Alexavier Archie

Alexavier Archie
Tamu Sepesial


__ADS_3

Wajah kesal dari seorang perempuan yang berada tak jauh dari mobil yamg ditumpangi Amanda dan Adam terlihat jelas. Wajahnya memerah dengan kerutan dikening. Tangannya beberapa kali ia pukulkan pada stir mobil dihadapannya.


Mobil sedan berwarna grey itu memutar arah saat mengetahui tujuan dari mobil yang di ikutinya beberapa waktu lalu. Dengan rasa kesal dihatinya ia terpaksa menunda rencananya untuk membawa adiknya kembali.


"dasar wanita tidak tahu diri, sudah dibesarkan tapi membelot, lihat saja adik kecil apa yang akan kau dapat nanti!" geram Cassandra dari dalam mobilnya.


Wanita itu benar-benar frustasi, Alfario terus memojokannya dan terus memerintahkannya membawa kembali Amanda. Bahkan Alfario sampai mengancam akan melukai Cassandra bila Amanda tidak bisa dia dapatkan.


...


Divya sangat senang bisa bermain didapur bersama mamynya. Ia membantu mamynya itu menata irisan buah pada cetakan puding yang sudah terisi senagian dengan puding berwarna coklat. Gadis kecil dengan celemek pink berhbar kucing itu terlihat samgat bersemangat jika diajak membuat puding juga kue.


Belen yang tengah mengaduk campuran susu dan powder puding itu tersenyum menatap tingkah lucu Divya yang ditemani oleh Oma itu. Bukan hanya Divya Belen pun ikut senang memasak bersama dengan Divya.


"lihat Oma Yaya bisa membuat puding, nanti kalo Yaya sudah besar pasti puding bikinan Yaya lebih enak dari buatan mamy" celoteh anak berusia 5 tahun itu.


"iyaa sayang, Oma percaya Divya akan jadi lebih pandai membuat puding dan kue dari pada mamy mu. Jadi Divya bisa membesarkan toko kue Matahari" balas Oma yang sedang memotong buah yang akan ditata oleh cicitnya.


"Oma, mamy! nanti jangan lupa bilang dady kalo Yaya yang bikin pudingnya ya! Dady pasti terkejut" lanjutnya yang kini memgambil potongan kiwi yang diserahkan Oma.


"tentu sayang, dady pasti akan sangat suka dan mengabiskan puding buah coklaf buatan Divya" gemas Belen yang satang dengan adonan puding dipanci.


Usai membantu menata buah Belen memasukan lapisan puding berwarna coklat susu itu sebagai lapisan berikutnya. Divya samgat gembira dan tisak sabar melihat ekspresi dadynya.


"nah sekarang kita tunggu dingin dulu ya, Divya mandi sama suster ya, sebentar lagi dady sampai rumah oke sayang?" Divya mengangguk, melepas celemek yang ia kenakan dan berlari kecil menuju kamarnya.


Oma sudah kembali kekamarnya setelah memotong buah dan kini Belen sedang membersihkan sisa alat masak dibantu asisten rumah tangganya juga menyimpan puding dikulkas. Mah kini waltunya ia membersihkan diri sebelum suaminya pulang mengingat 15 menit lalu Ibra mengirim pesan padanya sedang dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


ceklek


Suara pintu terbuka memgalihkan pandangan Belen yang sedang menatappanulan dirinya dicermin dan menghentikan kegiatannya yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Senyumnya terbit melihat sosok lelaki tampang demgan kemeja yang dilipat hingga siku dan dua kancing atasmua terbuka melangkah masuk dan mendekat padanya.


cup


cup


Satu kecupan menderat di kening istrinya dan satu kecupan lagi ia daratkan pada perut istrinya yang mulai terlihat menonjol meski hanya baru sedikit nampak seperti belum BAB beberapa hari (hehe). Tangannya nergerak pelan mengambil alih pengering rambut yang sedang ada ditangan istrinya, dan satu tangan lagi mengambil rambut panjang istrinya yang masih setengah basah itu dan mulai mengeringkannya.


"abang, biar aku saja, abang kan baru pulang abang pasti capek, aku siapkan air hangat ya?" Belen membalik tubuhnya menghadap pada suaminya yang masih memegang pengering rambutnya.


