
Ditoilet lantai bawah Amanda sedang merasa tertekan oleh kehadiran kakaknya secara mendadak.
"pekan ini! tidak ada toleransi lagi kau tau Amanda! dan satu lagi! buang jauh-jauh perasaan tak bergunamu itu!"
"kak! ini semua salah! sudah cukup waktu bagiku memahami keadaan yang kakak dan "dia" katakan, dan menurutku semua ini salah! mereka tidak akan melakukan hal keji bila tidak ada yang memancing emosi mereka!" Amanda sudah membulatkan tekat untuk menyampaikan hal tersebut pada kakaknya, ia lelah harus terus bertarung dengan dirinya sendiri, menentang apa yang ada dihatinya.
"kau itu tidak tau apa-apa Amanda! sepertinya mereka berhasil mencuci otakmu hah!" Cassandra teramat kesal dan dia memilih meninggalkan adiknya begitu saja.
...
Ruang pertemuan menjadi tujuan Ibra, Adam, Raka juga Amanda, mereka akan bertemu dengan seorang client yang cukup sering berbisnis dengan mereka. Didalam ruangan itu terlihat seorang paruh baya yang masih terlihat gagah dengan setelan jas warna hitam dengan kemeja merah hati, juga dua orang lagi sebaya dengan Ibra.
"selamat siang tuan Arwandi, senang kita bisa bertemu kembali" sapa Ibra mengulurkan tangannya.
"aku selalu menantikan pertemuan-pertemuan kita tuan Ibrahim" lelaki paruh baya itu menjabat tangan Ibra kemudian membawanya untuk dipeluk.
"Selamat siang tuan Arwandi" kini berganti Adam yang berjabat tangan.
"yaTuhan tuan Adam, saya sangat kaget mendengar berita kecelakaan yang menimpa anda, dan maafkan pak tua ini yang belum bisa menjenguk anda hingga saat ini" Adam pun menerima pelukan dari clientnnya.
"bukan masalah tuan, nyatanya kita kembali bertemu sekarang" jawab Adam setelah pelukannya dilepas.
"ah maafkan saya, kalian pasti asing, mereka berdua memang bukan asisten yang bisa menemaniku. Mereka berdua cucuku, Zidan dan Panji" Arwandi memperkenalkan kedua pemuda disampingnya setelah melihat tatapan bertanya dari Ibra.
__ADS_1
Memang baru ini Ibra mengetahui bahwa Arwandi memiliki seorang cucu yang seusia dengannya, sebelumnya ia tak pernah melihat maupun mendengar temtang mereka. Mereka akhirnya saling bersalaman dan memperkenalkan diri meski kedua cucu Arwandi sudah tahu dan mengenal siapa Ibrahin juga Adam Ankawijaya.
"mereka baru seminggu lalu pulang kemari, sebelumnya mereka tinggal di negri kanguru, alasannya tentu saja bahwa aku sudah sangat tua saya ingin mereka yang akan meneruskan bisnisku seperti kalian. Saya sangat kagum pada kalian, Saya juga berharap mereka berdua bisa melajar banyak memimpin perusahaan seperti kalian" usai acara pengenalan mereka pun memulai pertemuan mereka mengenai proyek yang akan mereka lakukan bersama.
Pertemuan selesai cukup lama karena ini pertemuan pertama dalam pembahasan proyek banyak materi yang disampaikan.
"terimkasih atas waktunya, saya harap tidak ada hal buruk lagi yang menimpa anda tuan Adam" tutup Arwani sebelum meninggalkan ruang pertemuan itu dengan kedua cucunya.
Jam istirahat cukup membuat lalu lalang dikantor, sebagian dari karyawan memilih menuju kantin kantor, ada juga yang mencari makan siang diluar, ada lagi yang memesan makanan online dan menikmatinya dikantin. Ruang pertemuan yang baru saja mereka pakai ada dilantai 1 membuat mereka bisa melihat lalu lalang karyawan dan beberapa ojek online yang datamg mengantar makanan.
"kita makan dimana bang? kak Belen tidak mungkin mengantarkan makan siang bukan? Atau Oma yang antar?" Adam berjalan sejajar dengan Ibra menuju lift di ikuti Raka dan Amanda dibelakang mereka.
"saya bisa memsankan makan siang pak" suara Raka dibelakang mereka terdengar, Raka memang sering menggunakan bahasa formal bila berada dilingkungan karyawan, karena hal itu bisa merendahlan posisi dari Ibra maupun Adam.
