
Tiga wanita itu hanya asik mengobrol tanpa memperdulikan dua lelaki dihadapan mereka. Adam mengetahui bahwa Amanda merasa kurang nyaman dengan tubuhnya yang pasti terasa lengket karena seharian bekerja itu, jadi ia menyenggol siku abangnya yang tengah tenggelam pada ponselnya.
"abang, apa keputusannya?" bisiknya pelan.
Ibra hanya memicingkan satu matanya dan menatap Amanda bergantian dengan Adam yang penuh penasaran itu.
Melihat ketidak nyamanan pada Amanda yang sedang menjadi pusat perhatian membuat Adam mendengus kasar dan tidak mengerti dengan situasi kali ini. Sebenarnya kenap sih abangnya ini, sikapnya cukup aneh, biasanya dia akan menjelaskan suatu hal terlebih dulu tapi ini langsung saja menyuruh tapi juga tidak memberi penjelasan sedikitpun maupun intruksi untuknya maupun Amanda. Oma dan Belen sama-sama memasang muka bingung dengan kehening yang terjadi.
"ah Amanda kamu belum mandi kan? ayo aku antar kekamar tamu kamu bisa mandi dan beristirahat, aku akan carikan baju yang pas untukmu kalo dilihat badan kita tidak jauh beda kan?" kalomat Belen seperti penyelamat dalam situasi tersebut, pasalnya suaminya juga belum menjelaskan apa-apa padanya, hanya saja memang ia berkata bahwa Amanda akan datang.
"benar kata Belen, setelahnya kita makan bersama ya?" Oma pun bangkit dan menuju meja makan melihat persiapan disana, sementara Belen telah mengajak Amanda menuju kamar tamu disisi kanan tangga.
Kini tersisa Adam juga Ibra yang ada diruang tengah. Dan jika dilihat Ibra pun belum ada tanda-tanda akan menjelaskan bahkan mengatakan sesuatu, ia ingin kesal tapi lelaki disampingnya itu adalah kakaknya.
"jadi kenapa abang memintaku membawa Amanda kemari?" akhirnya Adam memilih untuk memulai terlebih dahulu perbincangan mereka.
"dengan semua yang aku dengar dan dapatkan dari laporan Louis dia bersih, jadi untuk kebaikannya menyelamatkanmu kita harus membalas budi, kita harus ganti melindunginya dan sementara waktu biarkan dia tinggal disini" Adam yang akan menjawab seolah tidak dianggap dan kakaknya sudah bangkit dari duduknya melihat Divya sedang menuruni tangga dan memanggil dadynya.
Malam ini meja makan sangat ramai hanya dengan kedatamgan seorang Amanda. Sosok Amanda yang menyukai anak kecil langsung membuat Divya dekat dengannya. Juga dengan Oma, meski tak banyak bicara kepada Oma Amanda dapat menunjukan rasa nyaman saat ini, rasa hangat yang telah lama ia tak rasakan.
__ADS_1
"Dady! lihat ini puding Yaya yang bikin loh! Tamte Amanda ayo coba ini Yaya yang buat tadi sore" gadis kecil itu mengambil puding yang telah dipotong-potong oleh Belen dan memberikannya pada semua orang yang ada dimeja makan.
"wah gadis kecil dady pintar sekali, Divya belajar dari mamy ya?" Ibra memasukan satu suap puding buah coklat kedalam mulutnya kemudian memberikan dua acungan jempol kepada anak kecil yang masih berdiri disampingnya itu.
"nanti kalau besar Yaya akan lebih jago dari mamy!" serunya seraya kembali ketempat duduknya dan mendapat cubitan gemas pada pipinya yang didapat dari mamy.
Sendau gurau antara Oma, Belen, Divya serta Amanda yang sesekali menimpali membuat Adam tersenyum. Ibra yang banyak diam pun hanya memperhatikan interaksi keluarganya, suasana hangat yang mencairkan penat dipikirannya. Masalah yang belum bisa ia selesaikan, masalah yang bukan hanya soal menghabisi musuh namun juga mencari akar dari masalah yang datang menimpanya, keluarganya juga kumpulannya.
