Alexavier Archie

Alexavier Archie
Sekali ini Menolak


__ADS_3

Ada rasa keraguan saat langkah Adam mendekat dimeja paling ujung dekat dengan pembatas. Namun rasa lega pun muncul saat melihat Amanda tengah duduk bersama Nana dan terlihat sedang menukmati makan siang mereka. Nana yang menyadari kehadiran bosnya sedikit kaget dan spontan berdiri membenarkan pakaiannya juga mengusap mulutnya. Amanda pun terkejut dengan sikap Nana yang seperti itu hingga akhirnya ia menoleh dan mendapati sosok Adam berdiri dibelakangnya.


Amanda ikut turun dari bangku yang ia gunakan untuk duduk, wajahnya tertunduk ia tahu jelas kali ini mereka sedang menjadi tontonan para karyawan lain meski tidak secara terang-terangan. Para karyawan itu memsang telinga kuat-kuat untuk mendengar percakapan antara bos dan asisten pribadinya itu dimana mereka sudah di gunjingkan memiliki hubungan khusus.


Adam kini bingung dihadapan banyak karyawannya tidak mungkin ia mengatakan secara terang-terangan bahwa ia mengkhawatirkan wanita dihadapannya. Karena ia harus menjunjung tinggi profesionalitas, agar karyawan lain tidak mencontohnya.


"Nana, Amanda saya butuh kalian diruangan saya sekarang ada hal mendesak dan ini teguran karena kalian pergi tanpa membawa ponsel kalian dan membuat saya repot-repot mencari kalian kemari" setelah mengucapkan itu Adam pun berbalik dan menuju lift dengan di ikuti Amanda dan Nana dibelakangnya dengan tatapan yang sama cengo nya.


"sst apaan nih?" tanya Nana berbisik pada rekan kerjanya.


"engga tau ih, bos lo marah" jawab Amanda yang ikut berbisik pula.


...


Adam yang tengah duduk di kursi kebesarannya itu sedang memikirkan alasan kali ini. Apa yang akan ia katakan agar Amanda tetap berada diruangannya.


tok tok tok


ceklek


"permisi pak" ucap Nana masuk keruangan bosnya.


Adam tidak menjawab ia hanya menggunakan tangan kanannya menujuk dua kursi dihadapannya mempersilahkan dua karyawannya duduk. Seperti yang ia katakan tadi Adam menjelaskan sebuah kondisi yang tidak terlalu rumit bahkan sudah diketahui dua karyawannya itu. Nana dan Amanda hanya mengangguk saja mendengar keterangan dan penjelasan dari bosnya.


"sudah itu saja, Nana kamu boleh keluar"

__ADS_1


"baik pak terimakasih" jawab Nana kemudian meninggalkan ruangan bosnya.


"tetap disini Amanda" tangan Adam meraih tangan Amanda yang ada diatas mejanya saat Amanda hendak bangkit dari tempat duduknya.


"aku sudah lihat dan dengar apa yang terjadi sama kamu pagi ini, kakakmu kan?" sontak Amanda menoleh cepat pada Adam yang tengah mengarah pada dirinya.


"kamu mau menemuinya? ayo biar aku antar ahar semua ini lekas selesai, tapi kumohon jangan diamkan aku seperti ini Amanda" kini Adam berjongkok tepat didepan Amanda, Amanda pun hanya mampu membuang muka karena wajahnya yang kini mulai merona.


"aku tidak mau membahayakanmu, mereka mengincarmu Adam, dan dengan aku disini mereka semakin marah" jawab Amanda datar tanpa ekspresi.


"biar aku menyelesaikan urusanku dengan mereka, dan kamu jagalah diri baik-baik. Jadilah Kenrich Archie yang kuat dan tak terkalahkan sama sepeti sebelum aku datang kemari." meski mengatakan itu dengan raut datar jelas terlihat mata Amanda mulai berkaca-kaca.


"engga! aku engga akan biarin itu Amanda. Disaat semua orang udah percaya sama kamu, kamu mau pergi hah? baru pagi tadi aku membayangkan hidup sama kamu sekarang kamu mau pergi? kamu pikir perasaan aku terbuat dari apa Amanda!" Adam mengacak kasar rambutnya ia benar-benar kalah mengatasi rasa egois dari seorang perempuan.


ceklek


"Amanda aku berdiri disini sebagai Alexavier Archie. Aku sudah membulatkan tekad untuk mulai menyerang menghadapi musuhku kali ini, jadi segera tentukan posisimu sekarang" Adam langsung mengangkat kepalanya, menjatuhkan tatapan tak percaya pada kakaknya yang mengatakan hal serupa tanpa persetujuan darinya.


