Alexavier Archie

Alexavier Archie
Aku Janji


__ADS_3

Hari Sabtu jalanan kota lebih padat dari biasanya. Para pekerja pulang lebih awal dan banyak yang lainnya memilih keluar untuk menikmati akhir pekan. Meski dengan pikiran yang amat runyam Ibra harus tetap bisa berbuat hal yang membahagiakan istrinya yang sedang mengandung itu. Karena kini ia ada dirumah dihadapan istrinya ia adalah seorang Ibrahim Ankawijaya, seorang suami dan dady yang amat menyayangi keluarganya.


Sudah 2 hari Adam dan Amanda tidak pulang, Adam hanya memberi kabar pada abangnya agar tidak perlu khawatir. Oma pun beberapa kali mendapat telpon dari cucunya itu yang meyakinkan mereka baik-baik saja, katanya ia sedang menyusun rencana untuk urusan Amanda.


"abang, aku khawatir pada Amanda, apa sebaiknya kita cari mereka?" baru memasuki kamarnya Belen kembali teringat soal itu rasanya ia tak tega dengan Amanda yang ditimpa masalah begitu.


Dengan satu tarikan Ibra membawa Belen keatas pangkuannya, membelai lembut rambut istrinya yang di ikat separuh itu, sedang satu tangannya lagi ditempatkan pada perut yang mulai membulat.


"jangan khawatirkan mereka, aku sudah katakan mereka baik-baik saja. Bahkan kamu juga mendengar Adam berbicara dengan baik kan? ayo mandi setelah ini kita akan menjenguk anak kecil ini" sungguh lembut suara lelaki ini, jika mendengarnya tidak akan ada yang menyangka bahwa sosok suami perhatian ini adalah ketua dari kumpulan mafia besar dikota itu.


"yes dady!" seru Belen seolah itu adalah suara anak dalam perutnya.


srek


Dengan satu gerakan Ibra membopong tubuh istrinya yang lebih terasa berat itu dan mengarah ke kamar mandi.


"abang! turunin" protes Belen meski tangannya melingkar dileher suaminya.


"aku sudah bilang mandi kan? aku juga ingin lebih dulu menjenguknya sebelum kita kedokter nanti" ucapan dengan arti lain itu mengakibatkan sebuah cubitan gemas dari Belen pada hidung mancung suaminya.


Sore yang mulai berganti gelap itu mereka habiskan dengan berendam dan mandi bersama juga sebuah kegiatan panas sebelum itu. Dan kini Ibra yang masih dengan lilitan handuk dipinggangnya temgah membantu istrinya mengeringkan rambutnya yang basah. Lelaki itu benar-benar memperlakukan wanitanya bak seorang ratu.

__ADS_1


"sayang, jangan terlalu mengkhawatirkan segala hal. Ingat, yang perlu kamu khawatirkan adalah kamu dan dia" Ibra yang sudah dengan posisi setengah berjongkok itu berbicara dengan menggenggam tangan Belen lalu menunjuk perut dimana calon anaknya berada.


"aku tidak bisa membiarkan anggotaku melangsungkan peperangan sendiri, meski tidak langsung turun tangan aku tetap harus mengambil andil, aku harap kamu paham ya sayang" selanjutnya Ibra mengecup tangan yang masih ia genggam, sebuah pengertian yang cukup sulit untuk istrinya, istri mana yang mau ditinggal suaminya menuju bahaya disaat dirinya sedang hamil begitu.


"aku tidak bisa dan tidak mau egois. Mereka membutuhkanmu, jantung dari Galaxy, tapi disini kami juga membutuhkanmu, detak jantung kami" jawab Belen dengan raut datar yang jarang ia perlihatkan.


Ini memang sebuah konsekuensi menjadi istri dari seorang ketua mafia, dibalik kehidupan mewahnya ada harga mahal yang harus dipertaruhkan.


"aku berjanji, selalu. Aku akan selalu kembali pulang untuk kalian"


...


"kita menjaganya Kenrich, kita semua ada didekatnya, bahkan kau sendiri nanti mengawasinya dari dekat, ini satu-satunya cara agar kita tahu dimana lokasi Gerhana sekarang. Kita harus mulai bergerak" jelas Martin kepada Kenrich.


Adam terlihat meremas rambutnya, urat tangannya terlihat jelas, wajahnya terlihat memerah seolah menahan amarah yang membuncah. Adam memamg sedang menemui Martin di sebuah pelabuhan kecil tak jauh dari tempat yang ia dan Amanda tempati.


