
Sejak sadar sore tadi Adam terlihat menunggu-nunggu seseorang, seseorang yang ia hubungipun belum membalas. Berkali-kali ia melihat jam yang menggantung dididing dan berkali-kali pula ia mengecek ponselnya.
Belen menoleh ke arah suaminya yang sedang menatap fokus pada laptopnya. Dirasa yang dilihat tak merasa Belen memutuskan menyenggol lengan suaminya.
"hmm?" sahut Ibra menatap istrinya.
Belen hanya mengarahkan dagunya ke arah bangsal adik iparnya yang terlihat resah. Bukannya bertanya Ibra malah ganti mengayunkan dagunya pada Belen. Belen berdecak melihat tingkah suaminya itu.
"apa ada yang sakit Dam?" Belen melangkah menuju bangku dekat bangsal.
Adam memalingkan oandangannya menuju kakak iparnya dan menghembuskan nafas beratnya.
"apa dia tidak ingin menjengukku? atau sekedar hanya tau keadaanku?" jawabnya dengan sunggingan senyum dibibirnya.
Belen tahu siapa yang dimaksud Adam, kini Belen menoleh kearah Ibra yang ikut mendengarkan percakapan mereka.
"mungkin dia kelelahan hari ini mengurus semua urusanmu, makanya cepat pulih" mungkin Belen rasa Adam ini sebaya dengan Divya hingga dia berkata demikian.
"kau harus sebisa mungkin menahan egomu jika tidak ingin membahayakan keselamatannya" Ibra pun akhirnya bersuara setelah ucapan Belen tak ditanggapi oleh Adam.
Adam hanya membalasnya dengan tatapan dan cengiran dibibirnya.
Tak lama ruangan kembali hening, Adam tenggelan pada ponselnya, Ibra kembali pada Laptopnya dan Belen dia hanya berdiam saja sambil menyenderkan punggungnya di sofa dan mencoba memejamkan matanya.
ceklek
Suara pintu terbuka membuat tiga orang didalam tuangan itu kompak menoleh.
"biar gantian kita yang jagain Adam" Raka melangkah mendekat pada bangsal Adam di ikuti Louis dan Grey dibelakangnya.
"ketua" sapa Grey membungkukan badannya.
__ADS_1
Dari ratusan malah hampir ribuan anggota Galaxy hanya anggota tertentu dengan level tinggi yang bisa melihat wajah Alexavier juga Kenrich tanpa masker dan topi juga tau identitas asli mereka berdua.
"kau sudah kembali? bagaimana urusanmu disana?" Belen membenarkan posisi duduknya, menggeser badannya untuk memberi tempat pada Grey juga Louis.
" semua berjalan lancar ketua, saya sudah mendistribusikan senjata baru ke seluruh wilayah sesuai intruksi dari ketua" Grey adalah sosok pria blasteran Indo-Jerman dia juga punya bisnisnya sendiri.
"bagus sekarang fokusnya hanya pada pengungkapan keterlibatan Titan atau kumpulan lain dalam kecelakaan ini, aku sangat yakin ini bukan hal yang secara kebetulan terjadi" Ibra sudah menutup laptopnya dan fokus pada pembicaraan mereka.
"aku sudah menyuruh seluruh anak buahku menggali lebih dalam lagi dari segala cctv atau apapun yang bisa kita dapatkan ketua" Louis pun ikut menimpali, ia juga gemas sendiri karena tidak bisa menemukan keterkaikan salah satu korban meninggal itu dengan kumpulan manapun, juga sekedar melacak asal-usul mobil yang mereka kendarai saja belum ada titik temu.
"kita akan berusaha sebaik mungkin" Ucap Raka yang suduk didekat bangsal Adam.
"yang terpenting dari itu semua adalah kepulihan ketua Kenrich" inbuhnya dengan kepala yang dibawa menoleh ke arah lelaki yang ada diatas ranjang pasien itu.
Cukup dengan pembahasan serius mereka akhirnya Ibra memutuskan mengajak Belen pulang karena istrinya begitu terlihat kelelahan.
...
"abang!" Belen terperanjat membuat Ibra kaget dan melakukan rem mendadak, untungnya tidak ada mobil atau kendaraan lain yang berada dibelakang mereka.
