
Usai makan malam Ibra dan Adam pamit pada Omanya untuk ke markas. Mereka menggunakan mobil yang sama untuk menuju markas mereka. Masih awal pukul 20.08 jalanan cukup ramai sehingga tak bisa memacu mobil dengan lebih cepat.
"Abang, apa menurutmu Belen tulus menyayangi Divya?" tanya Adam asal mencari topik pembicaraan.
"apa yang kau tanyakan" jawab Ibra cuek.
"ya dia benar-benar memperhatikan Divya seperti anaknya sendiri kemarin, dan apa abang tau kalian benar-benar cocok" lanjut Adam.
"akan ku pertimbangkan menjadikannya suster baru Divya" Ibra memang sangat cuek jika membahas tentang wanita.
"astaga abang! yang benar saja!" seru Adam mendengar jawaban abangnya.
"apa dia tidak masuk kriteriamua bang? dia cantik, mandiri, sayang pada anak kecil, dan masakannya enak" imbuh Adam.
"ya memang wanita harus begitu bukan?" lagi-lagi Ibra hanya menjawab asal.
"setelah aku pikir-pikir jika aku jadi wanitapun aku tak mau punya pasangan seperti abang" dengus Adam kesal.
Berselang 10menit dari perbincangan mereka, mobil Wrangler hitam yang mereka tumpangi sudah memasuki markas dengan tembok setinggi 3meter. Pintu gerbang otomatis terbuka setelah penjaga menekan tombolnya. Mereka menuju sebuah bangunan berbentuk rumah yang tak terlalu besar.
Ivan, Louis, Dominic dan Raka sudah menunggu mereka diruang tamu.
"salam ketua" sapa mereka serempak.
Archie bersaudara hanya mengangguk dan duduk disofa yang kosong.
"bagaimana hasil pantauanmu Louis" ujar Kenric membuka obrolan.
"sedari siang hingga kini dia dua kali menuju hotel milik Gerhana, dia bertemu dengan beberapa staf disana, namun anehnya dia dipanggil dengan sebutan pimpinan oleh para anggota Gerhana, ini jelas membuktikan Gerhana adalan Storm dengan Anthony tak lain Andreas sebagai ketuanya. Namun sejauh ini dia belum bertemu dengan Alfario" jelas Louis.
"ya tebakan kita sudah benar, Dominic perintahkan Jovy untuk mulai menyiapkan persenjataan, lengkapi semua" perintah Alexavier.
"baik ketua" jawab Dominic bangun dari duduknya menuju gudang senjata.
"apa rencanamu Alexavier?" tanya Kenric.
"biar dulu mereka bermain dengan kita, jika tepat waktunya kita serang seluruh wilayah juga markas bersamaan. Ivan cari tahu semua informasi mengenai wilayah Gerhana, jumlah anggota yang berjaga juga denah lokasinya" jawab Alexavier memberi arahan.
...
Ditempat lain, ditoko kue Matahari.
"kak Belen aku duluan ya" pamit Sella pada Belen yang sedang merapikan beberapa barangnya.
"hati-hati Sella" balas Belen sambil memakai tas dipunggungnya.
Mengambil kunci pintu dan memgunci pintu juga rollingdoor tokonya.
Begh!
Seorang muncul dari belakang Belen tanpa diketahuinya membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
...
__ADS_1
"kita ke bar dulu Kenric" ujar Alexavier memerintah adiknya saat mereka berjalan menuju mobilnya.
hanya 15menit mobil mereka sudah terparkir di depan pintu masuk bar milik mereka di wilayah A.
"kenapa kau tidak menolong?" terdengar suara salah satu anggotanya yang sedang mengobrol.
"itu bukan urusan kita, bila aku kesana ini bisa menjadi masalah jika pria itu dari kumpulan lain" jawab yang lainnya.
"apa yang sedang kalian bicarakan" sapa Adam dari belakang anggota yang barusan mereka lewati, anggota yang menjaga pintu itu sedang saling berhadapan menunjuk sisi kanan pertokoan.
"tadi dia melihat seorang gadis di toko kue itu diculik seorang" jawab salah satu anggota.
"kemana dia membawanya!" seru Alexavier mengetahui Belen lah yang dimaksud.
"kurang tau ketua, maaf, saya hanya sekilas melihat saat mobil itu melaju" jawab anggota itu lagi.
"hubungi Louis!" Seru Alexavier menuju mobilnya kembali.
"kenapa kalian tak menolong dasar!" ketua Kenric yang kemudian berlari menuju mobil.
Kenric menelpon Louis untuk meretas cctv sekitar pertokoan juga cctv dijalan untuk mengetahui kemana mereka membawa Belen pergi.
"ini pasti ulah Rio bang!" seru Kenric.
"siapapun dia dia dalam masalah besar" gumam Alexavier yang mengemudi.
"tunggu, apa abang barusan peduli dengannya?" ucapan Kenric kai ini tak tepat diutarakan.
"Louis sudah mengirim hasilnya, mobil itu kearah Hotel milik Gerhana" seketika mendengar ucapan adiknya Alexavier lngsung memutar kemudi menuju tempat tujuan.
