
Deb
Suara pintu mobil saat Ibra menutupnya.
"pasang seatbelt mu" perintah Ibra dingin melihat Belen belum menggunakan seatbeltnya.
"bisa kah kau sedikit lembut dengan wanita? memberi tahuku kemana kita pergi dan bukan asal menarik dan mendorongku kedalam mobilmu" protes Belen sambil mengenakan seatbelnya.
Ibra tak menjawab hanya menoleh dan melajukan mobilnya meninggalkan kawasan pertokoan.
"kita baru berkenalan kemarin dan kau tanpa persetujuanku membawaku entah mau kemana, bukankah kau bersaudara dengan Adam? kenapa sifat kalian sangat berbeda" Belen kembali bersuara belum trima atas perlakuan Ibra padanya.
"bisakah kau diam aku sudah katakan akan ku jelaskan begitu sampai ditempatnya. Soal aku dan Adam itu bukan urusanmu. Dan satu lagi banyak wanita diluar sana berebut pergi denganku, bukankah kau sangat beruntung?" Ibra terus memperhatikan kemudinya sesekali membunyikan klakson di lampu merah yang mulai padat dijam makan siang.
"jika kau bukan cucu Oma Riri taksudi aku mengikutimu" gumam Belen dengan melihat kearah jendela mobil.
Disisi lain.
"Apa yang abang lakukan? kenapa tiba-tiba mengajaknya pergi" tanya Adam kebingungan melihat mobil abangnya meninggalkan area pertokoan.
"Oma tak pernah tau jalan pikiran Abangmu" jawab Oma kembali masuk ke toko kue untuk mengambil kue yang sudah dibayarnya tadi.
"ah aku tau dia tak ingin kalah dariku" kekeh Adam kemudian.
"Sella, bisa Oma bertanya?" ucap Oma Riri pada pelayan di toko Matahari.
"silahkan Oma" jawab Sella ramah sambil menyerahkan paperbag pada Oma Riri.
"apakah Belen punya kekasih? atau seorang yang dekat dengannya?" sambung Oma Riri.
"setahu Sella tidak Oma, tidak ada sama sekali bahkan keluargapun tidak ada disini. Tapi Oma ada salah satu lengganan yang mencoba beberapa kali mendekati Kak Belen, mengajak pulang misalnya tapi kak Belen selalu menolaknya berkali-kali" jelas Sella pada Oma Riri.
"baiklah Sella terimakasih, jangan beri tau Belen jika Oma bertanya" Oma Riri sudah membawa paperbagnya dan melangkah keluar toko menuju mobil Adam.
...
Setengah jam menempuh perjalanan yang disertai macet disana sini akhirnya mobil Ibra berhenti disebuah caffe berlantai dua dengan banyak pepohonan disekitarnya.
"turun kita sudah sampai" ucap Ibra yang sudah melepas seatbeltnya.
__ADS_1
Belen pun hanya mengikuti kata Ibra dari pada bicara dan tak mendapat jawaban dari lelaki itu. Ibra mengajak Belen untuk masuk menuju suatu ruangan dicaffe tersebut. Ruangan itu tak begitu luas tapi sepertinya adalah sebuah kantor.
"duduklah, akan ku pesankan kau makan siang" lagi-lagi Ibra melakukan hal tanpa sepersetujuan Belen.
"sebenarnya dimana ini, dan kenapa kita makan didalam kantornya" tanya Belen begitu Ibra memasuki ruangannya lagi.
"ini salah satu milikku baru saja dibuka sebulan lalu, aku ada perlu kemari" jawab Ibra yang memang terkesan cuek dan duduk disebrang Belen.
"bisakah tuan mengatakan dengan rinci, bukan sepotong seperti itu? kau yang ada perlu dan kenapa kau mengajakku kemari apa hubungannya denganku" Belen benar-benar kesal kali ini, karna tiba-tiba diajak pergi bahkan dia tidak membawa ponselnya.
tok tok tok
"permisi tuan Ibra, ini pesanan anda" seorang pelayan masuk dengan membawa troli makanan, ada dessert, makanan berat hingga penutup dan dua gelas jus juga dua botol air putih. Menatanya diatas meja dingga meja disana penuh dengan hidangan.
"makanlah dulu, baru akan kujelaskan maksud dan tujuanku, anggap saja ini perkenalan kita" ucap Ibra yang masih dengan tatapan dingin, karna dia memang belum pernah berhubungan dengan wanita selama hidupnya.
"terserah kau saja" Belen pun memulai makan siangnya juga Ibra tak ada obrolan sama sekali hanya denting garpu dan sendok yang terdengar. 20 menit kemudian hanya tersisa semangkuk kecil salad buah dan puding coklat dengan fla sebagai makanan penutup.
