
Diminggu pagi kali ini mentari tak sehangat biasanya, nampak bersembunyi dibalik awan mendung. Dua manusia yang masih berbalut selimut dengan tubuh polos dibaliknya pun enggan untuk beranjak dari tempat tidur.
Cup
Satu kecupan selamat pagi mendarat di rahang lelaki yang masih terlelap itu. Dengan perlahan Belen melepas pelukan suaminya dan berjalan menuju kamar mandi.
Berbalut baddrop Belen duduk didepan meja riasnya untuk mengeringkan rambut. Ibra yang baru keluar dari kamar mandi mendekat dan mendekap tubuh istrinya dari belakang.
"biar aku bantu" ucap Ibra meraih sisir juga pengering rambut, mencoba untuk pertama kalinya meladeni wanita seperti ratu dihidupnya.
tok tok tok
"dady! mamy!" suara malaikat kecil itu terdengar begitu nyaring dibalik pintu.
ceklek
"mamy, dady lama sekali! Yaya sudah lapar tau" gadis kecil dengan rambut dikuncir dua itu meletakan tangan dipinggangnya.
"tunggu mamy ganti baju sebentar ya sayang" sahut Belen setelah mencium pipi merah Divya.
"dady tadi mamy engga mandiin Yaya sih" keluh anak dalam pangkuan Ibra itu.
"Divya mau adik bayi kan? nah Divya harus belajar mandiri ya sayang, dady lagi usahain ada adik bayi diperut mamy" jawab Ibra dengan mencubit gemas hidung mancung Divya.
"abang! jangan berkata begitu, dia masih terlalu kecil" protes Belen yang telah selesai mengganti pakaiannya.
Dengan cekatan Belen merengkuh tubuh Divya hendak menggendongnya namun Ibra mengambil alih. Berjalan dengan penuh tawa menuju meja makan. Tawa diraut mereka pun menular ke Oma juga Adam yang sudah menunggu dibawah.
Hampir dua minggu ini kehidupan mereka amat tentram, rasa bahagia dihati Oma begitu terpancar diwajah tuanya. Adampun ikut bahagia melihat senyum terus merekah diwajah abangnya juga keponakannya yang sangat manis.
"Hore! Yaya mau kekamar mau minta cus gantiin baju buat Yaya!" Gadis kecil itu lari begitu saja menuju kamarnya setelah mendapat ajakan dadynya untuk pergi ketaman hiburan.
Ibra, Belen, Divya, Oma dan Adam sudah berada didalam mobil dan siap menuju tempat tujuan mereka. Hal yang amat Oma rindukan pergi ketempat itu dengan keluarga yang lengkap. Meski ini tidak sama saat Abraham juga istrinya masih hidup. Tapi paling tidak sosok Ibrahim dan Belen sudah lebih dari cukup mengisi kekosongan itu dihati Divya.
__ADS_1
Perjalanan satu jam tiga puluh menit itu mereka tempuh hingga mobil rapi terparkir disebuah taman hiburan yang cukup besar juga ramai di akhir pekan ini. Dengan tak sabar Divya turun dari mobil dibantu mamynya.
"cepat dady! Yaya mau naik itu!" seru gadis dengan jumpsuit jeans dan tas ransel berbentuk unicorn.
"nona kecil ikut Om, kita beli tiket masuk" sahut Adam yang menggendong tubuh kecil Divya.
"abang, aku antar Oma ke toilet dulu ya" pamit Belen yang sedari lima belas menit lalu mendengar Omanya ingin ke toilet.
Dengan anggukan Ibra mengijinkan istrinya dengan Omanya menuju toilet tak jauh dari mereka parkir. Melihat tingkah lucu Divya dari kejauahan ia tak tahan dan menghampiri adik juga anak angkatnya itu.
"kita tunggu Belen juga Oma dulu" ucap Ibra saat Divya terus meminta untuk segera masuk.
Taman hiburan yang amat luas ini terasa padat karena jumlah pengunjung yang membeludak dihari minggu. Terlihat beberapa rombongan wisata pun ikut mengantri di beberapa wahana. Anak-anak berlarian kearah badut dengan kostum beruang yang terus melambai.
