Alexavier Archie

Alexavier Archie
Maaf(2)


__ADS_3

drrt drrrt


Ibra yang tengah fokus menyetir merasa ponselnya bergetar.


"apa!?" serunya.


"lo dimana sih pak CEO terhormat? sekarang ada rapat soal area pergudangan elah!" keluh Raka frustasi, terlanjur jengkel sampai pakai kata lo-gue. Sedari satu jam lalu ia menghubungi Ibra namun tak juga kunjung diangkat.


"ck! ngga penting! Ada Adam kan? Dia bisa memimpin rapat atau tunda rapatnya, ada hal lebih penting dari itu sekarang" Ibra dibuat pusing amat pusing dengan rasa bersalahnya.


Lampu lalu lintas kembali hijau, mengambil kesempatan dia menyalip beberapa kendaraan didepannya.


*huh padet sakali jalanan! orang*-orang pada mau kemana sih!


tin tin tin!


Berkali-kali juga ia membunyikan klaksonnya, sebuah mobil ingin ambil putar arah tapi malah bikin macet saja. Sekali lagi ia memukul kemudinya, entah sudah berapa kali dia melakukan hal itu.


Cukup menguras emosi akhirnya ia dapat mengakhiri drama kemacetan dijalanan dan memarkirkan mobil sedan hitamnya dihalaman Popular caffe. Diarahkan pandanganya pada mobil suv berwarna putih, ya mobil Belen masih terparkir diarea parkir khusus miliknya yang menyebabkan Ibra memarkir mobilnya tepat dipintu masuk caffe.


Dilihatnya Belen masih berada didalam, dia terlihat sedang berbicara dengan seorang karyawan yang masih memegang dua tumpukan box kue. Dengan cepat Ibra berlari kedalam diwaktu bersamaan Belen pun berbalik badan hendak keluar.


grep!


Belen tersentak dengan kejadian cepat itu, dia hampir mengeluarkan pistolnya sebelum ia menyadari aroma tubuh yang ia rindukan. Aroma yang menenangkan dirinya, dan membuat tidurnya nyenyak setiap malam.


"maaf" lirih Ibra menelusupkan wajahnya pada ceruk leher jenjang milik Belen. Ia menghirup dalam-dalam aroma vanila yang sudah menjadi candu untuknya akhir-akhir ini.


Belen membalas pelukan itu. Rindu. Hanya itu hal yang tersirat dibenaknya sekarang.


Tunggu!


Cepat-cepat Belen mengakhiri adegan berpelukan itu dan mengingat mereka sedang berada dicaffe, dan benar saja semua karyawan dan pengunjung yang ada disekitar mereka tak berkedip melihat pemandangan langka itu. Terutama para karyawan caffe yang tahu betul bahwa bos mereka itu sudah mirip batu es, tapi kali ini batu es itu meleleh karena cinta bukan globalisasi.


"abang? ada apa?" ucap Belen setelah mengajak Ibra ke dalam ruangan kantor Ibra yang ada dicaffe.

__ADS_1


Ibra masih menggenggam kedua tangan lentik milik Belen. Menggenggamnya lembut dan mengecupnya singkat.


"Maaf sayang" Ibra kembali membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya. Ia terus mengecup pucuk kepala Belen dan menikmati aroma harum rambut hitam legam itu.


"aku juga minta maaf" Belen semakin menelusupkan kepalanya kedalam dada bidang yang amat nyaman itu. Dia sudah tau maksud dari Ibra.


"ijinkan aku menebus kesalah pahaman ini, hari ini aku ngga mau jauh dari kamu, kamu ikut aku, temani aku sehari ini ya, aku rindu" ucap Ibra menembus netra coklat nan lentik itu.


Seperti tersihir Belen menganggukan kepalanya. Kata rindu yang didengarnya sudah seperti untaian kata mutiara yang amat indah.


Mereka berdua berjalan menuju parkiran, tak lupa jemari tangan mereka yang saling bertaut, Ibra sudah menyuruh seseorang untuk membawa mobil Belen pulang. Dua pasangan ini kini menuju menara kantor Anka Group.


Bak pasangan yang sedang dimabuk kasih Ibra tak melepaskan tautan tangannya dengan Belen.


"kalo tangannya engga dilepas gimana turunya bang?" tanya Belen menahan senyumnya, eh bukan, yang benar adalah menahan tawanya.


"baik baik, tapi setelah ini tidak kulepas lagi" sahut pria yang duduk belakang kemudi.


Ibra membukakan pintu mobil untuk Belen, setelah perempuan yang mengenakan dres warna hitam sebawah lutut dan dibalut jaket jeans crop itu turun tangan Ibra kembali menggenggam tangannya.


