
Ibra menuju kamar Divya setelah selesai mengganti pakaiannya setelah mandi. Dia amat merasa khawatir dengan gadis kecil itu.
Ceklek
Dilihatnya Divya sedang duduk bersandar pada ranjangnya sedang meminum susu hangat ditemani susternya. Ibra merasa sedikit lega dihatinya gadis kecilnya baik-baik saja.
"tuan saya sungguh minta maaf, saya tidak menjaga nona kecil dengan baik, saya tidak akan lagi meninggalkan nona kecil bermain sendiri" suster itu sudah menundukan kepala begitu Ibra masuk ruangan.
"apa semua orang disini tidak bisa menjaga seorang anak dengan baik!" Ibra kembali merasa kesal.
"dady!" suara mungkin Divya mengalihkan perhatiannya.
"iya sayang? Divya ada yg sakit?" tanyanya lembut dengan mengusap rambut panjang Divya.
"no dady! dady jangan marah ke mbak, dady juga jangan marah ke mamy! Yaya ngga suka!" gadis itu melipat kedua tangannya didada dan mengerucutkan bibirnya.
"Dady takut terjadi apa-apa sama Divya, tadi sangat bahaya sekali sayang" ujar Ibra yang sudah memangku gadis kecil yang sudah berganti pakaian tidur berwarna biru.
"tapi dady, Yaya kan pintar benerang, apa dady lupa Yaya sudah naik level ditempat les berenang" balas Divya.
"iya sayang dady tau Divya anak hebat tapi tetap saja itu berbahaya, Divya tidak boleh main dipinggir kolam renang tanpa ditemani orang dewasa juga harus pakai rompi berenang mengerti?" Ibra terus berkata panjang lebar.
"tadi Yaya mengejar kupu-kupu dady, eh kupu-kupunya terbang diatas kolam renang"
"Dady jangan marah lagi ya" imbuh Divya.
Ibra pun mengajak Divya turun untuk makan malam karena sudah menunjukan pukul setengah 7 malam.
Belen terlihat sedang menyiapkan beberapa sayur juga lauk diatas meja, sedang Omanya sedang mengobrol kecil dengan Adam.
"hai sayang ayo makan, mamy buatkan sup ayam buat Divya" sapa Belen yang melihat Divya juga Ibra mendekat ke meja makan.
"hore! Yaya mau disuapin mamy ya" seru gadis kecil itu senang.
Semua terlihat siap menikmati makan malam yang dihidangkan Belen. Ya dia memilih memasak makan malam dengan tangannya sendiri untuk permintaan maaf. Tapi tidak dengan Ibra dia hanya terdiam disana.
"abang mau nasinya seberapa?" tanya Belen yang tengah bersiap mengambil nasi untuk Ibra.
__ADS_1
"tidak usah aku tidak lapar" begitu dingin pengucapan Ibra dia bahkan tidak melihat kewajah Belen.
"Ibra makanlah, kata Adam kalian tidak sempat makan siang kan tadi" kini Oma yang bersuara.
Ibra hanya melihat Omanya sekilas kemudian menarik nafas beratnya.
"sedikit saja aku tidak nafsu makan" sahut Ibra yang ditujukan pada Belen.
Dengan sigap Belen mengambilkan sedikit nasi juga sop ayam, mengambilkan beberapa tahu dan tempe goreng juga sambal ditempat berbeda. Ya hanya itu yg bisa dimasak oleh Belen.
Belen dengan telaten menyuapi Divya, makannya cukup banyak dan membuat Oma merekahkan senyumnya, Adam pun memuji Divya yang makan banyak.
"wah Divya hebat makan banyak sekali, sop ayamnya enak ya? Om juga mau tambah" ucap Adam.
Beda dengan Ibra yang hanya menyantap makanan didepannya dengan malas meski lidahnya menginginkan lebih. Dasar lidah tak tahu situasi pikirnya.
"ehm, Belen mau minta maaf atas kelalaian Belen tadi, Belen sudah membuat Divya dalam bahaya, Oma Belen sangat minta maaf" ucap Belen mengingat kejadian siang tadi.
"sudah nak, Divya juga baik-baik saja, aku pun bersalah tidak mengawasinya dengan baik" jawab Oma dengan senyum, ia tahu betul bahwa semua orang pasti akan melakukan kesalahan.
