Alexavier Archie

Alexavier Archie
Menikah


__ADS_3

Pagi itu kamar Nyonya besar kediaman Ankawijaya kembali didatangi dua cucu lelakinya juga Belen. Dua cucu laki-lakinya itu menceritakan kejadian semalam. Dari penyelamatan yang dilakukan Belen hingga menjadikannya anggota Galaxy. Bahkan mulut Adam yang licin itu juga memberitahu Omanya atas adegan yang Abangnya juga Belen lakukan dilokasi proyek demi membuat Sarah menjauhinya.


Oma masih dengan raut berpikirnya, mencerna semua kejadian yang terjadi, awalnya menggeleng karna Belen harus dilibatkan, tapi dengan tekat dan kemampuan yang dimiliki Belen akhirnya Omapun setuju dengan gagasan mereka. Oma hanya selalu berpesan untuk saling menjaga, dan Oma pun akan menjaga Divya lebih ketat lagi meski sudah diberitahu adanya anggota Galaxy yang akan mengikuti Oma dan Divya dari jarak jauh.


"Belen sudah terlalu jauh masuk dalam urusan ini, bukan hanya soal mamy Divya dan kekasihmu Ibra, tapi kalian juga menyeretnya kedalam lingkaran setan ini. Oma tidak mau Belen terluka dan mendapat masalah lebih besar lagi, kau yang sudah menyeretnya dan kau juga yang harus bertanggung jawab Ibra." suara Oma begitu berat, terlihat beberapa kali dia mengatur napasnya.


"aku sudah memberi penjagaan untuknya juga toko kuenya Oma dan jangan lupa dia yang membuntuti kami" jawab Ibra dengan enteng.


"ini soal kehidupannya seumur hidup Ibra! Kau harus menikahi Belen" suara Oma yang berat kini naik satu tingkat.


Belen menoleh cepat pada Oma dengan mata membulat, juga Adam dan tentu Ibra.


"tapi Oma-" Belen berusaha menolak tapi tangan Oma menyentuh pundaknya.


"ini menyangkut nyawamu Belen, kehidupanmu kedepan tak akan sama" lanjut Oma Riri.


Ibra tak bersuara karna tahu keputusan Omanya adalah mutlak. Setelah dipikir memang benar Belen memang adalah gadis yang ia butuhkan. Ciuman itu hanyalah modusnya yang sebenarnya Ibra tak dapat memendam rasa penasarannya pada bibir manis Belen, licik bukan. Meski belum ada rasa lebih namun tidak Ibra tahu bahwa Belen tak seperti wanita yang selama ini mengejar-ngejarnya.


"abang setuju?" tanya Adam pelan.


"Oma atur saja waktunya" hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Ibra dan melangkah keluar dari kamar Oma.


"a apa? ta tapi" Belen masih mencoba untuk menolak dan tak percaya dengan perkataan Ibra.


"Belen, ini yang terbaik untukmu, untuk keselamatanmu" Oma yang tahu Belen sebatang karapun tentu merasa bersalah bila satu hal buruk menimpa gadis baik itu.


...


"Nona kecil sama suster ya sekarang mamy mau ke toko kue dulu, nanti sore mamy bawakan kue untuk Divya" ucap Belen yang mengantar Divya kekamarnya setelah menjemputnya dari sekolah.


"Belen" panggil oma dari arah meja makan saat melihat Belen menuruni tangga.


"kamu mau ke toko kue kan? sekalian antarkan makan siang untuk Ibra juga Adam ya, Oma mau temani Divya makan siang dirumah" perintah Oma menyerahkan dua rantang bersusun tiga itu pada Belen.


Belen tak bisa menolak perintah Oma, dia hanya mengiyakan dengan memberi senyum pada Oma dan meraih dua rantang itu dari tangan Oma.


Dengan diantar supir pribadi, Belen sampai di kantor Ibra, setelah supir memberitahu resepsionis tentang siapa Belen, wanita dengan balutan baju kantoran itu memberi kode pada Belen untuk mengikutinya ke lift menuju lantai dimana ruangan Ibra berada.

__ADS_1


Tring


pintu lift terbuka, wanita itu mempersilahkan Belen melangkah dan berhenti dimeja Jody.


"Jody apa tuan Ibra diruangannya?" tanya wanita itu pada Jody.


"iya tuan Ibra barusaja masuk keruangannya duamenit lalu" jawab Jody yang memperhatikan penampilan Belen dari bawah hingga atas. blNagaimana tidak Belen hanya mengenakan lose pant jeans serta kemeja oversize berwarna putih dengan dua kancing atas terbuka yang memperlihatkan kaos berwarna hitam disana.


"kalau begitu antar Nona Belen masuk, dia calon istri tuan Ibra" ucap wanita tadi dan pamit pada Belen.


