Alexavier Archie

Alexavier Archie
Kue Ultah Untuk Divya


__ADS_3

Pagi ini Divya benar-benar ribut sendiri memusingkan seluruh penghuni rumah. Gadis cilik ini terus membahas ulangtahunnya yang masih dua hari lagi. Meminta ini dan itu, dari dekorasi bertema little pony kesukaannya, puding, ice cream sampai kue ulangtahun. Mengadu kesemua orang kecuali Ibra.


Bahkan saat sarapan dia terus berceloteh ini itu, meminta berbagai kado dari oma juga om kesayangannya. Lagi-lagi Dadynya tidak diajaknya bicara sedari malam. Usai sarapan kini penghuni meja makan mengarah kehalaman menuju mobil masing-masing.


"ingat Om Adam harus belikan semua mainan yang Yaya sebut tadi oke?" Divya sedang digendong oleh Adam menuju mobilnya.


"tentu nona kecil, sebagai hadiah khususnya Om Adam akan memesankan kue ulangtahun special untuk nona kecil ini" Adam sudah merapikan posisi duduk Divya didalam mobil Omanya untuk berangkat sekolah.


Divya sangat gembira dia mencium pipi kiri dan kanan Adam bergantian. Melambaikan tangan hingga mobil yang ditumpanginya meninggalkan halaman rumah.


"kenapa aku seperti orang asing didiamkan begitu" keluh Ibra.


"Abang dengarkan permintaan nona kecil juga nyonya besar dirumah ini oke?"


"oiya tantangan Abang semalam akan aku terima jadi mulailah mengatur strategi mendapatkan gadis itu sebelum aku, waktunya terbatas 2hari saja. Jika abang tidak bisa dapatkan gadis itu mungkin bisa bawa Sarah em atau Jodi untuk menemanimu diacara ulangtahun Divya." begitu saja Adam menjawab dan menuju mobilnya yang masih digarasi.


"memangnya mencari Mamy untuk Divya semudah memesan kue tart?" dengus Ibra yang ikut melangkah menuju garasi miliknya.


*kue tart? mana bisa aku tiba*-tiba menjadikan gadis itu Mamy Divya? tapi jika aku tak mengiyakan mencarikan Mamy disaat ulangtahunnya dia pasti tetap mendiamkanku juga Oma, sama saja. Tapi dimana gadis yang bisa bersikap keibuan dan mau menerima juga mengasuh Divya seperti anaknya? Kenapa ini malah rumit.


Ibra dengan pikirannya yang kusut melajukan mobilnya menuju kantornya. Jalanan macet sangat biasa terjadi dijam sibuk seperti ini. Berada dikemacetan semakin membuat pikirannya hinggap kemana-mana.


*Punya adik juga sama saja suka menjilat Oma juga Divya. Bukan membelaku dia malah menjadi kompor. Tantangan semalam? apa dia tidak tau aku asal bicara karena kesal dengan mereka bertiga? Benar*-benar menambah rumit saja.


Kantor Ibra berdiri tepat saling membelakangi dengan pertokoan tempat toko kue matahari berada, berbeda jalan namun satu kawasan. Jika macet begini Ibra lebih suka mengambil arah melalui pertokoan baru melewati jalan samping area pertokoan menuju kantornya.


Satu lampu merah lagi sebelum portal masuk pertokoan dan sebuah pemandangan didepan menarik perhatiannya.


bukankan itu gadis itu, siapa namanya? Belen? apa yang dia lakukan di pinggiran lampu merah begini.


Didepannya dilihat Belen sedang dikerumuni beberapa anak jalanan, dia terlihat membagikan paperbag kecil pada mereka. Tanpa rasa risih bersinggungan langsung dengan anak-anak jalanan disana. Sesekali dia menyentuh ujung kepala mereka dan senyum terus mengembang dibibirnya.


Hingga tanpa disadarinya beberapa mobil membunyikan klaksonnya karena lampu sudah berganti hijau dan Ibra belum melajukan kembali mobilnya.


Sial! apa pula mereka membunyikan klakson seperti itu.


...

__ADS_1


"Raka langsung bacakan jadwalku" perintah Ibra begitu memasuki ruangannya dan disusul langsung oleh Raka.


"ada dua meeting pagi ini, mungkin durasinya hanya satu jam, pertama jam 8.30 kemudian jam 10, setelah makan siang kemarin kau berpesan akan meninjau caffe baru mu, dan tak ada jadwal meeting lagi jadi kau bisa urus beberapa laporan yang menumpuk itu" kawab Raka menjelaskan jadwal bos nga seharian ini.


