
Rangkaian-rangkaian bunga berwarna putih menghiasi halaman rumah juga bagian dalam rumah keluarga Ankawijaya. Meja-meja tertutup kain putih dengan banyak hidangan diatasnya. Dimeja lain tersusun beberapa kue dari toko kue Matahari. Meja lainnya lain terdapat jus, softdrink juga salad yang menyegarkan.
Lampu menyala redup menambah suasana romantis dihalam belakang. Terlihat orang-orang dekat Ibrahim sudah ada disana. Raka, Louis, Ivan, Dominic ditemani Adam menemani sang pengantin pria yang terlihat santai dengan gelas minuman ditanganya.
Dihalaman luar anggota Galaxy tentu berjaga secara terlihat maupun bersembunyi, bersiap bila ada serangan datang. Meski identitas asli ketua mereka belum diketahui musuh tapi berjaga juga sangat perlu.
"Mamy!" seru Divya masuk ke kamar Belen dengan menggunakan gaun putih bak malaikat kecil.
"cantik sekali sayang" sambut Belen dengan kedatangan Divya.
"nah sudah selesai Nona" ujar penata makeup Belen, melihat pantulan wajah pengantinnya dari cermin.
Belen di temani Sella juga Oma dan Divya berjalan menuju halaman belakang.
Ibra sudah berdiri didepan meja tempat mereka akan mengikat janji. Tak hanya Ibra semua yang datang pun perpesona dengan sang pengantin wanita ditambah senyum manis yang ditebarnya disana. Sosok menggemaskan Divya pun berjalan didepan mamy nya dengan membawa buket mawar putih.
Saling berhadapan, Ibra mengulurkan tangannya untuk menyambut pengantinnya. Membantunya duduk di kursi putih dengan hiasan bunga dibelakangnya. Setelah beberapa konfirmasi data diri Ibra pun dengan lantang mengucap janji untuk sehidup semati dengan Belen.
Semua tamu terlebih Oma sangat bahagia atas terlaksanakannya pernikahan ini. Oma memeluk tubuh Divya dan meneteskan air mata bahagia.
Sorakan juga tepukan bahagia terdengar mengisi halaman luas itu saat dua pengantin saling berciuman.
"ingat kau bukan cuma basah tapi sudah tercebur dalam" bisik Ibra pada Istrinya yang baru sah beberapa menit lalu.
Belen mencoba untuk tidak emosi disaat itu, ia hanya mencubit kecil perut Ibra dan membuatnya sempat terlonjak kaget.
Belen juga Ibra pun menemui Oma juga Divya.
"selamat sayang" Oma mencium pipi kiri juga kanan Belen memeluknya erat dan mengusap halus punggungnya.
Selanjutnya dipeluknya cucu lelakinya yang terlihat amat tampan itu.
"Berbahagialah kalian" ucap Oma selanjutnya.
Divya kini dipeluk oleh mamy dan dadynya bersamaan, senang bukan main gadis kecil ini.
Adam dan para sahabatnya pun bergantian mengucap selamat.
"abang aku turut bahagia untukmu" ucap Adam memeluk abangnya.
"kakak ipar semoga kau diberi kesabaran hidup dengannya" kini Adam berganti memeluk Belen memeberi ucapan yang membuat abangnya berdehem.
__ADS_1
"aku tak menyangka kau akan menikah sobat" ucap Raka menepuk pundak Ibra.
"selamat untuk kalian" kini berganti Louis yang mengucap selamat menjabat tangan Belen setelah menjabat tangan Ibra.
"selamat untuk ketua dan juga Lady" ucap Ivan dan Dominic bersamaan.
Setelah kondisi yang dikira akan mengancam keluarganya Ibra dan Adam memutuskan memberi tahu Ivan juga Dominic siapa mereka dan keluarganya untuk membantu menjaga mereka. Jadi identitas Alexavier dan Kenric sudah dibuka untuk Galaxy.
...
Kamar dengan penuh hiasan bunga, harum dari lilin aroma terapi, juga taburan bunga berbentuk hati rapi menghias kamar Ibra yang amat luas dan mewah itu. Namun penghuninya masih sibuk sendiri dengan aktifitasnya.
Belen masih berada dikamar mandi sejak satu jam yang lalu. Ibra malah masih asik duduk diruang tengah bersama Adam, Louis dan Raka.
"pergi sana bang, ngga tau apa ada yang nungguin didalem" cetus Adam meminta Ibra pergi menuju kamarnya.
Mendapat dorongan berulang kali dari adiknya membuat Ibra kesal dan pergi menuju kamarnya.
ceklek
Dilihatnya Belen sedang menyisir rambutnya yang basah didepan cermin, melihatnya sekilas dari pantulan cermin dan berpaling kemudian.
