Alexavier Archie

Alexavier Archie
Murka Alexavier


__ADS_3

"makan lagi ya, kau harus cepat sembuh Divya dan Oma menunggumu dirumah" Setelah Belen sadar dan tak ada yang perlu dikhawatirkan, Ibra dengan telaten menyuapi Belen sesuap demi sesuap.


"abang, cukup aku kenyang" suara Belen masih terdengar lemas.


"baiklah tapi nanti harus makan lagi ya, sekarang minum dulu obatnya" Ibra meletakan piring dan mengambil 3 butir obat juga air mineral untuk Belen minum.


"gadis pintar, bagaimana dudukmu sudah nyaman?" Benar-benar rasa bersalah menghinggapi Ibra hingga dia terus memperhatian Belen sedari tadi.


"sudah abang, aku sudah baik, abang belum makan kan? sekarang abang makan ya" Belen melihat kotak makanan yang dibeli Adam belum disentuhnya.


Menuruti permintaan Belen Ibra pun melahap kotak nasi berisi ayam rempah itu. Adam bergantian duduk disebelah ranjang Belen sedikit menanyakan keadaannya.


Ibra yang sudah selesai makan mendekat kearah Adam juga Belen, dia meminta Adam untuk menemani Belen dan meminta ijin pada Belen untuk keluar sebentar. Belen pun mengangguk meski hatinya terasa berat masih ingin diperhatikan suaminya. Tapi Belen kembali tersadar untuk tak boleh egois.


Ibra ditemani Raka juga Dominic menuju markas utama. Diluar ruangan Belen berjaga 4 orang anggota Raka, dan beberapa lainnya berpencar diarea rumahsakit.


...


bugh!


Dengan tangan kosong Ibra menghujani wajah pelaku penusukan itu dengan tinjunya. Setelah dibawa kemarkas utama kondisi pelaku itu memang sudah memar disana-sini karena pukulan oleh anggota Dominic yang menagkapnya.


"kau tidak mau bicara bukan? tanpa kau biacarapun aku sudah tau siapa yang menyuruhmu!" bugh! Ibra kembali menghajar pelaku yang tak mau membuka mulutnya itu.


"dan ini karna kau telah berani melukai istriku!" dor satu tembakan tepat dikepala pria itu.


...


"perintahkan semua anggota diseluruh markas menyerang seluruh wilayah Gerhana!" Ibra berteriak pada seluruh anggotanya.


"aku Alexavier Archie mulai detik ini akan membalas setiap penderitaan yang telah keluargaku alami!" suaranya menggelegar keseluruh ruangan.


Dengan tugas dan wilayah yang sudah dibagikan, ditengah malam itu mereka berbondong menuju markas juga wilayah kekuasaan Gerhana. Anggota Galaxy yang ribuan itu keluar dari markas mereka secara bersamaan menuju wilayah yang akan mereka serang.


Satu wilayah 200 hingga 250 anggota, dan markas utamanya dengan Alexavier memimpin 500 anggota. Malam ini sekitar 2000 anggota Galaxy keluar dari sarangnya dengan dada penuh menahan amarah yang telah lama dipendam.


duar duar


Beberapa anggota yang ikut Alexavier melempar geranat sebagai salam kedatangan mereka.

__ADS_1


"kita diserang!" para anggota Gerhana yang sedang berjaga berteriak.


dor dor dor


dor dor dor


suara tembakan saling bersahutan dari Galaxy juga dari Gerhana yang terkejut dengan serangan itu.


"argh"


"argh"


Jerit kesakitan terkena peluru pun ikut terdengar dari dua belah pihak. Alexavier dengan langkah pasti ya menuju sebuah bangunan tempat Rio bersembunyi.


dor dor dor


Didalam masih penuh dengan anggota Gerhana, dengan cepat Alexavier menghindar dan melepas pelurunya sehingga tepat mengenai dada para musuh. Sekitar sepuluh musuh habis olehnya sendiri, dan puluhan lagi peluru berhasil dihindarinya.


brak!


Dia masuk kedalan ruangan yang sudah gelap kondisinya, menggunakan instingnya untuk menembak ke sebuah arah.


dor!


Benar saja seorang bersembunyi diujung ruangan dibalik meja kayu.


Dengan cepat Alexavier menarik tubuh yang perutnya sudah berlumur darah itu keluar.


Bruk!


