
Hidup Belen kini telah berubah, dia bukan lagi gadis sebatangkara dengan perjuangan hidup yang luar biasa. Kini dia seorang istri dari pemilik sebuah perusahaan properti yang amat terkenal. Juga seorang mamy untuk Divya yang sebenarnya adalah keponakan suaminya.
Setiap pagi dia mengantar gadis kecil itu ke sekolah. Dan menjemputnya lagi pukul 11 siang kemudian mengantar makan siang ke kantor suaminya.
Seperti siang ini dia sudah memarkir mobilnya ditepi jalan sekolah Divya. Dilihatnya beberapa anak keluar dari kelas, tak mau anaknya menunggu Belen keluar dari mobil BMW X7 putih yang seminggu lalu dihadiahkan oleh suaminya.
"disini sayang!" Belen melambai pada gadis berkuncir dua itu.
Dengan riang Divya menghampiri mamynya, kemudian direngkuhnya tubuh kecil itu. Diciumnya pipi gembil gadis kecil yang sudah dia rindukan sedari pagi.
...
"mamy Yaya mau minta es krim" pinta gadis kecil itu pada mamynya yang sedang fokus dengan kemudi.
"baik anak manis" Belen memutar kemudinya menuju sebuah cafe yang berada didepan mereka.
Mereka berdua turun dan menuju bar eskrim yang ada dicafe tersebut.
"Belen" suara seorang lelaki terdengar menyapanya.
Belen menoleh dan amat terkejut dengan sosok dihadapannya. Spontan dia menggandeng erat tangan Divya.
"mau apa kau!" seru Belen.
"tenanglah, aku tak akan membawamu pergi kali ini" ucap Alfario.
"mamy" suara Divya terdengar takut dan memegang erat baju mamynya.
Alfario mengalihkan pandangannya pada anak berseragam TK yang memanggil Belen dengan sebutan mamy.
"apa hubunganmu dengan Ibrahim Ankawijaya?" Alfario mengenali Divya, tentu saja Ibra sangat terkenal. Halayak umum juga tahu bahwa dia mempunyai seorang anak perempuan.
Belen menggeser tubuh Divya dibelakangnya saat mendengar pertanyaan Rio padanya.
"jangan ganggu aku lagi!" ancam Belen kemudian meraih tubuh Divya dan pergi menuju mobilnya.
...
__ADS_1
"ini semua berhubungan papa, gadis itu muncul untuk menyelamatkan Archie bersaudara, disaat sebelumnya aku melihatnya bersama Ibrahim juga Adam Ankawijaya. Bahkah saat aku menculiknua Archie bersaudara menolongnya. Tadi aku melihat mendengar sendiri anak dari Ibrahim memanggil gadis itu dengan sebutan mamy" jelas Alfario pada lelaki paruh baya yang dipanggilnya papa.
"memang kebetulan, meski belum ada yang pernah tahu wajah dari Archie bersaudara yang selalu mengenakan slayer itu. Tapi bila dilihat dari fisik juga usia Archie bersaudara sangat mirip dengan dua kakak beradik itu. Tapi siapa mereka, semua keturunan Arsyanendra sudah kuhabisi. Hanya memang setahuku saat itu dia memiliki tiga cucu. Bila satu telah kubunuh brati masih ada dua" jawab lelaki paruh baya itu sambil berfikir keras.
"papa, jangan-jangan Archie bersaudara adalah Ibrahim juga Adam, dan dua cucu Arsyanendra itu adalah mereka!" seru Alfario menerka.
"harusnya aku ledakan rumah mereka saat itu. Kenapa pula aku tidak curiga dengan bangkitnya galaxy dengan dua ketua memimpin." gumam pria tua itu.
"bersiaplah anakku, jika itu benar mereka pasti kembali untuk membalaskan dendam" ucapnya lagi dengan mengepal tangannya diatas meja.
...
Setelah mampir ke toko kue Matahari untuk membeli benerapa kue juga puding dan menyapa Sella, Belen kembali memacu mobil putihnya menuju gedung 20 lantai dengan lantai 1-10 yang disewakan milik suaminya.
Seorang petugas kemanan yang mengenali mobil Nyonya mudanya langsung mendekat dan membukakan pintu. Satu petugas lagi menghampiri dan meraih dua rantang berisi tiga susun itu untuk membantu membawa masuk.
Kedatangan Belen selalu menyita perhatian karyawan yang bekerja untuk suaminya. Dengan ramah diapun membalas sapaan dengan senyum manisnya.
ceklek
Belen membuka pintu ruangan Ibra yang masih kosong. Karena menurut penuturan Jody, bosnya masih ada urusan dengan bagian keuangan.
