
Langakah kakinya dibawa cepat menuruni tangga, bahkan ia terus meneriakan nama Amanda. Keringat dingin tidak terasa mengucur dari keningnya. Kepalanya menengok kanan dan kiri matanya menajam seperti elang yang sedang mengincar mangsa. Kakinya terhenti di dapur matanya memicing saat melihat semangkuk sayur sop dan nasi juga ayam goreng.
ceklek
Suara pintu yang terdengar langsung memancing indra pendengarannya dan membuatnya cepat menuju asal suara. Jantungnya serasa kembali berdetak dengan lega melihat sosok dihadapnnya.
"Amanda, dari mana kamu?!" Adam menghampiri Amanda dengan raut bingung.
"loh kapan kamu datang Ken?" tanya Amanda balik melihat sosok Adam atau Kenrich dihadapannya.
Tak mendengar jawaban Amanda memgingat pertanyaan dari lelaki dihadapannya.
"aku baru saja mengantar sayur sop dan ayam goreng untuk yang lainnya disana" tangannya menunjuk gedung yang berada tak jauh dari rumah Archie bersaudara itu.
"kamu benar-benar hampir membuat jantungku lepas dan kepalaku meledak" Adam tersengar serius mengatakan itu, bahkan ekspresinya pun tidak sedamg bercanda.
"maaf maaf, ayo makan! aku masak sop dan ayam goreng, walaupun engga se enak buatan kak Belen tapi cukup lumayan kok" dua tangan Amanda membalikan tubuh Adam dan mendorongnya menuju meja makan dimana sudah tertata sayur juga lauk dan nasi hangat.
Singkat cerita Amanda meminta tolong pada Raka untuk membelikan bahan belanjaan, dia ingin masak katanya. Raka pun meminta seorang anggota yang bekerja di supermarket untuk mengirim bahan-bahan yang dimaksud, jadilah Amanda memasak pagi-pagi begini. Adam yang sudah mendemgar penjelasan dari gadia dihadapannya itu akhirnya mengalah dan mulai menyantap masakan dihadapnnya.
Jam menunjukan pukul 07.13 Amanda sudah keluar dari kamarnya demgan pakaian kantor yang sudah disiapkan Adam. Ya setelah berbagai upaya Amanda meminta untuk tetap bekerja. Ia berjanji tidak akan meninggalkan ruangannya tapa sepengetahuan Adam dan juga menerima pengawalan untuknya. Setelah dua pasangan muda itu siap mereka memasuki mobil milik Adam dan mulai melaju ke kantor. Didepan mobil mereka ada mobil Raka sementara dibelakang ada mobil Louis.
Tak sampai satu jam iring-iringan 3 mobil itu memasuki area gedung AnkaGroup. Amanda yang keluar dari mobil yang sama dengan sosok Adam Ankawijaya pun mengundang perhatian para karyawan yang berada di parkir basement. Meski Amanda sangat cocok disandingkan dengan dengan sosok seperti Adam.
Empat orang ini melanglah menuju lift khusus ke lantai tempat ruangan mereka. Selama dijalan Amanda terlihat menundukan kepala, ia tahu jelas beberapa karyawan jelas membicarakannya. Adam hanya melirik sekilas ke arah belakang dimana tempat Amanda berada. Tidak mungkin Adam menegur para karyawan itu secara langsung itu bisa menurunkan citranya sebagai wakil direktur diperusahaannya. Berbeda dengan Raka yang sudah memberi lirikan tajam kepada beberapa karyawan yang sedang berbisik itu.
__ADS_1
Sebelum masuk ruangannya Adam menyempatkan bertanya pada Jody yang sedang mengerjakan beberapa berkas dihadapannya.
"Jody apa pak Ibra ada diruangannya?" Jody langsung berdiri dan membenarkan pakaiannya.
"tadi beliau sudah tiba, sekitar sepuluh menit lalu beliau keluar lagi, tapi tidak memberi pesan kepada saya pak" mendengar jawaban Jody Adam hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya.
Adam pun tidak mendapat pesan dari abangnya, jika masalah pekerjaan Raka harusnya pun ikut serta bukan. Entahlah dia akan mencoba menghubunginya setelah ini.
...
"apa?" suara dingin disebrang sana sangat biasa Adam dengar.
