Alexavier Archie

Alexavier Archie
Sop Daging


__ADS_3

Siang ini seperti siang-siang pada umumnya Belen tengah mengantar makan siang untuk suami juga adik iparnya.


Langkahnya mantap menuju lantai dimana ruangan suaminya berada. Sesekali dia mengangguk dan tersenyum membalas sapaan para karyawan yang juga sering bertemu dengannya di toko kue miliknya.


tring


Pintu lift terbuka dia tersenyum saat berpapasan dengan Nana juga Jody yang hendak makan siang.


"ibu biar saya bantu" tawar Nana ingin meraih rantang makanan yang dia tahu pasti salah satunya untuk bosnya.


"tidak perlu Nana, kami akan makan sama-sama jadi nikmati jam makan siangmu" ucap Belen mengulas senyum yang tak ada habisnya diwajahnya.


...


Ceklek


Adam masuk keruangan abangnya sesaat setelah Belen menyiapkan makan siang beserta alat makannya. Tak lupa Raka juga Louis mengekor dibelakangnya.


"abang lihatlah muka kusam adikmu" goda Belen pada adik iparnya.


"hei bukan hanya dia, aku juga amat tersiksa hari ini mengurus dua orang sekaligus!" keluh Raka.


"engga iklas banget sih lo!" protes Adam yang mulutnya penuh dengan makanan.


Raka mendengus dan kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. Belen kembali meladeni suaminya menyiapkan air minum dan puding buah yang ia bawa.


"abang setelah ini boleh aku mengunjungi Amanda? dia kan tinggal sendiri pasti sekarang dia kesepian, sekalian aku mau mastiin kondisinya biar adik iparku tidak terlalu banyak pikiran"


Ibra terlihat sedikit berfikir, Adam menunjukan raut muka berharap karena dia memang khawatir karena Amanda belum juga membalas chatnya dari setelah ia mengantar pulang ke apartemennya.


"boleh, tapi ada syaratnya" Ibra berucap setelah meyelesaikan makannya.


Wanita dengan atasan kemeja oversisze warna putih itu mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Sementara tiga laki-laki disisi lain meja yang sedang mereka gunakan untuk makan siang sama mengerutkan kening saat seorang yang dulunya dikenal dingin sedingin bongkahan es itu mendekatkan wajahnya pada istrinya. Ia terihat seperti membisikan sesuatu ke telinga Belen.


"Nanti malam kita pergi ya?" bisik Ibra yang hanya bisa didengar Belen tentunya.


Belen hanya tersenyum dengan wajah memerah dan mengangguk.


"aduuuhhhh repot banget sih jomblo ketemu beginian!" seru Raka mengusap kasar wajahnya.


Sementara Louis dan Adam hanya menggeleng.


"oya aku hampir lupa, Max meminta bertemu nanti malam" ucap Louis tanpa dosa dan meneguk minumannya namun aktifitasnya terhenti saat melihat raut wajah garang Ibra yang mengarah ke arahnya.


...


Mobil putih yang ditumpangi Belen memasuki pelataran apartemen yang cukup terkenal didaerah itu. Dengan beberapa bawaan ditangan kanan kirinya dia menuju lantai dimana apartemen Amanda berada.


Beberapa kali bel ditekannya hingga sosok Amanda membukakan pintu tempatnya tinggal.


"Belen?!" Amanda terkejut melihat siapa yang ada dibalik pintu.


Tentu saja Amanda mempersilahkan Belen masuk, dia tentu tahu Belen datang dengan niat yang baik. Amanda sudah meminta Belen duduk disebuah sofa berwarna abu muda, sedangkan dirinya duduk disampingnya.


Sebagai tamu yang baik Belen menyerahkan dahulu apa yang dia bawakan untuk tuan rumah, oh tunggu bukan, dia hanya membawakan beberapa kue juga puding selebihnya sekantong lagi yang berisi susu, sereal juga ada beberapa bungkus coklat titipan dari Adam.


"banyak sekali yang kau bawakan, terimkasih ini pasti merepotkanmu" sahut Amanda setelah menerima pemberian Belen.


"Bukan masalah Amanda, bagaimana keadaanmu?"


"aku sudah baik-baik saja, aku juga sudah tidak lagi pusing, hanya sedikit lemas mungkin efek obat aku jadi ingin tidur terus" jawab Amanda antusias. Selama ini dia tidak pernah memiliki teman dekat apalagi perempuan, hanya kakaknya saja.


