
Jam berganti sangat cepat, Ibra juga Adam sama berpikirnya apa yang akan mereka katakan pada Oma juga Divya. Ini sudah jam 5 Belen seharusnya sudah dirumah. Toko kue Mataharipun diperintahkan Ibra untuk tidak beroprasi dahulu hingga Belen ditemukan.
"abang lebih baik kita pulang terlebih dulu, Oma dan Divya akan lebih khawatir nanti" Adam tak ada ide lain selain itu.
"kau pulanglah lebih dulu, katakan saja aku dan Belen ingin makan malam bersama. Oma pasti akan maklum" jawab Ibra yang berdiri melihat keluar jendela.
Adam hanya mengangguk, itu terdengar lebih logis, mereka pengantin baru tentulah ingin berdua saja.
...
Adam yang masuk kehalaman rumah melihat Divya sedang duduk diteras.
"halo nona kecil nungguin om ya?" sapa Adam mencubit pipi gembil keponakannya.
"om Adam pulang sendiri? dady mana? Yaya lagi nungguin mamy" sahut Divya dengan bibir mirip bebek.
Adam menggendong Divya dan membawanya masuk.
"mamy sama dady lagi apa perlu, Yaya mau adek bayi kan? nah mamy sama dady lagi pesen adek bayi buat Yaya" Adam sebenarnya sudah merangkai jawaban sepanjang perjalanan pulang.
"kemana mereka Adam?" suara Oma membuat Adam membelokan langkahnya menuju ruang makan.
"biasalah Oma pengantin baru. Tau tuh mendadak aja mereka berdua, udah ngebet kali" canda Adam agar Oma tak curiga.
"kamu ini, kaya tahu aja" balas Oma sibuk menata piring dimeja.
"Oma Yaya ngga diajak sih, kan Yaya bisa ikut milih adek bayinya" celetuk Divya yang membuat Omanya melotot dan Adam malah tertawa.
huft sampai sini aman, Oma tidak curiga.
Ibra menunggu dengan cemas dimarkasnya. Satu dia khawatir terjadi hal buruk pada Belen, kedua dia tak bisa bayangkan kemarahan Omanya jika tahu apa yang terjadi dan ketiga apa yang akan dia katakan pada Divya.
Louis terus bergelut dengan perangkatnya disebuah ruangan khusus IT di markas utama, Raka dan Ivan turut dalam pencarian. Dominic ditugaskan langsung menjaga kediaman Ankawijaya mengerahkan puluhan anak buahnya disana dan seratus lainnya bersiap menunggu perintah bila serangan terjadi.
Adampun tidak diperbolehkan keluar dari rumah oleh abangnya dia ditugaskan menjaga Oma juga Divya dari dalam rumah.
"ketua satu mobil kembali ditemukan menuju dermaga, tak jauh dari dermaga milik kita" lapor Louis pada ketuanya.
"aku yakin itu dia!" geram Alexavier mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"ketua dia naik kesebuah kapal! anggota kita terlambat sekian detik sebelum kapal meninggalkan dermaga!" kini Louis terdengar panik.
Alexavier mengeram menahan emosi. Dengan setengah berlari dia menuju lift di rusun untuk anggotanya yang terdiri 3gedung dengan 10lantai itu. Ia menekan tombol rooftop. Seorang pilot heli terlihat sudah siap ditempat setelah mendapat komando dari ketuanya.
Heli itu mulai mengudara menuju dermaga yang tadi dibicarakan Louis dan mencari kapal yang membawa Belen pergi. Ivan dan Raka yang mendengar hal tersebut memimpin masing-masing 100pasukannya menuju dermaga mereka dan menaiki dua kapal untuk menyusul.
Alexavier yang melihat kapal dengan mobil yang membawa Belen pergi berada diatasnya bersiap dipintu Heli untuk melepas tembakan.
dor dor dor
Belum dia melepas tembakan anggota musuh yang berada diatas kapal sudah menembakk heli yang dinaikinya.
Kondisi yang sudah malam membuat Alexavier sedikit kesulitan melihat arah peluru.
"ketua masuklah, biar anggota kita menyerang terlebih dahulu, mereka sudah sampai" seru pilot heli pada Alexavier.
Benar saja dua kapal barang berukuran tanggung milik Galaxy sudah mendekat dan mulai menyerang penembak yang ada dikapal musuh.
"pimpinan! mereka sudah tahu dan anggota yang mereka bawa sangat banyak!" seru salah satu anggota Gerhana melapor pada pimpinannya.
Pria yang dikenal sebagai Anthony ini pun tak menyangka rencanya dapat terbaca.
Alexavier pun turun dari heli dengan tangga yang bergelantung disana. Dia langsung menuju lambung kapal dimana Raka juga Ivan berlari.
