Alexavier Archie

Alexavier Archie
Lebih Berarti


__ADS_3

"tidak, iyaa aku mengerti aku sudah menjalankan sesuai rencana"


"..."


"sabarlah beri aku waktu"


"..."


"iya dia kemari tadi,sudah dulu ya kak kepalaku masih pusing"


...


"mamy!" suara yang menggema diseluruh lantai bawah ketika sosok Belen masuk kedalam rumah besar itu.


"hai sayang!" dengan senangnya dia selalu menyambut tubuh kecil Divya dan meraihnya untuk masuk dalam gendongannya.


"mamy bantu Yaya siap-siap untuk besok pagi!" bocah kecil dengan dress bergambar tokoh kartun disney itu sangat antusias menyambut kegiatannya besok pagi.


Belen tersenyum gemas melihat anak kecil dalam gendongannya itu sangat tidak sabar untuk kegiatan outingclassnya besok.


"saya sudah menawarkan bantuan tapi nona kecil menolak nyonya" sahut suster Divya yang berada tak jauh dari mereka.


"tidak apa mbak, tadi pagi memang aku sudah berjanji untuk membantunya berkemas, mbak bisa istirahat dulu" diturunkannya bocah yang tubuhnya sudah tidak kecil lagi dan diraih tangannya untuk menuju kamar.


"kalau begitu nona kecil ayo kita berkemas!" seru Belen yang sudah menaiki tangga menuju kamar yang didominan dengan warna pink itu.


Mereka menyiapkan sepasang baju ganti, memasukan beberapa makanan ringan juga berbagai keperluan lain kedalam satu tas, Divya sangat antusias dan terus berceloteh dengan hal-hal yang dia ingin lakukan besok.


ceklek


"wah seru sekali sedang apa kalian?" suara Ibra berhasil menghentikan kegiatan yang sedang dilakukan oleh mama dan anak ini.


"aku sedang berkemas dady, setelah ini dady dan mamy juga harus berkemas untuk besok ya!" gadis kecil itu sudah berpindah kegendongan kokoh dadynya.


...

__ADS_1


Setelah Ibra yang membersihkan tubuhnya dari kringat setelah seharian bekerja 15 menit kemudian gantian Belen yang berada didalam kamar mandi. Tak memakan waktu lama wanita dengan rambut yang tengah dibungkus handuk itu keluar dari kamar mandi.


"loh abang mau pergi kemana?" ia heran melihat suaminya sudah sangat rapi, tapi bukan dengan pakaian kantor maupun setelan kemeja seperti mau kemarkas atau bar.


Ibra sedang berdiri didepan cermin, ia baru saja mengenakan kaos hitam polos dengan celana chinos berwarna cream serta tatanan rambut yang dibiarkan berantakan.


Bukan menjawab Ibra malah ganti bertanya.


"kau lupa apa yang aku katakan tadi siang?" mendengar pertanyaan itu Belen teringat dengan perkataan yang suaminya bisikan padanya tadi.


"memang kita mau kemana sih bang? tadi abang bilang mau mengajak pergi malam kan?" melihat sekilas pantulan suaminya dari cermin sementara dirinya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"aku mau mengajakmu pacaran ini malam sabtu kan? banyak muda-mudi pergi jalan-jalan, kalau dipikir-pikir kita belum pernah pergi berbelanja berdua" Kini Ibra mengambil sebuah sepatu Allstar dari rak sepatu miliknya.


"memangnya abang ini masih muda?" seloroh Belen yang malah mendapat cubitan dihidung mancungnya.


Cukup tak sampai satu jam Belen sudah siap dengan dandanan yang terlihat seperti anak muda. Ia mengenakan tshirt dress berwana hitam juga outer crop yang memiliki warna sama seperti celana yang dikanan Ibra, bahkan dia juga memakai sepatu Allstar yang sama pula seperti yang suaminya kenakan.


Sekarang mereka sudah sangat mirip pasangan muda-mudi yang akan pergi hangout.


...


"mau pacaran" singkatnya.


"udah ada buntutnya emang masih pantes pacaran?" Adam tak terima karena dulu dia yang sering keluar dengan peremupuan malah gantian abangnya yang seperti es itu yang asik berkencan terus-terusan.


"jangan iri ya? kalau chatmu sudah dibalas ajaklah dia jalan-jalan" kini malah gantian Belen yang menggodanya.


"dasar suami istri sama aja!" keluh Adam ketika pasangan suami istri itu melanjutkan langkah mereka.


