
Sore mulai menjelang, matahari mulai condong dan tergantikan bulan. Bergantian namun pasti gedung-gedung tinggi mulai memamerkan kilauan lampu-lampunya. Polisi lalu lintas sibuk mengatur persimpang jalan yang dipadati oleh kendaraan.
Ibra memacu mobilnya menuju supermarket dekat perumahan tempat tinggalnya. Terlihat dari area parkir yang sulit dicari menandakan bahwa supermarket dengan logo singa berdiri itu sedang dipadati pembeli.
Memasuki area supermarket ia mengambil satu buah troli mengekor mengikuti langkah Belen yang berjalan tepat didepan troli yang ia dorong. Siang tadi Ibra sudah berjanji untuk membawa Belen berbelanja susu hamil, bahan sayur, buah-buahan dan berbagai bahan dapur lainnya terlebih kebutuhan ibu hamil.
"abang bagus mana ya?" dua tangan Belen terlihat menenteng 2 kardus susu hamil, dia seolah sedamg membandingan isi dari keduanya.
Ibra mendekat meraih dua kardus susu tersebut melihatnya sekilas kemudian memasukan keduanya kedalam troli.
"Ambil saja semua nanti sampai rumah aku akan menelpon dokter kandunganmu untuk bertanya" jawabnya enteng.
Dua kardus susu, ah bukan hampir semua merk susu hamil yang ada di rak dimasukan semua oleh Ibra, Belen sudah melarangnya namun suaminya kekeh dengan pilihannya. Setelahnya sayur dan bahan makanan kemudian buah-buahan. Satu troli penuh Ibra dorong menuju kasir dengan antrian cukup panjang.
Ia baru beberapa kali ikut Belen belanja seperti ini, ia berdecak memandang panjangnya antrian didepannya, kemudian matanya terarah pada Belen yang berdiri tepat disampingnya. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian terhenti di didin dengan beberapa foto manajer dan pegawai yang bertanggung jawan di shift itu.
Ia melangkah menuju seorang security yang sedang membantu seorang pembeli menata kembali troli yang baru dipakao belanja. Belen hanya mengamati kemana suaminya akan pergi.
"ada yang bisa saya bantu pak?" tanya security ramah saat Ibra mendekat kearahnya.
"maaf tapi aku mau bertemu dengan manajer disini" kalimat yang Ibra ucapkan sontak membuat petugas security itu kaget.
"apa ada masalah pak?" tanyanya lagi dengan senyum mengembang.
Mendapat desakan dari Ibra security itu pun mengalah dan melangkah menuju ruang kantor. Belen mulai merasa aneh dengan pembicaraan antara Ibra dan security itu. Tak lama setelah security pergi Ibra pun kembali memghampiri Belen yang masih mengantri dibelakang trolinya.
"permisi pak, saya manajer disini, apa ada yang bisa saya bantu?" seorang wanita sekitar 40tahun dengan pakaian rapi menghampiri mereka.
__ADS_1
Belen memgarahkan mata tajamnya pada Ibra yang terlihat santai dengan raut dinginnya itu.
"di supermarket sebesar dan seramai ini sering terjadi antrian panjang ya?" tanya Ibra pada wanita dengan kemeja putih dan blazer hitam didepannya.
"iya pak, maaf bila menggangu kegiatan belanja anda, karena dij seperti ini memang sedang ramai-ramainya" senyum manajer itu masih mengembang menjawab pertanyaan salah satu customernya itu.
"apa kalian pihak manajer tidak berfikir memberi bangku tunggu untuk ibu hamil atau lansia? apa kalian mau bertanggung jawab bila sesuatu terjadi pada wanita hamil atau lansia yang terlalu lama mengantri?"
"bang abang kenapa sih?" protes Belen sedikit berbisik san tersenyum kikuk pada manajer yang ada didepannya.
"diam sayang, mereka harus tahu kebutuhan customer, apalagi untuk wanita hamil sepetimu kamu bisa kelelahan bersiri dan itu berbahaya untuk anak kita" jawab Ibra dengan tatapan tajam pada Belen.
Kejadian ini tentunya mencuri banyak perhatian pada pembeli juga karyawan supermarket. Baru ini ada orang mengeluh mengenai bangku tunggu untuk mengantri dikasir. Dan lelaki itu terlihat dingin dan cuek namun ia begitu perhatian kepada istrinya.
Setelah kejadian yang menghebohkan supermarket itu akhirnya Belen dan Ibra sampai juga dirumah. Belen samgat malu dan marah secara bersamaan, bagaimana bisa suaminya berkata dengan kencangmya akan membeli supermarket tersebut kemudian meruntuhkannya bila tidak segera disediakan kursi untuk Belen duduk dan menunggu antrian. Gila. Hanya itu yang ada dibenak Belen.
