Alexavier Archie

Alexavier Archie
Anthony adalah Andreas


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Belen bangun dari tidurnya, jam masih menunjukan 04.30. Dia sengaja bangun awal untuk ikut membuat sarapan dirumah besar itu meski sudah ada 3koki disana. Dengan sigap dia berjalan menuju dapur setelah mencuci mukanya.


"selamat pagi nona Belen" sapa seorang Koki yang sedang mencuci sayuran.


"pagi, bolehkah aku membantu" sapa ramah Belen yang mengambil celemek di dekat lemari.


"tak perlu repot nona, kami bisa siapkan semua, ini sudah tugas kami" kata seorang koki perempuan yang sedang memotong daging.


"tidak apa, aku suka melakukannya, sangat tak enak bila hanya bersantai saja" tanpa menunggu jawaban Belen ikut meraih sayuran untuk dipotong-potong.


Ia memasak sup daging khusus untuk Divya, karna menurut penuturan Oma Riri beberapa hari ini Divya malas makan sayur. Dengan cekatan tangan lentik Belen mengolah masakan hingga matang.


"sudah jam setengah 6 aku harus membatu Divya bersiap" ujarnya pamit pada koki disana.


ceklek


Dibukanya kamar Divya, terlihat Divya sedang merajuk tak mau dimandikan susternya.


"nona kecil ayo kita mandi, mamy sudah masakan sup special untukmu" ucap lembut Belen membelai rambut sebahu Divya.


"benar mamy? asyik Yaya sayang mamy!" seru gadis kecil dengan piyama tedybear itu kemudian memeluk wanita yang dipanggilnya mamy.


Dengan telaten Belen memandikan, memakaikan baju, hingga menata rambut Divya juga memakaikan sepatu untuknya. Setelah semua beres kini Belen berganti mandi dan mengenakan baju dari Oma tadi malam. Dia menggandeng Divya keluar kamar untuk sarapan.


"Dady!" seru Divya melihat Dadynya keluar dari kamarnya.


Dengan berlari kecil dia menghampiri Ibra dan menciumnya.


"cantik sekali nona kecil hari ini" puji Ibra menggendong Divya.


"iya dong! kan mamy yang bantu Yaya siap-siap" ujar Divya yang membuat Ibra melirik kearah Belen.


Astaga! kenapa dia mengenakan baju seperti itu?


Ibra menelan ludah kadar melihat Belen mengenakan dres hitam seatas lutut.


"ayo dady, mamy Yaya laper!" seru Divya memecah lamunan Ibra, kemudian berjalanlah Belen dibelakang Ibra yang menggendong Divya.

__ADS_1


"lihat itu oma!" desis Adam menyenggol lengan Omanya.


"wah! indah sekali pemandamgan ini" seru Oma sengaja.


"pagi Oma, pagi om Adam" sapa Divya, gadis kecil itu mulai berceloteh menceritakan apa yg dia lakukan dengan Belen semalam juga pagi ini.


Belen hanya menggeleng kecil mendengar betapa cerewetnya anak kecil itu, dia mengambilkan nasi dan sup untuk Divya juga menuang susu coklat untuknya.


"bisa ambilkan itu, itu terlalu jauh" ujar Ibra menunjuk sup yang ada diujung.


"bilang saja abang juga ingin diladeni!" goda Adam yang sudah melahap sarapannya.


"tak apa biar aku ambilkan" ucap Belen sambil mengambil piring Ibra.


"wah! kenapa aku baru makan sup se lezat ini oma, apa kita punya koki baru?" cetus Adam yang mulutnya penuh itu.


"bukan om! supnya yang masak mamy Yaya hlo!" serobot Divya.


"ini memang sangat enak, kamu juga pintar memasak ya Belen?" ucap Oma Riri.


"bukankah sangat menyenangkan bila ada satu lgi yang mengurus rumah ini" kini giliran Oma menyenggol siku Ibra.


"iya Oma Belen sudah pesan taxi online barusan, jadi Oma bisa langsung antar Divya kesekolah" Belen berjalan disamping Oma dengan menggandeng Divya.


"kenapa? Ibra bisa mengantarmu, kalian satu arah bukan, satu tujuan malah" protes Oma.


