Alexavier Archie

Alexavier Archie
Masa Kecil Amanda


__ADS_3

"Amanda" panggil Adam yang tidak semgaja melihat Amanda berada diluar kamar saat Adam sedang menuju kamarnya setelah dari ruang kerja. Adam yang mendengar suara pintu terbuka dari bawah menengok ke bawah dan menemukan Amanda sedang keluar menuju dapur, dan kini ia putuskan memuruni tangga dan menemui gadis dengan baju tidur serba panjang itu.


Amanda menoleh mendengar panggilan dari arah tangga tepat sebelum tangan kirinya menekan knop pintu kamar sementara tamgan kanannya terlihat membawa segelas air putih.


"belum tidur?" tanya Adam yang kini bersiri didepan Amanda.


"ini mau tidur, aku biasa menyiapkan segelas air putih dinakas, jadi aku mengambilnya didapur barusan" tangan kanannya sedikit diangkat menunjukan segelas air putih yang ada ditangannya.


"ah iya, aku hanya takut kamu merasa tidak nyaman" lelaki dengan setelan celana rumahan dan kaos lengan pendek bertulis nama salah satu band rock itu tersenyum kaku kali ini.


"mau ngobrol?" tawar Amanda dengan senyum tipis diwajahnya yang kini polos tanpa makeup namun tetap cantik itu.


Dan disinilah mereka, disebuah bangku taman bercat putih menghadap kolam renang dihalaman belakang. Malam memang hampir larut tapi cuaca mendung membuat udara terasa panas.


"Adam aku tau, kamu terlebih abangmu mengkhawatirkan bagaimana jika sekarang aku ini sedang berakting untuk tetap berada disekitar kalian. Aku pun memang melakukannya saat diawal pertemuan kita"


"sst" Adam menggeser tubuh Amanda agar menghadap kearahnya, menelisik netra coklat bulat dihadapannya.


"aku sudah tau, kamu engga perlu mengungkitnya lagi" lanjut Adam setelah menghentikan kalimat milik Amanda.


Amanda tersenyum dan menggeleng pelan, membenarkan posisi duduknya agar menghadap kembali kedepan.


"kamu mau dengar cerita masa kecilku?" tawar Amanda sembari menoleh sedikit kearah Adam yang masih memandangnya lekat dan mengangguk sebagai jawaban.


*Flashback On*


Seperti pagi biasa papahnya juga mamahnya akan bertengkar tentang suatu hal, gadia kecil dengan seragam sekolah itu hanya diam dengan tas diberwarna pink dipunggungnya. Sementara dua kakaknya tengah duduk dan memakan sarapan mereka tanpa memperdulikan pertengkaran yang orangtua mereka lakukan.

__ADS_1


"kau akan ikut rencanaku kali ini atau kau tidak akan bisa hidup dengan tenang Rosa! Mereka akan dengan cepat menemukan bukti perbuatanku dan membuat kota semua hania ditangan situa Ilyas itu!" seru Anthony pada istrinya.


"itu semua memang salahmu Anthony itu salahmu, karena egomu dan kebodohanmu mengikuti perintah orang itu kau rela membuat keluargamu dalam bahaya!" Rosa tak mau kalah, ia ganti meninggikan suaranya.


"dasar wanita b***h! justru ini cara Mr. Who menolong kita dari ancaman Galaxy!"


Pertengkaran itu berhenti saat putra sulung mereka Mario yang sudah duduk dibangku SMP berkata ia sudah terlambat dan dibelakangnya berdiri dua adik perempuannya, Marica dan Marinda. Dengan amarah yang terlihat jelas diwajahnya Anthony menarik lengan istrinya membawanya kedalam mobil dan ikuti oleh tiga anak mereka. Mario dan Marica terlihat biasa saja mereka seolah tidak persuli dengan mamah mereka yang mendapat perlakuan kasar oleh papah mereka, namun tidak dengan sibungsu Marinda, dia merasa sedih melihat mamahnya diperlakukan seperti itu.


Biasanya tiga anak mereka akan diantar sopir san juga dengan pengawalan, namun pagi ini papah mereka langsung yang mengantar serta mamah mereka. Ada rasa aneh yang dirasakan Marinda kecil waktu itu.


"kau jangan gila Anthony aku mohon! mereka masih kecil bagaimana kalo ini gagal dan melukai mereka! apa kau sadar kau membawa mereka dalam bahaya hah!" Rosa kembali membuka suara kini air matanya sudah luruh.