"aku engga capek kok, udah hadap depan lagi, aku akan membantumu memgeringkan rambutmu. Supaya anak didalam perut itu tahu bahwa dadynya ini sangat menyayangi mamy nya" Ibra memutar tubuh Belen untuk dihadapkan pada cermin lagi.


"tapi setelah ini abang mandi ya, nanti kita makan bersama, Divya akan memberi kejutan pada abang nanti" ucap Belen sembari menikmati perlakuan manis suaminya.


"kejutan apa hm?" tanya Ibra tanpa mengurangi fokusnya demgan kegiatan yang ia lakukan kali ini.


...


tok tok tok


"oma boleh aku masuk" suara Adam terdengar dari balik pintu membuat Oma Riri melangkah dan membuka pintu untuk cucunya.


"biasanya kau juga langsung masuk, ada apa hm?" tanya Oma setelah membuka pintu.


"ada tamu special untuk Oma, ayo Oma" tangan Adam langsung merengkuh pundak Omanya, mengajaknya turu dan menemui seseorang yang sesang duduk diruang temgah dengan tangan yang basah oleh keringat dingin.

__ADS_1


Oma menuruni tangga dengan perlahan, matanya menangkap sosok gadis menghadal membelakangi tangga. Gadis dengan rambut berwarna cokelat dan sesikit bergelombang terlihat menundukan kepalanya saat ini. Satu lirikan mata Oma berhasil membuat Adam menggaruk tengkuknya yamg tidak gatal.


"abang yang memintaku mengajaknya pulang kesini Oma" tanpa perlu menunggu Oma bertanya Adam sudah tahu jawabannya.


"Amanda" panggil Adam begitu dia dan Oma telah berada diruang tengah.


Amanda yang kaget langsung berdiri dan dengan cepat menyalami Oma tak lupa mencium punggung tangan wanita yang telah merawat Adam dan Ibrahim itu.


"se-selamat sore Oma" sapanya demgan senyumnya yang kaku.


"tak perlu kaki begitu Amanda, ayo duduk" masih dengan tangan berjabat Oma mengajak Amanda duduk dan berada disampingnya.


Tidak ada hal pentingy hanya basa-basi tanpa menyinggung permasalahan apapun, karena Oma tahu bahwa itu adalah ranah dari cucu tertuanya, Ibrahim. 10 menit mengobrol Ibra dan Belen terlihat menuruni tangga, Belen langsung tersenyum saat tatapannya dan Amanda bertemu, Amanda pun merasa lebih tenang kali ini karena Belen.


"kamu mau apa hm?" tangan Ibra menahan lengan Belen yang tadinya menuruni tangga dengannya dan mencoba mempercepat langkahnya karena senang melihat Amanda.


"a-aku mau menemui Amanda lah bang, mau apa lagi?" Belen melihat cekalan dilengannya dan tatapan dingin suaminya.


"tidak perlu lari dan tergesa-gesa kalian bisa dalam bahaya" mendengar itu Belen malah tersipu dan mengalihkan tangannya pada lengan kekar suaminya untuk menuruni tangga bersama.


Demi apapun Amanda baru ini melihat seorang Ibrahim Ankawijaya menjadi sangat perhatian, dan perhatian semacam itu hanya ia berikan pada orang-orang disekitarmya saja terutama Belen. Semua wanita jelas akan meleleh bila diperlakukan oleh lelaki seperti itu.


"hai Amanda! apa kamu sudah lama disini?" Belen mencium pipi kanan dan kiri Amanda bergantian kemudian ikut duduk disampingnya.


"ah tidak aku baru juga sampai kak" senyum hangat Belen membuat Amanda nyaman dan melupakan rasa groginya tadi.


Tiga wanita itu hanya asik mengobrol tanpa memperdulikan dua lelaki dihadapan mereka. Adam mengetahui bahwa Amanda merasa kurang nyaman dengan tubuhnya yang pasti terasa lengket karena seharian bekerja itu, jadi ia menyenggol siku abangnya yang tengah tenggelam pada ponselnya.

__ADS_1


"abang, apa keputusannya?" bisiknya pelan.


Ibra hanya memicingkan satu matanya dan menatap Amanda bergantian dengan Adam yang penuh penasaran itu


__ADS_2