"maaf pak Ibrahim, itu seperti mobil nyonya Belen" kali ini Amanda yang berucap, dan hal tersebut membuat mereka kompak melihat kearah hall pintu masuk.
Mata tajam Ibra menatapnya tidak suka, meski hatinya berharap bisa makan siang dengan istrinya. Tanpa menunggu lama langkah lebarnya menghampiri istrinya yang baru saja turun dari mobil. Belen tersenyum melihat suaminya berjalan mendekat kearahnya, namun tidak dengan raut Ibra yang terlihat marah.
"apa yang kau lakuakan" tangan Ibra merebut paksa dua rantang yang tengah dibawa oleh wanita yang dibalut dress putih selutut dengan lengan sampai ke siku itu.
Raka yang melihat itu dengan cepat menyusul dan mengambil alih dua rantang yang ia pastikan berisi masakan yang enak.
"a-aku membawa makan siang untuk abang, setiap hari juga begitu kan?" jawab Belen dengan raut penuh pertanyaan.
__ADS_1
"aku menyuruhmu beristirahat dirumah bukan keluyuran begini, atau kau baru saja dari toko kue dan membuat kue disana?!" nada suara Ibra yang naik itu mengundang perhatian beberapa karyawan yang lewat, baru ini mereka melihat bos mereka bertengkar dengan istrinya.
Dibelakang sana Adam dan Amanda hamya menyimak apa yang kakaknya lakukan, kenapa ia semarah itu, padahal bila dilihat tidak ada yang salah oleh apa yang Belen lakukan.
"aku hanya mengantar makan siang saja bang" wanita itu berkata pelan dengan bibir yang agak bergetar.
"kesehatanmu lebih penting dari makan siangku, aku bisa membeli untuk makan siangku Belen" ujar Ibra yang tanpa sadari membuat air mata Belen luruh.
Ibra menarik nafas dalam saat melihat istrinya menitihkan air mata, dengan cepat ia membawa tubuh istrinya itu kedalam pelukannya.
"hei sayang, aku tidak bermaksud begitu, dengar sayang aku hanya khawatir padamu" disela kalimatnya Ibra mencium lembut pucuk kepala Belen yang memberinya harum vanilla yang ia sukai.
"aku senang kamu datang, tapi aku akan sedih kalau kamu dan dia dalam keadaan yang tidak baik" sekali lagi tangan Ibra mengusap perut Belen yang masih datar itu.
Amanda mengerutkan keningnya melihat gestur dari pasangan suami istri didepannya itu, kenapa tangan Ibra memgusap-usap perut Belen. Ia ingin bertanya pada Adam tapi tidak mungkin sekarang banyak karyawan berlalu lalang disekitar mereka.
Raka berjalan mendekati Adam dan Amanda dia menawarkan untuk pergi kelantai atas terlebih dahulu. Menyusul dibelakang mereka sepasang suami istri yang baru saja menyita perhatian karyawan kantor itu, ditambah pemandangan yang Ibra suguhkan sekarang. Tangan kiri Ibra memegang tangan kiri Belen sementara tangan kanannya melingkar ditubuh ramping istrinya.
"abang aku sudah seperti orang yang tidak bisa jalan saja" protes Belen kepada suaminya.
"jika boleh aku mau menggendongmu saja, aku tidak mau kamu kelelahan sayang" balas Ibra dengan tatapan teduh yang mampu menghipnotis setiap mata yang menatapnya.
Sementara didalam lift Amanda baru saja dibuat syok dengan jawaban Adam bahwa Belen kini sedang hamil. Kini pikirannya tambah berkecamuk tak karuan, ia harus bisa menggagalkan rencana buauk kakaknya itu. Tanpa sadar tangan Amanda meremas berkas yang ia dekap.
__ADS_1
"hei Amanda ayo kau masih mau didalam lift?" ujar Raka yang menyadari bahwa Amanda sedang melamun sampai tak menyadari bahwa lift yang mereka tumpangi sudah berhenti.
Manda buru-buru keluar dari lift itu dan menuju ruangannya, ia harus buru-buru mencari jalan keluar paling tidak ia harus membuat Belen selamat ia tak mungkin membiarkan Belen yang sedang hamil ikut terperangkap dalam rencana busuk kakak juga "dia".