
Pintu bercat putih diujung ruangan itu tertutup sejak siang tadi, kini jam menunjukan pukul 14.27. Adam yang baru saja menyelesaikan urusan dibawah teringat akan seseorang. Tangannya menenteng dua paper bag berisi beberapa lunch box dengan sushi didalamnya. Satu tangan lagi ia ayunkan untuk mengetuk pintu dihadapnnya.
tok tok tok
Setelah terdengar jawaban dari dalam dan pintu terbuka Adam langsung membawa dua paper bag itu tepat didepan muka Amanda.
"kamu belum makan, ayo makan" Amanda tersenyum simpul mendapati seorang yang menghangatkan dirinya kembali.
Mereka duduk diatas karpet bulu didekat sofa yang ada dikamar tersebut. Amanda mengeluarkan satu persatu isi dalam paper bag berwana coklat dihadapnnya. Sushi, ramen juga lengkap dengan matcha kesukaannya sudah siap disantap.
Ditengah makan siang mereka Amanda tiba-tiba menghentikan kegiatannya, mengambil cup berisi matcha dihadapannya dan mengalihkan pandangnya pada lelaki disampingnya.
"bagaimana keadaan Belen sekarang? apakah dia dan kandungannya baik?" Adam menoleh, ikut menghentikan kegiatan makannya dan menggeser tubuhnya kearah Amanda.
"dia baik syukurnya tidak terjadi apa-apa pada kandungannya. Dia wanita kuat" jawabnya lalu kembali menikmati ramennya.
Ada rasa lega dihati Amanda, dia juga sering menerima kebaikan dari Belen, dia adalah teman juga kakak yang baik. Dan kejadian serupa bisa membuatnya juga anak sikandungamnya dalam bahaya.
...
Makan siang telah usai Amanda sudah membereskan sisa makanannya dan membuangnya pada tempat sampah yang ada didapur. Adam masih duduk disofa dan sibuk pada ponselnya.
"Adam ehm maksudku Kenrich" Amanda mendudukan dirinya disamping lelaki yang masih mengenakan kemeja kerja tanpa jas itu.
"jika tidak ada orang lain dan aku tidak sedang menyemar kau boleh memanggilku Adam" serobotnya sebelum Amanda melanjutkan pembicaraannya.
"sampai kapan aku berada disini? apa setelah ini aku masih bisa bekerja?" wajah penuh tanya itu menatap lurus kearah jendela.
"untuk sementara kamu aman disini, soal pekerjaan aku akan pikirkan nanti. Aku sudah siapkan beberapa baju ganti disana semoga cocok untukmu" Adam menunjuk nakas dekat ranjang yang diatasnya terdapat sebuah paper bag putih dengan ukuran yang besar.
"ka-kapan kamu beli itu?" Amanda melongo setelah melihat isi dari paper bag itu.
"aku pesan online" Adam menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu karena ia juga membeli dalaman untuk Amanda.
Adam menyengir dan merasa sungkan kali ini, pasalnya bagaiman bisa dia memilih size yang pas untuk Amanda terlebih soal **********.
__ADS_1
sreg!
Adam mematung saat Amanda tiba-tiba memeluknya, tanpa menunggu lama Adampun ikut melingkarkan tubuhnya pada wanita yang sedang mencari kenyamanan didada bidangnya itu.
"terimakasih kamu sudah mau menerimaku, memperlakukanku dengan baik dan memberi kehangatan juga rasa aman untukku" dua mata itu bertemu, beradu untuk saling menemukan kasih sayang disana.
Bahkan sejak derik keberaba bibir mereka sudah menyatu, dari sebuah kecupan menjadi lu****an dan gigitan kecil. Nafas tersenggal itu tak dirasa terbukti mereka mengulangi ciuman pertama mereka, yang semakin lama semakin dalam dan panas. Tangan Adam terasa tak bisa terkontrol menjelajahi punggung Amanda, bergeser kedepan dan meraih satu kancing kemeja Amanda.
"maaf aku tidak-" Adam melepas ciuman dan melangkah mundur ia seakan hilang kesadaran.
"aku tau kamu bukan lelaki bre****k Adam" sebelum Adam melanjutkan ucapannya jari telunjuk Amanda sudah menempel dimulutnya seolah memintanya untuk berhenti berbicara dan satu tangannya menahan kemeja Adam.
"aku mencintaimu" tanpa permisi kali ini Amanda yang memulai ciuman mereka, Adam yang tersentak dibuat membuka mulutnya dengan gigitan kecil yang Amanda lakukan padanya.
