Alexavier Archie

Alexavier Archie
Rekan Lama


__ADS_3

Suasana bandara siang itu tak terlalu ramai mengingat ini weekday. Tak banyak penumpang pesawat kali ini, bahkan kelas bisnis hanya dihuni tiga laki-laki dan seorang wanita yang lebih muda dari mereka yang sangat rapi dengan setelan jas mereka. Ya mereka memang memilih kelas bisnis karena jarak tempuh mereka hanya satu jam. Setelah pramugari mempersilahkan turun semua penumpangpun turun termasuk ke empat penghuni kelas bisnis itu.


"ayo kita cari makan siang dulu bang" Adam mengedarkan pandangan menuju beberapa tempat makan yang ada dibandara.


"ide bagus, kasian Amanda dia bisa semakin kurus" celetuk Raka memperhatikan gadis yang berdiri disamping Adam.


Setelah percakapan itu mereka berempat menuju sebuah tempat makan cepat saji yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Beberapa makanan serta minuman sudah dihadapan mereka, kini mereka mulai menyantap makan siangnya. Berbeda dengan Ibra yang memilih menghubungi seseorang terlebih dahulu, tentu mereka sudah tau siapa itu. Ya Ibra menelepon Belen, setelahnya menghubungi Oma untuk bertanya keadaan Divya.


...


Sebuah mobil van berwarna putih terlihat terparkir dipenjemputan bandara, ternyata itu mobil yang dikirim kantor cabang untuk menjemput bos mereka. Usai sopir menaikan barang bawaan yang tak banyak itu mereka berempatpun masuk kedalam mobil van mahal itu.


Tak butuh banyak waktu mobil yang mereka tumpangi sudah berada dipelataran kantor yang cukup besar, dengan papan nama bertuliskan Anka Group. Ini memang salah satu kantor cabang tapi gedung perkantoran ini cukup megah dari luar dengan sepuluh lantai.


...


"Baiklah kalau begitu segera selesaikan masalahnya, atur kembali pertemuan besok pagi dan laporkan bahwa kondisi sudah kembali stabil" dengan intonasi yang jelas Ibra menutup meeting itu.


Tok tok tok


Sebelum para penghuni ruangan itu meninggalkan tempat mereka seorang reseptionis datang dan menyampaikan sesuatu pada Ibra juga Adam. Mengerti dengan kondisi itu semua karyawan yang ikut meeting pergi meninggalkan ruangan dan menyisakan dua bos mereka beserta asisten mereka.


ceklek


"Selamat sore Tuan Ibrahim, Tuan Adam bagaimana kabar kalian?" suara pria paruh baya memenuhi ruangan itu.


"silahkan duduk Tuan Arwandi" Ibra menjabat tangan seorang yang sebaya dengan kakeknya itu dan mempersilahkannya duduk.


"kami sangat baik Tuan, apa yang membawa Tuan repot-repot mengunjungi kami?" imbuh Adam. Raka juga Amanda mengikuti langkah Ibra juga Adam untuk berjabat tangan dan memperkenalkan diri kepada tamu mereka.

__ADS_1


"kita sudah sangat lama tidak bertemu, kebetulan aku berkunjung untuk melakukan kontrak kerjasama kita" pria paruh baya itu tersenyum takzim memandang anak-anak muda dihadapannya ini.


"aku mendengar dari kepala manajer bahwa kalian sedang berkunjung, makanya aku meminta bertemu" imbuhnya di iringi kekehan khas orang tua.


"ah iya kita sedang menjalin kerjasama kembali untuk pembangunan area industri, itu aku yang mengurusnya bang" kini Adam yang menjawab.


Beberapa menit berlalu dengan obrolan mereka, Ibra juga Adam sangat menghormati Tuan Arwandi karena beliau orang yang baik dan bisa menjalin bisnis yang bagus dengannya. Juga mengingatkan mereka tentang kakek mereka.


"aku sangat menyayangkan anda tidak mengundang saya diacara pernikahan anda Tuan Ibra" keluh pria berusia 65tahun itu.


"sungguh maafkan saya, lain kali saya akan berkunjung dengan istri saya" beberapa percakapan kemudian mengakhiri pertemuan mereka.


Rombongan Ibra dan Adam kini berada diruangan Ibra, mumpung masih dikantor cabang, mereka menyelesaikan urusan-urusan yang tertunda.