Ibra pun masuk ke kamar mandinya tanpa menyapa Belen yang dilewatinya.
Mendengar pintu kamar mandi terbuka Belen mencoba memejamkan matanya, sekilas melirik kearah kamar mandi dengan Ibra yang keluar dari sana hanya dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk.
"dasar gadis aneh" gumam Ibra. "lihat saja akan ku kerjai"
Ibra berganti pakaiannya dan tidur disisi lain ranjang, ia sengaja mengikuti permainan Belen.
Pagi menjelang menyapa burung yang sudah asik berkicau. Belen yang kelelahanpun baru saja membuka matanya, namun ada yang aneh dia merasa susah bergerak.
"astaga aku sudah menaruh guling ditengah kenapa bisa dia sedekat ini, dan sejak kapan!" Belen mulai risau saat merasa tangan Ibra yang melingkar ditubuhnya semakin erat melingkar.
"mau kemana kamu" suara Ibra yang terdengar serak.
"a aku mau ke kamar mandi, ini sudah siang" jawab Belen gugup.
"jangan bergerak atau akan kutagih sesuatu yang harusnya kudapat tadi malam" ucap Ibra sengaja membuat Belen ketakutan.
Belen hanya mematung, detak jantungnya terasa seperti baru sana mengikuti maraton.
__ADS_1
"aku perlu ke kamar mandi, kumohon lepaskan" ucap Belen perlahan.
"akan ku lepas tapi ada syaratnya" balas Ibra masih dengan mata tertutup.
"tolonglah aku mau ke buang air kecil" Belen kembali memohon.
"hadap kemari" ucap Ibra selanjutnya.
"cepat atau aku yang akan membuatmu menyesal" imbuhnya karena Belen tak kunjung berbalik.
Dengan perasaan khawatir Belen yang masih dipelukan Ibra membalikan tubuhnya perlahan. Kini kepalanya berada di ceruk leher suaminya.
deg
Belen menutup rapat matanya mengetahui Ibra tak menggunakan bajunya.
"sudah, sekarang singkirkan tanganmu" protes Belen yang belum juga terbebas dari eratan tangan Ibra.
"aku selalu bermimpi bila punya istri aku mau setiap pagi mendapat ciuman darinya, meski kamu bukan wanita yang kupilih, tapi kini kamu istriku jadi lakukanlah itu" jawab Ibra.
Belen melotot mendengar perkataan Ibra, tak ada yang salah sebenarnya, dia suaminya bukan. Belen tak tahan lagi untuk buang air kecil dan masih terjebak dalam pelukan Ibra.
"kau mau mengompol?" tanya Ibra yang tak mendapat jawaban setelah lima menit berkata tadi.
Dengan rasa bercampur antara malu dan kesal dengan cepat mencium pipi Ibra kemudian melempar tangannya dan lari menuju kamar kecil.
"baru begitu saja sudah panik" kekeh Ibra yang sengaja menggoda Belen.
Ibra memang tak suka bermain wanita sebelumnya, ia juga tak suka jika digoda wanita. Bahkan baru kali ini dia menyentuh wanita yaitu Belen. Karna baru kali ini pula dia melihat seorang wanita yang tak tertarik padanya. Dan entah apa itu membuatnya penasaran dengan sosok Belen.
Belen nampak sudah mandi dan berganti pakaian setelah keluar kamar mandi dan Ibra masih diposisi tadi belum berubah.
"aku sudah siapkan air hangat untukmu, pergi mandilah dan sarapan ini sudah jam 8pagi" ucap Belen bersiri disamping ranjang.
Ibra mengerjapkan matanya. Menyingkap selimutnya dan memperlihatkan otot dada juga perutnya yang amat sempurna itu. "siapkan pakaianku"
"tunggu apa lagi? bukankah setelah ini kau yang mengurus semua untukku? lemari pakaianku itu" Ibra yang telah sampai dipintu kamar mandi harus menghentikan langkahnya karena Belen masih diam diposisinya.
Tentu Belen amat gugup melakukan hal yang baru pertama ia lakukan. Diambilnya kaos polos berwarna putih dan celana jeans pendek. Lalu dibukanya laci pada lemari itu untuk mengambil ****** ***** untuk suaminya.
"kenapa lama sekali mengambilnya" Ibra ternyata sudah berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
"argh! kenapa kau hanya mengenakan handuk saja!" ucap Belen terlejut.
Ibra merebut pakaian ditangan Belen. "bagaimana aku pakai pakaianku kalau kau tidak menyerahkanya, atau kau mau pakaikan?" ucapan Ibra membuat Belen membulatkan mata dan berlari menuju pintu kamar.