
Belen berada disuasana yang cukup tegang, raut seorang dihadapannya cukup datar, sementara aura milik suaminya terasa mencekam. Belen berkali-kali menarik nafas dan melirik pada suaminya. Ia memang belum berpengalaman dan mengerti mengenai dunia hitam yang juga suaminya jalani jadi kali ini pun ia bingung harus berbuat apa.
Sebuah deheman kecil berasal dari Belen, membuat dua lelaki yang sedang sama diamnya itu kompak menoleh kearahnya.
"aku ngga tahu sebenarnya harus mengambil sikap seperti apa, tapi untuk bantuan dan tujuan kamu thank ya" Belen menampilkan sedikit senyum untuk teman lamanya itu.
"Belen apa yang ka-"
"abang, aku sudah bilang aku engga tau apa-apa soal dunia yang kalian geluti atau masalah yang kalian alami satu sama lain tapi disini Nano mencoba menolong kita" potong Belen dengan satu tangan meraih tangan kekar yang ada dibahunya.
"aku bisa menjaga semua rahasia ini, aku hanya mencoba membantu teman lamaku, dan aku tidak sangka yang selama ini aku anggap hanya kerja sama biasa adalah sebuah kesatuan seperti dua sisi koin. Ibrahim Ankawijaya atau bisa aku sapa Alexavier Archie aku tidak mengira aku akan mengetahui rahasia sebesar ini tapi aku juga merasa beruntung karena aku juga mengagumi sosok Alexavier Archie. Kita tidak pernah berselisih sebelumnya bukan? lantas kenapa kita tidak beraliansi saja? aku sungguh bukan musuh kalian" tangan Dev Armano mengarah kedepan dengan senyum diwajahnya.
Belen yang tercengang memandang raut wajah suaminya yamg terlihat menegang, rahanya mengeras dan urat tangannya jelas terlihat.
"didunia ini tidak ada yang bisa kau percaya bahkan itu dirimu sendiri Dev. Kita memang tidak pernah bersinggungan tapi bukan berarti kita bisa berjalan beriringan. Soal perkara ini aku memang berterimakasih kepada orangmu tapi lain kali kau tidak perlu ikut campur"
...
Tepat jam makan siang Ibrahim juga Adam telah menyelesaikan pekerjaan mereka, bertemu client dan mengerjakan pekerjaan lainnya. Adam sudah mengetahui apa yang abangnya alami tadi pagi juga soal The Dev yang ternyata ikut memantau dan membantu tadi. Adam sendiri pun tidak memiliki dendam prinadi pada The Dev namun semua rumor menyebar mengenai The Dev cara mereka kotor dan ia pun tidak suka.
Ibra mengendarai mobilnya pulang ia berjanji pada Divya untuk makan siang dirumah bersama kebetulan jadwalnya longgar siang ini. Sedikit macet dibeberapa lampu merah mobil sedan hitam itu memasuki pelataran rumah bernuansa modern dengan pagar tinggi menjulang.
"dady!" suara nyaring bocah kecil itu tersengar jelas menembuskedalam mobil.
__ADS_1
Dibalik kaca hitam itu Ibra pun mengembangkan senyum dan merasa gemas melihat gadis kecil dengan dress pink dan berkuncir dua itu berdiri didepan pintu menunggu kedatangannya.
"hai sayang! apa yang kamu lakukan diluar hm?" satu kecupan mendarat di kening gadis kecil itu dan satu lagi di kening istrinya yang berdiri tepat dibelakang anaknya.
"aku menunggu dady pulang! sudah lama kita tidak makan siang bersama dady, kenapa sekrang Yaya dan Oma tidak boleh mengantar makan siang sih" keluhnya dengan bibir mengkerucut menambah kesan menggemaskan itu.
"dikantor sedang sibuk sayang, lebih enak begini kan jika dady ada waktu dady akan pulang dan makan siang dirumah" gadis itu sangat memyukai saat digendong oleh dadynya.
"sudah ayo makan, Oma sudah menunggu. Aku juga sudah meminta tolong pada pak Din untuk mengantar makan siang kekantor" ada sedikit rasa bahagia berkumpul seperti ini sepertinya kedamaian sudah lama tidak mampir pada keluarga mereka.