Wanita berusia sekitar 40 tahun itu menoleh kearah belakang ia memandang satu persatj wajah anak mereka. Ia tidak sanggup mencegah suaminya melakukan hal segila ini. Kecelakaan palsu. Hanya itu yang berkali-kali suaminya katakan.


"mamah! Marinda takut!" gadis kecil itu mulai menangis saat papahnya berkali-kali memerintahkan mereka memakai sabuk pengaman.


Rosa sangat marah pada suaminya namun ia tidak memiliki keluatan melawan, karena posisi ya juga dalam bahaya bila kumpulan mafia musuh mereka datamg menyerang. Oleh karena itu Anthony mengiyakan perintah Mr. Who seorang mafia yang tidak pernah menampakan dirinya untuk membuat kecelakaan yang menimpa dia dan keluarganya.


Sampailah mobil yang keluarga itu tumpangi pada sebuah perempatan jalan, Rosa memeluk erat putri kecilnya sebelum sebuah ledakam terdengar dan mobil mereka terbakar. Tak lama setelahnya mobil mereka dikerumuni banyak orang yamg ternyata orang suruhan Mr. Who dan mengeluarkan mereka.


Setelahnya mereka mengganti dengan mayat seseorang untuk dibalar habis bersama mobil itu agar lebih meyakinkan orang-orang. Marinda yang ayok dan pingsan tidak tau kejadian itu, ia hanya berulang kali memdapat cerita dari sang kakak.


Marinda membuka matanya, tempat yang asing membuat ia terperanjat namun ada rasa lega ketika melihat dua kakaknya berada tak jauh darinya. Matanya terus beredar menyusuri setia sudut ruangan yang mirip sebuah rumah yang kecil itu.


"kak, mamah sama papah kemana? kita dimana?" tanya Marinda pada dua kakaknya yang tengah duduk menonton tv.


"pergi dengan papah, jangan manja Marinda, bangun dan makanlah makan siangmu" suara jutek Marica tersengar jelas oleh Marinda.

__ADS_1


Gadis kecil itu mengambil sebuah makanan cepat saji kesukaannya diatas nakas dekat tempatnya berbaring.


ceklek


"papah, mamah mana pah?" seru Marinda begitu sosok papahnya muncul sari balik pintu.


"Mario bawa barangmu dan ikut papah, Marica kau dan adikmu jiga cepatlah bersiap"


"papah! kita mau kemana?" hanya Marinda yang tidak sejalan disini.


"mamah mana, Marinda mau sama mamah pah hiks hiks" mendengar itu Anthony langsung terlujat marah.


"kau banyak omong ya seperti mamahmu! cepat lakukan apa yang aku perintahkan!" Marinda yang masih menangis pun hanya diam tak berani membantah.


Memakai tas sekolah masing-masing tiga anak ini sudah berdiri didepan pintu rumah berukuran kecil yang baru saja mereka tempati. Marica dan Marinda dibawa menuju mobil berwarna putih, sementara Anthony dan Mario menuju sebuah mobil hitam dak jauh dari sana.


Marinda mulai menangis ia meraung ingin bersama mamanya. Marica kakaknya bukan membantunya dia malah menahan Marinda agar duduk temamg disampingnya. Sebelum mobil berjalan Marinda melihat sosok mamahnya berada dalam mobil hitam yang akan dinaiki papahnya juga Mario, mamahnya yang berurai air mata itu berusaha untuk keluar dari sana dan memgejar dua anaknya namun hal itu hanya sia-sia.


sekitar dua jam berjalan Marinda dan Marica sampai disebuah bandara, mereka ditemui oleh seorang wanita seusia mamah mereka juga lelaki sebaya papah mereka. Wanita itu menyerahkan sebuah tiket juga paspor pada dua anak ini.


"nah anak pintar kai sangat menurut pada papahmu ya?" ucap wanita itu menyerahkan tiket pesawat dan paspor untuk Marica.


"hei lihat anak manis usap air matamu, kau akan baik-baik saja, ini" setelahnya hal yang sama diberikan pada Marinda.


"Jika ada yang bertanya namamu adalah Cassandra" dia menepuk pundak Marica dan gadia kecil itu hanya mengangguk dengan ekspresi datar.


"dan kamu anak manis namanu sekarang Amanda"

__ADS_1


__ADS_2