"abang! abang ini apa-apaan hah!" suaranya seprri tertahan tangannya mengepal hingga urat tangannya terlihat jelas.


"Kenrich Archie jangan lupakan jati dirimu dan tugasmu dalam Galaxy." Alaexavier atau Ibrahim sedang mengingatkan kembali adiknya mengenai posisinya.


"apapun yang terjadi aku akan membawa Amanda pergi bang! dia tidak boleh kembali pada kakak-kakaknya!" kini matanya tajam menatap wajah Amanda yang sudah dibasahi oleh air mata.


"Alexavier benar, aku hanya akan menjadi beban bila terus didekat kalian, aku ini adalah sebuah kelemahan" jawab Amanda dengan bibir bergetar.

__ADS_1


"dan aku akan menjadikanmu kekuatanku" Adam meatih tangan Amanda cepat, melangkah melewati abangnya yang berdiri tegak dengan dua tangan ada disaku celananya.


"maaf bang, biarkan sekali ini aku menolak perintahmu" ucap Adam sebeum meninggalkan ruangannya.


Tangannya terus menarik Amanda hingga menuju mobilnya. Memaksa wanita itu masuk kedalam dan mulai memacu mobilnya dengan kencang entah kemana. Eratan tangan di stir jelas terlihat bahwa lelaki itu tengah menahan emosinya, sedang Amanda yang baru menyaksikan hal tersebut pun merasa takut dalam hatinya.


Mobil ia hentikan disebuah tepian danau yang amat rimbun dengan pepohonan setelah hampir satu jam melaju dijalanan secara ugal-ugalan. Danau buatan yang cukup luas, ada beberapa rumah mirip villa disamping sisi kirinya. Amanda terlihat melepas nafasnya dalam setelah perjalanan yang hampir membuatnya gila itu.


"ayo kita turun" ucap Adam dengan nada lembut seperti biasanya.


Amanda yang sedang menata nafasnya hanya mengangguk dan turun dari mobil mengikuti Adam yang sudah berada diluar, menyandarkan tubuhnya didepan kap mobil yang terasa sedikit panas. Saat Amanda mendekat Adam langsung mengulurkan tangannya, untungnya Amanda membalas uluran itu. Adam tersenyum dan melangkah menuju salah satu villa.


Amanda sedikit mengerutkan keningnya mengetahui Adam punya kunci untuk membuka villa tersebut. Sebenarnya begitu memasuki area yang banyak pepohonanya ini Adam melakukan panggilan dengan seseorang dan ia hanya berkata siapkan tempat dan begitu sampai disini Amanda tahu tujuan Adam menelpon tadi.


Villa yang tak luas hanya ada satu kamar tidur, toilet dan kamar mandi, juga dapur yang tak terlalu besar dan ruang tamu dengan sebuah televisi. Namun sangat terasa nyaman dan hangat karena material kayu yang digunakan dibangunan ini juga pemandangan luar yang menakjubkan.


"duduklah Amanda aku akan buatkan teh hangat" Adam melepas jasnya, menggulung lengan kemejanya hingga kesiku sambil berjalan menuju dapur.


"bagaimana kamu-" tanya Amanda saat Adam melangkah mendekat padanya.


"punya kuncinya?" sambung Adam memutus kalimat Amanda.


"ini hadiah kakek untukku, semua villa dan danau ini milikku. Sesekali memang disewakan lumayan untuk tambahan" jawab Adam di iringi kekehan dan meletakan secangkir teh hangat dimeja kayu.


"Amanda, maaf soal tadi aku benar-benar tersulut emosi, aku hanya ingin kamu selalu didekatku, aku nggak mau kamu masuk kedalam bahaya dan kembali pada kakak kakakmu" Adam mulai pembicaraan mereka yang tertunda tadi.

__ADS_1


Amanda mengambil teh nya, menghirup aroma menenangkan itu, meneguknya sekali dan meletakannya kembali lalu mengarahkan wajahnya pada lelaki disampingnya.


__ADS_2