
"pilih yang kau suka!" perintah Ibra pada Belen yang sedang mengarahkan bola matanya asal kesegala arah.
"untuk apa? aku tidak mau, buang-buang uang saja" balas Belen menyilangkan dia tangannya didada.
"cepat pilih!" Ibra kembali memberi perintah pada Belen yang memalingkan tubuhnya.
"jika kau keberatan dengan pakaianku aku bisa telpon Oma Riri jika aku ada urusan lain jadi tak bisa datang" ketus Belen kesal hendak melangkahkan kakinya.
Namun langkahnya terhenti saat Ibra menarik lengannya yang ternyata cukup kuat hingga membuatnya mendarat didada kekar Ibra.
Belum sempat Belen menggeser posisinya Ibra sudah memerintahkan seorang pegawai butik untuk mengambilkan koleksi yang cocok dengan Belen.
Belen yang masih diposisi tadi sempat melotot kearah Ibra dengan apa yang dia katakan barusan. Belen mencoba melepaskan cengkraman Ibra namun Ibra menahannya dengan kuat. Hingga pegawai tadi kembali dengan membawa 2 dress berwana biru muda dan merah hati.
"diamlah, coba dari dua tersebut, tunjukan padaku akan kupilih mana yang cocok atau aku tak akan melepaskanmu" ancam Ibra pada Belen.
Dengan menarik nafas panjang Belen menerima 2 dress tersebut, membawanya ke kamar pas dan mencobanya. Dicobanya dress berwarna biru muda sebawah lutut dengan lengan sesiku, kemudian keluar diperlihatkannya pada Ibra yang sudah berdiri didepan ruang ganti.
"ganti" hanya itu yang diucap Ibra.
Belen kembali masuk tanpa satu katapun. Kini dicobanya dres berwarna merah hati tepat selutut dengan model lengan terbuka hingga memperlihatkan lengan putihnya. Keluar kembali dan menunggu komentar Ibra.
Ibra yang sedang memainkan ponselnya menyadari pintu ruang ganti terbuka. Dilihatnya Belen yang amat mempesona dengan dres yang ia kenakan. Warnanya sangat cocok dengan kulit putih Belen.
"jangan hanya diam! ini atau yang tadi?" kini Belen membuka suaranya karena Ibra tak juga berpendapat.
"apa kau tak tahu? jika aku diam artinya setuju!" elak Ibra yang tak mau ketahuan terpesona dengan Belen.
Belen yang kesal kembali kedalam ruang ganti untuk berganti pakaian kemudian menyerahkan dress itu pada pegawai tadi. Dan mengikutinya menuju meja kasir.
"totalnya 2juta 3ratus rupiah nona" ucap kasir dengan senyum mengembang diwajahnya.
Belen melotot mendengar nominal yang diucapkan oleh kasir tersebut.
"a-apa? mbak sepertinya saya salah..."
__ADS_1
Belum selesai Belen berucap Ibra sudah menyerahkan sebuah blackcard pada kasir tersebut untuk menyelesaikan transaksi.
"silahkan nona" ucap kasir masih dengan senyum mengembang menyerahkan paperbag hitam bertulis brand butik itu pada Belen yang masih heran melihat Ibra.
"hei ambil kenapa kau menatapku" seru Ibra kemudian membalikan tubuhnya dan meninggalkan Belen.
Belen dengan masih ragu menerima paperbag dari tangan kasir tersebut dan menuruni tangga hendak keluar toko. Tapi tak disangka ketika dia melihat posisi kakinya saat menuruni tangga seorang sudah berdiri tepat didepannya hingga tak sengaja menabraknya.
Ibra yang tak jauh dari tempat Belen mendengar suara mengaduh dari gadis itu.
"kau sedang tidak sibuk bukan?" Rio tak memperdulikan Belen yang masih memegang bahunya karena menabrak lengan Rio.
"a-aku hanya..." Belen sangat gugup untuk menjawab pertanyaan Rio.
"bagus kita bisa pergi bukan?" ujar Rio memegang pundak Belen.
sreekk
Tangan Rio ditepis oleh Ibra yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Belen. Tak mau bertambah rumit Belen yang juga kagetpun memindah posisi berdirinya sedikit berada didepan Ibra.
Dan lagi Ibra melepas dan menghempaskan tangan Rio.
"wa ini hebat kemarin kau dengan adiknya sekarang kau jalan dengan kakaknya, oh jadi kau baru ssaja meminta sebuah pakaian mahal?" ucap Rio kesal dan sengaja menyinggung Belen.
"pantas saja kau menolakku, ternyata kau mengincar pengusaha kaya raya" ucap Rio yang membuat mata Belen berkaca-kaca.
"aku masih menghormatimu, hentikan kalimatmu tuan Alfario! Tak semua yang kau lihat seperti apa yang kau pikirkan!" suara Belen terdengar tercekat.
