
Entah sudah berapa kali lelaki ini mondar-mandir dibalkon kamarnya. Malam ini begitu cerah bintang berkerlip bergantian. Bulan yang seperti sabit itu hampir tak terlihat saking tipisnya.
Sesekali tangan besar itu menyisir kasar rambut hitamnya. Masih dengan langkah yang bolak-balik tak jelas nampak lelaki itu sedang berfikir keras.
"apa lagi yang harus aku lakukan untuk merayunya. Wanita memang mahkluk yang sulit ditahklukkan. Aku lebih memilih menghadapi 50 pembunuh bayaran jika begini" Ibra bergumam kesal menghadapi sikap Belen yang sedang marah padanya.
Wanita itu sudah mendiamkannya selama dua hari setelah kejadian Sarah dikantor. Bahkan dua malam sudah Belen memilih tidur dikamar Divya.
"gimana mau tumbuh, baru mau menanam, belum juga memupuk tapi sudah gagal panen" Ibra benar-benar nol jika soal wanita.
ceklek
Dilihatnya Belen memasuki kamarnya, dengan langkah cepat Ibra mendekati Belen yang sedang membuka lemari pakaiannya.
"tidur disini ya" pinta Ibra yang berdiri tepat dibelakang Belen.
Belen hanya terdiam tak menjawab, dia sedang mencari baju tidurnya.
"Divya sudah tidur?" tanya nya lagi.
"hmm" hanya itu jawaban Belen.
Sudah cukup bersabar, Ibra membalik tubuh Belen untuk menghadapnya.
"Cukup Belen Adhisti! bicarakan apa mau mu dan berhenti mendiamkanku. Aku sudah meminta maaf, bahkan kau juga sudah memberi pelajaran pada Sarah. Sekarang apa lagi?" Ibra meluapkan apa yang ada dibenaknya.
"tidak ada" jawab Belen memalingkan wajahnya.
"tatap mataku Belen! Sungguh aku tidak suka dibantah juga didiamkan tanpa sebab" sambung Ibra dengan dua tangannya memegang pundak Belen.
"apa kau tahu bagaimana terhinanya aku? bagaimana jika saat itu bukan aku yang membuka pintu ruanganmu? Bahkan Jody pun tau apa yang dia lakukan didalam sana" Belen menarik nafasnya panjang.
"meski aku belum yakin dengan perasaanku dan aku pun tak tahu perasaanmu dihampir tiga minggu ini, tapi yang jelas aku sangat mengerti bahwa pernikahan bukanlah hal main-main Ibra" Belen terdengar sangat serius dengan tatapan tajam kearah Ibra.
Ibra memeluk erat istrinya, sungguh dia tak tahu beban pikiran Belen dua hari ini. "aku pun tak akan mempermainkan pernikahan ini Belen. Dengarkan aku, aku berjanji akan belajar mencintaimu" Dibelainya lembut rambut Belen yang terurai dan diciumnya cukup lama pucuk kepala Belen.
Belen mencoba untuk tidak egois, dia sangat tahu itu bukan kesalahan Ibra. Meski hati mereka belum saling memiliki tapi kini mereka sedang belajar untuk sama-sama menerima. Belen membalas pelukan Ibra dan meletakan kepalanya didada bidang Ibra.
"ini hari jumat, kau tidak ke bar?" tanya Belen yang kini duduk diranjang dan sedang bersandar dipundak suaminya.
__ADS_1
"Adam sedang disana, mungkin kami akan bergantian saja dengan kondisi yang masih seperti ini" jawab Ibra dengan melingkarkan kedua tangannya ditubuh Belen.
"banyak penjaga bukan? jangan tinggalkan kewajibanmu disana" ucap Belen.
"bolehkan kita mulai dari awal Belen? aku ingin hubungan kita jadi lebih baik" Ibra mengganti topik pembicaraannya.
Belen tak menjawab dihanya membalas pelukan suaminya hingga terbawa kealam mimpi.
...
Seperti pagi-pagi biasanya setelah mengantar Divya kesekolah Belen hendak menyiapkan makan siang. Dibukanya lemari yang menyimpan bahan kue dan tidak ditemukannya soda kue.
"Oma Belen ke supermarket depan ya, Belen mau buat bolu ternyata soda kuenya habis" pamit Belen pada Oma yang sedang membaca buku di ruang tengah.
"tidak kau suruh orang saja Belen?" jawab Oma menurunkan kacamata bacanya.
