Alexavier Archie

Alexavier Archie
Kekhawatir


__ADS_3

doorr


"bre****k!" pekik Ronald Joe ketika sebuah peluru menembus tangan kanannya.


"jangan harap kau selamat ketika berurusan dengan Galaxy!" suara itu berasal dari Kenrich dengan Raka dibelakangnya.


"cih! kalianlah yang salah mencari lawan!" sebuah gas tersebar menggangu pengelihatan orang-orang dibarengai dengan sebuah helikopter yang mendekat dan berhasil membawa pergi Ronald Joe.


Alexavier yang baru saja datang melihat kepulan asap dan api yang masih membakar peti kemas juga asap putih tipis yang baunya sangat menyengat. Sebuah helikopter yang terbang menjauh menyita perhatiannya.


...


"cepat bawa yang terluka kemarkas, sisanya urus kekacauan disini!" seru Raka memerintah anggotanya yang lain.


Anggota yang tidak terluka membatu teman-temannya menaiki truk untuk dibawa menuju markas. Martin sudah dibantu Alexavier menuju truk yang berisikan anggotanya yang lain. Kondisinya memang tidak parah tapi luka karena ledakan itu cukup banyak.


Beberapa mobil pemadam sudah berdatangan untuk memadamkan api sebelum merambat ke peti kemas yang lainnya. Truk berisikan anggota yang terluka itu melaju dengan cepat menuju markas dimana tim media sudah bersiap disana.


"pulanglah Oma menanyakanmu" Adam mengehntikan kegiatannya yang akan menaiki mobil.


Ia bahkan melupakan Oma karena keadaan mengerikan ini. Adam hanya mengangguk sekilas kemudian menuju mobil dengan Ivan yang menyetir didalamnya. Alexavier dengan segera menyusul rombongan anggotanya menuju markas.


"ketua aku akan mengurusnya tak perlu ada yang di khawatirkan" Raka menepuk pundak ketua juga sahabatnya itu, ia tahu jelas lelaki bertubuh tegap itu sedang kelelahan sekarang.


Setelah mengehbuskan nafas berat akhirnya Ibra menurut dan menuju mobilnya. Sebelum meninggalkan pelabuhan ia kembali mengamati kondisi dan keadaan sekitar. Sebenarnya kekuatan apa yang bersembunyi dibalik Gerhana juga Ronald Joe ini. Apakah ada sebuah kumpulan mafia yang besar yang tidak ia ketahui.


...


Tak berselang lama setelah mobil yang Adam tumpangi memasuki pekarang mobil Ibra pun ikut terparkir digarasinya. Sebelum masuk kedalam rumah Ibra menyempatkan melihat arloji ditanganya, 23.47. Cukup larut dan pasti orang-orang sudan terlelap.

__ADS_1


ceklek


"kalian sudah kembali?" suara Oma mengagetkan Ibra yang baru melangkah masuk kedalam rumah.


Langkahnya di ikuti Adam menuju sofa tempat Oma mereka duduk dengan memangku sebuah buku.


"Oma. Oma belum tidur? Ini sudah larut malam" ucap Adam lembut dengan tangan yang menggenggam tangan kriput Oma.


"Oma khawatir pada kalian, terutama kau anak nakal" Oma menjewer telinga Adam yang duduk disampingnya.


"kenapa kau tidak pulang setelah seorang mencoba menghabisk nyawamu?" seru Oma melepas jeweran ditelinga Adam setelah si empunya berakting seperti kesakitan.


"maaf Oma, tapi dalam masalah ini Adam menyeret seseorang ikut dalam bahaya, Adam tidak bisa membiarkan dia sendirian disana" tentu Oma tahu siapa yang dimaksud Adam.


Ibra masih menatap interaksi antara Oma juga Adam. Ia seperti merasa rindu demgan masa tenang mereka tanpa bahaya besar seperti akhir-akhir ini.


"kau sudah dewasa Adam, dan lelaki dewasa itu harus punya rasa tanggung jawab yang tinggi. Bertanggung jawablah dengan apa yang sudah kau lewati dan lalui, karena itu salah satu bentuk upaya dalam membentuk masa depanmu" Adam mengangguk mendengarkan Omanya.


"kali ini musuh kalian sepertinya bukan hanya satu juga bukan kumpulan biasa melainkan seorang yang benar-benar pandai membaur dan menjadi bayangan yang besar, mungkin bayangan yang kalian juga injak sekarang. Kalian harus benar-benar berhati-hati jangan sampai salah memperkirakan musuh"


...


