
Memasuki ruangan kantornya Amanda langsung menuju meja kerjanya, ia harus segera menyiapkan nerbagai laporan dan berkas untuk bosnya kerjakan. Setelahnya ia melakukan cek jadwal untuk hari ini, menyiapkan materi pertemuan untuk setengah jam lagi dan beberapa hal lainnya.
drrrt
drrtt
drrtt
Dering ponsel yang masih berada dalam tasnya memgalihkan perhatiannya yang temgah fokus pada layar laptopnya. Satu nama tertera membuatnya urung mengangkat telpon tersebut, nama kontak yang ia hindari beberapa waltu terakhir ini, namun sisi hatinya yang lain berkata lain, jika bukan hari ini pasti hari esok juga akan seperti ini batinnya. Dengan mengambil satu nafas panjang wanita dengan setelan blazer berwarna coklat muda itu menggeser rombol hijau dilayar ponselnya.
"hah adikku ternyata masih mengingat kakaknya" ucap seorang dibalik sambungan telpon itu dengan suara bersahabat.
"maafkan aku kak, aku-"
"oh sayang tidak perlu meminta maaf, akan kubuat semuanya mudah, berikan minuman yang sedang aku kirimkan padamu sekarang kepada Adam dan aku akan melupakan kesalahan bodohmu kemarin"
tok tok tok
"permisi bu Amanda ini ada pesanan milik anda" seorang OB datang mengetuk ruangan Amanda dan menyerahnya sebuah kantong keresek berisi 4 botol minuman jus dengan pesanan atas nama dirinya. Amanda yang masih kaget dengan penuturan kakaknya dibuat kaget lagi dengan apa yang dibawa seorang OB padanya.
"taruh saja te-terimakasih" sahut Amanda pada OB terusebut dan meninggalkan kresek putih itu diatas meja kecil didekat meja kerja Amanda.
"ah baru dibicarakan barangnya sudah sampai. Nah berikan yang tutup warna hijau tua untuknya, tenang saja dia tidak akan merasakan sakit terlalu lama, tidak lebih dari lima menit dia sudah menyusul kakek dan dua orang tuanya"
__ADS_1
"kakak berhenti berbuat hal demikian kak! Disini adalah kita yang berlebihan, ini adalah obsesi dari papa kak, kita harus menghentikan ini semua sebelum semua terlambat!" Amanda tak tahan dengan apa yang kakaknya bicarakan.
"baiklah kalau kau tidak mau membuatnya mati kembali kesini dan akan aku tunjukan bayaran untuk kebodohanmu! dasar tidak tahu diuntung!" hardik Cassandra dengan kemarahan yang sangat terdengar jelas.
"jika dengan memberikan nyawaku kakak akan berhenti berbuat hal demikian aku akan serahkan nyawaku sekarang juga" meski mengucapkannya mantap tak disangka satu air mata Amanda lolos melewati pipinya.
"hah dasar bodoh!" Cassandra menutup telpon itu dengan amarah yang semakin membuncah.
Amanda mendudukan dirinya dikursinya, rasanya dadanya sangat sesak. Ia kembali membantah kakaknya lagi demi seorang lelaki yang berhasil memenuhi hatinya. Dia mematap bungkusan kreaek putih diatas meja berbentuk bundar itu, dengan cepat dia meraihnya dan membuangnya satu persatu isi botol tersebut kedalam closed dan membuang botolnya kedalam tempat sampah.
Ada rasa takut dalam dirinya, tapi ada satu sisi ia ingin menemui kakaknya dan bertanya soal kepentingan Mr. Who dengan Gerhana, karena menurutnya papahnya hanya mematuhi perintah darinya dan membuat semua ini menjadi sangat kacau, banyak nyawa yang terkorbankan dalam ambisi gila ini. Tapi sekeras apapun ia berusaha kakak kakaknya tidak akan memberitahu dirinya terlebih kakaknya Alfario.
...
Jam makan siang datang usai Amanda menyiapkan beberapa laporan untuk bosnya Adam Ankawijaya. Dia memilih meletakannya diruangan bosnya sbeleum makan siang.
"ah hai Nana, seperinya lama kita tidak makan siang bersama ya? Baiklah ayo, tunggu ya aku akan meletakan ini diruangan pak bos" jawab Amanda dengan anggukan oleh Nana.
