Alexavier Archie

Alexavier Archie
Mamy Dady


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan juga cerita yang cukup memilukan hati Belen, dengan mempertimbangkan perasaan gadis kecil yang selalu ceria itu Belen mengiyakan permintaan Oma Riri untuk mengambil peran Mamy Divya di pesta nanti.


Kini Belen sedang menemani Divya bersiap, dari memandikannya, memakaikan baju untuknya hingga menata rambutnya hingga mirip princess kesukaan Divya. Sejak Belen ada dikamarnya Divya tak mau susternya ikut mengurusnya, ia hanya ingin ditemani Belen.


"nah nona kecil sudah seperti seorang putri kerajaan, sekarang tante mau mandi dan bersiap sebentar ya, nona kecil tunggu disini dan duduk manis" ucap Belen sambil berlutut didepan Divya, menyuruhnya duduk di tempat tidurnya dan menunggu dia bersiap.


20menit berlalu Belen sudah mengenakan dress yang tadi dipilih oleh Ibra, dengan makeup tipis natural dan hanya mengkuncir kuda rambutnya. Tapi jangan heran kecantikannya malah sangat terpancar. Ia mengenakan sebuah heels putih yang sebelumnya Oma serahkan padanya yang dibilang milik Mamy Divya dulu.


"baik nona kecil kita sudah siap bukan?" Divya mengangguk senang.


"nah tante minta maaf pada Divya karna terburu-buru tante tidak membawa hadiah, besok tante akan belikan hadiah untuk Divya, tapi untuk sekarang hadiahnya adalah Divya boleh panggil tante Mamy jadi Divya engga iri lagi sama temen-temen Divya" perkataan Belen kali ini membuat Divya bersorak kegirangan.


"jadi Yaya punya Mamy sekarang? Mamy Yaya tante Belen? Asyiiiiikkk!" sorakan Divya terus terdengar hingga mereka berjalan menuruni anak tangga.


Mendengar suara seruan Divya membuat Adam


juga Ibra yang duduk diruang tengah menoleh ke arah tangga. Kali ini dua pria itu benar-benar tak berkedip melihat penampilah Belen yang amat anggun. Bahkan mereka lupa jika gadis disana adalah pemilik toko kue lengganan mereka.


"apakah bidadari sedang berkunjung?" ucap Adam yang belum memalingkan pandangannya.


"siapa dia? aku hampir tak mengenalinya. Abang sejujurnya aku tak ingin mengalah tapi Oma sudah menginginkan dia menjadi milikmu" sambungnya menggerakan sikunya sehingga mengenai lengan Ibra.


"jangan mengalah jika kau ingin" balas Ibra mengalihkan pandangannya karena Belen semakin dekat.


"aku tau kau menginginkannya, bahkan kau pun tak berkedip melihatnya saat menuruni tangga" balas Adam.


Sebelum mereka sampai diruang tengah Oma lebih dulu memanggil mereka dan mengajak Belen juga Divya ke halaman belakang. Disana sudah ada beberapa teman sekolah Divya berasama orangtuanya.


Divya sudah tak sabar memamerkan Mamynya pada teman-temannya. Dia menarik tangan Belen agar berjalan lebih cepat.


"teman-teman lihat ini Mamy aku, aku punya Mamy seperti kalian" serunya pada teman-temannya yang sedang duduk bersama para mamanya.


"wah Nyonya Riyanti ternyata mamy Divya sangat cantik ya, kemana selama ini jeng" sapa seorang ibu pada Oma Riri juga Belen.


"dia mengurus bisnis lain jadi sangat sibuk dan jarang dirumah" jawab Oma Riri sambil senyum memberi kode pada Belen.

__ADS_1


Kemudian mereka berbincang sedikit. Tak lama para tamu mulai berdatangan, Oma Riri meminta Belen untuk selalu disampingnya dan membiarkan Divya bermain dengan temannya ditemani susternya.


Ibra juga Adam ikut menyusul menuju halaman belakang karena sebagian orangtua teman Divya adalan rekan bisnis juga karyawan kantor mereka.


"hai sayang!" sapa Sarah menghampiri Ibra yang sedang duduk dengan Adam.


Tidak mendapat respon Sarah dengan tanpa malu melingkarkan tangannya ke pundak Ibra yang sedang duduk sementara dia berdiri. Adam yang memang tak suka dengan Sarah pun melirik kearah Ibra.


"bisakah kau sopan, disini banyak anak kecil!" seru Ibra melepas tangan Sarah darinya.


"Abang lihat sepertinya Mamy Divya juga Oma memanggilmu" cetus Adam yang sengaja berucap begitu karena kesal.


Ibra pun tidak mengelak dan berjalan kearah panggung kecil dimana Oma, Divya dan Belen sudah berdiri disana. Sarah yang melihat seorang wanita yang terlihat cantik menemani Divya diatas sana benar-benar tercengang.


Waktu sudah menujukan pukul 16.05, pembawa acara pun membuka acara tersebut dengan meriah khas pesta anak-anak. Setelah satu dua kalimat juga lelucon dia meminta semua tamu untuk menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Acara sangat meriah ditambah pemandangan yang baru mereka lihat dipanggung kecil itu Divya didampingi Mamy Dady nya.