Ibra mengguyur tubuhnya dibawah guyuran air shower yang dingin, badannya terasa pegal dan kepalanya terasa panas. Mendapat dua seramgan dari musuh yang berbeda membuat pikirannya harus dibagi-bagi, belum lagi masalah kantor juga memikirkan keselamatan keluarganya. Meski Adam juga ikut andil tapi menurutnya Adam adalah tanggung jawabnya yang juga harus ia jaga. Bagaimanapun ia harus bisa mengurai satu persatu masalahnya agar dapat ia selesaikan segera.


"hoekk hooekk" Ibra segera menghentikan aktifitas mandinya setelah mendengar suara Belen yang muntah didepan.


"kamu baik-baik saja sayang" dengan cepat Ibra menghampiri Belen yang berdiri di depan washtafel yang ada tepat didepan kamar mandi.


Tangan kanannya terulur ke tengkuk Belen dan memijatnya pelan. Belen hanya menggeleng dan membersihkan sisa muntahnya yang hanya berupa air itu. Ibra membantu Belen kembali duduk diranjang, mengambil segelas air putih dan memberikannya pada istrinya.

__ADS_1


"masih mual hm?" dengan lembut tangan kelar itu mengusap pipi Belen.


"sedikit abang. Tadi malam abang pulang jam berapa? maaf aku tidak tahu pulangnya abang, semalam kepalaku sangat pusing terasa seperti berputar-putar" Belen menceritakan rasa puaingnya semalam, entah karena ia terlalu kepikiran keselamatan suaminya atau bagaimana.


"jangan terlalu memikirkanku oke? kasihan dia" seolah tahu apa yang ada dipikiran Belen, Ibra tahu betul bahwa Belen terlalu memikirkannya.


"hei, selamat pagi anak dady? sayang tolong katakan pada mamy mu untuk tidak memikirkan daday ya, mamy mu harus sehat dan bahagia bukan agar kamu baik-baik saja didalam sana" lanjutnya seraya meraba pelan perut Belen yang mulai sedikit menonjol itu. Ya usia kandungannya sudah 9 minggu.


"bagaimana aku tidak khawatir jika ayah dari anakku berada ditempat berbahaya" mata Belen seolah tidak terkontrol dan membuatnya meneteskan air mata.


"hei hei hei, kenapa malah menangis? Sayang lihat aku, apa aku terluka? bahkan goresan kecilpun tidak ada ditubuhku kan?" tangannya menangkup wayah istri ya yang masih terlihat pucat karena kegian morning sick itu.


"aku benar-benar takut bang, aku takut saat dia lahir nanti dia akan hiks dia akan bernasib sama seperi Divya" Ibra menggelengkan kepalanya cepat seolah berkata tidak.


"berjanjilah padaku kamu tidak akan mengatakannya lagi, aku pun akan berjanji kepadamu juga kepada anak kita kalau aku akan menjaga kalian dan memberikan kehidupan yamg layak untuk kalian" pelukan hangat itu sangat Belen nikmati, tempat yang membuat dirinya aman dan nyaman.


...


Pagi buta Adam sudah meninggalkan rumah dan cepat-cepat menuju markas. Dominic yang mengetahui kepergian Adam hanya bisa memberi pengawalan untuk ketuanya itu, karena tugasnya sekarang ada mengawasi Lady. Meski sudah mulai bisa menyetir Adam tidak berani memacu terlalu cepat kendaraannya karena kondisinya yang belum baik benar.


Ia sebenarnya tidak bisa tidur mengingat meninggalkan Amanda dimarkas dan hanya mengiriminya pesan text saja. Menempuh hampir satu jam perjalanan mobil Adam memasuki markas dan buru-buru menuju bangunan dua lantai disisi markas. Dengan langlah pelan ia menuju kamar diujung. 05.33 mungkin Amanda sudah bangun sekarang, ia mencoba mengetuk pelan pintu kamar bercat putih itu.


tok tok tok


"Amanda apa kamu sudah bangun?" lanjutnya setelah ketukannya tidak berbalas.


"Amanda? Ini aku" serunya lagi.


ceklek

__ADS_1


Pintu tidak terkunci saat Adam mencoba membukanya. Dilihatnya diranjang tidak ada sosok Amanda, langkahnya lebar menuju kamar mandi, bahkan wanita itu juga tidak disana. Tanganya sudah mengepal tahut hal buruk terjadi kepada Amanda, apakah mungkin hal buruk menimpa Amanda saat dia berada dimarkas?


__ADS_2