"tak sampai 10 menit aku sudah kembali Oma" setelah mendapat anggukan dari Omanya Belen menuju garasi dia memilih menggunakan motor maticnya agar lebih cepat dan tak kesulitan mencari tempat parkir.
Hanya 3 menit Belen sudah berada di supermarket dikomplek rumahnya. Dengan dompet kecil ditangannya dia masuk kebagian bahan kue dan mengambil beberapa bahan lain yang sudah menipis. Mengambil beberapa es krim untuk Divya dan membawanya ke kasir.
Menuju motornya dengan belanjaan dibagian tengah motornya, dia kembali kerumahnya. Baru memutar arah terlihat ada pemotor yang mendekat dari belakangnya.
jleb!
Anggota Galaxy yang kembali kecolongan dengan kejadian yang amat cepat hanya bisa mengejar pelaku yang tak lama kemudian mereka dapatkan.
"ketua kita harus menuju rumah sakit X, Lady mendapat tusukan dan dilarikan kesana oleh warga" begitu ragu sebenarnya Dominic menghubungi ketuanya.
Ibra yang sedang meeting dengan Adam, Raka dan beberapa staf kantornya langsung menutup telpon dan meninggalkan ruangan meeting dengan langkah cepat.
"abang! mau kemana?" Adam mencoba memanggil abangnya yang sudah menghilang dibalik pintu.
Raka membuka ponselnya dan membelalakan matanya. Memberi kode pada Adam untuk melanjutkan meeting terlebih dahulu.
tak tak tak
Suara langkah Ibra menggema dilorong rumahsakit yang tak terlalu ramai itu. Dominic terlihat menunggui ruang oprasi disana.
"maafkan kami sekali lagi lalai ketua, hukumlah kami, kami hanya dapat menangkap pelaku tanpa bisa mencegahnya" ucap Dominic dengan menundukan wajahnya.
__ADS_1
Ibra hanya diam menatap pilu ke pintu putih yang tertutup rapat itu. Rasa bersalah kembali menghantuinya.
"maaf ketua, ini dompet dan ponsel Lady, beberapa kali ponselnya berbunyi" Dominic menyerahkan dompet putih milik Belen juga ponselnya yang retak dibagian layarnya.
Dengan ragu dia mengangkat telpon dari Omanya.
"iya Oma" jawab Ibra dengan ragu.
"Ibra? bagaimana bisa- apa yang terjadi pada Belen?" Oma sedikit berteriak disebrang sana.
Ibrapun memberi tahu apa yang sedang menimpa Belen dan kondisinya saat ini, juga melarang Oma juga Divya menyusul karena kondisi bisa lebih berbahaya.
Tak lama pintu ruang oprasi terbuka, dokter dengan jubah biru kehijauan tampak keluar.
"keluarga korban?" tanya dokter itu melihat lelaki berpakaian rapi berdiri tepat didepan pintu.
"sa saya suaminya dok, bagaimana keadaannya" jawab Ibra dengan panik.
"lukanya cukup dalam, tapi semuanya baik dan dapat tertangani, pasien akan sadar beberapa jam lagi" Dokter sedikit menjelaskan kondisi Belen disana dan setelahnya Ibra meminta untuk memindahkan Belen keruang VIP untuk perawatan selanjutnya.
Ibra duduk di samping ranjang tempat Belen terbaring, sedari Belen keluar ruang oprasi dan dipindah keruang rawat inap Ibra tak melepas genggaman tangannya. Sudah sore dan Belen pun belum tersadar.
Adam dan Raka juga sudah berada disana menemani Ibra, membawakan makanan yang belum juga disentuh sama sekali oleh lelaki dengan wajah berantakan itu.
"abang makanlah terlebih dulu, kau tidak boleh sakit saat Belen seperti ini, kau butuh tenaga untuk merawatnya nanti." bujuk Adam pada abangnya.
"Sedari tadi Belen pun belum makan Adam. Apakah dia harus menderita dan kehilangan kedamaian hidup seperti ini?" Ibra terdengar pilu dengan tatapan sayu kewajah pucat Belen.
"kami semua menunggu perintahmu untuk menghabisi mereka ketua! ini sudah kelewatan" ucap Raka terdengar tegas.
Ibra hanya menoleh sekilas, dia harus membalas dendam dahulu pada pelaku penusukan ini batinnya.
Saat kembali menoleh kearah Belen dilihatnya Belen sedang berusaha mengerjapkan matanya.
"Belen, sadarlah aku disini, buka matamu" Melihat kondisi Belen yang mulai sadar Ibra menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
.
.
__ADS_1
.
TINGGALKAN JEJAK YUK BIAR RAMEE