
Casandra adalah satu-satunya teman perempuan Ibra saat dibangku kuliah, dia adalah wanita yang tak pernah menggoda Ibra seperti wanita kebanyakan, dan itu membuat Ibra mau menerima Casandra sebagai temannya. Sudah lama semenjak lulus kuliah magisternya mereka tak berhubungan.
"kali ini aku butuh bantuanmu Ibrahim" ucap wanita yang memiliki rambut sepinggang itu.
Ibra hanya diam dan mempersilahkan Casandra melanjutkan bicaranya.
"aku akan pindah kemari, juga adikku, apa kau bisa memberi pekerjaan pada adikku Ibrahim? dia baru lulus kuliah seminggu lalu" lanjut Casandra.
"hanya itu?" balas Ibra.
"aku tahu kau bisa diandalkan, dia akan kemari besok, kuharap kau bisa memberinya satu pekerjaan" sahut Casandra membenarkan posisi duduknya.
Meski teman, Ibra pun tak banyak bicara pada Casandra dan wanita itu juga tahu karakter seorang yang duduk dihadapannya. Hanya 15menit Casandra sudah meninggalkan ruangan Ibra dan keluar dari gedung perkantoran itu.
...
Lama tak mengunjungi Bar malam ini Ibra dan Adam memutuskan untuk ke bar setelah jam makan malam dan tentu setelah mengganti perban milik Belen juga memastikan istrinya meminum obatnya.
"sudah selesai nyonya Ankawijaya, istirahatlah, sebelum tengah malam aku akan sudah pulang" Ibra membenarkan baju tidur Belen yang tersingkap setelah mengganti perban yang membalut lukanya.
"berjanjilah kau takan pulang terlalu larut" balas Belen yang kini sudah dengan posisi berbaring.
"jangan khawatir sayang" Ibra mengecup kening istrinya, mengambil jaketnya dan meninggalkan kamar.
Belen yang sudah merasa kantuk karena efek obat pun memilih memejamkan matanya.
Jam 9 malam kondisi jalanan cukup lancar, tak banyak lalu lalang kendaraan membuat perjalanan Archie bersaudara cukup singkat menuju bar mereka.
Adam berada dibalik stirnya fokus mengemudi dan mendengar cerita abangnya tentang teman yang tadi menemuinya. Adam pun berkata bahwa Lusy asistennya akan mengajukan resign bulan depan karena akan menikah dan pindak keluar kota, jadi dia membutuhkan asisten pengganti.
"baguslah besok dia akan menemui mu, dan selanjutnya terserah padamu" ucap Ibra.
Sampai dibar mereka berjalan menuju lantai tiga dimana ruangan mereka berada.
"hei! apa yang kau lakukan disini? apa sekarang kau suka minum?" tiba-tiba seorang wanita menghampiri Archie bersaudara yang sedang berjalan menuju tangga.
"Casandra, kau disini" sapa Ibra mengetahui siapa yang menyapanya.
"tak perlu membuka meja, bergabunglah denganku, aku hanya berdua dengan adikku" Casandra menarik tangan Ibra begitu saja, dan tentu Casandra tak mengetahui siapa Ibrahim sesungguhnya.
__ADS_1
Setelah mengenalkan adiknya, mereka duduk bersama, Ibra dan Adam hanya memesan bir saja.
"jadi tuan Adam apakah aku bisa bekerja disana" ujar wanita berambut pendek itu pada Adam.
"urusan pekerjaan kita bicarakan dikantor saja" ucap Adam singkat.
Tak suka menjadi perhatian pengunjung Archie bersaudara pun pamit meninggalkan dua wanita itu.
Diruangan Alexavier sudah ada Ivan juga Dominic. Mereka baru saja menyelesaikan penempatan anggota Galaxy di wilayah Gerhana yang kini jatuh ditangan mereka.
Sebuah hotel, dua kasino, dan 3 club malam kini beralih kepemilikan pada Galaxy. Ivan juga Dominic juga sudah mengatur orang kepercayaan untuk memimpin disana. Selain bela diri para anggota Galaxy juga di ijinkan belajar hal lain yang mereka sukai karena Galaxy tak mau memperkerjakan orang luar untuk urusan bisnis mereka.
"kerja bagus, tapi ingat kita harus terus mengawasi tempat-tempat tersebut bila ada sisa anggota Gerhana yang akan muncul, kita belum tahu rinci mengenai persebaran mereka" Jelas Alexavier.
"iya ketua benar, capat atau lambat bila memang masih tersisa anggota Gerhana akan balik menyerang kita" imbuh Kenric.
"baik ketua, akan kami tambah personil juga perketat penjagaan" jawab Dominic.
