Alexavier Archie

Alexavier Archie
Makan Siang Special


__ADS_3

Pembahasan singkat mengenai rapat yang dilakukan tadi pagi tanpa hadirnya Ibra pun selesai, Adam sudah kembali pada kegiatannya setelah mendapat telepon dari Amanda, begitu juga Louis yang sudah kembali pada ruangannya.


Kini Raka pun bangkit dari sofa berwarna putih tulang itu.


"maaf pak CEO terhormat lima belas menit lagi akan ada meeting dengan bagian keuangan" ucap Raka sopan sebelum keluar.


Ibra hanya menggeleng pelan dan menyunggingkan senyumnya. Menunduk melihat tangan yang masih setia ia genggam dan beralih pada sang pemilik tangan.


Tanpa melepas tautan tangan itu, tangan Ibra yang lain meraih tengkuk Belen dengan lembut seraya memandang bibir yang sedari tadi ia inginkan.


cup


satu kecupan singkat ia daratkan pada bibir berwarna pink kemerahan itu. Sang pemilik bibir hanya tersipu malu.


"aku sudah jatuh hati padamu Belen, jatuh sejatuh jatuhnya" ucap Ibra lirih masih dengan posisi yang amat dekat hingga hidung mancung mereka saling bersentuhan.


"aku juga sudah terjebur dalam didalam hatimu bang, terjebur sangat dalam hingga aku tak bisa juga tak mau kembali ke permukaan" balas Belen.


"terimakasih sudah percaya dan memberiku kepercayaan menjaga Divya juga masuk dalam kehidupanmu" imbuhnya yang sudah tenggelam dalam pelukan sang suami.


"aku akan selalu mempercayaimu, dan soal itu kita bahas nanti, sekarang aku ada meeting, ayo" ajak Ibra yang hendak menuntun Belen mengikutinya.


Namun sebelum berhasil bangun dari tempat duduknya Belen menahan tangan Ibra sehingga lelaki beralis tebal itu kembali duduk disampingnya.


"abang pergilah dulu, aku akan menunggu disini, tak apa" ucapnya seraya tersenyum manis.


"baiklah, aku janji sebelum makan siang aku sudah kembali" Ibra melepas tautan tangannya dan mencium lembut kening istrinya.


Ibra juga berpikir bahwa ikut dirinya meeting apalagi masalah keuangan akan menjadi hal membosankan bagi Belen, jadi biarlah istrinya menunggu diruangannya saja.


"kalu butuh apa-apa katakan pada Jody didepan, aku tinggal dulu ya" sekali lagi ia mengecup kening Belen dan melangkah keluar.


Menunggu memang hal membosankan ia memilih untuk mengecek keadaan toko kuenya melalui CCTV, setelahnya melakukan video call bersama Divya.


...

__ADS_1


Belen sudah hampir bosan, sudah satu jam lamanya ia tidak melakukan aktivitas, hanya duduk dan bermain ponsel, ia bahkan sudah habis satu botol jus kemasan dalam kulkas mini diruangan suaminya.


Bosan, tau gini aku pergi ke toko kue tadi, hufh. Abang masih lama ngga ya?


Baru berkata dalam hati pintu ruangan itu terbuka, terlihat sosok yang ditunggu-tunggu melangkah kearahnya dan memamerkan senyum manisnya.


"maaf lama ya? sampai sudah masuk jam makan siang begini" mendengar permintaan maaf suaminya Belen langsung tersenyum dan menggelengkan kepala pelan.


"laper?" tanya Ibra saat sudah duduk disamping istrinya.


"iyaa hehe" jawab Belen sedikit malu, jelaslah lapar ia bahkan hanya makan berapa suap saja tadi pagi karena galau.


"baiklah ayo, aku akan mengajakmu untuk makan siang special" ajaknya, dan di ikuti anggukan antusias dari Belen.


...


Setelah mendapat banyak perhatian dari para karyawan karena ulah romantis mereka yang masih saling menautkan tangan sepanjang perjalanan menuju mobilnya, dua pasangan yang saling mengembangkan senyum diwajahnya ini memasuki mobil Audy S8 itu dan menuju tempat special yang dikatakan Ibra tadi.


Jalanan macet kali ini tidak membuat Ibra mengumpat, kali ini ia sedang bahagia tak seperti beberapa jam lalu yang dirundung rasa emosi juga bersalah.