"perintahkan anggota dibawahmu, Dominic dan Raka untuk menyerang sekarang! tak ada waktu lagi, ini kesempatan kita memulai pertempuran!" perintah Alexavier membuat Kenric mengepalkan tangan, ini yang dinantinya.
20menit berselang mereka masuk kearea hotel itu, hampir tengah malam semua orang baik-baik pasti sudah berada dikamarnya masing-masing bermimpi indah. Ini akan memudahkan mereka melumpuhkan musuh tanpa melukai pihak lain.
Begitu mobil yang Archie bersaudara masuk puluhan truk ikut masuk menerobos begitu saja gerbang hotel. Semua anggota Galaxy berloncatan turun dari truk.
Alexavier turun dengan senjata ditangan dan punggungnya. Para anggota Gerhana kaget dengan datangnya musuh tiba-tiba.
"kita diserang! tembak mereka!" teriak salah satu anggota Gerhana.
doorr doorr doorrr
Sebelum para anggota Gerhana mengangkat senjata pasukan yang di pimpin Alexavier juga pasukan sniper sudah terlebih dulu memuntahkan peluru mereka.
"aargghh!" seruan para Gerhana yang terkena tembakan.
Dengan cepat Alexavier dan pasukannya menuju bangunan 3 lantai dibelakang hotel, disanalah markas wilayah A milik Gerhana juga Belen disandera. Begitu pasukan Alexavier melangkah kebelakang pasukan Kenric ikut menyerbu sehingga membuat anggota Gerhana dibagian depan tak bisa menyusul mereka. Pasukan Sniper Dominic pun mengintai dari gedung lain membuka jalan agar tak ada yang menghalangi Alexavier menuju markas itu.
"kakak ketua kita diserang!" teriak salah satu anggota pada Alfario yang baru saja meletakan Belen pada sebuah ruangan.
"apa apaan ini!" kesal Rio mengambil senjatanya.
dor dor dor
__ADS_1
Tembak menembak tak dapat dielakan lagi, pihak Gerhana kalah cepat sehingga banyak anggotanya yang mati dipertempuran itu.
Alexavier berlari mencari dimana Alfario berada.
"wah ini hebat! malam begini kedatangan tamu" sapa Alfario menodongkan senjata kearah Alexavier.
"ini adalah permulaan" ujar Alexavier.
Dia menembak tangan Alfario sehingga membuatnya menjatuhkan senjatanya, saat dia ingin melanjutkan tembakannya seorang anggotanya berseru padanya.
"disini ketua!" tanpa membuang waktu Alexavier menuju lantai dua dimana Belen disekap. Ini pun menjadi kesempatan Alfario yang memang pecundang itu untuk kabur melalui jalan rahasia.
"amankan jalan keluar!" perintah Alexavier membopong tubuh Belen yang masih tak sadar diri.
Dia lari dengan perlindungan dari 4 anggotanya yang melindunginya dari musuh yang akan menembak.
"cukup Kenric, mundur!" seru Alexavier saat berpapasan dengan saudaranya.
Setelah memberi kode Kenric dan seluruh pasukannya mundur dengan perlindungan yang diberikan anggota sniper Dominic agar semua anggota Galaxy dapat kembali ke truk mereka tanpa mendapat serangan dari belakang.
Deb!
Kenric melajukan mobil dengan Alexavier duduk dibelakang dengan masih dalam posisi membopong Belen.
"Kita kerumah sakit?" tanya Kenric melihat spion tengah.
"kerumah, panggil dokter saja" jawab Alexavier pelan.
Dia melihat dengan dekat raut muka Belen yang tak sadarkan itu, baru kali ini dia memandangnya sedekat itu.
kenapa kau terlihat cantik jika sedang terlelap, tak seperti gadis yang suka membantah juga keras kepala.
Sesampainya dirumahnya, Alexavier membawa Belen menuju kamar yang kemarin ditempati Belen dan dokterpun sudah tiba disana.
"semua baik tuan, ini hanya pengaruh bius saja, mungkin beberapa saat lagi dia akan sadar" jelas dokter yang bekerja pada mereka dimarkas.
"abang tidak keluar?" tanya Adam yang hendak mengikuti dokter itu keluar.
"kau istirahatlah dulu, akan ku tunggu dia sadar" jawab Ibra tanpa menoleh ke adiknya.
Beberapa saat kemudian Belen terdengar mengaduh pelan. Ibra yang sedang duduk disofa pun berdiri menuju ranjang tempat Belen tertidur.
"dimana ini" gumam Belen pelan. "kau! kau menculikku! apa yang kau inginkan!" seru Belen melihat Ibra menuju arahnya.
"yang aku inginkan? emm banyak tentunya" Ibra malah iseng menggoda Belen. Entah mengapa terkadang Ibra sangat senang membuat Belen marah.
"ke kenapa kau membawa paksa aku kemari!" serunya kemudian.
Ibra malah duduk ditepi ranjang, mendekatkan tubuhnya dan berbisik ditelinga Belen.
"kau, aku inginkan kau" Belen membulatkan mata, tapi Ibra justru terkekeh melihatnya.
"tidur! besok pagi aku jelaskan" kemudian Ibra melangkah keluar dari kamar Belen.
__ADS_1