Benar mereka menemukan Belen dalam kondisi terikat dan mulut disumpal. Baru mau mendekat Alexavier, Raka dan Ivan dikagetkan kemunculan Anthony dibelakang Belen dengan pistol tepat dipelipis Belen.
"luar biasa sangat luar biasa! apakah yang ada dibenakku ini nyata? Alexavier Archie atau bisa kupanggil tuan Ibrahim Ankawijaya siapa kau sebenarnya? apa hubunganmu dengan Ilyas Archie" Anthony berkata dengan nada yang bersahabat.
"anda cukup hebat tuan Anthony mengetahui siapa aku sebenarnya" Alexavier melepas slayernya.
"wah kau bahkan juga sudah tahu siapa aku? ini kejutan besar. Kau memang pemuda pintar Ibrahim." potong Anthony.
"mungkin kau asing dengan Ibrahim Ankawijaya, tapi bagaimana dengan Ibrahim Arsyanendra!" seru Alexavier tetap menodongkan senjatanya.
"ya sebenarnya aku juga sudah menerkanya, Ilyas punya tiga cucu dan aku baru membunuh satu, artinya masih ada dua dan kau salah satunya." Anthony masih sempat tertawa.
"argh!" suara pekikan Anthony membuat Alexavier, Raka dan Ivan terkejut.
Raka juga Ivan langsung berlari menuju tubuh Anthony yang terjatuh dengan bekas peluru menembus dagunya. Alexavier langsung menuju istrinya membuka sumpalan mulut dan membuka ikatanya.
__ADS_1
Begitu ikatan terbuka Belen langsung memeluk suaminya, meski dia gadis yang berani tetap saja dia merasa ketakutan karena lebih dari 6 jam dia disekap dan diikat.
"gadis pintar" ucap Alexavier sambil mengusap rambut istrinya yang terlihat berantakan.
"bagaimana bisa Lady?" tanya Raka.
"pria itu hanya sibuk berceloteh, dia tak mengetahui pergerakan tanganku saat mengambil senjata yang kusimpan disisi perutku" Belen menjelaskan dengan suara masih bergetar.
Alexavier merengkuh tubuh istrinya dan membawanya keluar dengan kapal yang hampir merapat ke dermaga Galaxy setelah kemudinya diambil alih.
Masih dalam pelukan suaminya Belen dibawa menuju mobil yang sudah terparkir di dermaga. Dan menuju markas utama.
...
"tak ada yang terluka tuan, Lady hanya butuh istirahat" ucap dokter setelah memeriksa tubuh Lady.
"terimakasih dokter" jawab Lady sebelum dokter itu meninggalkan kamar yang ditempati Lady.
Alexavier mendekatkan tubuhnya pada istrinya, dipeluknya sekali lagi.
"hei apa kau sangat khawatir?" tanya Lady dengan raut menyelidik.
"aku tak menemukan jawaban pada Oma juga Divya jika aku tak menemukanmu" jawab lelaki dengan ekspresi datar dihapannya.
"apa Oma dan Divya tahu apa yang terjadi? mereka akan khawatir" ia teringat gadis kecilnya juga Oma yang selalu mencemaskannya.
"tidak, aku mengatakan kita ada urusan berdua" balas Alexavier yang ikut berbaring didekat Lady.
"apa yang kau katakan dan membuat Oma percaya?" Lady masih terpikir bagaimana dia bisa membohongi Oma.
"Adam. Dia bilang kita sedang memesankan adik bayi untuk Divya." sedikit menoleh, didapatinya ekspresi istrinya yang berubah syok.
"a apa? kenapa itu? apa tidak ada alasan lain?" ujar Lady salah tingkah.
"Oma tak akan banyak tanya jika soal urusan itu, mungkin pergi berhari-hari pun tak masalah. Apa kau mau benar-benar memesan adik bayi untuk Divya?" dia memang amat senang menggoda istrinya akhir-akhir ini.
Lady dengan raut tegangnya menarik selimutnya dan menutupnya hingga sebatas leher. Dan tentu hal itu membuat suaminya tertawa penuh kemenangan.
Hampir dua minggu menikah, bahkan Belen pun masih malu-malu untuk berdekatan dengan Ibra. Sejauh ini mereka hanya tidur bersebelahan dan Belen hanya mencium Ibra dipagi hari saja itupun masih dengan menutup matanya. Dan Ibra malah sangat suka menggoda Belen dengan hal mengarah untuk menuntut haknya. Ibra tentu lelaki yang normal dengan selalu bersama Belen tentu ia amat tergoda untuk menyentuh bahkan mendapat lebih dari istrinya tapi dia tak mau memaksa bila Belen belum siap.
__ADS_1