Amanda meletakan tiga map diatas meja Adam dan menjelaskan beberapa point-pointnya setelahnya ia permisi untuk keluar. Namun satu pertanyaan Adam membuatnya terhenti dan kembali membalikan badannya.
"maaf aku ada janji dengan Nana, sudah lama kami tidak makan bersama" jawab Amanda menundukan kepalanya.
"sejak pagi kamu aneh Amanda, kamu terus berkata formal padaku, apa yang terjadi?" memang benar setelah kejadian pagi tadi Amanda terus dilanda rasa bingung, ia seolah ingin membuat semua ini tidak terjadi, bersikap formal dan menjaga jarak demgan Adam membuat batinnya pun sakit.
__ADS_1
"tidak, bukan apa-apa, maaf Nana sudah menunggu" tanpa menunggu jawaban dari Adam Amanda dengan cepat keluar dari ruangan Adam dan menemui Nana yang sudan siap menenteng tasnya.
Kepergian Amanda membuat Adam semakin bertanya-tanya, lamunannya terhenti saat telpon dari abangnya masuk. Dengan perasaan gusar ia nangkit dari kursi kebesarannya dan membawa langkahnya menuju ruangan anangmya yang berada disebelah ruangannya.
Makam siang dikantor memang hal biasa nahiy empat laki-laki ini. 15 menit lalu makan siang mereka diantar oleh Belen namun Belen cepat kembali karena ada perlu di toko kue, dengan ijin suaminya dia pun kembali ketoko kuenya dengan perjanjian sebelum kam 3 sore ia harus sudah kembali kerumah. Ibra, Raka dan Louis memakan makan siang mereka dengan lahap namun tidak dengan Adam yang terlihat kehilangan napsu makannya.
"makan tu nasi bengong aja, udah kaya kambing nunggu giliran dipotong lo" celetuk Raka.
Adam hanya melirik sekilas dan berdecak. Ibra jelas melihat kekhawatiran dan kegelisaan diwajah tegas adiknya itu. Ia kembali fokus pada makan siangnya sebelum mengatakan suatu hal pada adiknya.
"Louis cek cctv ruangan Amanda pagi ini" suara tegas abangnya itu membuat Adam mengangkat pandangannya dan menatap abangnya dengam raut bingung.
"baru selesai makan" Louis yang baru membuka minumannya itu berdecak kasar dan dengan berat hati melangkah menuju meja Ibra, meraih laptopnya dan membuka aplikasi untuk melakukan cek cctv seperti yang diperintahkan bosnya.
Tiga pasang mata terus memperhatian kegiatan Louis hingga Louis membawa laptop itu pada meja yang mereka gunakan untuk makan tadi. Kini mereka fokus pada tayangan cctv saat Amanda menerima panggilan pada ponselnya hinga setengah jam kedepan. Tangan Adam mengepal mendengar Amanda berkata akan memberikan nyawanya dan itu ia katakan adalah untuk menyelamatkan dirinya, setelahnya Amanda membawa kresek putih itu kedalam toilet dan saat keluar ia membuang isi kresek itu kedalam tempat sampah.
"dasar! para ba****an itu masih mengincarku!" geram Adam.
"kita harus memperketat penjagaan area kantor Ibra" ucap Raka pada Ibra dan ikuti anggukan Louis.
"ya itu benar, semua pesanan online maupun paket harus melalui pengecekan terlebih dahulu aku akan meminta anak buahku melakukan itu" sambung Louis.
"Amanda!" Adam langsung bangkit dan mencari Amanda.
__ADS_1
Menurut penuturan Jody Amanda dan Nana makan siang dikantin, dengan langkah lebar Adam menuju lift dan mengarah pada rooftop gedung dimana kantin berada. Kantin bernuansa caffe kekinian itu masih ramai dengan para karyawan, beberapa karyawan melihat wakil direktur mereka berada dikantin sedikit terkejut lantaran bos mereka amat jarang datang ke kantin.
Adam terus menghiraukan sapaan dari para karyawannya dan terus fokus mencari sosok yang ia cari, perasaan tidak enak menyeruak setelah ia melihat rekaman cctv ruangan Amanda.