...
"mamy adek bayi masih lama ya keluarnya?" gadis kecil itu terus bertanya seberapa besar adiknya sekarang.
"iyaa sayang adek bayi sekarang itu masih kecil sekali, Divya harus sabar ya nunggu adek bayinya, terus harus belajar biar jadi kakak yang pintar" jawab Belen yang sedang menyisir rambut Divya dan memangkunya.
ceklek
Pintu kamar yang terbuka membuat perhatian ibu dan anak itu teralihkan, siapa lagi jika bukan Ibra yang muncul dari balik pintu.
"hei sayang kamu mgga boleh minta pangku apalagi minta gendong mamy ya?" Ibra meraih tubuh Divya untuk sipindah ke pangkuannya.
__ADS_1
"memang kenapa dady? mamy engga papa kan?" adu gadis kecil berbalut piyama bergambar tedybear itu.
Belen mengangguk dengan senyum diwajahnya dan tangannya terulur mengusap rambut panjang Divya.
"engga papa sayang, mau mamy pangku lagi?"
"mam! no! Divya sayang diperut mamy kan ada adek bayi, kalo Divya minta pangku nanti adek bayinya kehimpit sakit hlo, apalagi kalo gendong adek bayinya tambah kehimpit kasian ya" jelas Ibra pada gadis kecil dipangkuannya.
"itu berlebihan bang, kalau cuman pangku emgga masalah kan?" protes Belen.
"engga boleh ya engga boleh, aku engga mau anak kita dalam bahaya, dan aku engga mau kamu kelelahan" balas Ibra yang lagi-lagi dengan soror mata yang tajam.
...
Belen heran dengan sikap posesif berlebihan yang Ibra berikan padanya. Ia kesal dan memilih tidur lebih dahulu. Saat ini Ibra sedang memangku laptopnya dan bersandar di punggung kasur, ia melirik kearah istrinya yang memunggungi dirinya. Senyum tercetak diwajahnya ia kembali teringat saat dokter mengatakan bahwa Belen hamil. Ia memilih menutup laptopnya kemudian berbaring sisamping istrinya membawa tangamnya melingkar pada tubuh kecil itu dan mendaratkan telapak tangannya pada perut rata Belen.
"sayang kalau dia lahir laki-laki ataupun perempuan dia pasti akan memiliki wajar rupawan karena mamynya pun begitu cantik. Tapi yang jelas aku sangat berharap dia bisa menjadi sosok yang kuat dan pantang menyerah" tangan Ibra mengusap pelan perut itu, ia tahu bahwa istrinya pun belum tertidur.
"bagaimana dia bisa menjadi sosok yang kuat dan pantang menyerah kalo dadynya begitu memanjakannya bahkan semenjak didalam kandungan" keluh Belen mengingat kejadian hari ini sedari pagi hingga sore ini Ibra mendadak menjadi sosok yang amat sangat posesif.
"aku tidak memanjakannya aku hanya menjaganya, karena aku tidak akan membiarkannya dalam masalah, apapun akan aku lakukan untuk menjaganya, menjagamu dan keluarga kita" Ibra membalikan tubuh isteinya dan mengecup keningnya dengan kecupan hangat.
Sialnya kecupan dikening itu turu menuju bibir ranum Belen, dan tangan yang tadi mengusap perut datar Belen beralih menelusup masuk kedalam piyama yang Belen kenakan. Sebuah ciuman panas pun terjadi saat Belen tak bisa mengontrol lenguhan yang keluar dari mulutnya, dan membuat Ibra semakin memperdalam ciuamannya.
"kata dokter aku tetap bisa mengunjunginya kan? aku mau mengucapkan selamat datang padanya" suara serak Ibra menusuk telinga Belen.
Ibra dengan hati-hati melu uti semua pakaian yang Belen kenakan hingga tak tersisa sehelai benang, ia pun melakukan hal yang sama pada tubuhnya. Ia menumpangkan dirinya diatas Belen dengan dua siku yang menahan badannya agar ia tak mengenai perut istrinya.
__ADS_1
Berawal dari kening, turun ke hidung dan mengecup bibir yang amat manis itu. Tangan Ibra mulai bergrilya kesana kemari menyentuh apa yang ia ingin sentuh dan kembali mencium apa yang ia ingin cium hal yang tidak bisa ditolak Belen, hal yang membuatnya terlena, hingga acara menjenguk calon darah dagingnya itu terjadi.