"kami juga sudah menyebar luaskan kabar kekalahan Gerhana atas Galaxy" sambung Ivan.
"meski kita sudah menang dari Gerhana kita tak tahu kumpulan mana lagi yang akan menyerang kita" tambah Kenric.
"baik ketua" sahut Ivan dan Dominic bersamaan.
Kenric menyusul langkah Alexavier keluar dari ruangannya dilihatnya dimeja tadi yang mereka tempati bahwa dua wanita tadi sudah tidak ada disana.
...
tok tok tok
"permisi tuan Adam, boleh saya masuk" ucap wanita yang berdiri diambang ruangan Adam.
"Masuklah, silahkan duduk" Adam mempersilahkan wanita berpakaian rapi itu untuk duduk disofa yang berada dikanan meja kerjanya.
"tunggu sebentar aku akan selesaikan ini terlebih dulu" sambung Adam yang masih sibuk dengan berkas dihadapannya.
Setelah beberapa saat Adam menyudahi pekerjaanya, merapikan jasnya dan berjalan menuju sofa dan duduk berhadapan dengan seorang yang membawa beberapa map ditangannya.
"jadi apa kau sungguh ingin bekerja disini Amanda?" ucap Adam memulai percakapan dengan Amanda adik dari Casandra.
__ADS_1
"iya tentu, saya akan berusaha dengan seluruh kemampuan saya, saya harap anda tidak meremehkan kemampuan saya meski saya baru lulus kuliah" jawab Amanda dengan percaya diri dan menyerahkan map yang berisi data dirinya.
Adam menerima map tersebut membaca satu persatu dokumen disana, data diri juga lampiran-lampiran lainnya mengenai pengalaman juga prestasi Amanda. Adam memang tak jauh berbeda dari Ibrahim meski dia lebih lembut tapi untuk seorang yang baru dikenalnya dia cukup dingin.
"baiklah kau sangat berprestasi dan pengalamanmu cukup banyak, kebetulan asistenku akan mengundurkan diri sebulan lagi, jika mau kau bisa mengisi posisinya" jelas Adam membenarkan posisi duduknya.
"terimakasih tuan Adam, saya tidak akan mengecewakan anda" sahut Amanda dengan senyum mengembang di wajahnya.
Setelah satu dua percakapan Amanda pun meninggalkan ruangan Adam.
Dijam makan siang ini Belen sengaja datang ke kantor untuk mengantar makan siang tanpa sepengatahuan Ibra. Saat keluar dari lift dia berpapasan dengan seorang wanita berpakaian rapi dan satu lagi dengan dres yang melekat persis ditubuhnya.
ceklek
Ibra melihat ke arah pintunya yang terbuka tanpa ketukan itu. Dan betapa rasa senang juga marah melihat Belen disana.
"apa kau tak mendengar perkataanku untuk diam saja dirumah hingga lukamu itu sembuh betul?" ucap Ibra dengan menghampiri Belen, memeluknya dan mencium unjung kepalanya.
"aku bosan abang, aku hanya kesini mengantar makanan untukmu, dan aku rindu dengan bau kue di toko ku" balas Belen yang berada didekapan Ibra yang membawanya duduk disofa.
Ibra cukup maklum dengan apa yang dirasakan istrinya, dengan senang hati dia menerima bekal yang dibawakan istrinya.
"apa kau barusan menerima tamu?" tanya belen karena dilantai itu hanya ada ruangannya juga ruangan Adam.
"siapa maksudmu?" jawab Ibra yang menempatkan kepala Belen untuk bersandar dipundaknya.
"aku berpapasan dengan dua wanita tadi saat akan keluar dari lift" sahut Belen dengan sedikit mendongakan kepala menghadap suaminya.
"oh itu Casandra teman lama yang tadi pagi aku ceritakan, dia mengantar adiknya untuk wawancara dengan Adam" Ibra menjawab pertanyaan Belen apa adanya, dia juga sudah bercerita mengenai Casandra pada Belen.
"lalu apa temanmu itu menunggu adiknya diruanganmu?" tanya Belen dengan raut menyelidik.
"iya dia menunggu disini" ucap Ibra dengan menatap Belen dan mendekatkan bibirnya, mencuri satu kecupan dibibir ranum Belen.
"dengan pakaian seperti itu dia mengantar adiknya melamar pekerjaan?" Belen menjauhkan tubuhnya dari Ibra.
"iya, dia seorang model diluar negeri jadi sudah biasa dengan pakaian seperti itu" jawab Ibra menatap raut istrinya yang berubah.
"apa kau cemburu? aku tak akan tergoda dengan wanita yang pamer tubuhnya" Ibra merengkuh tubuh Belen dan mencium wajah istrinya yang sedang merajuk itu.
__ADS_1