"Adam, Oma sangat bahagia melihat mereka" Oma dan Adam sedang berdiri di pagar luar komedi putar, menunggu Divya juga dady mamy nya yang ikut naik bersamanya. "Divya begitu bahagia, dan Ibra memiliki warna baru dihidupnya"
"akhirnya kebahagiaan hadir kembali dikeluarga kita Oma" balas Adam dan meraih pundak Omanya.
"Ibrahim, Adam" Suara dari sisi kiri mereka cukup terdengar hingga membuat ke empat orang itu menengok.
"Casandra, Amanda, kalian disini" sahut Adam melihat dua wanita berjalan mendekat kearah mereka.
"iya, aku ada fotoshoot tadi, Amanda ku minta untuk menemani" jawab Casandra. "Oma disini juga?" imbuh Casandra mengenali Oma Riri disana.
"iya nak, cucu cucu Oma mengajak Oma jalan-jalan" sahut Oma, yang juga mengenali Casandra karena pernah bertemu sekali saat mendatangi wisuda Ibra.
"dan dia?" Casandra menunjuk Belen yang sedang memangku Divya.
"Belen dia Casandra teman lama yang beberapa waktu lalu aku bicarakan, dan dia Amanda adik Casandra juga Asisten baru Adam" Belen menerima uluran tangan Casandra juga Amanda. "dan Belen adalah istriku" sambung Ibra.
Casandra cukup memperlihatkan raut kaget diwajahnya meski dia cukup pintar menyembunyikannya. Entah mengapa Casandra juga Amanda terus ikut bergabung dan berjalan dengan mereka.
Belen cukup asik berjalan dengan Divya mengikuti kemana bocah kecil itu berlari melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Hingga hal tersebut malah dimanfaatkan Casandra.
__ADS_1
"aww" pekik Casandra yang berjalan satu langkah didepan Ibra.
Reflek melihat Casandra yang hampir jatuh karena hak sepatunya yang cukup tinggi Ibra menangkapnya dan Casandra begitu saja memeluk tubuh kekar Ibra. Belen yang melihat dari kejauhan hanya bisa menahan nafasnya sekian detik dan mengajak Divya mendekat kearah Ibra.
"kakak tak apa?" ujar Amanda kaget.
"aduh sepertinya aku tak bisa merasakan kakiku" jawab Casandra masih dengan posisi melingkarkan tangan dileher Ibra.
"bawa dia duduk Ibra" ujar Oma mendekat, Oma jelas paham raut muka Belen yang berubah.
Adam pun yang menyadari hal tersebut dengan cepat mengambil alih dan membawa tubuh Casandra kebangku. Amanda turut menemani kakaknya disana setelah mengambilkan air mineral.
Oma menyuruh Ibra untuk menghampiri Belen yang sudah tak terlihat karena Divya terus menarik tangannya. Oma dan Adam memutuskan menunggui Casandra sebentar.
Ibra dengan langkah cepat menyusuri setiap toko mainan dan wahana untuk mencari Belen dan Divya. Hingga dia mendengar suara Divya yang sedang merajuk.
"kenapa dia Belen?" tanya Ibra setelah mendekat.
"Yaya mau naik itu dady!" ucap Divya menunjuk wahana mirip kincir raksasa itu.
"kenapa kau tidak menurutinya,?" tambah Ibra dengan sudah merengkuh tubuh Divya dan menggandeng Belen menaiki wahana.
"abang, tapi-" Belen ingin menolak tapi percuma Ibra tak mendengarnya.
Sesaat mereka naik, mereka mulai berada diketinggian. Belen merasa keringat dingin meluncur dikeningnya, bibirnya berubah pucat dan Bruk
Belen yang tak sadarkan diri dibawa ke klinik yang ada ditaman hiburan, tubuhnya dingin dan kringat mengucur membasahi keningnya.
"mamy kenapa dady? Yaya nakal ya paksa mamy naik tadi?" ucap Divya yang ada dipelukan Adam.
"tidak sayang, dady yang memaksa mamy naik" sahut Ibra yang duduk disisi ranjang Belen.
Belen memiliki pobia ketinggan yang amat parah, sehingga dia langsung pingsan begitu wahana berhenti dipuncaknya. Lagi-lagi Ibra merasa bersalah membuat Belen terbaring diranjang pasien seperti ini.
__ADS_1