
Kesabaran Ibra seperti diuji ketika sampai dirumah ia melihat Belen sudah tertidur pulas, sudah seperti percuma saja upayanya mencari es kacang merah tengah malam dan mengejar penjual yang sudah mendorong pulang grobaknya.
Ia memilih menyimoannya di mesin pendingan agar Belen bisa menikmati ya esok pagi. Kini ia melanglah menuju bathroom untuk membilas tubuh yang terasa lengket itu. Hanya membilas tak lama, ia juga teramat lelah hari ini Ibra ingin cepat-cepat tidur.
"ehm abang udah pulang?" samar-samar suara Belen tersengar saat Ibra keluar dari walkinclosed.
"iyaa, es kacang merahmu aku taruh di kulkas" akhirnya Ibra bisa merebahkan badannya diatas kasur empuknya. Satu tangan ia bawa untuk meraih tubuh istrinya, satu gerakan tangan Belen menghalau gerak Ibra.
"abang tidur saja dulu, aku mau makan es kacang merahku" Ibra hanya memandang punggung Belen yang menuju kotak pendingin kecil yang ada diujung kamar mereka.
...
Pagi ini keadaan dapur ricuh Oma dan beberapa koki yang sedang didapur dikagetkan dengan Belen yang mengalami muntah. Oma sudah berteriak memanggil Ibra namun cucu ya itu tak kunjung muncul.
tap tap tap
"ada apa oma?!" seru Adam seraya menuruni anak tangga dengan setengah berlari.
"panggil abangmu cepat!" mendengar seruan Oma Adam langsung berbalik dan menuju kamar abangnya.
Beberapa kali tekutan bahkan gedoran akhirnya membuat Ibra yang masih membalut tubuhnya dengan handuk itu keluar.
"kenapa sih?!" kesal Ibra pada Adam yang memgganggu mandinya.
"kak Belen, cepat turun bang!" Ibra langsung memakai celanan dan baju sekena nya kemudian berlari menyusul Adam kebawah.
Dia melihat Belen sedang duduk dengan kepala disandarkan diatas meja makan, sementara Oma sedang memijit-mijit tengkuknya juga Divya yang sedang memegang tangan Belen dengan raut panik.
"ada apa?" tanya Ibra mendekat.
"Belen muntah-muntah tadi, lihat dia oucat dan keringat dingin begini" terang Oma tak melepas tangannya dari tengkuk Belen.
Ibra mendekat dan menyentuh kening istrinya yang berkringat namun terasa dingin itu.
"ini pasti karena kau makan es kacang merah jam 1 dini hari Belen" dengus Ibra.
Belen hanya diam tak menanggapi, kepalanya pusing seperti berputar hingga memancing rasa mual yang kembali datang.
"hmmmppp, hooeekk" Belen berlari menuju washtafel dan kembali muntah tanpa ada yang dimuntahkan.
__ADS_1
"bawa dia kedokter Ibra, dia terlihat amat pucat" perintah Oma tak tega melihat keadaan Belen seperti itu.
Pasangan suami istri itu menurut, usai mengganti pakaian mereka, kini mereka sudah berada diperjalanan menuju rumah sakit terdekat. Belen masih terlihat lemas, Ibra menepikan mobilnya dan mengarahkan samdaran kursi Belen kebelakang agar istrinya bisa merebahkan dirinya seoanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Rumah sakit belum terlalu ramai pagi ini, Ibra sudah membuat janji pada seorang dokter kenalannya. Jadi dia langsung saja menuju ruang prakter dokter tersebut.
Tak banyak menjelaskan kondisi Belen, dokterpun mulai memeriksanya dan meminta untuk dilakukan tes darah. Belen dan Ibra diminta menunggu beberapa saat hingga hasilnya keluar.
Dokter tersenyum melihat hasil lab yanh dibawakan suster beberapa saat lalu.
"Selamat tuan Ibra" Ibra mengerutkan keningnya hingga alis tebalnya bersinggungan.
Belen hanya memperhatikan dengan raut pucatnya.
"Nyonya Belen sedang mengandung usia kandungannya sudah 6minggu" kalimat itu sontak membuat debaran jantung Ibra berubah sangat kencang bahkan Belen tersentak kaget hingga badannya dicondongkan kedepan meja dokter yang memeriksanya.