"abang dimana? Kata Jody tadi sudah datang, ada hal penting yang harus kita bahas" jawab Adam yang sudah duduk dibalik kursi kebesarannya.
"aku akan kembali setengah jam lagi, kau bisa lakukan pembahasan itu dengan Raka"
Adam berdecak merasa sebal dengan abangnya yang selalu melakukan hal sesuka dirinya.
...
Popular Caffe cukup rame dipagi hari, banyak para pengusaha melakukan pertemuan dengan client atau meeting disini, juga beberapa mahasiswa yang mampir sebelum mereka menuju kampusnya atau mengerjakan tugas kampusnya di caffe dengan teman-temannya. Diruangan yang tak cukup besar itu Belen diminta duduk dikursi dibelakang meja kerja Ibra, sedang Ibra berdiri dibelakangnya. matanya tajam menatap seseorang yang duduk diseberangnya.
Ibra tidak tahu apa yang akan ia ktakan antara terimakasih atau memakinya setelah mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
*flashbackOn
__ADS_1
"aku mohon Belen dirumahlah untuk beberapa saat ini, kondisi masih berbahaya untukmu" Ibra cukup frustasi mengatasi istrinya yang ngotot minta ketoko kue.
"abang yang akan mengantarku, dan ditoko juga diberi banyak penjagaan kan? abang juga sudah ganti kacanya jadi anti peluru. Abang sudah minta Romi untuk membawa senjata dan menjaga ditoko, aku bisa strea dirumah bang pikiranku malah akan kemana-mana nanti" Belen ngotot tetap mau ketoko melepas pikiran buruknya.
"baiklah! tapi jika ada hal buruk kamu harus berjanji memuruti permintaanku" akhirnya dia mengalah dan menuruti permintaan istrinya.
Pertama mereka mengantarkan Divya pergi sekolah setelahnya menuju toko kue mengantar Belen dan memastikan penjagaan disana, disekolah Divya pun banyak penjagaan disana. Ibra menuju kantor untuk menyelesaikan beberapa hal kemudian kembali ke toko kue untuk mengantar Belen ke Popular Caffe, kebetulan dia juga ada pekerjaan disana.
Hampir sampai di Popular caffe ada sebuah mobil yang dirasa Ibra membuntuti mereka sedari toko kue. Dia sengaja membelokan mobilnya ke gang samping caffe miliknya dan benar mobil tadi mengikutinya padahal itu adalah gang buntu.
"abang apa yang abang lakukan? kenapa ke-"
"diam disini dan jangan keluar, kunci pintu setelah aku keluar dari mobil mengerti?" serobot Ibra yang sudah membuka seatbeltnya.
"tapi-"
"tidak ada bantahan, lakukan apa yang aku beri tahu, aku tidak akan lama" Belen hanya mampu mengangguk, sesegera Ibra keluar Belen pun mengunci pintu mobil dari dalam.
Dia hanya bisa memantau pergerakan suaminya dari dalam mobil. Ibra terlihat menghampiri mobil yang berhenti dibelakamgmya dan terkepung oleh mobil anggota Galaxy yang mengawal mereka.
"keluar!" seru Ibra dari sisi kanan mobil berwarna hitam itu, bahkan kaca mobilnya pun gelap mungkin menggunakan kaca film dengan nomor 80 sehingga tidak terlihat penumpangnya.
Dua anggota Galaxy menghampirinya dan tepat saat itu penumpang dalam mobil itu menurunkan kaca jendela dan melepaskan tembakan. Sayangnya tembakan itu berhasil memgenai lengan seorang anggota Galaxy. Ibra yang sempat menunduk mengeluarkan pistol dari balik jasnya, namun sebelum ia melepas tembakan terdengar suara tembakan dari arah lain yang mengenai orang dalam mobil.
Dengan hal itu anggota Galaxy lain dapat memanfaatkan hal tersebut dan menyerbu penumpang dimobil juga meringkus empat orang didalamnya. Sekilas Ibra mengingat bahwa dia tidak membawa tim sniper ikut, dengan cepat ia berlari menuju sebuah gedung disisi kirimya dan mendapati seorang disana. setelah aksi pengejaran itu Ibra berhasil menangkapnya.
__ADS_1
"berhenti ber****ek!" seru Ibra dan mencekal baju yang lelaki itu kenakan.
*flashbackOff