"apa kau tak cukup membunuh papaku Alexavier?" ujar Rio menahan sakit pada bagian perutnya.


"kau bahkan lebih pengecut dari papa mu! tapi sepertinya kau lebih licik darinya. Apa kau sadar siapa yang sudah kau lukai?" dengan senjata api Alexavier tertodong dikepala Rio.


"bukankah dia hanya salah satu wanita yang berhasil menggodamu Alexavier?" jawab Rio dengan senyum smriknya.


dor!


"dasar baj*ingan" seru Alexavier melepaskan tembakan tepat dikepala Rio.

__ADS_1


Ditempat lain anggota Galaxy yang dipimpin Raka, Dominic dan Ivan menyerang tiga wilayah milik Gerhana. Dengan pasukan yang amat banyak dengan mudah pula Galaxy menghabisi semua anggota Gerhana dan mengambil alih wilayahnya.


Tak banyak anggota Galaxy yang terluka saat menyerang wilayah Gerhana dan segera dilarikan ke markas utama. Sementata anggota dibawah pimpinan Alexavier yang menyerang markas ada beberapa yang harus kehilangan nyawa dan beberapa terluka parah juga dilarikan ke markas utama.


Sebelum penyerangan Alexavier sudah memerintah dokter disana untuk menyiapkan tenaga lebih dan ruangan-ruangan darurat. Ia sangat peduli dengan anggotanya karena mereka sudah dianggap saudara olehnya.


...


"Adam dimana abang malam-malam begini?" ucap Belen yang belum bisa menutup matanyanya dengan tenang dan jam menunjukan pukul 3pagi.


"tenang Belen abang sedang mengurus markas utama, tidurlah tak perlu khawatir" jawab Adam yang duduk disofa. Sebenarnya dia tahu apa yang terjadi disana.


Abangnya teramat murka dengan dua kali Belen dicelakai. Dan menyerang malam ini juga, dia juga tahu abangnya khawatir pada Belen dan hanya percaya pada dirinya jadi meminta Adam untuk tetap bersama Belen.


Padahal dilubuk hati Adam dia sudah mengininkan peperangan besar untuk ditahklukannya. Tapi keselamatan kakak iparnya kini lebih penting. Dia juga terus memantau anggota yang bertugas menjaga rumahnya memastikan kondisi Oma juga Divya baik saja.


Pagi buta Ibra kembali kerumah sakit setelah membersihkan dirinya di markas utama. Dilihatnya Belen duduk bersandar diranjangnya dengan pandangan kosong, sedang Adam baru saja terbangun karena mendengar suara pintu yang terbuka.


"sudah bangun?" Ibra mendekat ke ranjang Belen, duduk disampingnya dan menggenggam tangan Belen dengan tangan kiri Belen terpasang infus.


Belen hanya mengangguk pelan dan memeluk Ibra.


"Dia tidak tidur semalaman abang, dia mencarimu" ucap Adam membenarkan posisi tidurnya.


"kenapa Belen? apa masih sakit?" Ibra khawatir mendengarnya juga terlihat mata Belen terllihat memerah.


"tidak, aku hanya khawatir abang terluka" jawab Belen masih memeluk Ibra.


"tak ada yang bisa melukaiku kau tahu itu. Sekarang tidurlah, aku akan disampingmu" Ibra menyetel ranjang Belen lebih landai keposisi tidur, Ibra pun meletakan kepalanya disamping tubuh Belen dengan tangan terus menggenggam.


Tentu Ibra pun tidak tidur semalaman, tenaganya habis terkuras seharian menunggui Belen sadar dan malam tadi dia bertempur habis-habisan melenyapkan musuhnya demi hidup istrinya kembali damai dan tenang.


Tak butuh waltu lama mereka berdua terlelap dengan perasaan lebih lega.


...


Dilain tempat Divya membuat seluruh penghuni rumah kebingungan. Dia meminta untuk menemui mamynya dirumahsakit. Ya tidak ada pilihan lain selain memberitahu anak kecil itu apa yang sebenarnya terjadi.


"Dady mu tak memperbolehkan kita kesana Divya, mamy mu baik-baik saja kita tunggu mereka pulang ya, tadi kau dengar kan kata Om Adam nanti sore mereka akan pulang" berkali-kali Oma membujuk Divya agar tak terus memaksanya mengantar kerumah sakit.

__ADS_1


"tapi Yaya mau ketemu mamy" ucap Divya sedih.


__ADS_2