"baik, aku sudah selesai, aku akan menikmati salad buah yang terlihat menggoda dan puding dengan platter menarik ini sambil mendengar penjelasanmu" Belen memasang raut muka seriusnya yang sebenarnya adalah raut muka kesal.
"Omaku sangat suka dengan kue kue mu, begitu pun Divya, juga beberapa teman kantorku. Dicaffe ini juga menyediakan beberapa kue juga puding namun lagi-lagi menurut penilaian mereka kue mu lebih unggul. Aku ingin mengajakmu kerjasama, aku ingin kue mu masuk dalam menuku, masalah royalti itu mudah" jelas Ibra dengan menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"aku tidak bilang begitu, hanya beberapa orang berpendapat begitu, bukan pendapat pribadiku" Ibra mengelak apa yang dikatakan gadis didepannya.
"iya itu sama saja kue ku lebih unggul dari pada kue yang dimasak chef disini bukan?" Belen sengaja melakukannya untuk membuat Ibra tersinggung.
"dasar gadis keras kepala! terserah saja kau bilang apa, aku hanya butuh jawaban setuju atau tidak dengan tawaranku" Ibra sedikit meninggikan nada bicaranya.
"haha baik baik tak perlu marah-marah, apa kau bos yang sangat galak di kantormu?" Belen terkekeh melihat ekspresi marah Ibra.
"mau atau tidak!" Ibra mulai kesal dibuatnya.
"biar aku pikir-pikir dulu" jawab Belen santai yang kini meraih puding didepannya.
Ibra hanya mengeluarkan nafas panjang dan memutar bola matanya.
"emm benar kata mereka memang lebih enak puding buatanku meski tampilannya tak semenarik ini" ucap Belen mengehentikan gerakan bibir Ibra yang hendak terbuka.
"cukup main-mainnya! waktuku sempit!" ujar Ibra memajukan badannya kearah meja.
__ADS_1
"baik aku setuju tapi ada satu syarat" kini Ibra menyipitkan matanya menunggu lanjutan kalimat Belen.
"aku mau tetap ada lebel Matahari di semua produkku, aku akan membuatnya langsung dan mengantarnya kemari setiap hari, soal royalti terserah kau saja mau memberiku berapa" sambung Belen dengan tatapan serius kemata Ibra.
Bukan menjawab Ibra malah hanyut dalam tatapan itu, hilang sepersekian detik.
"hei! setuju atau tidak tuan?" suara Belen memecah lamunan Ibra.
"a apa? ya baik aku setuju tapi kau hanya melakukan kerja sama ini denganku saja, jika ada caffe lain selain milikku ikut menjual kue mu maka perjanjian batal dan royalti aku tarik." jelas Ibra kemudian memundurkan badannya hingga bersandar pada sofa lagi.
"baik kita sepakat!" Belen menjulurkan tangannya keatas meja menunggu Ibra menjabatnya.
"apa yang kau lakukan?" tanya Ibra menyatukan alisnya.
"ya Tuhan kau pengusaha apa kau tidak pernah berjabat tangan dengan klienmu jika proyek kalian disetujui?" jawab Belen sambil memasang buka kesalnya.
Ibra pun akhirnya menjabat tangan Belen dan gadis itu pun tersenyum manis padanya.
"asistenku akan mengurus surat kontraknya" imbuh Ibra melepas jabatan tangan mereka.
"baik terserah kau saja tuan" Belen ikut menyandarkan tubuhnya kesofa.
"bisakah kau berhenti memanggilku tuan? sudah berkali-kali Oma memeringatimu" kini Ibra protes dengan perkataan Belen.
"kenapa? semua orang juga memanggilmu begitu" Belen malah memasang raut wajah menggoda seperti anak kecil.
"dasar gadis keras kepala" gumam Ibra berdiri dari sofanya dan melangkah keluar ruangannya.
"kau mau kemana!" seru Belen yang ditinggalnya.
"kau mau kembali ke tokomu atau tidak?" ucap Ibra enteng sambil meneruskan langkahnya.
"hih dasar pria batu!" seru Belen kesal dan menyusul langkah Ibra menuju mobilnya.
"kenapa kau tidak pernah bertanya dulu padaku!" keluh Belen yang berhasil menyusul langkah Ibra.
"bicara denganmu adalah percuma, cepat masuk!" perintah Ibra membuka pintu untuk Belen.
"terserah abang saja!" Belen menurut dan masuk kedalam mobil Ibra.
__ADS_1