Alexavier Archie

Alexavier Archie
Seperti Musim Semi


__ADS_3

Sejak mengunjakkan kaki dikantornya Ibra belum beristirahat sama sekali, sesai satu pertemuan ia lanjut pertemuan lainnya, hal ini tidak lain karena ia menggantikan urusan Adam. Jam menunjukan pukul 11.45 hampir masuk makan siang dan dia masih berkutat dengan berkas diruangan Adam, ada laporan yang tidak bisa ditunda hingga Adam kembali.


Amanda duduk disebrang Ibra dengan dokumen yang ia bawa, ia memberi penjelasan mengenai isi dalam dokumen tersebut agar bosnya tidak perlu membaca satu persatu.


Raut serius mereka teralihakn ke pintu setelah mendengar bunyi ketukan.


Amanda bangun dari duduknya, membawa kakinya menuju pintu dan membukakan pintu berwarna coklat tua itu.


Terlihat dua sosok laki-laki berperawakan tinggi yang terlihat seusia dengan bosnya.


Dua lelaki itu masuk setelah dipersilahkan masuk.


"Selamat siang Tuan Ibrahim" laki-laki itu menjulurkan tangannya kearah tuan rumah.


"Siang tuan Navara, silahkan duduk" Ibra bangkit dari duduknya, menyambut tangan tamunya dan mengarahkan tangan satunya ketempat duduk.


Navara dan asistennya duduk disebrang Ibra, sementara Amanda menempatkan dirinya disisi kiri Ibra dengan jarak lumayan, sebenarnya ia sangat sungkan tapi diruangan Adam hanya ada sepasang sofa panjang untuk menerima tamu.


"saya sangat prihatin dengan apa yang menimpa tuan Adam, sayang sekali dia harus mengalami hal seburuk itu" karena berita kecelakaan Adam Ankawijaya memang sangat ramai diperbincangkan oleh kalangan pengusaha juga di media masa.


Ibra masih dengan raut dingin dan datarnya mendengar pernyataan simpati itu, berbeda dengan gadis disebelahnya yang sedikit menunduk dan mengambil nafas panjang yang masih bisa diketahui oleh Ibra.


"terimakasih atas rasa simpati anda, saya akan menyampaikan pada Adam bahwa banyak yang peduli padanya"


Selanjutnya dua pengusaha muda itu saling membicarakan bisnis yang sedang mereka jalin, sebenarnya urusan di pelabuhan diurus oleh Adam tapi karena dia belum bisa pergi kekantor semua dihandle oleh Ibra.


Setengah jam lamanya hingga penanda tanganan berkas selesai dilakukan.


"sekali lagi terimakasi Tuan Navara" ucap Ibra yang sudah berdiri dan berjabat tangan dengan Navara.


"sama-sama Tuan Ibra saya sangat senang bekerja dengan AnkaGroup" Navara dan asistennya melangkah keluar ruangan milik Adam.


Amanda tengah membereskan dokumen yang berada dimeja hingga suara Ibra menghentikan kegiatannya.

__ADS_1


"kau mau makan siang diaman Amanda?"


"eh, biasanya saya dengan Nina akan pergi ke kantin kantor Tuan" jawabnya dengan berkas yang audah rapi didekapannya.


"tidak ada janji lain?" tanya Ibra kembali.


"sepertinya tidak" jawab Amanda sedikit ragu.


"kalau begitu kau bisa ikut aku, 10 menit lagi aku tunggu dibawah" Ibra melangkah keluar ruangan setelah mengucapkan itu tanpa menunggu jawaban dari Amanda.


Amanda masih tercengang, apa urusan apa lagi? apa kali ini ia akan diminta pergi dari hidup Adam? Pikirannya buruk tak karuan, semalam saja ia susah tidur memikirkan perkataan Ibra untuk tidak bertemu demgan Adam.


Menurut, Amanda segera menuju ruangannya dan mengambil tasnya, kemudian memencet tombol lift menuju lantai bawah. Ia melangkahkan kakinya menuju loby, dari sana sudah terlihat mobil Ibra, baru saja Ibra masuk kedalam mobilnya, ia menambah cepat langkahnya tak mau bosnya lama menunggu.


"Bu Amanda silahkan" seorang security yang berdiri dekat dengan mobil sedan milik Ibra membukakannya pintu belakang, ia ragu hingga suara Belen muncul dari sisi kiri depan.


