Alexavier Archie

Alexavier Archie
Devian Armano Noland


__ADS_3

"Belen?" seru seorang yang mengulurkan tangan pada Belen tadi.


Mendengar namanya disebut Belen mendongakan kepalanya mengamati wajah seorang dihadannya itu.


"Nano?!" serunya dengan menjentikan jarinya ketika berhasil mengenali pria yang berdiri dihadapannya.


"ya! kau masih ingat?" wanita dihadapannya hanya menganggukan kepalanya dengan senyum mengembang.


"tunggu, apa yang kau lakukan disini?" lanjutnya.


"ehm aku sedang-"


"ada apa sayang?" mendengar suara yang amat dikenalinya Belen menghentikan ucapannya dan meraih lengan suaminya.


"Nano kenalkan dia suamiku, kami sedang menemani anak kami disini" Nano amat sangat tidak asing dengan sosok dihadapannya ini.


"dan abang kenalkan dia Nano, dulu kami satu kampus tapi beda jurusan" lanjutnya melihat dua pria ini malah saling diam saja, dan tentu saja Ibra pun juga tahu sangat tahu pasti siapa lelaki yang berdiri didepannya itu.


Nano terlebih dulu mengulurkan tangannya, bukan untuk ingin menyapa pria dengan status suami Belen itu tapi ia tak enak kepada kawan lamanya, Belen. Dan uluran tangannya pun bersambut.


"apa kabar Dev Armano" mendengar pernyataan suaminya Belen dengan cepat menoleh ke suaminya.


"sangat baik tuan Ibrahim Ankawijaya" sahut Nano seraya melepas jabat tangan mereka.


ya tuhan! Benar kan aku tidak asing dengan nama Dev Armano, iya! Devian Armano Noland anak dari pemilik yayasan tempatnya berkuliah dulu, jadi dia juga anggota mafia? Pria sebaik dan selembut dirinya ketua dari sebuah kumpulan mafia?


"maaf tapi aku dan istriku harus segera menemui anak kami, dia sudah menunggu" dengan segera Ibra meraih pundak istrinya dan dibawanya berjalan menuju lokasi memetik buah dimana kegiatan selanjutnya sedang berlangsung.


...


"benarkan aku tidak asing dengan nama Dev Armano bang" sambil berjalan menuju tempat memetik buah Belen yang menggandeng lengan suaminya itu kembali membahas pembicaraan mereka semalam.


"sudah, kita bahas nanti" terlihat raut berfikir pada wajah tampan Ibra.

__ADS_1


Hamparan pepohonan apel terhampar dihadapan rombongan Kemala International School. Anak-anak sudah tidak sabar ingin memetik buah apel yang berwarna semu kemerah itu. Mereka sudah siap dengan keranjang kecil ditangan mereka.


"dady! gendong Yaya, Yaya mau petik apel yang diatas itu" seru gadis mungil itu kepada Dadynya.


Dengan senang hati pria yang mengenakan hoodie berwarna hitam itu menghampiri anaknya. Sementara Belen mengekor dibelakang mereka sembari membawakan kranjang untuk tempat apel yang telah di petik Divya. Sesekali Belen juga bergelayut manja dilengan kokoh sang suami, tanpa mereka sadari seorang lelaki yang bersiri tak jaug sedang mengamati kedekat keluarga kecil disana.


Kegiatan memetik buah adalah kegiatan penutup mereka, setelahnya mereka diajak menuju sebuah restoran dua lantai yang ada di area perkebunan itu. Usai acara makan siang para anak dan wali murid kembali menuju kesekolah mereka, sebagian dari mereka juga langsung pulang menggunakan mobil pribadinya.


...


15.49 Ibra, Belen serta Divya memasuki rumah. Belen langsung meminta Divya mandi dan beristirahat dengan susternya, sementara dirinya juga menuju kamarnya untuk membersihkan diri karena badannya terasa sangat lengket.


Ibra memilih menuju ruang kerjanya sembari menunggu Belen usai dengan kegiatan mandinya.


tok tok tok


"abang aku masuk ya" dengan secangkir kopi ditangannya Belen yang sudah terlihat segar masuk ke ruang kerja Ibra yang ada dilantai tiga rumah mereka.


"Bang, memang anggota mafia seperti kalian itu harus punya dua kepribadian gitu ya?" Belen mengutarakan apa yang terlintas dipikirannya.


"tidak, ada yang terang-terangan dengan status juga identitas mereka, tapi bagi ku hal seperti itu akan membahayakan orang-orang disekitarku" tangan Ibra memilih untuk menutup laptopnya dan meraih tangan yang tengah memanjakan pundaknya untuk dibawa kepangkuannya.