"Adam juga kekantor Oma" keluh Ibra yang mendengar perkataan Omanya.


"hari ini Adam mau mengantar Oma, jadi segeralah berangkat" perintah Oma sambil menuju mobil Adam.


"Divya sekolah yang pintar ya, nanti siang kita ketemu lagi oke?" ucap Belen pada Divya.


"iya mamy! ohya kapan-kapan Yaya mau diantar mamy ya" pinta Divya yang sudah naik keatas mobil.


Belen melambaikan tangan kearah mobil yang membawa Divya keluar dari halaman rumah.


"kau masih mau berdiri atau masuk!" seru Ibra dari dalam mobilnya.

__ADS_1


"tak usah taxi nya sudah ada diluar aku akan gunakan taxi saja" ucap Belen yang melangkah menuju gerbang tanpa menghiraukan Ibra.


"dasar gadis keras kepala" gumam Ibra melajukan mobilnya. Dilihatnya Belen menaiki sebuah taxi online berwarna hitam.


...


Diruang pertemuan Ibra, Adam juga Raka sedang membahas pembelian tanah dengan tuan Andreas dan beberapa stafnya.


"kami sepakat tuan Andreas untuk uang muka akan kami berikan setelah pertemuan ini, Raka tolong urus. Dan pelunasannya setelah semua urusan surat selesai" jelas Adam.


"terimakasih tuan Adam tuan Ibra, senang berbisnis dengan anda" ucap Andreas menjabat tangan rekan bisnisnya dan meninggalkan ruang pertemuan.


"baik kita tunggu hasilnya apakah benar kecurigaan kita padanya" ujar Ibra setelah melihat Andreas dan stafnya meninggalkan ruangan itu.


Mereka bertiga pun keluar dan menuju ruangan Ibra. Tak lama Louis menyusul mereka.


"bagus Raka kali ini idemu cukup bagus" sambut Louis begitu memasuki ruangan bosnya dan duduk disofa.


"ya memangnya kau baru tahu kepintaranku Louis?" memang dua orang ini tak pernah akur sedikitpun.


"kita lihat siapa saja yang mendukungnya, setelahnya kita hancurkan satu persatu" terus Adam.


Raka memberi ide untuk menempel alat pelacak pada bawah kerah jas Andreas. Dengan begitu mereka tau kemana saja dia pergi, bertemu dengan siapa saja dan juga mengetahui pembicaraan mereka.


Sebelumnya Louis memang sudah memberi tahu bahwa benar Andreas adalah Anthony yang telah memalsukan kematiannya. Namun yang belum diketahui adalah anak laki-lakinya juga dengan siapa dia bekerjasama selama ini. Pihak yang membantu bisnisnya tetap jalan juga membuat pemberitaan kematian Anthony sekeluarga itu nyata.


Sebelum ini pun Galaxy tak pernah mendapat serang bertubi-tubi dari lawan, terakhir hanyalah kematian kakak kembar Ibrahim juga kakak iparnya, itu juga karena Abraham ingin mencari pembunuh orangtuanya dulu, namun dia terlalu tergesa-gesa mengambil langkah hingga menyinggung kumpulan lain.


"kita tunggu hingga petang nanti, timku sudah mulai memetakan semua kejadian yang didapat dari alat perekam. Dengan begitu kita bisa memberantas persekongkolan gila ini." jelas Louis.


"aku harap ini semua bisa membongkar kematian orangtua Divya juga orang tuaku begitu juga paman dan bibi" ucap Adam menimpali.


"aku harap kita bisa mengumpulkan semua potongan puzzle ini" gumam Raka.


"kita urus nanti, sekarang kembalilah bekerja, kalian lama-lama disini bisa-bisa makan gaji buta saja" perintah Ibra kembali ke kursi kebesarannya.


"kenapa juga mengusir" dengus Adam yang menuju pintu keluar.

__ADS_1


Ibra kehilangan konsentrasinya bila membahas mengenai kematian sederet keluarganya. Dia benar-benar ingin membalas dendam, namun ia tak boleh seceroboh kakaknya. Dia harus paham dan tau betul siapa lawannya, kekuatan macam apa yang mereka miliki.


__ADS_2