"biar, baru pegangan tangan belum juga dicium" Ibra memencet tombol di lift pribadinya, setelahnya melihat arloji di pergelangan tanganya, 9.57.


Mendengar itu Belen malah tambah malu dan menundukan wajahnya yang memerah karena Ibra mengatakannya dengan berbisik ditelinganya.


"pak bos bisa semanis itu ya"


"ah ya tuhan! kalo begitu sih bos keliatan ganteng banget!"


"aduh beruntung banget istrinya pak bos" "ah tapi istrinya juga cantik banget engga kaya si nenek lampir sarah"


Kiranya begitu bisik-bisik para karyawan setelah salah satu CEO mereka yang dikenal galak itu terus tersenyum pada istrinya dan istrinya memasuki lift.


tring!


Pintu lift terbuka dilantai khusus dimana hanya ada ruangannya dan ruangan Adam saja.

__ADS_1


Dari kejauhan dia bisa melihat seseorang mondar mandir didepan pintu ruangannya, bahkan sekertarisnya terlihat pusing melihat orang itu bolak balik seperti setrikaan.


Melihat seorang yang ditunggu datang, Raka langsung mengehntikan kegiatan unfaedahnya.


"astaga pak CEO Anka Group yang terhormat, anda sangat-sangat membuat kepala saya pusing hampir meledak!" sambutnya yang amat kelewat ramah itu.


Yang disambut hanya diam dan memberi isyarat untuk dibukakan pintu. Raka hanya mendengus kesal dan membukakan pintu untuk bos besar juga istrinya. Belen? sudah pasti ia sangat tak enak hati terhadap Raka.


"jadi apa masalahnya?" ucap Ibra setelah duduk disofa, eits jangan lupa tangannya masih menggenggam tangan mungil Belen.


"hah!" nafas kasar keluar dari mulut Raka, dia memang terlihat stres jika dilihat dari tampilannya yang acak-acakan.


"rapatnya memang bisa dilaksanankan tanpamu tapi ada masalah Ibra, sekumpulan orang datang ke area proyek mereka berkata bahwa pembelian tanah mereka belum diselesaikan, kuranganya masing-masing orang adalah 30%. Mereka mendatangi area proyek semalam, dan hal ini baru dikatakan kepala proyek saat rapat tadi"


"semua ini pasti ada hubungannya dengan sibr*ngsek Anthony!" geramnya setelah menjelaskan masalah sebenarnya pada Ibra.


Ibra masih terdiam hingga suara pintu terbuka. Adam dan Louis masuk kedalam ruangan Ibra. Adam sedikit mengerutkan keningnya melihat Belen disana, dan apa itu tangan mereka terkena lem atau apa?


"abang sudah hampir setengah sebelas aku jemput Divya dulu ya" pinta Belen dan berusaha melepaskan tangannya perlahan.


"Oma sudah aku kabari tadi untuk jemput Divya" Ibra mengangkat tangan mereka yang masih saling bertaut. "dan jangan coba-coba melepas ini" sambungnya.


Tiga manusia lain didepan sana masih saling pandang dengan apa yang mereka lihat juga dengar ini. Dan Belen hanya menghembuskan nafas berat serta tersenyum kikuk melihat tiga manusia didepannya.


"ehm!" Adam sedikit berdehem. "bang ini urusan serius, kita harus segera mencari kebenaran juga jalan keluar ada dari permasalahan ini" lanjut Adam memajukan tubuhnya ke arah meja.


"Abang, Adam benar ada hal penting yang harus kalian bicarakan, kita kan bisa bertemu lagi nanti dirumah" ucap Belen lembut.


Ibra hanya memberi isyarat untuk diam dengan menempelkan jari pada bibirnya.


"Louis kau tahu apa yang harus kau lakukan kan? selidiki dan cepat laporkan, data semua orang yang datang ke area proyek dan gali informasi dari mereka" kini Ibra terlihat amat berwibawa jika sedang serius, Belen cukup memperhatikan dan diam disamping suaminya. Sejujurnya tangannya mulai terasa kebas.


"aku sudah memerintahkan beberapa anak buahku untuk turun kelapangan, juga untuk mengecek dikantor notaris yang bersangkutan" jawab Louis.


"Selebihnya kita bahas dimarkas, job baru Galaxy akan mulai dikota ini dengan kasus ini sebagai pembukanya, ini pasti ada sangkut pautnya dengan Gerhana maupun kumpulan dibelakang mereka"

__ADS_1


__ADS_2