"bukan kepribadian yang itu, maksudku seperti abang, awal mengenal aku memang tidak menemukan perbedaan antara Alexavier Archie dengan Ibramin Ankwijaya, tapi setelah mengenalmu aku tahu bahwa Alexavier Archie itu berdarah dingin sementara Ibrahim Ankawijaya itu sosok yang penyayang keluarga" Ibra masih mendengarkan wanita yang ada dipangkuannya.


"begitu juga dengan Nano, ehm maksudku Dev Armano, dulu aku cukup kenal dengannya dia sangat baik juga halus dan sangat sopan, jadi apakah dia juga memiliki sifat dingin seperti mafia pada umumnya?" lanjutnya dengan tangan yang terus mengusap rambut hitam suaminya.


"apa kau pernah punya hubungan dengan Dev?" Ibra memicingkan matanya kearah istrinya.


"tidak, kami hanya dekat sebagai teman, dulu aku mendapat beasiswa dikampus milik keluarganya jadi kami dekat karena beberapa hal mengenai urusan kampus. Ya walaupun-"


"walaupun apa?!" dengan cepat Ibra memotong ucapan istrinya yang sedikit menggantung.


"walaupun dia pernah mengungkapkan bahwa dia tertarik padaku" Belen tersenyum jahil pada suaminya yang wajahnya sudah terlihat seperti harimau lapar.

__ADS_1


"jangan begitu dulu bang, aku tidak menerimanya tenang saja. Kalau boleh jujur aku tidak pernah berpacaran jadi betapa beruntunganya seorang Ibrahim Ankawijaya yang mendapatkan cinta pertamaku" Belen terkekeh sambil mengeratkan pelukan pada Ibra.


"sama saja kau pernah dekat dengannya" masih terlihat sedikit terbakar emosi tapi Ibra juga membalas pelukan istrinya.


"jawab dong bang, jadi Dev Armano itu juga sosok yang berdarah dingin tidak?" Belen masih sangat penasaran dengan dunia yang baru saja ia masuki itu.


"ingin tahu sekali. Baiklah aku akan menjawab beberapa pekerjaan juga masalah yang pernah The Dev terima maupun lakukan" Ibra menjelaskan beberapa hal yang pernah ia dengar mengenai kumpulan bernama The Dev itu.


"abang serius?! dia itu pembunuh bayaran? hufh untung aku tidak pernah membuat garapgara dengannya, terus bisnis The Dev itu pencucian uang? wah pantas saja keluarganya amat kaya raya"


"jadi menurutmu aku tidak lebih kaya darinya?" Mendengar pertanyaan itu Belen tahu bahwa suaminya sedang merajuk, seperti anak kecil saja tidak mau kalah.


"ya mana aku tahu bang, kalo dilihat sekilas sih kalian sama-sama pengusaha muda kaya raya" jawabnya sembari mengetuk-ngetukan jarinya pada dagunya dengan ekspresi berfikir untuk menjahili suaminya.


"dia boleh memiliki banyak hal yang tidak aku miliki, tapi dia tidak memilikimu karena kamu Belen Adhisti hanya milikku seorang" dengan cepat Ibra mendorong tengkuk istrinya dan menikmati rasa manis yang ada dibibir istrinya.


tok tok tok


Mendengar suara pintu diketuk Belen melepas tautan mereka dan beranjak dari pangkuan suaminya.


ceklek


"abang" suara Adam terdengar diruangan kerja Ibra.


"oh ada kakak ipar, untuk aku mengetuk dulu" selorohnya karena memang dia mendengar ada suara Belen didalam ruangan itu.


Ibra hanya memberi isyarat kepada adiknya.


"seperti yang kita tahu bahwa Anthony memang suka berbuat kotor dalam pembelian bidang tanah, dan benar mereka yang datang ke proyek belum mendapat kurangan pembayaran yang pelunasannya dijanjikan 2minggu lalu, ya bagaimana Anthony bisa membayar kurangnya bila dia sudah mati" jelas Adam yang sudah duduk di sofa.


"jual saja salah satu aset Gerhana untuk menutup hutangnya. Kita tidak akan rugi dengan kehilangan satu aset Gerhana, kau bisa minta Raka untuk mengurus penjualan tempat karaoke di dekat hotel mereka, aku tidak suka bisnis macam itu" Ya walaupun tidak jauh beda dengan bar tapi menurut Ibra tempat karaoke itu terlalu melecehkan perempuan, ya tidak semua orang tapi sebagian besar berbuat seperti itu menurutnya.


"padahal uangnya gede bang" lelaki dengan celana pendek hitam dan kaos tanpa lengan itu tersenyum kuda pada abangnya.

__ADS_1


__ADS_2