Setelah bernyanyi pembawa acara meminta untuk potong kue. Divya dibantu Belen juga Ibra memotong kue bersama. Mereka hanyut dalam meriahnya acara hingga tak sadar tangan kanan Ibra menggenggam tangan kiri Belen yang sedang memegang tangan Divya, sementara tangan kirinya melingkar dipinggang ramping Belen. Setelah rangkaian potong kue kini Ibra juga Belen diminta berpose mencium pipi Divya. Kemudian foto bertiga dengan Divya berdiri ditengah.


"turunkan tanganmu! jangan ambil kesempatan menyentuhku!" gerutu Belen pelan pada Ibra yang kembali melingkarkan tangan pada pinggal Belen.


"lihatlah Oma, abang bilang dia tidak mau, tapi malah mendalami peran begitu" adu Adam pada Omanya yang berdiri dengannya disamping panggung.


"aku yakin Abangmu sengaja agar ulat gatal itu tak lagi menggodanya, dan yang jelas dia juga menikmatinya bukan Adam?" balas Oma yang ikut menahan tawa dengan Adam.


Setelah semua sesi selesai semua tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang ada. Belen pun turun menghampiri Oma juga Adam dengan Ibra dibelakangnya.


"aku sampai ikut memuji keserasian mamy dadynya Divya, akting kalian sangat natural" kekeh Adam yang kemudian mendapat lirikan tajam dari Abangnya.


"terimkasih Belen, sudah melakukan semua ini untuk Oma juga Divya" ucap Oma mengusap lembut lengan Belen.


"iya Oma" ucap Belen memeluk Oma Riri.


"Ibra ajak Belen makan, Oma mau menemani Divya, Adam kau bisa ikut mereka" sambung Oma.


Dengan ajakan Adam Belenpun ikut menuju meja dengan aneka makanan berderet diatasnya. Ibra? dia sudah berjalan entah kemana. Belen hanya mengambil air mineral botol dan duduk di bangku taman. Adam yang baru mengambil nasi kuning dengan berbagai toping menghampirinya.

__ADS_1


"kau tidak makan Belen?" tanya Adam.


"tidak, perutku perih, jika aku paksa makan nanti tambah sakit" Belen selalu bisa bicara terus terang dengan Adam, karena Adam memang lebih freindly daripada Ibra.


"apa kau sakit?" Adam terlihat sedikit cemas.


"sepertinya maghku kambuh, aku belum sempat makan dari pagi, apa dirumah ini ada persediaan obat magh?" jelas Belen yang terlihat memegang perutnya.


"apa? kau belum makan dari pagi? apa tadi siang abang tidak mengajakmu makan siang?" Adam cukup kaget mendengar penyataan Belen.


"tunggu disini akan kuminta bibi ambilkan obat magh, aku akan suruh abang menemanimu" Adam langsung bangun dari duduknya tanpa menghiraukan protes yang dikeluarkan Belen.


Adam berlari kecil menuju Ibra yang sedang ngobrol dengan salah seorang tamu, kemudian memberitahu keadaan Belen dan memintanya untuk menemaninya terlebih dulu. Bagaimanapun ini juga salah Ibra yang tak mengajaknya makan siang. Ibra berdecak sedikit kesal kenapa pula ada acara magh kambuh.


Ibra langsung menghampiri Belen yang masih memegang perutnya san menahan sakit.


"sudah tahu punya magh kenapa tadi tidak bilang belum makan? merepotkan" keluh Ibra duduk disamping Belen.


Belen hanya diam tak memperdulikan Ibra disampingnya.


"jika sakit masuklah dan istirahat bukan duduk disini, orang-orang bisa melihatmu begitu" sambung Ibra yang menyadari beberapa tamu melihat kearah mereka dengan Belen memegang perut dan sedikit meringis kesakitan.


"masuk dan istirahatlah biar aku bilang Oma" imbuhnya lagi yang tak mendapat respon dari Belen.


"dasar gadis keras kepala!" Ibra menggendong tubuh Belen dengan paksa karna merasa kesal ia tak didengar.


"lepaskan! turunkan apa yang kau lakukan! semua melihat kita! cepat turunkan!" Belen berusaha meronta namun Ibra cuek saja dengan semua pandangan kearah mereka.


"turunkan! aku bisa jalan sendiri!" Belen kembali memaksa turun.


"ini tak aneh bukan? dady Divya menggendong mamy nya? mereka hanya akan berfikir sepasang suami istri yang sangat romantis" jawaban Ibra benar-benar membuat Belen tak bisa berkata.


Oma yang khawatir mengejar Ibra juga Belen dan kemudian bertemu Adam yang mau memberi obat pada Belen sedang tercengang dengan apa yang dilihatnya. Oma berhenti dan bertanya pada Adam, Adampun menjelaskan bila magh Belen sedang kambuh.


"dasar! Oma kira ada apa, kamu benar Adam Abangmu menghayati perannya. Bila kondisinya belum baik panggilkan dokter untuk Belen, minta dia menginap, ini perintah Oma" Oma merasa geli juga senang dalam hatinya melihat perlakuan Ibra pada Belen.

__ADS_1


__ADS_2