Tidak mereka tidak melakukannya sejauh itu Adam bukan tipe lelaki seperti itu, dan Amanda pun berkata tidak saat Adam meminta ijin padanya. Kali ini Adam merasa gila, ternyata seperti itu rasanya, ia hatus cepat-cepat meminta Oma menikahkannya dengan Amanda atau dia bisa benar-benar gila.
Malam pun datang, bulan mulai menampakan sinarnya memggantikan matahari yang lelah. Adam berada diruangan Louis dia ikut memantau perkembangan dalam penyelidikan soal seorang dibalik Gerhana. Ia harus tahu jelas untuk mengambil langkah selanjutnya untuk Amanda.
ngiiiuuungg
nggiuung
Suara alarm diruangan Raka memekakan telinga, wilayah mana yang terkena serangan hingga mengirim sinyal darurat. Sinyal darurat hanya dikirim bila keadaan genting dan anggota yang ada diwiliayah tidak bisa mengatasi musuh yang datang.
"Raka ada apa?!" seru Adam yang berlari menuju ruangan Raka.
"pelabuhan diserang! Sialan!" geram Raka yang sudah bersiap dengan alat tempurnya.
Dua truk melaju cepat dipimpin sebuah mobil rangrober hitam yang berisi Raka, Ivan, dan Kenrich. Persenjataan lengkap mereka bawa. Titan memang kumpulan yang gila, mereka tidak segan meledakan pelabuhan saat ini.
Louis, Max, Grey dan Dominic sudah meminta semua anggota untuk bersiap dan memperketat penjagaan wilayah. Tidak menutup kemungkinan wilayah lain juga akan ikut diserang.
...
"abang mau kemana?!" Belen mengerutkan keningnya melihat Ibra mengenakan masker dan topi juga memgenakan rompi anti peluru ditubuhnya.
__ADS_1
"aku harus ke pelabuhan sekarang Sayang, mereka menyerang pelabuhan" Ibra menurunkan kembali maskernya mengecup singkat kening istrinya, membawa tangan kanannya mengusap perut datar Belen yang didalamnya ada calon anaknya.
"berjanjilah abang akan kembali dengan keadaan baik" bukan meremehkan kekuatan dan kemampuan seorang Aleaxier namun sebagai seorang istri tentu dia akan khawatir karena suaminya akan pergi mendatangi bahaya.
Dengan buru-buru Ibra memacu mobilnya kencang menuju pelabuhan. Dominic pun masih ditugaskan menjaga rumah dan memberi komando kepada anggota yang lain selama ketuanya terlibat dalam pertempuran.
...
Martin berusaha mati-matian menghalau musuh yang terus berdatangan. untungnya Grey sudah memasok senjata baru untuk mereka sehingga bisa mengimbani serangan musuh. Martin berlari melewati tumpukan peti kemas hendak menuju sisi depan dan menyerang dari sana.
dduuuuaaaarrrr
Suara ledakan keras terdengar tepat didepannya.
aarrgghh!
aaarrggh!
Teriakan kesakitan terdengar bukan hanya dari anggota Galaxy namun juga Titan. Mereka memang kumpulan yang gila mereka benar-benar rela mati konyol seperti itu. Dan ketua mereka pun tega berbuat keji pada anak buahnya sendiri.
Martin yang sempat terpental mencoba bangkit dan sebuah tendangan keras tepat mengenai dadanya.
duaagh!
"aargh!" Martin berseru merasa sakit dan sesak didadanya, tubuh yang sudah setemgah berdiri itu kembali terpental dan terjatuh kembali diatas aspal.
"ini adalah nilai yang harus kau dapat setelah berani mengusik rencanaku bahkan kau mendatangi si tua Deker Doraz untuk mengadu!" seru Ronald Joe yang berdiri tepat diatas tubuh Martin dengan satu kakinya menumpang tubuh Martin yang tergeletak.
"kau memang bede**h bre****k!" pekik Martin yang tubuhnya semakin di injak oleh Ronald.
"aku punya pasukanku sendiri! kau tidak perlu repot-repot mengadu pada tua bangka itu karena sebentar lagi Titan pun akan tunduk ditanganku" Ronald Joe merogoh sebuah senjata dari balik badanya dan mengacungkannya tepat dikepala Martin.
"ini akan menjadi contoh, setelah ini aku akan menghabisi Max sialan itu dan membunuh client kalian!"
doorrr
__ADS_1