
Amanda mengambil teh nya, menghirup aroma menenangkan itu, meneguknya sekali dan meletakannya kembali lalu mengarahkan wajahnya pada lelaki disampingnya.
"Adam kamu tahu? hal-hal baik datang padaku saat aku kenal kamu. Aku punya seorang yang bisa aku jadikan sahabat seperti Belen, baru saja aku mengenal Oma yang amat penyayang dan perhatian bahkan aku belum pernah merasakan demikian karena aku tidak punya nenek, aku bisa dekat dengan Divya anak manis yang sangat lucu itu membuat hatiku selalu merasa senang, karena jika aku melihatnya seolah aku merasa begitulah kehidupan seorang anak kecil harusnya, dan aku punya kamu, sosok yang selalu ada didekatku, yang selalu memberiku banyak rasa cinta dan kasih sayang, kamu yang engga pernah capek dan selalu percaya sama aku" tangannya kini menggenggam tangan kekar milik Adam.
"aku enggak akan biarkan semua itu hilang Adam, aku akan selalu berusaha membuat semua kehangatan ini ada didekatku, termasuk kamu. Tapi" kalimatnya terhenti nafasnya seolah berat, dan saat itu tangan hangat Adam memberi kekuatan.
"aku juga ingin memantaskan diri untuk kalian, biarkan aku menyelesaikan persoalanku dengan kakak kakakku" kalimat lanjutan yang membuat Adam merasa lemas, namun ia juga harus mengerti dengan posisi Amanda.
Tangan yang lebih kecil yang sedang dalam genggamannya itu diusapnya lembut, sedikit senyum ia ukir diwajahnya yang rupawan agar wanita dihadapannya ini merasa sedikit lega. Karena memang begitu bukan dalam suatu hubungan kalian harus saling mendukung dan mengerti keinginan pasangan kalian, mencoba berada dalam posisinya agar sama-sama merasakan apa yang sedang pasangan kita lalui. Dan saat itu genggaman tangan kita akan membuat mereka kuat.
"aku akan kasih kamu waktu dan kesempatan itu, tapi tolong sekali ini tetap disini, tunggu aku, aku akan bawa Caasandra dan Alfario datang dan kalian bisa bicarakan urusan keluarga kalian, oke? please" bujuk Adam dengan tatapan sendu yang baru ini Amanda lihat, sorot mata yang tulus dan penuh kekhawatiran.
Amanda hanya mengangguk, dan satu anggukan itu membuat dada Adam seakan lepas dari sebuah jeratan hingga ada perasaan lega yang ia rasakan kini. Dua insan yang sedang saling hanyut dalam pelukan itu sama-sama merasakan hal yang sama, perasaan yang sama, dan keinginan yang sama yaitu selalu bersama.
...
Sebuah meja marmer hitam menjadi saksi keseriusan para tangan kanan Galaxy menyusun rencana. Atas perintah ketua mereka Alexavier Archie, Ivan memimpin kegiatan ini dimana dihadiri oleh Martin, Max, Grey dan Louis sementara Diminic mengikuti melalui sambungan telepon karena ia harus menjaga Belen dari dekat dan itu adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan kali ini, sementara Raka harus pontang panting menghandle jadwal Adam yang ditinggal pergi oleh adik dari Ibrahim Ankawijaya ini.
__ADS_1
Kelima orang kepercayaan Galaxy itu sedang berunding membuat segala situasi yang bisa terjadi saat rencana mereka dilakukan. Yang terpenting adalah keamanan wilayah, markas juga rumah dari ketua mereka.
"bagaimana dengan The Dev? apa mereka masih terus ikut menjaga Lady dari kejauhan?" tanya Max pada Louis.
"ya, walaupun ketua sudah melarang tapi Dev Armano tetap merasa ikut bertanggung jawab, karena datangnya Lady kekota ini adalah karena usulannya" balas Louis menyampaikan apa yang ketua mereka biacarakan dengan The Dev.
"apa kita bisa percaya dengan mereka? mereka kan terkenal licik" ganti Ivan yang bersuara.
"mungkin soal Lady benar, tapi entah juka kita memberi kepercayaan apa mereka akan ikut menusuk musuh atau balik menusuk kita, itu yang belum tahu pasti" Louis memang sudah melakukan penyelidikan soal itu, dan dimasa lalu memang Dev Armano dan Lady adalah sahabat dekat.
Disaat seperti ini memang sulit menentukan mana kawan dan mana lawan. Apalagi dunia gelap seperti ini tak ada yang tahu mana dari yang ada dihadapan kita yang membawa pisau dibalik tubuhnya. Dan dari mereka siapa yang akan lebih dulu menodongkan mata pisau kearah kita. terkadang percaya pada diri sendiripun ragu bagaimana percaya kepada orang lain.
Sedang mereka juga tak banyak tahu mengenai asal usul dan siapa itu Mr. Who sebenarnya. Seolah namanya itu melambangkan dirinya "siapa" nah jadi siapa. Dua kumpulan penyerang ini jelas sudah adalah kumpulan dibawah bayangan gelap Mr. Who dan siapa lagi dan berapa banyak mereka pun tak tahu. Akan menguntungkan bila memang The Dev dapat menjadi sekutu mereka, karena meski anggota Galaxy banyak tapi tetap saja akan sulit menghadapi musuh sendirian.
...
Sore berlalu, Ibra meminta Dominic menuju markas dan bergabung dengan yang lain, dan kali ini Belen pun berada dikantor suaminya setelah diantar Dominic beberapa waktu lalu. Belen tengah duduk disofa tamu menunggu suaminya mengerjakan tumoukan map biru,merah dan hijau disamping laptopnya. Raka pun berkali-kali keluar masuk ruangan Ibra dengan penampilannya yang terlihat kacau.
__ADS_1
"jadi kemana Adam dan Amanda sekarang bang? apa abang tidak khawatir pada mereka berdua?" tanya Belen memecah bosannya.
Ibra menaikan pandangannya, mengarah pada wajah yang selalu menyambutnya saat pagi tiba.
"aku tahu Adam tidak akan gegabah, dia bisa menjaga dirinya dan Amanda. Pasti mereka sekarang ada ditempat aman yang musuh tidak ketahui" jawab Ibra menenangkan istrinya.
"aku harap mereka bisa menjaga diri dari bahaya" gumam Belen sambil menyendok salad buah yang ia buat di toko kue siang tadi.
"jangan buat dirimu banyak berfikir yang tidak-tidak, ada banyak orang Galaxy yang mengikuti Adam dan siap menolongnya jika ada hal bahaya yang mengancamnya" imbuh Ibra yang melihat raut khawatir diwajah istrinya.
...
"maaf, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dari bahaya yang muncul dari dalam diriku. Dengan ini, dengan apa yang kamu berikan, akan kunuat ini satu alasan aku tidak akan melepas dan meninggalkanmu apapun itu" ucap Adam dengan suara seraknya.
"dan dengan ini aku akan terus bergantung dan menjadikannya alasan terbesar untuk tidak pergi darimu" balas Amanda dengan wajah memerahnya yang dibubuhi oleh keringat percintaan mereka.
Dari pembicaraan dalam mereka, dibawah sinar matahari sore yang ke emasan dan menembus korden putih tipis dikamar yang sedang mereka tempati, dua insan ini memilih menyerahkan diri mereka masing-masing pada sebuah hal yang harusnya belum mereka lakukan. Entah siapa yang memulai dan siapa yang mengiyakan, nyatanya dua insan ini menjadikan hal tersebut sebagai landasan mereka untuk saling memiliki.
__ADS_1