"ayo Amanda!" serunya membuat Amanda melanjutkan langkahnya masuk ke bangku belakang.


Kini Amanda semakin bingung akan pergi kemana mereka.


"bawa berkas dan laptop disebelahmu, aku ingin kau terlihat benar-benar asisten Adam yang datang berkunjung untuk urusan pekerjaan" suara Ibra memecah keheningan setelah mobilnya parkir.


Amanda melihat sisi kanannya, benar saja sudah ada setumpuk berkas yang entah berkas apa, juga sebuah laptop. Ia hanya menurut dan mulai membawa apa yang Ibra perintahkan.


Belen menoleh kebelakang, ke Amanda tepatnya.


"aku akan jelaskan nanti" suaranya lembut membuat Amanda tersenyum dan mengangguk.


Didepan ruangan Adam terlihat ada dua orang yang berjaga, mereka kompak menunduk melihat siapa yang datang. Amanda tak mengira sejak mereka masuk ke rumah sakit sudah ada beberapa orang yang membungkuk menyapa mereka, bukan lebih tepatnya menyapa Ibra.


ceklek


Pintu dibuka oleh Ibra, Ibra dan Belen sudah melenggang masuk, berbeda dengan Amanda yang terlihat berhenti dan mengambil nafas dalam.

__ADS_1


"lama banget sih kalian makanannya udah di-ngin" ucapan Adam sempat terjeda begitu mengetahui sosok gadis yang mengekor dibelakang dua kakaknya.


Dia dengan cepat mengalihkan pandangan pada abangnya seolah bertanya "bagaimana bisa?"


"selamat siang Tuan Adam" sapa Amnda yang terdengar formal.


"kamu bisa bicara santai sekarang Amanda, tidak ada orang lain selain kita berpat disini, ayo kita makan siang" serobot Belen sebelum Adam menyahut sapaan Amanda.


Masih dengan bingung Amanda berjalan menuju meja yang ditempati Ibra juga Belen dimana sudah tersaji banyak makanan diatas meja, makanan khas jepang favoritnya.


Adam membenarkan posisi ya agar bisa duduk. Melihatnya kesulitan Amanda memberanikan diri mendekat dan membantunya.


Deg


Detak jantung mereka sama berdetaknya, darah mereka sama berdesirnya bahkan seolah musim semi sedang mendatangi mereka. Belen mencuri pandang dan menarik bibirnya hingga membuat sebuah lengkungan.


"Amanda bisa tolong siapkan makanan ini di meja Adam?" pinta Belen pada Amanda dengan menyodorkan sekotak sushi.


Amanda mengangguk dan mengambil kotak berwarna merah dari tangan Belen.


Amanda meletakan kotak tersebut pada meja diatas ranjang Adam, namun ia merasakan tangan yang beberapa waktu lalu menggenggamnya dan memberi rasa hangat.


"temani aku makan disini ya" Adam memandang intens sepasang mata coklat milik Amanda.


Dengan sedikit ragu Amanda mengangguk setelah menoleh kearah meja, Belen hanya mengangguk, sementara Ibra tak menanggapi dan melanjutkan makannya.


"sakit ya? mau aku suapi?" meijat Adam kesulitan menggerakan tangannya membuat Amanda khawatir.


Adam hanya tersenyum dan mengangguk.


"jangan menungguku menghabiskan makananku, kamu makan juga, juga jangan terlalu lelah mengurus pekerjaanku, aku akan segera kembali kekantor segera" ucapan Adam membuat Amanda tersenyum, ada rasa lega dihatinya.


Usai dengan makan siang, Ibra langsung mengajak Belen juga Amanda kembali, ia tidak mau berlama-lama karena bisa mengundang perhatian musuh yang mengincar.

__ADS_1


"Amanda, maaf membuatmu menjaga jarak pada Adam, tapi ini juga demi keselamatanmu, kecelakaan Adam masih dalam penyelidikan emtah disengaja atau tidak, kau tau kan AnkaGroup memiliki banyak pesaing, mereka bisa berbuat nekat" terang Belen merangkai alasan, yang sebenarnya bukan soal AnkaGroup tapi soal Galaxy.


Amanda mengangguk mengerti, karena dalam bisnis hal kotor bisa dihalalkan untuk menjatuhkan pesaing kita.


__ADS_2