"syukurlah, aku cukup khawatir saat Ibra menceritakan kejadian itu padaku tadi pagi, tapi Cassandra pasti lebih khawatir, seorang kakak pasti akan selalu mengkhawatirkan adiknya bukan? apalagi kau adalah keluarganya satu-satunya"


"iya kau benar, kakak sudah menelponku beberapa kali hanya untuk tahu keadaanku, oh maaf Belen aku hampir lupa kau mau minum sesuatu?" tawar Amanda mengingat ada hal yang dilupakan saat menerima tamu.

__ADS_1


"aku akan mencarinya sendiri jika aku mau Amanda, jangan sungkan. Kau juga tidak perlu sungkan bila ingin meminta tolong padaku, hidup sendirian itu tidak menyenangkan bukan? tapi kau masih beruntung memiliki Cassandra" Belen mengulas sedikit senyum diwajah cantiknya.


"aku tidak tahu dunia memiliki cerita seperti apa kenapa aku bisa dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki nasib sama sepertiku, sebelumnya aku dipertemukan dengan Ibra juga Adam, sekarang kau dan Cassandra, kita sama-sama hidup tanpa kasih sayang orang tua" Belen memberi sentuhan hangat dipundak Amanda, Amandapun memberi respon dengan menangkup tangan Belen yang lain.


"Tapi sekarang kau memiliki Ibra juga anak kalian kan Divya?"


Untuk ini Belen hanya mengangguk dan tersenyum.


"nah apa kau sudah makan siang?" melihat Amanda hanya menggelengkan kepalanya Belen beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur setelah bertanya pada Amanda.


"apa yang akan kau lakukan Belen?" tanya Amanda kebingungan melihat Belen memakai celemek.


"ada seorang yang berpesan padaku untuk memastikan bahwa gadis bernama Amanda sudah makan siang dan meminum obatnya. Jadi aku sendiri yang akan memasak untuk gadis itu agar seseorang itu lebih tenang" Belen menenteng satu kantong belanja yang ditaruhnya tadi, dia mengambil potongan daging dan sayuran serta bumbu-bumbu yang ia beli tadi, benar saja diapartemen ini tidak tersedia bahan masakan.


Amanda hendak mendekat dan membantu Belen namun Belen membawanya duduk dibelakang meja makan dan memberi isyarat untuk tetap diam ditempat.


Dengan cekatan Belen memasak sop daging andalannya. Dia hanya merasa percaya diri memasak ini.


tak lebih satu jam sop daging beraroma nikmat itu tersaji dimeja makan. Amanda mengembangkan senyum melihat Belen amat perhatian kepadanya hingga menyiapkan alat makan dan menuangkan air putih untuknya.


"astaga ini enak sekali!" Amanda memberi dua acungan jempol untuk Belen dan kembali melahap semangkuk sop dihadapnnya.


"jangan memujiku begitu, asal kau tau aku hanya mampu memasak itu saja" Mendengar itu Amanda juga Belen tertawa riang bersama.


...


Usai memastikan Amanda meminum obatnya Belen meminta ijin untuk pulang karena jam dipergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 15.35.


"beristirahatlah, sisa sopnya ada dipanci kau tinggal menghangatkannya untuk makan malam" pamit Belen sebelum melangkah keluar.


"terimakasih banyak Belen" Amanda terus mengembangkan senyum ya ia seakan memiliki sosok kakak yang amat ia rindukan. Bukannya tak suka dengan Cassandra Amanda hanya merasa beberapa tahun terakhir Cassandra lebih mementingkan opsesi yang ada dihidupnya, meskipun begitu Cassandra tetaplah sosok kakak yang baik untuk Amanda.


"ah hampir aku lupa, tolong balas chat dari adik iparku ya" imbuh Belen sebelum menghilang dari balik pintu bertuliskan nomor 125 tersebut.

__ADS_1


Aku tidak tahu apa yang aku rasakan, yang jelas aku sedikit bingung dengan apa yang aku rasa. Aku yang tak pernah menerima kebaikan orang lain selain dari kakakku sendiri kini menerima banyak kebaikan juga kehangatan saat mengenal keluarga Ankawijaya. Mereka bahkan membuatku nyaman terutama sifat ramah Belen, dia sosok wanita sempurna pantas saja "dia" sangat mengejar-ngejar Belen. Dia sosok sederhana, memiliki banyak warna juga sangat menghangatkan suasana seperti sop daging yang dibuatnya tadi.


Tapi juga ada rasa sesak saat menyadari tujuanku semula mendekati keluarga ini, tapi apa dengan kebaikan mereka semua aku bisa menjerumuskan mereka kedalam malapetaka?


__ADS_2