"baiklah aku akan mengerjakan beberapa map sebelum meeting pertama dimulai" ucap Ibra yang mulai membuka-buka map dihadapannya.


"baiklah aku akan kembali lagi nanti" pamit Raka kemudian meninggalkan ruangan Ibra.


...


Dilain tempat dan waktu yang sudah sedikit siang.


"halo Oma, apa Oma sudah sampai? baik, aku akan segera kesana" Adam melakukan telpon singkat dan melangkah keluar ruangannya.


saat melintasi ruang pertemuan dilantai bawah Adam berpapasan dengan Ibra.


"belum jam makan siang mau kemana kau?" tanya Ibra menghentikan langkah Adam.


"10menit lagi jam makan siang, aku mau menjemput oma di toko kue Matahari agar asistenmu tak ribut dengan makan siang yang terlambat" dengan senyum penuh arti Adam meninggalkan sepupunya yang masih berdiri dengan raut muka bingungnya.


Hanya lima menit dari parkiran mobilnya, kini Adam sudah memarkirkan mobilnya dihalaman pertokoan milik keluarganya. Dia melangkah menuju toko kue Matahari yang tak jauh dari parkir mobilnya.


Bunyi bel dibelakang pintu kaca toko berbunyi.


"Om Adam!" Seru Divya yang tengah memilih beberapa kue coklat dengan digandeng Oma Riri.


"hai nona kecil" Adam memindahkan Divya kegendongannya, mendaratkan ciuman di pipi kanan juga kiri bocah TK tersebut.


"ini belum jam makan siang Adam apa kau sedang tidak ada pekerjaan?" tanya Oma.


"tidak Oma, nanti saja lagi aku lanjutkan, aku ada janji dengan nona kecil untuk memesankan kue ulangtahun" jawab Adam dengan senyum yang mengembang sedari ia memasuki toko itu.


"ah iya Oma lupa, lihatlah ini Belen pemilik toko kue Matahari, kau bisa pesan dengannya"


"ah maaf nona aku tidak melihatmu" Adam menurunkan Divya dan menjulurkan tangannya dengan sopan kearah Belen.


"namaku Adam om kesayangan Divya" ajaknya berkenalan.

__ADS_1


"namaku Belen tuan" sahut Belen menjabat tangan Adam.


"Belen dia lebih muda darimu, panggil nama saja" protes Oma.


"Oma benar panggil nama saja, lebih akrab" imbuh Adam dengan senyum.


"baik Adam" jawab Belen melepas jabatan tangan mereka.


"jadi Belen, aku ingin memesan kue tart special untuk nona kecil ini, pestanya dua hari lagi, pokoknya kue tart yang luar biasa dengan warna pink dengan kuda pony diatasnya" jelas Adam pada Belen.


"iya, Oma Riri sudah katakan tadi padaku, akan aku berikan kue tart terbaik untuk Divya" jawab Belen ramah.


Dengan Adam yang lebih hangat terhadap wanita diapun cepat akrab dengan Belen. Sesekali tertawa dengan obrolan mereka.


Tring


Bunyi bel belakang pintu kaca berbunyi. Seorang pria yang mereka kenal masuk kedalam toko kue tersebut.


"Abang kenapa kemari?" ucap Adam terkejut.


"bukan urusanmu" jawab Ibra ketus.


"sebentar lagi kami akan kekantormu Ibra, Oma sudah bawakan makan siang" kini Oma Riri yang menyapa lelaki yang masih berdiri didepan mereka.


"ehm aku ada perlu Oma" jawab Ibra melirik wanita yang tengah menggendong Divya.


"aku ada perlu denganmu, bisa ikut denganku?" tanya Ibra pada Belen yang mengagetkan orang-orang didepannya.


Belen masih memasang muka bingung belum menjawab. Ibra meraih Divya dan diberikan pada Omanya, dan tanpa permisi menarik pergelangan tangan Belen dan mengajaknya keluar menuju mobilnya.


"hei kenapa ini?" ucap Belen yang tak bisa menghentikan langkah Ibra.


"Ibra mau kamu bawa kemana dia?" teriak Oma dari pintu toko kue.


"ada urusan Oma" jawab Ibra singkat, membuka pintu untuk Belen dan menyuruhnya masuk.


"masuklah, ikut saja nanti aku jelaskan jika sudah sampai" imbuh Ibra dengan sedikit mendorong tubuh Belen kedalam mobil.

__ADS_1


"kenapa kasar sekali" dengus Belen kesal.


__ADS_2