"abang, ma-"
"sudahlah, abang memang begitu kalau sedang marah, biarkan saja dulu" suara Adam memecah lamunan Belen yang melihat punggung suaminya menjauh.
"Adam, aku juga minta maaf padamu" ucap Belen lirih.
"sudahlah semua sudah terjadi"
Makan malam pun selesai, sop ayam pun tak tersisa begitu juga dengan sambal tomat buatan Belen. Belen senang mereka menyukainya.
"mamy, Yaya mau dibacakan cerita ya setelah ini" ucap Divya.
"baik sayang, sekarang kita naik ya" ucap Belen dengan menggandeng tangan mungil Divya.
Belen mendudukan Divya pada ranjangnya kemudian ia mencari buku cerita yang diinginkan oleh Divya tadi. Setelah menemukannya dia pun mulai membacakannya.
ceklek
__ADS_1
Belen membuka kamarnya hati-hati setelah menidurkan Divya. Diedarkan padanganya kesetiap sudut ruangan tapi tak dilihatnya Ibra disana.
Belen mumutuskan untuk mencuci muka dan berganti pakaian. Saat keluar dia menyadari ada seseorang sedang duduk dibalkon.
Ya Ibra sedang duduk disana, tangannya memegang sebuah tab tapi pandangannya kosong kedepan.
"abang" lirih Belen menyapa.
Ibra hanya menatapnya sebentar kemudian memfokuskan pandangannya pada tab ditangannya. Belen tahu Ibra sedang bekerja tapi dia juga tidak nyaman bila harus begini, sejujurnya tubuhnya kini ingin berada dekat dengan sosok suaminya.
Tak mendapat jawaban Belen memberanikan diri duduk disebelah Ibra. Dia menyenderkan kepalanya pada pundak kokoh itu.
Ibra terlihat membuang nafas kasar disana.
"tolong beri aku kesempatan, aku sungguh minta maaf atas kejadian siang tadi" ucapnya dengan memejamkan matanya.
"kau sudah mengatakannya tadi" sahut Ibra dingin.
Belen membenarkan posisi duduknya.
"aku ingin meminta maaf atas diriku yang jauh dari sempurna ini, aku bilang aku akan jaga Divya tapi aku lalai dan membuatnya dalam bahaya, Oma juga abang membawaku kemari agar aku bisa menjadi sosok ibu untuknya" dia menarik nafas panjang.
"tapi sekarang dikatakan sebagai baby sisternya pun aku tak pantas" lanjutnya.
Ibra bangkit dari duduknya rautnya kini terlihat kembali kesal.
"cukup!"
"aku hanya tak habis pikir bagaimana bisa kau membiarkan Divya dalam bahaya? atau, atau karena aku tak ada dirumah kau bisa seenaknya Belen?!"
"apa hanya dengan aku sudah menaruh hati padamu lantas kau bisa seenaknya lengah dalam menjaga Divya?! dia memang bukan darah dagingku tapi seluruhnya sekarang yang aku perbuat hanya untuk menajaga sisa keluargaku ini. aku bahkan menepis pikiranku sendiri kau mendekati Divya karena untuk mendekati Oma juga aku, tapi aku meragukannya lagi, apa kau juga seperti wanita lain yang-"
"cukup!" Belen sudah tak tahan dengan arah bicara Ibra, sekarang hatinya terasa lebih pedih ternyata Ibra menilai ya sebatas itu.
"cukup Ibra cukup!" Belen mulai sesenggukan menahan pedih.
"aku sungguh-sungguh menyayangi Divya sebelum aku mengenal latar belakangnya bahkan kau Ibra! aku tahu! aku tahu aku memang tidak selayaknya ada dikehidupan kalian, aku hanya batu kerikil jika dibandingkan kalian yang berkilau seperti permata! tapi sungguh aku benar-benar tulus menyayangi Divya, aku tidak menyangka aku sehina itu dipikiranmu, ataukah semua orang memang memandangku rendah begitu " Belen sudah tak kuasa dia membenamkan kepalanya kedalam pangkuannya.
__ADS_1
Ibra mengacak rambutnya, ia masih sangat marah dengan apa yang melintas dipikirannya dan memutuskan keluar.