunya lagi hingga terlihat seperti memeluk Belen.


"dia sudah pergi! lepaskan!" protes Belen.


"dia masih melihat kesini, kita tambah satu adegan lagi agar dia benar-benar memalingkan muka dariku" tanpa aba-aba Ibra mencium sekilas bibir Belen dan menyesapnya lembut.


Belen hanya mematung merasakan ciuman yang baru pertama ia rasakan. Tak berkata apapun hanya menundukkan kepalanya. Dan benar Sarah dibuatnya frustasi melihat adegan itu, Ibra bisa seromantis itu dengan perempuan.Adampun membuka lebar mulutnya tak percaya sengan apa yang ia lihat.

__ADS_1


__ADS_2