"jangan lupa nanti malam, ada urusan dibar!" serunya sebelum pasangan itu menghilang dibalik pintu.


...


Tidak salah lagi malam sabtu ini sangatlah ramai, bahkan gedung parkir disebuah pusat perbelanjaan yang katanya mampu menampung 2000 mobil itu hampir penuh sesak. Jadi bisa dibayangkan seramai apa mall yang menyandang status mall terbesar dinegara itu.

__ADS_1


Tak hanya muda-mudi namun juga banyak keluarga muda yang memilih untuk mengisi malam weekend mereka disini. Sesekali perhatian pasangan muda ini terarah ke sosok anak kecil yang sedang didorong dengan kereta bayi oleh orang tua mereka. Lucu, batin mereka.


"kau yakin ingin yang itu?" komentar Ibra mengenai sepasang sepatu sneakers yang sedang dicoba oleh istrinya.


Belen hanya mengangguk dengan senyum lebar diwajahnya.


Amat menggemaskan hingga Ibra mencubit gemas pipi berwarna pink itu. Setelahnya meminta pelayan toko untuk membungkusnya. Ya mereka sedang berada disebuah toko sepatu yang cukup terkenal. Sebelumnya Ibra menawarkan untuk membelikan tas mewah dengan harga fantastis seperti yang para wanita dikalangannya kenakan, tapi istrinya ini malah memilih sepasang sepatu yang harganya tak sampai satujuta.


"kalau hanya sepatu itu kenapa tidak membelinya kemarin-kemarin? uang yang ada dikartu yang kau pegang itu bahkan bisa membeli sekaligus dengan tokonya" protes Ibra yang masih tidak percaya dengan yang istrinya minta.


"aku tidak meragukan itu bang, tapi kalu begini jadi lebih berarti buatku karena kita membelinya bersama-sama" mendengar jawaban sederhana itu Ibra tambah mengeratkan tangannya dipinggang ramping wanita yang kini mengisi penuh hatinya.


"hanya belanja bersama itu berarti buatmu? padahal menurutku memilikimu itu yang lebih berarti" entah bagaimana sekarang pria yang amat kaku itu berubah pintar menggombal.


...


"abang katanya ada perlu malam ini?" disela kegiatan memakan semangkuk ramen Belen mengingatkan Ibra soal perkataan Louis tadi siang juga Adam saat mereka berangkat tadi.


"setelah dari sini kita ke bar sebentar ya?"


"memangnya boleh aku ikut kesana?" percakapan kali ini hanya berupa pertanyaan tanpa ada yang memberi jawaban.


"apa kau sudah lupa kalau kau juga bagian dari anggota?" benarkan pertanyaan dijawab dengan pertanyaan.


"apa tidak akan menggangu? pasti ada hal penting kan yang akan kalian bahas?" sekian kalinya Belen juga bertanya.


"sudah habiskan makananmu, percakapan macam ini tidak akan ada habisnya" Ibra menyudahi percakapan aneh mereka dan melanjutkan makannya.


...


Belum terlalu malam jam masih menunjukan pukul 22.23. Sekarang mereka sudah berpindah tempat ke Gala-Bar, di parkiran VIP sudah terlihat mobil yang biasa Adam gunakan saat berbuah identitas menjadi Kenric Archie.


Ibra kali ini tidak memarkir mobilnya di VIP karena dia datang kemari menyamar sebagai pengunjung biasa. Dia sudah memerintahkan Ivan untuk menyiapkan VIP room untuk ruang pertemuan mereka bukan di lantai khusus Galaxy seperti biasa.


Didalam ruang VIP itu sudah ada Max, Ivan, Dominic, Raka, Louis juga Adam. Ivan dan Dominic tak terlalu kaget dengan sosok wanita yang digandeng oleh Alexavier apalagi tiga lelaki yang duduk saling bersebelahan di sisi kanan meja sudah sangat biasa dengan pemandangan ini, tapi Max dia tak bisa menyembunyikan raut kagetnya melihat sang ketua yang dikenalnya sangat dingin terlebih dengan mahkluk bernama wanita masuk menemui anggota Galaxy dengan menggandeng seorang wanita yang menurutnya sangat menarik.

__ADS_1


"jangan kaget begitu Max, dia juga anggota dari Galaxy, Lady kenalkan dia Max pimpinan Galaxy kota Y, dan Max dia Lady satu-satunya anggota wanita Galaxy" jelas Raka yang menyadari raut kaget Max.


__ADS_2