...


"Adam kau bisa bertemu dengan client sekarang? aku akan mengurus ini tolong kau temui client yang tadi Tuan Rian katakan" Ibra dan Raka sedang sibuk mengurus beberapa berkas terkait masalah keuangan yang sedang terjadi.


Terlalu serius dengan pekerjaan dihadapan mereka Ibra juga Raka tak menyadari langit diluar sudah mulai petang.


"sudah I ayo kita pulang ke hotel dan beristirahat, ini sudah hampir setengah 7 malam" keluh Raka yang matanya sudah memerah terlalu lama menatap layar komputernya.


"baiklah kita pergi kehotel, hubungi Adam untuk langsung pergi ke hotel setelah urusan selesai" tak menunggu lama Raka sudah selesai menghubungi Adam, Adam pun meminta ijin untuk makan malam diluar bersama Amanda.


...


ceklek


"ayo kita turun, aku sudah pesan makan malam dibawah" Raka mengajak Ibra makan setelah dia menelpon manager hotel. Ya benar hotel tempat mereka menginap ini memang salah satu bisnis milik Anka Group.

__ADS_1


"nanti malam aku akan berkunjung kemarkas" Ibra tak menjawab ajakan Raka tapi dia tetap keluar menuju restoran hotel.


"ide bagus aku juga sudah lama tidak kesana karena kejadian sialan beberapa bulan ini" timpa Raka.


"jadi menurutmu kejadian kemarin sialan?" lirik Ibra pada Raka yang sudah cengar cengir.


"huh, tempramen sekali, tentu maksudku si Gerhana itu yang sialan" jawaban ngeles yang membuat Ibra geleng-geleng.


...


Ditempat lain yang cukup ramai Adam juga Amanda sedang duduk berhadapan menyantap menu masakan jepang kesukaan Amanda. Mereka sudah cukup dekat dalam beberapa waktu ini, mungkin juga karena mereka sering bertemu.


"aku tidak menyangka bahwa Anka Group sebesar ini, dan lihat aku sedang duduk dengan salah satu bos besar perusahaan itu, dan juga bahkan aku bekerja disana, wah ini sungguh diluar dugaanku" Amanda sedari sampai direstoran jepang itu tak henti-hentinya kagum dengan perusahaan tempat ia bekerja.


"hei Amanda, sejak duduk disini kau sudah tiga kali berkata begitu" Adam tersenyum dan menggelengkan kepalanya tak percaya dengan kehebohan Amanda.


"tidak Tuan Adam Ankawijaya, ini sangat luar biasa, sungguh maaf sekali aku tak tahu perusahaan ini sebesar ini karena aku tak tinggal disini" Adam hanya menggelengkan kepalanya dan menyuapkan sepotong daging panggang kemulutnya.


"kau dan abangmu sangat hebat menghandle bisnis sebesar ini dengan usia muda kalian, bahkan dikota yang ini saja kalian punya sebuah kantor besar dan juga sebuah hotel mewah bintang lima juga area pertokoan, dan jangan lupa bisnis yang akan kalian mulai dengan Tuan Arwandi" begitu bersemangat Amanda mengabsen satu persatu bisnis besar dari Anka Group.


"Amanda cukup memujinya, aku bisa kenyang oleh pujianmu itu daripada makanan diatas meja ini, sekarang selesaikan makannmu dan kita kembali kehotel" Adam terkekeh sendiri dengan tingkah Amanda yang sangat banyak bicara jika diluar urusan kerja.


Adam memang terlihat mudah didekati oleh Amanda, tapi dia tetap hati-hati seperti pesan kakaknya, setelah kejadian beberapa bulan ini mereka benar-benar mencoba untuk lebih berhati-hati dari sebelumnya, meski Adam mulai tertarik dengan Amanda tapi dia harus memastikan bahwa Amanda adalah wanita biasa dengan background keluarga yang jelas.


drrt drrt


Adam yang hendak berdiri dari tempatnya makan mengalihkan pandangan ke ponsel disakunya.


"iya bang?" sahutnya setelah menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.

__ADS_1


"baik, aku baru selesai makan, aku akan kesana setelah mengantar Amanda kembali ke hotel" setelahnya Adam kembali memasukan ponsel disakunya.


__ADS_2