"mamy, Yaya masih mau es krim, kenapa tadi nggak jadi beli" ucap gadis kecil itu dengan cemberut.
"maaf ya sayang, nanti kita beli sebelum pulang okey?" Belen membujuk anak kecil itu agar tak lagi merajuk.
"ada apa ini?" tanya Ibra saat masuk keruangannya mendapati gadis kecilnya memanyunkan bibirnya.
Divya lalu berlari menuju pelukan dadynya dan mengadu apa yang terjadi.
"kenapa Belen?" Ibra cukup tahu tak mungkin Belen sengaja membuat Divya kecewa.
Belen menarik nafasnya dalam, menggeser duduknya agar Ibra duduk disampingnya.
"Alfario, dia bertemu kami di caffe tadi" Belen menyampaikan kejadian itu.
Ibra hanya terdiam terlihat berfikir, tentu dia paham setelah ini kedok Archie bersaudara akan terbongkar.
__ADS_1
"hai ada apa ini kenapa kalian semua tegang" tanya Adam menyelidik muka kedua kakaknya. Dibelakangnya sudah berjalan Raka juga Louis.
Belen hanya menoleh pada suaminya yang masih terdiam dengan mendekap tubuh Divya dipangkuannya.
"Louis dapatkan informasi terbaru tentang pergerakan Gerhana. Adam, Raka persiapkan anggota kalian, beritahu Dominic agar anggotanya berjaga dengan lebih ketat" Ibra membuka suara serius.
"lebihlah berhati-hati Belen identitas sudah terbongkar" sambungnya dengan tangan kanan menggenggam tangan istrinya.
...
Divya yang sudah dirayu dadynya menurut untuk tidak mampir membeli eskrim, dengan gantinya dadynya akan membeli mesin eskrim untuknya. Belen yang sudah mengantar Divya dan makan siang dengan Oma dan putrinya pun kembali pergi menuju toko kuenya.
Dengan peringatan yang diberi Ibra padanya dia merasa gelisah ketika berada diluar rumah dan tidak bersama suaminya meski sudah ada anggota Galaxy yang mengawasinya dari jauh. Namun itu tak membuat Belen lega, dia selalu menyimpan senjata api kecil yang diberi Ibra saat dia masuk menjadi anggota Galaxy. Senjata api tanpa suara dan memiliki ukuran kecil sehingga mudah disembunyikan di bajunya.
Seperti biasa jika Belen datang akan menggantikan posisi kasir atau juga melayani pelanggan bila tak ada pesanan. Toko siang ini ramai pelanggan, seorang pelanggan paruh baya membeli beberapa box kue. Karena tak bisa membawanya sendiri Belen membantunya hingga mobil.
"taruh saja dibelakang nak" kata pria paruh baya itu ramah membuka pintu belakang mobilnya.
Dengan senang hati Belen meletakan dua box kue dikursi belakang dengan badan setengah masuk.
Bruk
Dengan cepat tubuhnya ditarik seorang dari dalam dan pintu mobil langsung ditutup, dan mobilpun melaju cepat.
Belen berusaha melawan satu pukulan mengenai muka seorang di kursi baris ketiga namun seorang lagi berhasil membekap mulut dan hidungnya dengan bius.
Anggota Gerhana yang tak menyangka kejadian itu langsung mengikuti mobil tersebut dan menelpon ketua mereka. Sialnya di pertigaa tiba-tiba muncul lima mobil mirip sehingga mengelabuhi anggota Gerhana yang mengikutinya.
Diperempatan depan mobil itu berpencar, dan muncul lagi mobil-mobil yang mirip, sialnya anggota Gerhana tak tahu persis mobil mana yang membawa Lady.
..
Adam yang mendengar kabar itu menuju ruangan abangnya, benar dia sedang berusaha menangkan diri setelah emosi mendengar telpon dari anggotanya. Mejanya berantakan semua dokumen bahkan laptop berantakan dilantai.
"abang kita akan temukan Belen" Adam berusaha menenangkan Abangnya.
Raka berlari cepat menuju ruangan Ibra dengan Louis yang sudah bergabung didalam. Dia hanya menelan ludah baru kali ini dia melihat Ibra mengamuk. Sebelumnya dia hanya akan menarik pelatuk bila berhadapan dengan musuh.
__ADS_1
"Mereka sudah menyebar mencari kesemua titik yang dikabarkan Louis" ucapnya sedikit tegang.
"breng*sek! sudah kuduga setelah pertemuan Rio dengan Belen tadi mereka sudah tahu siapa kita dan menjadikan Belen sasaran empuk" Ibra terlihat geram, tapi dia belum bisa bertindak jika posisi Belen belum ditemukan.