...
Diruangan Adam sedang berkumpul Raka, Louis juga Amanda. Amanda sedang menyiapkan alat makan juga menata hidangan yang dikirimkan Belen untuk mereka. Adam masih berada dibalik meja kerjanya sudah berkali-kali Amanda memintanya beristirahat namun lelaki itu mengacuhkannya.
"lihatlah dia bekerja seolah besok akan kiamat saja" ledek Raka yang menyeruput banana oat miliknya.
"yang bener itu kerja keras kaya udah ada yang dinafkahin aja" celetuk Louis yang sudah menyantap gule ayam yang memiliki aroma menggoda itu.
"lah bener" Raka mengangkat tangan dan disambut Louis alhasil mereka bertos ria dengan tertawa lebar.
"bentar lagi, nunggu waktu yang tepat gue yakin dia juga engga buru-buru, iya kan Amanda?" Amanda yang baru menyerutup smoothis strawberry nya terbatuk memdengar apa yang Adam ucapkan.
"ini gimana sih Ka? kita lagi ada diacara lamaran orang?" bingung Louis tak percaya dengan kefrontalan yang Adam ucapkan.
__ADS_1
Raka hanya memberi isyarat dengan menempelkan satu jarinya di mulutnya dan menikmati makan siangnya. Sementara Adam menepuk ringan punggung Amanda dan mengulurkan segelas air putih.
"aku tidak memaksa tenanglah. Lanjutkan makanmu setelah ini kita ada rapat" Adam meninggalkan senyum tipis diwajahmya sebelum kembali memakan makanan dihadapnnya.
Amanda malah tersipu kali ini, ia tidak menyangka bahwa ia akan berada dititik ini. disayangi dan dijaga oleh seseorang dengan perasaan tulus. Tapi itu belum menjadi akhir bahagia untuknya karena perseteruan antara dia dan dua kakaknya.
Sore berlangsung cepat raut dari Raka juga Amanda terlihat lelah benar-benar hari ini jadwal mereka dan bos mereka sangat padat. Melakukan kunjungan kelokasi proyek dan bertemu cliemt diluar juga berbagai agenda lainnya.
15.23. Ibra keluar dari ruangannya terlihat Raka berjalan beriringan dengan Amanda menuju arahnya. Mereka sudah bersiap pulang bahkan Jody dan Nana sudah pulang dari 5 menit lalu.
"kalian mau kemana?" tanya Ibra dengan satu tangan berada disaku celananya dan satu tangan lagi menenteng jas.
"mau keruangan Adam gue harus pastiin pesenannya sampai tanpa gores" celetuk Raka yang berubah santai kika buka urusan kerja juga Galaxy.
"maksudnya Adam dan Amanda" balas Ibra hanya den melirik kearah Raka yang terihat kesal.
"ka-kami-"
"mau kemarkas, tolong bilang Oma aku tidak pulang ya bang" potong Adam yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.
"ajak Amanda pulang" ucap Ibra yang setelahnya meninggalkan tiga orang dilorong itu.
Sebuah senyum terbit diwajah Adam yang sudah berantakan karena kerja seharian. Dengan gerakan cepat tangan kanannya merain tangan kiri Amanda dan membawanya menuju lift dengan Raka yang mengikuti dibelakang dengan raut kesal juga ikut bahagia. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Ibra ini pasti karena laporan yang Louis berikan sore tadi.
__ADS_1
Mobil putih milik Adam mulai melesat membaur dengan kemacetan yang ada dijalan. Terlihat raut sumringah yang terpancar jelas. Sementara Amanda terus menundukan pandangannya iya merasa canggung, jantungnya berdebar dan banyak rasa aneh yang menjalar ditubuhnya. Semtuhan tepat ditangan kanannya membuatnya semakin menegang.
"engga usah grogi Oma baik kok, lihat tanganmu dingin begini padahal cuaca sore ini cukup panas dan membuat gerah meski pendingin dimobil ini belerja dengan baik" gurau Adam untuk mengurangi rasa grogi yang menyelimuti Amanda.