"pikirkan baik-baik Kenrich, selain mengurai masalah yang ada di Galaxy, kau juga bisa membantu Amanda menyelesaikn masalahnya" satu tepukan di oundak Adam membuatnya kembali mengangkat wajahnya.


Egois jika Adam hanya ingin keselamatan Amanda tanpa mementingkan kepentingan Galaxy. Seperti memancing kita harus memberi umpan agar ikan mendekat dan menangkapnya. Kini Amanda harus dibuat kembali pada kakak kakaknya untuk menunjukan jalan dan memgumpulkan bukti mengenai kerjasama Gerhana dengan Mr. Who. Ia harus rela melepas Amanda dari pelukannya menuju tempat dimana nyawanya bisa dihabisi bahkan oleh kakaknya sendiri.


Dengan raut yang masih terlihat marah Adam menyambar kunci mobilnya dan dengan kecepatan tinggi meninggalkan pelabuhan kecil itu. Martin hanya bisa memandang kepergian ketuanya itu dengan harapan semua mimpi buruk ini segera berakhir.

__ADS_1


...


Ruangan serba putih dengan beberapa layar komputer itu sedang menjadi saksi sebuah senyum yang amat langka diperlihatkan. Senyum seorang calon ayah yang melihat perkembangan calon anaknya didalam rahim wanita yang ia cintai. Juga rasa bahagia seorang wanita yang sebentar lagi menyandang status sebagai seorang ibu dengan anak yang ia lahirkan sendiri.


"semuanya baik, kondisi ibu juga mulai baik dan morningsick mulai berkurang. Nah nyonya yang perlu anda lakukan adalah terus buat diri anda happy, jangan strees dan banyak pikiran macam-macam agar kondisi anda juga anak anda terus baik" dokter dengan paras cantik meski usianya sudah menginjak 47tahun itu kembali mengingatkan Belen juga Ibra tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan untuk usia kandungan yang hampir memasuki empat bulan itu.


Dua pasangan ini pun kembali kemobilnya usai melangsungkan pemeriksaan kandungan dirumah sakit besar dikota itu. Belen tak henti-hentinya memandangi cetak foto usg dengan gambar calon anak mereka disana.


"sekarang minum susunya dan tidurlah, aku akan kemarkas malam ini mungkin akan kembali nanti, berjanjilah kamu akan baik-baik saja okey? Dominic akan berjaga didepan jangan khawatir" ucap Ibra setelah meletakan segelas susu hamil rasa vanilla dinakas.


"abang juga berjanjilah untuk cepat kembali setelah urusan selesai" Belen menengguk segelas susu itu dan mendapat usapan lembut pada rambutnya, Ibra mengecup kening istrinya sebelum ia pergi meninggalkan kamar mereka.


...


Jalanan sepi membuat Ibra melajukan mobil Wrangler hitam miliknya sedikit diatas rata-rata. Baru saja keluar dari area perumahannya ia merasa tiga mobil berlaku aneh dibelakangnya. Dengan cepat ia membanting strinya dan mengganti arah kendaraannya membawanya kesebuah kawasan sepi untuk mengetahui maksud dari tiga mobil sedan yang jelas mengikuti dirinya.


Begitu mobil yang Ibra kendarai melambatkan lajunya dua dari tiga mobil yang membuntutinya langsung memblokade jalan dihadapnnya, mengakibatkan Ibra harus melakukan rem mendadak. Smrik menakutkan tercetak diwajah Ibra, bukan kalini ini dibalik stir adalah Alexavier Archie. Siap dengan tampilannya yang misterius ia turun begitu saja dari dalam mobilnya.


Sorot mata tajamnya memandang remeh 12 orang yang mengepung dirinya. Bodoh. Batin Ibra pada orang-orang ini. Mau saja mereka disuruh menyerahkan nyawa mereka padanya. Tangannya tersilang didepan dadanya, dua pistol siap disisi kanan dan kiri, terpasang rapih pada pinggangnya.


Terdengar samar salah seorang dari orang-orang itu melaporkan pada seorang bahwa mereka sudah mampu mengepung Alexavier Archie yang posisi ya sendirian tanpa pengawalan. Matanya memandang kesal kepada orang-prang yang kompak mengarahkan pucuk senjata mereka pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2