...


Hanya mengangguk dan tersenyum Ibra menjawab pertanyaan itu. Kini mobilnya sudah terparkir rapi dipelataran loby hotel, seorang berpakaian rapi pun sudah nampak didepan pintu loby menunggunya.


"selamat siang Tuan Ibra, Nyonya Belen, selamat datang." ucapnya sopan sambil sedikit membungkukan badannya.


"sudah kau siapkan seperti yang aku minta?" sahut Ibra setelah merespon sambutan itu dengan anggukannya, ya lelaki itu adalah manajer hotel.


Lelaki yang sekiranya berusia 45 tahun itu mengantar mereka menuju lantai 25, dimana lantai khusus untuk keluarga Ankawijaya. Ia terus berjalan seperti sedang memimpin sebuah tour. Hingga mereka berhenti disebuah kamar paling ujung, tak lupa manajer itu pun juga membukakan pintu juga mempersilahkan tamu special itu masuk.


"jika tuan dan nyonya membutuhkan sesuatu silahkan hubungi saya" ucapnya sebelum meninggalkan ruangan kamar yang amat sangat besar juga terlihat mewah itu.


"ayo Belen kita makan dulu" ajak Ibra menuju balkon kamar. Tapi jika dilihat ini tidak seperti balkon ini ruangan outdoor! ada kolam renang kecil juga banyak tanamanan disana.


Terlihat sebuah meja berukuran kecil dengan dua kursi disana, juga berbagai hidangan makan siang yang tertata diatas meja berwarna putih itu. Belen masih setia berjalan disamping suaminya.

__ADS_1


Ibra menyiapkan kursi untuk istrinya, setelahnya ia duduk dikursi kosong disebrang meja penuh makanan itu.


"kapan abang menyiapkan semua ini?" Belen masih tertegun dengan kondisi dihadapannya.


"aku memintanya saat berjalan dari ruang meeting ke ruanganku tadi, ada yang kurang?" kini Ibra berganti bertanya, ia takut ada hal yang terlewat, bagaimana tidak ini adalah kencan pertamanya.


"tidak, ini sangat sempurna" tangan kecil itu meraih punggung tangan kekar milik Ibra.


"emm apa ini kencan?" tanya Belen dengan raut menyelidik.


"hahah ya begitu sepertinya"


Makan siang special ini berjalan dengan amat tenang, mereka saling melempar senyum juga bertukar cerita menyenangkan.


...


"abang ngga balik ke kantor?" tanya Belen yang melihat jam menunjukan pukul 15 dan mereka malah asik duduk-duduk menikmati waktu.


Bukan menjawab Ibra malah membuat Belen berada diatas pangkuannya, mengecup bibir merah muda yang tadi sempat ia nikmati sebentar.


"kita baru makan siang, specialnya belum" bisik Ibra pada telinga Belen.


Melihat Belen hanya tersipu Ibra melanjutkan aksinya. Ia membopong tubuh Belen yang ringan baginya menuju kamar. Tubuh Belen kembali ditempatkan dipangkunya, dan kembali mengecup bibir merah muda itu, tapi kini tak hanya mengecup mereka sama-sama memperdalam ciumannya.


Tangan kekar Ibra pun mulai bergerak melepas jaket jeans yang Belen pakai, dan terus bermain dipunggung istrinya. Belen tak mau kalah, ia membantu Ibra melepas dasi juga membuka kancing kemeja yang melekat sempurna pada tubuh suaminya.


"aku benar-benar merindukanmu" ucap Ibra lembut seraya menyentuh halus pipi Belen yang memerah.


"sayang" tubuh Belen dibuat panas dingin dengan ucapan Ibra yang tepat ditelinganya.


Tangan Ibra mulai menelusup kedalam dress hitam yang dikenakan Belen, menyentuh sesuatu yang amat kenyal dibalik br*. Dengan nakalnya diturunkan resleting belakang dress yang membalut istrinya.


Dengan semua pakaian yang sudah ditanggalkan pasangan yang dimabuk cinta berbumbu rindu itu memulai sesuatu yang amat mereka inginkan.


"aku ingin segera memiliki anak sendiri sayang" ucap Ibra dengan suara seraknya sebelum sebuah pelepasan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2