"Oma sangat senang akhirnya kita bisa bertemu Amanda, pantas saja cucu Oma yang satu itu selalu membujuk Oma untuk mendukung langkahnya, setelah melihat dan bertemu denganmu Oma jadi tahu alasannya, dan dengan itu Oma akan semakin mendukungnya" ucap Oma saat duduk bertiga dengan Amanda dan Adam diruang tengah.
Belen sedang menemani Divya belajar, dan Ibra lelaki itu sedang berada diruang kerjanya. Adam yang biasanya ikut berada diruang kerja itu merasa tak tega untuk meninggalkan Amanda dan memilih menemaninya memgobrol dengan Oma.
"apa? apa Oma berbohong soal itu? berbohong soal Oma harus merestuimu dan Amanda juga merayu abangmu untuk segera memberi jawaban?" kekeh Oma Riri yang merasa puas melihat wajah cucunya yang telah ditutup dengan bantal, sementara Amanda membulatkan matanya dengan raut tersipu juga menorna malu.
Setelah berhasil mengerjai dua pasang sejoli itu Oma memilih meninggalkan mereka dan menuju kamarnya untuk beristirahat. Kini tersisalah Adam dan Amanda yang seperti kehilangan bahan obrolan menjadikan ruangan yang tadinya penuh perbincangan, ah bukan lebih tepatnya penuh godaan dari Oma itu menjadi sunyi.
"aku-" seperti drama televisi Adam dan Amanda mengucap kata secara bersamaan menimbulkan suasana semakin kaku.
"kamu apa apa Amanda?" tawar Adam yang meminta Amanda mengatakan kepentingannya terlebih dahulu.
__ADS_1
"ah engga bukan apa-apa, aku hanya mau bilang kalo aku mau kembali ke kamar" balas Amanda yang terlihat sungkan.
"iya, istirahatlah ini sudah jam 9 lebih, jika butuh apa-apa katakan saja" setelah menganggukan kepalanya Amanda berjalan meninggalkan ruang tengah dan menuju kamar yang sekarang ia tempati.
Kamar tamu yang juga pernah ditempati oleh Belen sewaktu belum menjadi istri dari seorang Ibrahim Ankawijaya. Amanda memandang lurus kearah langit-langit, kini ia sudah merebahkan tubuhnya. Sejenak ia merasa bahagia seolah menemukan kehangatan dan kebersamaan dalam sebuah keluarga. Meski bukan keluarga utuh namun keluarga ini saling mengisi, menyayangi dan saling mendukung satu sama lain dan memberikan yang terbaik untuk keluarganya.
ceklek
"abang" Adam muncul dari balik pintu ruang kerja Ibra yang berada dilantai 3, lantai tempat kamar Adam juga berada.
Adam mendudukan dirinya disofa yang terpajang disisi ruangan sebelah kiri dari meja kerja kakaknya. Sementara Ibra memilih memyelesaikan dahulu pekerjaannya.
Tak lama Ibra bangkit dan menuju kearah Adam dengan membawa sebuah flashdisk ditangan kanannya. Mengacungkannya tepat didepan wajah Adam yang tengah bersandar dipunggung sofa.
"apa ini bang?" tangan Adam meraih benda kecil dengan warna putih yang diberikan kakaknya.
"itu adalah hasil kerja Louis, berisi mengenai latar belakang, dan catatan kehidupan yamg pernah dilalui Amanda serta kehidupannya diluar negeri bahkan dengan siapa saja ia berinteraksi." jawab Ibra yang memilih duduk berhadapan demgan adiknya.
"pelajari baik-baik cermati, aku tahu kai lebih bisa dalam mencari celah dari data-data tersebut. Katakan padaku jika ada hal yang aneh dan mengganggu pikiranmu tentang data-daga yang ada didalamnya" Adam hanya memgangguk mendengar dan mematuhi perintah kakaknya itu.
__ADS_1
Setengah jam mereka saling bertukar pikiran dua kakak beradik ini memilih keluar dan kembali kekamar mereka untuk beristirahat. Ibra sudah menuruni tangga dan berjalan mengarah pada kamar Divya, sebelum ia memasuki kamar pribadinya ia ingin menengok gadis kecilnya itu. Gadis malamg yamg harus kehilangan orangtuanya bahkan hingga kini ia belum tahu kenyataan yang sedang ia hadapi.