"kenapa?!" raut kaget juga khawatir dari Ibra samgat terlihat.
"a-aku mau sate padang tadi" mendengar itu membuat Ibra mendengus dan kembali menyandarkan punggungnya pada jog mobilnya, sementara Belen hanya menyengir.
"kamu masih laper?" Belen hanya menggeleng.
"lihat gambar didepan tendanya tadi tiba-tiba jadi pengen banget, kita beli sebentar ya bang?" pinta Belen yang sudah menghadapkan badannya ke arah kanan menghadap suaminya.
Dengan senyum kecil diwajahnya Ibra melajukan mobilnya untuk memutar balik menuju temda penjual sate padang yang istrinya maksud.
Belen langsung turun dan memesan seporsi sate padang lengkap dengan es teh manis untuknya, sementara Ibra hanya duduk menemaninya karena dia masih kenyang setelah memakan bebek goreng yang juga Belen minta saat diruangan Adam.
__ADS_1
Mata Belen berbinar menatap seporsi sate padang dengan asap yang menandakan bahwa makanan didepannya itu baru saja dibakar.
"abang ini enak banget, abang coba ya?" Belen menyodorkan setusuk sate dihadapan suaminya dengan dirinya yang masih mengunyah makanan dimulutnya.
"kamu aja aku kenyang sayang" jawab Ibra halus, ia sangat suka melihat napsu makan Belen beberapa hari ini.
Tak berlama-lama seporsi sate padang dan segelas es teh manis dihadapnnya sudah tandas. Mereka kembali menaiki mobil untuk menuju rumah setelah membayar kepada pedagang sate tersebut.
Perjalanan pulang Belen tertidur didalam mobil, Ibra masih setia menggenggam tangan istrinya yang sudah pulas masuk kedalam alam mimpinya. Ia sampai tak tega membangunkan istrinya dan memilih menggendongnya hingga kamar mereka.
bruk!
Perlahan Ibra menurunkan istrinya di ranjang king size mereka setelah dia kerepotan membuka knop pintu kamarnya karna dua tangannya membopong tubuh Belen.
Usai meletakan Belen diatas ranjang dan menutup pintu kamar mereka Ibra dengan lembut melepas sepatu yang Belen kenakan dan menyelimutinya, menciup keningnya sekilas sebelum ia berlalu menuju kamar mandi.
...
"gue terus harus gimana Ka?" Adam baru saja menceritakan kisahnya dengan Amanda juga problematika yang ia alami karena abangnya sedang melarangnya punya hubungan lain dengan Amanda selain pekerjaan.
"tapi ya Dam gue sih setuju sama Ibra, ini lebih baik dari pada pertaruhin keselamatan Amanda" Sahut Louis, Grey hanya menyumak karena nyatanya dia banya ketinggalan berita semala mengurus urusan di luar negri.
"lo jangan khawatir, gue yakin Ibra setuju sama hubungan lo, cuman memang ini cara dia ngelindungin lo juga Amanda, gue denger dari Dominic kalo Ibra nyuruh nempatin pengawal buat Amanda" sahut Raka lagi.
Adam hanya mendengarkan dengan tubuh lemas. Ia seperti tidak rela berjauhan dengan Amanda setelah bisa merasakan kedekatan dengan gadis itu.
Apa tidak bisa mereka terap bertukar kabar melalui ponsel? apa juga berbahaya jika Amanda menerima telpon darinya? apa juga salah bila Adam ingin tetap dekat dengan Amanda meski tidak bisa bertemu? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dikepala Adam, ia merasa pusing entah dari lukanya atau terlalu berat memikirkan urusan ini.
"gue baru ini ngerasa iri sama abang gue" Adam menjeda ucapannya membuat tiga orang diruangannya menoleh dan menunggu kelanjutan ucapannya.
"dia membuat Belen dalam bahaya dan untuk pertanggung jawabin itu dia bersedia nikah sama Belen, kenapa gue engga?" sesaat setelahnya Adam tersenyum seolah merasa lucu dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"lo ngga inget gimana Belen berkali-kali dalam bahaya? Mungkin Ibra mgga sanggup lihat lo ada diposisi dia saat istri lo ada dalam bahaya yang mengancam nyawanya" Louis memang cukup bijak, ia memang suka melihat suatu masalah dari dua sisi.