"dokter, dokter tidak salah? dua minggu lalu saya baru saja haid" protes Belen.
"kemungkinan itu hanya flek karena kehamilan, itu sering terjadi pada beberapa wanita.
Ibra kini saling pandang dengan Belen, tanpa aba-aba dia langsung memeluk istrinya, bahagia itu yang ia rasa, keinginanya untuk memiliki anak sendiri ki akan segera menjadi kenyataan.
"kamu mau makan apa sayang?" tawar Ibra pada Belen dengan menyodorkan buku menu yang ada ditangannya.
"terserah abang, tapi aku maunya disuapin" nah sekarang manjanya sedang keluar.
Ibra tersenyum kearah istrinya, menoel hidung mancungnya kemudian mengecup punggung tangan yang masih ia genggam.
Ketiatan sarapan yang tertunda pun berlangsung, Ibra yang dikenal anak buahnya sebagi sosok Alexavier Archie yang berdarah dingin dalam menghabisi musuhnya itu sedang telaten menyuapi istrinya. Bukan dengan sendok melainkan langsung dari tangannya.
"Belen setelah ini aku akan memgantarmu pulang, kamu istirahat ya sayang"
"abang mau kemana?" jawab Belen dengan mulut penuh.
"aku jelas akan pergi kekantor sayang, aku tidak bisa meninggalkan Adam sendirian disana, kondisinya belum pulih" jelas Ibra yang tangannya kembali menyuap ke mulut Belen.
"aku mau ikut"
"kamu butuh istirahat sayang, aku berjanji akan pulang cepat ya" akhirnya Belen mengangguk setuju.
__ADS_1
Perjalanan kembali kerumah tidak memakan waktu lama, Ibra mengantarkan Belen kedalam kamarnya juga untuk berganti pakaian. Namun Oma sedang mondar-mandir di ruang tengah seperti menunggu sesuatu.
"kalian sudah pulang, kenapa pulang? Been bagaimana?" Oma berjalan cepat mendekati cucu ya itu.
"Oma tenang saja Belen hanya butuh istirahat yang banyak" terang Ibra dengan tangan yang merengkuh tubuh Belen.
"apa benar begitu Belen?"
"iya Oma kami hanya butuh istirahat" jawab Belen dengan senyum diwajahnya.
"kami? kau juga sakit Ibra?" Oma kini memandang Ibra serius, pasalnya cucu ya itu terlihat baik-baik saja.
"bukan Oma, tapi Belen dan dia" tangannya terjulur mengusap perut Belen yang masih datar.
Oma mengikuti arah pandang Ibra dan melihat pergerakan tangan diperut istrinya, Oma masih menerka apa yang terjadi.
"astaga! Belen kau, kau hamil sayang?" Belen hanya mengangguk dan menerima pelukan hangat Omanya.
...
Ibra berjalan cepat menuju ruangannya zraka sudah berkali-kali menghubunginya. Beberapa karyawan menyapa saat berpapasan dengan bos mereka, bos yang selelau bermuka dingin tanpa senyum sedikitpun.
Dengan cepat dia sudah berada dilantai dimana ruangannya berada. Nah benarkan Raka sudah menunggunya didepan pintu ruangannya.
"yatuhan ini hampir makan siang dan kau baru tiba? enak sekali ya jadi CEO" sindir Raka sambil membukakan ointu untuk Ibra.
"itu tidak penting Raka, sekarang kau perintahkan anak buah terbaik untuk menjaga rumah, dan mengikuti Belen baik secara dekat maupun jauh tapi jangan sampai dia mengetahui bahwa ada pengawalan" ujar Ibra begitu berada didalam ruangan.
Raka mengerutkan keningnya dan melangkah mendekati Ibra yang sudah duduk dibalik mejanya.
"memang ada apa? apa ada serangan lagi?"
"Belen hamil" jawaban singkat Ibra itu membuat Raka kaget juga langsung mengembangkan senyum bahagia.
"akhirnya akan lahir penerus AnkaGroup! selamat sobat sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah yang sesungguhnya! aku berjanji akan ikut menjaga Belen"
...
Ditoilet lantai bawah Amanda sedang merasa tertekan oleh kehadiran kakaknya secara mendadak.
__ADS_1
"pekan ini! tidak ada toleransi lagi kau tau Amanda! dan satu lagi! buang jauh-jauh perasaan tak bergunamu itu!"