Jody hanya terdiam dan mencoba menahan mulutnya untuk tidak menganga, sejak kapan bosnya punya kekasih, bukan hanya itu tentu itu membuatnya sakit hati juga.


"ehem" Belen berdehem untuk membuyarkan lamunan Jody.


"e maaf, silahkan" Jody melangkah didepan Belen dan membukakan pintu untuk Belen.


Ibra yang duduk diruang kerjanya dibuat kaget dengan kedatangan Belen disana. Dengan Jody yang masih diambang pintu Ibra pun tak melewatkan kesempatan.


Dengan senyum mengembang Ibra menghampiri Belen yang berdiri depan mejanya, diraihnya pinggang langsing itu didekapnya. Tak mau melihat kelanjutannya Jodypun menutup pintu ruangan itu.


"hei bisakah kau pelan sedikit! dasar pria aneh sebentar lembut sebentar kasar, oh apa sekretarismu juga suka menggodamu sehingga kau bersikap seperti tadi!" seru Belen kesal dan meletakan dua rantang itu dimeja.


Belen hanya menyilangkan dua tangannya didepan dada.


"kenapa kau berdiri, siapkan makan siangku, kau harus belajar meladeniku" Ibra mengendurkan dasinya dan melempar senyum mengejek pada Belen.


"ya Tuhan aku sangat tak mengerti semua ini, Oma begitu baik padaku tapi kau terus saja membuatku pusing! kau kadang tak mau bicara, kadang jutek saja, dan ini kenapa malah jadi suka menggodaku!" kesal Belen dengan meraih rantang dihadapannya dan membukanya satu persatu.


Mengambil piring di kitchen set mini dekat toilet dan menyiapkan makan siang Ibra dengan raut cemberut. Tak lama Adam, Raka juga Louis pun ikut bergabung.


"pantas saja segini banyak, ternyata." gumam Belen melihat ketiga pria itu melangkah kearahnya.


Belen pun menyerahkan piring berisi nasi dan lauk pauk pada Ibra, meraih tasnya dan melangkah ke pintu.


"kakak ipar mau kemana?" tanya Adam.


"apa aku juga harus mengambilkan kalian makanan!" ketus Belen meneruskan langkahnya.

__ADS_1


...


Belen yang baru saja menyelesaikan beberapa kue pesanan dibuat syok dengan pesan yang dikirim Oma Riri.


Pernikahan kalian tiga hari lagi, Oma sudah persiapkan semuanya


Jantung Belen berdegup kencang, ini sangat diluar dugaannya, ini terlalu cepat dia sangat tak siap.


"Kak Belen tak apa?" tanya Sella yang melihat raut Belen yang berubah pucat.


"tak apa Sella, tolong untuk beberapa hari kedepan kamu handle toko ya, aku akan ada urusan penting" jawab Belen setelah menarik dan menghembuskan nafas berulang kali.


tring


Bunyi bel dibalik pintu kaca terdengar. Seorang dengan kemeja dibagian lengan dilipat sampai siku, dan ekspresi datar terlihat berjalan menuju arah Belen.


"sudah waktunya pulang" ucap Ibra dengan memasukan kedua tangannya pada saku.


"i iya tunggu sebentar" Belen mengambil tasnya juga kue yang sudah disiapkan untuk Divya, dan pamit pada Sella juga karyawan barunya.


Belen pun mengikuti langkah Ibra menuju mobil mewahnya yang berada tepat didepan toko kue. Sebelum masuk Ibra sedikit mengitarkan pandangannya melihat posisi dimana anggotanya berjaga.


Menerobos macetnya jalanan dijam pulang kerja memanglah menguji kesabaran, tapi bagi Belen berada dalan kondisi seperti ini dengan Ibra yang tak berkata apapun itu lebih menyebalkan.


"abang" Belen mencoba berbicara halus padanya, karna jika sama-sama keras mereka tak akan bisa mengobrol.


"hem" jawab Ibra.


"kenapa abang menerima pernikahan ini" tanya Belen sedikit gugup.


"karna Oma selalu benar" lagi-lagi jawaban Ibra pendek saja, sepertinya dia sedang ada dimode jutek.


"asal kau tahu, aku menerimanya bukan karna apa yang wanita lain kejar darimu, aku hanya ingin bersama Divya saja, entah mengapa aku sangat menyayanginya, aku tak mau gadis kecil itu bernasip sama sepertiku, tak pernah mendapat kasih sayang orangtua" Belen melihat kosong kedepan dan teraenyum kecut.


Ibra menoleh dan terenyuh dengan apa yang Belen ucapkan. Tanpa Belen ucapkan pun Ibra susah tahu semuanya.


"kau terlihat manis bila berbicara lembut padaku" cetus Ibra dengan sedikit senyum diwajahnya.

__ADS_1


"nah kan! tadi diam, jutek sekarang kau malah menggodaku!" kesal Belen pada sikap Ibra.


__ADS_2