"bicara soal dengan siapa dia pergi itu bukan urusan anda tuan Alfario, dan ingat jaga perlakuan juga perkataan anda pada wanita!" balas Ibra meraih pundak Belen dan mengajaknya keluar dari Butik.
...
Didalam mobil Belen masih diam begitu juga dengan Ibra, kini dia melihat langsung Belen dan Rio berinteraksi. 15 menit menjalankan mobilnya Ibra berhenti ditepi jalan. Dia melihat Belen seperti sedang menahan amarah, terlihat pandangannya kosong kedepan, matanya sedikit merah, dadanya kembang kempis serta napasnya sangat berat.
"ada apa lagi berhenti!" ucap Belen dengan masih suara yang tercekat.
__ADS_1
"kau tidak baik-baik saja, tak mungkin aku membawamu kerumah dengan kondisi seperti ini. Apa sebenarnya hubunganmu dengan pria seperti dia?" ujar Ibra yang baru kali ini berkata sedikit panjang pada Belen.
"kenapa kau peduli? bukankah semua orang kaya seperti kalian hanya memperdulikan gengsi kalian? kau juga tak akan membayar pakaian itu jika bukan karna gengsi bukan? tak mau tamu diacara anakmu ada yang berpakaian gembel! lagian kenapa kau susah-susah membelinya, apa ini tak menyinggung istrimu!" Belen yang memang mentalnya sedang terguncang malah berkata sembarangan terhadap Ibra.
"kenapa kau malah justru menyalahkanku! apa yang aku lakukan tak ada hubungannya dengan permasalahanmu dan pria itu! Dan lagi jangan pernah menyinggung masalah Divya!" Ibra yang malah tersulut emosinya kembali memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah omanya.
Hanya 10 menit mobil yang dibawanya sudah memasuki halaman rumahnya.
"lebih baik kau bisa mengtrol dirimu, Divya mengharap kehadiranmu" ucap Ibra sebelum turun dari mobilnya.
Belen yang kondisinya masih belum baik menarik nafas panjang mencoba menenangkan dirinya. Mengusap kasar mukanya, memejamkan sebentar matanya. Dirasa cukup baik dia keluar dari mobil hendak mengambil kue di kursi belakang namun beberapa art sudah datang hendak mengambil box box kue itu.
Dengan ajakan seorang art Belen pun ikut melangkah menuju rumah 3lantai bergaya modern itu.
"tante Belen!" suara Divya memenuhi ruang tamu begitu melihat Belen diambang pintu.
Gadis kecil itu berlari kepelukan Belen dan mendapat dua ciuman di pipi kiri juga kanannya.
"kamu sudah datang Belen?" sapa Oma Riri yang berjalan kearahnya.
"masuklah anggap rumah sendiri" ucap Oma Riri yang tangannya sedang dijabat oleh Belen.
"terimakasih Oma, tapi ini masih terlalu awal Belen datang, acaranya jam 4 bukan? ini masih jam 2 siang" tanya Belen yang sudah ikut melangkah keruang tengah.
"kamu tamu istimewanya Divya Belen, jadi kamu harus datang awal" ujar Oma Riri yang sudah duduk disofa disusul Belen yang kemudian memangku Divya.
"tante, tante nanti harus temani Yaya saat tiup lilin ya! Yaya juga mau tante bantu Dady sama Yaya potong kue!" celoteh gadis kecil yang sedang berulang tahun itu.
Namun kalimat Divya malah membuat Belen merasa canggung dan menatap kearah Oma Riri.
sebenarnya dimana mamy Divya, apa benar Ibra sudah bercerai atau mamynya sudah meninggal?
Oma Riri memberi kode pada suster Divya untuk mengajaknya kekamar.
"Belen Oma ingin kamu tahu satu hal, kedua orang tua Divya sudah meniggal 2tahun lalu, ayah Divya adalah saudara kembar Ibrahim, Abraham. Sejak kejadian itu Divya selalu mengenali Ibra sebagai Dadynya, jadi bisakah kamu tolong Oma? Divya sangat menyukaimu dia selalu mengharap sosok mamy, Oma perhatikan kamu juga sangat menyayanginya, bisakah kamu berperan menjadi mamy Divya? Ini untuk kebahagiannya, untuk senyum yang ada diwajahnya. Jika kamu keberatan, Oma hanya berharap jadilah mamy Divya untuk acara ini saja"
__ADS_1
Penjelasan panjang Oma Riri jelas membuat Belen merasa campur aduk. Sedih mengingat Divya bernasib sama dengannya. Bahagia karna Divya menyayanginya bahkan Belenpun menyayanginya. Juga bingung atas permintaan Oma untuk mengambil peran sebagai mamy Divya yang artinya dia harus berpasangan dengan Ibra.